Keesokan paginya, ketika Bilven membuka mata, Gavin sudah tidak ada di sisinya. Sinar matahari sudah masuk ke jendela yang sudah terbuka tirainya. Sepertinya hari sudah beranjak siang. Dia bangun terlambat karena terlalu lelah dengan aktivitas kemarin. Hebat. Gavin masih saja bisa bangun pagi padahal kegiatan dia jauh lebih banyak darinya. Dengan malas Bilven menuruni ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Sambil menggosok gigi dia berpikir apa yang akan dia lakukan seharian tanpa Gavin? Semalam Gavin belum menjawab pertanyaannya, apakah dia boleh bertemu Papa. Dia rindu lelaki itu dan ingin mengabarkan kalau dirinya baik-baik saja. Mereka harus tahu kalau dirinya baik-baik saja bahkan bahagia. Bilven tidak ingin anggapan buruk tentang Gavin semakin menyebar. Setelah mandi dan berpakaian

