Mobil yang mereka tumpangi sudah penuh dengan kantong belanjaan. Mulai dari pakaian, sepatu, sandal, dan juga beberapa aksesoris. Bilven tidak pernah belanja kelewat banyak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia dan Papa hanya membeli baju di departement store di kota mereka. Itu pun dalam setahun, mungkin hanya sekali ketika hari besar. Kadang tidak sama sekali karena memang tidak terlalu perlu untuk membeli baju baru.
Namun jiwa kewanitaan Bilven mendadak meronta-ronta ketika dia dibebaskan untuk membeli apa saja di butik itu. Awalnya malu-malu, lama-lama memalukan. Karena semua yang Bilven suka pasti langsung dibungkus tanpa melihat harga.Melihat tumpukan kantong belanjaan di mobil, dahi Bilven mengerut. Kiro yang memperhatikan kelakuannya, mendekati gadis itu dan menyentuh bahunya.
"Tenang saja, Nona. Kita tidak harus naik mobil yang sama. Sebentar lagi mobil Tuan Muda datang untuk membawa kita."
Mendengar itu, wajah Bilven menjadi cerah. "Ada Gavin?"
"Mmm, Tuan Muda tidak ikut. Mungkin menunggu di tempat makan siang," kata Kiro sambil mengedikkan bahu. "Ah, itu mobilnya sudah datang. Ayok, Nona!"
Kiro mempersilakan Bilven untuk masuk ke dalam mobil yang terlihat lebih mewah dari mobil yang pertama dia naiki. Dadanya sedikit berdebar karena mengira Gavin menunggu di tempat mereka makan siang. Wajah cerahnya membuat suasana di mobil lebih menyenangkan. Tidak sesuram ketika berangkat tadi.
"Mmm, Kiro, apa menurutmu baju baruku ini cantik? Kira-kira Gavin suka tidak, ya?" katanya sambil merapikan blouse peach tanpa kerahnya.
"Nona Sheila selalu bisa diandalkan kalau soal fashion. Seleranya disukai Tuan Muda." Baru sedetik Kiro selesai berkata-kata dia menarik napas panjang dan menyadari kesalahannya. Dengan gerakan lambat dia menoleh ke samping.
Benar saja. Wajah Bilven seperti siluman api dengan rambutnya yang memancarkan lidah api kemerah-merahan. Haduh, mengapa Kiro bisa seteledor ini?
"Tuan Muda suka meminta tolong Nona Sheila untuk memilihkan hadiah untuk Nyonya Besar. Kebetulan selera Nona Sheila selalu memuaskan Nyonya. Hanya itu," jawab Kiro takut-takut.
"Benar hanya itu?" tanya Bilven meyakinkan.
"Nona Bilven ... jangan cemburu pada masa lalu Tuan Muda. Karena Tuan Muda bukan orang yang suka kembali ke masa lalu. Sekarang Tuan Muda bersama Nona, sebaiknya Nona mulai memperbaiki diri agar tidak menjadi masa lalu Tuan Muda."
Bilven terkesiap mendengar perkataan Kiro. Tidak mengira jika lelaki di sebelahnya ini bisa mengatakan hal demikian. Namun Kiro benar, kalau dia tidak memantaskan diri untuk berada di samping Gavin, dia hanya akan menjadi masa lalu Gavin.
"Kiro ...." panggil Bilven lembut.
"Ya, Nona?"
"Aku mau belajar agar layak berada di sisi Gavin."
Kiro tersenyum samar. Kuda liar yang sulit dikendalikan, kini sudah mulai jinak.
Mobil memasuki pelataran parkir restoran masakan tradisional. Tidak ada menu istimewa yang ditawarkan pada tulisan di papan menu. Namun suasana asri dan privat sangat terasa dari interior restoran yang serba kayu dan gazebo gazebo kecil yang tersebar di seluruh restoran.
