HUJAN YANG MEMBAWAKU

1411 Words

Bilven duduk memandangi dahan pohon yang meliuk ke kanan dan ke kiri di embus angin. Beberapa anak rambut menempel di pipi dan matanya. Dia menelengkan wajah untuk menghalau anak-anak rambut tersebut. Kini Bilven memandangi langit yang biru dengan awan yang berarak pelan. Pikirannya terus bekerja sedari tadi. Menghitung berbagai kemungkinan dan membuat rencana-rencana untuk bertahan hidup. Dia tidak mau mati sia-sia di rumah ini. Dia harus menemukan cara supaya bisa pulang ke rumah Papa. Walau mungkin nanti dia akan tertangkap lagi dan tidak akan selamat, setidaknya dia bisa melihat Papa sekali lagi. "Nona? Anda tidak apa-apa?" tanya Alma melihat Bilven bergidik negeri membayangkan kemungkinan yang akan terjadi padanya. Bilven memandang gadis yang terpaut umur beberapa tahun saja darinya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD