"Buat aku?" tanya Bilven ketika Kiro menyodorkan smarthphone terbaru kepadanya. Bilven menerimanya dengan penuh tanya.
"Supaya bisa selalu menghubungi Tuan Muda," jawab Kiro kalem. Walau sudah bisa menduga reaksi Bilven tapi dia tetap suka melihat gadis itu kegirangan. Raut wajahnya yang senang tapi berusaha dia sembunyikan. Benar-benar ciri remaja 17 tahun yang sedang dimabuk cinta. Itu pun jika Bilven menyadari dia sedang jatuh cinta.
"Tapi aku nggak bisa menghubungi dia sering-sering," katanya sambil menyodorkan kembali smartphone itu kepada Kiro.
"Bisa, kok. Coba saja. Dia pasti menerima telepon Anda, Nona. Walaupun sedang berada di tengah rapat atau di kamar mandi sekalipun."
Bilven mengurungkan niatnya memberikan smarthphone itu pada Kiro. Godaan bisa menghubungi Gavin kapan saja membuatnya bersemangat. Namun ada hal lain dari nada suara Kiro yang tidak bisa ditangkap oleh Bilven. Apakah sindiran atau peringatan? Namun dia pikir, tidak ada salahnya untuk mencoba menghubungi Gavin sekarang.
"Berapa nomornya?" tanya Bilven.
"Tekan 2, speed dial ke nomor Gavin."
Oke, dia paham. Dia pernah menggunakan ponsel sebelumnya. Sebelum ponselnya disita ketika memasuki rumah besar. Entah apa maksudnya. Namun sekarang dia malah bisa memperoleh ponsel sendiri. Itu artinya dia bisa menghubungi Papa dan bilang semua baik-baik saja.
"Jangan hubungi siapapun kecuali Gavin." Seolah bisa membaca pikiran BIlven, Kiro memperingatkannya.
"Kenapa? Aku ingin menelepon Papa dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Tidak seperti sangkaan Papa sebelumnya. Setidaknya aku bisa memberi tahu Papa kalau aku masih hidup," kata Bilven dingin.
"Supaya mereka berhenti berpikiran kalau rumah besar ini sarang vampir? Begitu?"
"Kamu yang bilang, ya, Kiro. Bukan aku," kata Bilven ketus. "Kapan kita pulang? Aku lelah."
"Tidak ingin belanja lagi?"
"Hah? Aku sudah belanja satu mobil. Mau ditaro di mana lagi barang belanjaanku? Lagian aku juga nggak pernah keluar rumah. Seharusnya Gavin membelikan aku daster saja. Sayang baju semahal ini cuma dipake makan siang dan jalan ke halaman."
"Kamu calon istri Tuan Muda jadi harus ...."
"Ya, ya, ya, aku sudah paham. Aku mau pulang. Capek."
"Tidak jadi menelepon Tuan Muda?"
"Nggak. Aku nggak mendengar suara-suara aneh ketika aku menelepon dan Gavin lagi di WC." Bilven mendengkus dan bergegas berdiri. Dia berjalan menuju mobil dan mengempaskan diri di kasur. Matanya memejam. Sepanjang perjalanan pulang, dia ingin tidur saja. Nanti malam dia tidak boleh mengantuk ketika Gavin mendatangi kamarnya.
_*_
Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika pintu kamarnya di ketuk dan seraut wajah bertopeng menyembul dari sana.
"Aku pulang. Kamu tidak menyambutku?"
"Apa yang harus kulakukan untuk menyambutmu?"
"Kamu bisa menungguku di pintu depan dan memelukkku ketika aku tiba di pintu. Mungkin sedikit kecupan juga bisa," goda Gavin. Dia membuka pintu lebar-lebar dan berdiri tegap di muka pintu. Memasukkan tangan ke saku dan menunggu Bilven mengerjakan sarannya.
Namun mata Bilven malah menyelidiki Gavin dan mencari-cari sesuatu di belakangnya.
"Tidak ada pelukan apa lagi ciuman. Kamu lupa membawa pesananku," katanya acuh lalu kembali asyik bermain game di ponsel terbarunya.
Gavin gemas dan berjalan cepat ke arah Bilven. Tanpa diduga, Gavin mengangkat Bilven dari sofa dan menggendongnya ala bridal.
"Gavin, apa yang kamu lakukan!"
"Lihat saja nanti!" kata Gavin tak memedulikan teriakan protes Bilven. Dia menggendong bilven keluar kamar dan berjalan terus hingga tiba di ruang keluarga yang cukup besar dengan TV sebesar layar bioskop. Ada sofa empuk di depan TV, meja Jepang yang cukup lebar, dan juga permadani yang tebal. Di meja sudah dihidangkan pizza beserta teman-temannya. Juga minuman bersoda.
"Silakan dinikmati Tuan Putri," kata Gavin sambil menurunkan Bilven.
"Sebanyak ini? Kamu gila! Mana mungkin aku bisa menghabiskan sendirian," katanya sambil mengempaskan diri di sofa.
"Kan ada aku." Gavin ikut mengempaskan diri di sebelah Bilven.
"Berdua juga masih kebanyakan."
"Sisanya bisa kita kasih pelayan."