Kiro berjalan memimpin dan melewati deretan gazebo. Masuk melalui pintu geser ke sebuah ruangan yang lebih pribadi. Masih dengan interior yang serba kayu, ruangan itu memiliki air mancur mini di salah satu sisinya. Gemericik air yang menenangkan membuat suasana Bilven sedikit tenang.
Dia duduk lesehan di depan meja bernuansa Jepang. Menikmati welcome drink dan irisan buah segar sebelum menyantap hidangan utama. Matanya menyapu seluruh ruangan dan melihat dua pelayan sibuk menata piring di meja yang berada di depannya. Satu per satu makanan disajikan. Dari arah pintu dia masuk, pelayan lain membawa nampan-nampan berisi hidangan yang mengepul. Kiro memberi arahan ke mana hidangan itu harus diletakkan.
"Nona, silakan makan." Kiro membuka piring di depan Bilven dan hendak menyendok nasi untuknya.
"Kamu tidak makan? Gavin mana?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling.
"Tuan Muda menyusul. Dia berpesan agar Nona jangan sampai telat makan."
"Aku tidak mau makan sendirian." Bilven mulai merajuk.
Kiro mendesah dan bersiap untuk membujuknya. Dia menarik napas panjang sebelum memberikan wejangan-wejangan.
"Aku sedang malas diceramahi Kiro. Jika kamu ingin aku makan, duduk dan temani aku. Jika tidak mau, aku juga tidak akan makan. Aku Bilven, bukan majikanmu. Perlakukan aku seperti Bilven, bukan nona bangsawan." Bilven memandang Kiro dengan tatapan kesepian. Membuat hati Kiro tersentuh dan dia menuruti permintaan Bilven.
Sebenarnya, hal ini dilarang dalam kode etiknya sebagai kepercayaan Tuan Muda Gavin. Dengan Gavin pun, Kiro tidak pernah makan satu meja. Menurut aturan, dirinya yang hanya berasal dari golongan terendah, tidak pantas duduk satu meja dengan golongan tinggi seperti Gavin. Akan tetapi kasus sekarang berbeda.
Seperti yang dikatakan Bilven, dia hanya Bilven. Bukan nona bangsawan. Golongan mereka pun sama. Jadi tidak masalah mereka duduk satu meja. Lagi pula, Kiro harus memastikan Bilven makan agar tidak mudah sakit. Seperti yang di amanatkan oleh Gavin, dia harus menjaga Bilven sebaik-baiknya. Memastikan dia tidak kekurangan apa-apa dan bahagia. Namun membahagiakan sebenarnya tugas Gavin. Kiro tidak bisa menggantikan posisi Gavin di hati gadis itu. Entah apa yang sudah dilakukan Tuan Muda-nya, tapi Kiro bisa melihat kalau Bilven sudah jatuh cinta pada Gavin.
"Makan Nona sedikit sekali. Tidak seperti biasanya."
Bilven tidak mengomentari perkataan Kiro. Dia malas. Sungguh malas. Entah apa yang menyebabkannya begini. Makanan terasa hambar semua di lidah Bilven, dia juga merasa malas melakukan apa-apa. Tadi dia bersemangat untuk belanja, tapi kini dia hanya ingin pulang dan berbaring saja.
"Gavin tidak jadi datang?" tanya Bilven akhirnya. Dia tidak mengangkat wajahnya. Tangannya sibuk mengaduk-aduk nasi yang tak seberapa di atas piring.
"Tuan sibuk sekali Nona. Dia pimpinan sebuah perusahaan besar, jadi pekerjaannya sungguh banyak."
Desahan halus terdengar dari arah Bilven. Menyusul desahan lain yang lebih keras.
Sementara itu, beberapa kilometer dari restoran tempat Bilven makan siang, Gavin menerima sebuah pesan pribadi di ponselnya. Namun meetingnya belum selesai. Diskusi kali ini sungguh berat, tidak dicapai kata sepakat sedari tadi. Tidak juga ada pihak yang mau mundur dan mengalah. Gavin tidak bisa meninggalkan rapat begitu saja. Dia harus tetap berada di sini sebagai pimpinan dan bertanggung jawab terhadap hasil rapat. Sebagian besar sahamnya dipertaruhkan di sini.
Gavin mengetuk-ngetuk meja panjang di mana dia duduk di ujungnya sebagai pimpinan. Beberapa orang sedang asyik berdebat dan saling menunjuk. Suasana sebenarnya sudah cukup memanas sedari tadi. Tetap memanas meskipun mereka sempat break sebentar untuk makan siang. Gavin memanggil asisten duanya dan meminta dibawakan minuman dingin. Dia sungguh-sungguh butuh sesuatu untuk meredakan gejolak di kepalanya.
Pesan di ponselnya masuk lagi. Kali ini dia memutuskan akan menerima. Mungkin bisa mengalihkannya sebentar dari kondisi ruangan yang panas meski penyejuk udara mengalir dingin.
Pesan dibuka. Wajah manis Bilven yang bertopang dagu dan memandang jauh ke depan muncul di layar. Sosoknya terlihat sangat sepi. Membuat Gavin ingin segera merengkuh tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan. Bernapas seirama dengan gadis itu membuat dia merasa sangat damai dan tenang. Aroma manis Bilven bisa menyegarkan pikiran dan membuatnya bersemangat.
[Nona merindukan Tuan.]
Tulis Kiro di bawah foto itu. Gavin mengusah layar ponsel, menyentuh wajah Bilven dengan ibu jarinya. Dia juga merindukannya. Dia butuh Bilven untuk menenangkan pikirannya.
Tanpa pamit, Gavin bangkit dan berjalan cepat keluar ruangan lalu masuk ke dalam kantor pribadinya. Dia segera melakukan video call dengan Kiro. Sambil menunggu sambungan terhubung, Gavin mengenakan topengnya.
"Kiro? Sambungkan aku dengan Bilven," pintanya ketika wajah Kiro muncul di layar. Gavin berdebar menunggu muncul wajah Bilven. Dan ketika wajah manis gadis itu muncul di layar, hatinya seperti mau pecah dan dia ingin menjerit. Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Merasa bahagia meski hanya melihat wajah dan mendengar suaranya.
"Sayang ... maafkan aku. Hari ini aku sungguh sibuk dan tidak bisa menemanimu. Tapi aku merindukanmu kalau kamu mau tahu." Gavin mengucapkan kata-kata itu tanpa melepas pandangannya dari Bilven. "Katakan sesuatu," pintanya ketika Bilven diam saja. Dia pasti merajuk. Ah, betapa kekasihnya membuat dia gemas.
"Bilven?" Gavin memanggil lagi. Apa Bilven benar-benar marah? Mengapa dia diam saja?
"Aku janji nanti malam akan pulang cepat. Tapi tolong jangan marah. Aku tidak suka melihat wajahmu yang cemberut." Walau dalam hati Gavin mengakui meski cemberut, Bilven terlihat tetap manis. Bahkan semakin menggemaskan.
Bilven menarik napas panjang sebelum membuka mulut untuk berbicara pada Gavin.
"Gavin?"
"Ya ...."
"Cepat pulang dan bawakan aku pizza. Aku bosan makan nasi. Jika kamu tidak pulang cepat, aku tidak mau makan sampai besok, atau besoknya lagi. Pokoknya aku tidak mau makan sampai kamu sendiri yang datang membawakan pizza buat aku!"
Astaga! Bilven memang penuh kejutan. Perkataan gadis itu membuat Gavin tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Setelah berjanji akan membawakan pizza yang banyak untuk Bilven, Gavin berbicara sejenak pada Kiro. Memberinya beberapa instruksi lalu mengakhiri panggilan. Otaknya kembali fresh dan tenaganya terisi penuh. Dia siap kembali ke ruangan rapat untuk mengambil beberapa keputusan.
Cinta memang aneh. Dan sedikit gila. Bilven sudah mengubah banyak hal di hidupnya. Kehadiran gadis itu bukan saja menjadi penyemangat hidupnya, tapi juga membuat dia memiliki tujuan untuk tetap melanjutkan hidup. (*)