"Kamu jahat! Memangnya mereka tempat sampah sampai makan bekas kita!?"
Gavin serba salah. Belum pernah dia menghadapi gadis seperti Bilven. Dan kenapa juga dia mesti menurut pada kemauan Bilven?
"Jadi mau kamu apa?" Gavin mengerang putus asa. Benar kata Kiro, terkadang Bilven bisa bersikap sangat ajaib.
"Kita panggil Kiro dan juga Alma. Juga kepala pelayan yang aku nggak pernah tahu siapa namanya. Kita adakan pesta kecil-kecilan. Aduhhh, pasti menyenangkan. Rumahmu ini terlalu besar, terlalu sunyi. Kita harus mengadakan acara kumpul-kumpul sesekali supaya suasananya lebih hangat dan ramai," kata Bilven tak memedulikan tatapan Gavin yang sedikit tajam dan tidak suka.
Melihat Gavin diam saja, Bilven akhirnya menyadari kalau idenya sedikit keterlaluan. Tentu ada norma-norma yang tidak bisa dilanggar di rumah ini. Tidak mungkin pelayan dan majikan makan satu meja. Bilven salah tingkah. Diambilnya seiris pizza yang sudah dingin dan dimasukkannya ke mulut. Susah payah dia menelan pizza itu di bawah tatapan Gavin yang tajam.
Tiba-tiba Gavin membunyikan lonceng yang ada di atas nakas di samping sofa. Kepala pelayan yang selalu menunggui Bilven makan, datang menghampiri dengan langkah cepat dan elegan.
"Tuan memanggil?"
"Kumpulkan pelayan dan siapkan makanan secepatnya. Kita pesta kebun sekarang juga."
Kepala pelayan yang terbiasa dengan segala kejutan yang terjadi di rumah ini, tidak terlalu terkejut dengan permintaan Gavin. Dia membungkuk sedikit tanda mengerti dan segera berbalik untuk menyiapkan permintaan Gavin.
"Tunggu!" teriak Gavin ketika Kepala Pelayan sudah berjalan beberapa langkah.
Bilven yang masih mengunyah pizza mengamati kejadia di depannya sambil berusaha menelan potongan pizza di mulutnya.
"Bilven, ini Pak Suroso. Dia Kepala Pelayan di sini sejak ayahnya meninggal. Dulu kakeknya juga Kepala Pelayan di sini. Jabatan yang diwariskan turun temurun kepada anak lelaki di keluarga mereka. Kamu bisa meminta dan bertanya apa saja tentang rumah ini kepadanya. Aku percaya padanya sama seperti percaya pada Kiro." Gavin menjelaskan kepada Bilven yang sekarang sedang meneguk cola-nya.
"Nanti bereskan juga hidangan di sini, bawa untuk pesta kebun. Hubungi Kiro, dia harus ikut juga. Malam ini kita akan merayakan secara resmi kehadiran Bilven di rumah ini."
Pak Suroso mengangguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Bilven memandang Gavin tak percaya. Setelah menjilat jari-jarinya dan mengelapnya dengan tisu, dia meneguk habisnya cola-nya dan memandang Gavin dengan senyum semringah.
"Terima kasih. Kamu mau melakukan ini."
"Ini tidak gratis, Bilven. Apa yang kulakukan tidak gratis," katanya sambil tersenyum miring.
"Jadi? Harus aku bayar dengan apa? Sudah jelas uangmu lebih banyak dari aku," kata Bilven bersungut.
"Mendekatlah. Akan kuberi tahu cara membayarnya."
Tanpa curiga, Bilven mendekatkan telinganya ke arah Gavin. Dia pikir, Gavin akan membisikkan sesuatu.
Tanpa diduga, Gavin memegang dagu Bilven dan mendekatkan bibir Bilven ke bibirnya. Dia menciumnya dengan perlahan dan dalam. Awalnya Bilven terkejut, tapi lama-lama dia menikmati ciuman Gavin dan memejamkan mata. Sampai suara batuk-batuk kecil memisahkan bibir mereka dan Gavin maupun Bilven melihat Pak Suroso berdiri tegap di depan pintu.
"Semua sudah siap, Tuan Muda," katanya tanpa memandang keduanya.
"Terima kasih. Kami akan segera ke sana."
Sepeninggal Pak Suroso, Gavin menggenggam lembut tangan Bilven dan memandangnya. "Aku tidak bisa membawa mereka masuk dan berpesta di ruangan ini. Tradisi kuno dan juga ini area pribadi. Tapi aku bisa membuat pesta yang kamu inginkan di luar rumah. Lebih hangat dan lebih ramai, karena seluruh penghuni rumah bisa ikut bergabung. Anggap saja ini pesta penyambutanmu di rumah ini meski sangat terlambat." Gavin berdiri dan mengulurkan tangan pada Bilven.
"Mari, kita datangi pestanya!"
Bilven menyambut uluran tangan Gavin dan mengikuti langkah Gavin di belakang. Dadanya hangat dan sepanjang perjalanan dia tersenyum malu-malu.
Pesta penyambutan. Sedikit berlebihan sebetulnya, tapi dia suka. Seolah kehadirannya di rumah ini sedang diresmikan dan itu membuat dia senang sekali. (*)