PERGI KE KOTA BESAR

1154 Words
Pergi ke kota! Wuihhh, Bilven senang bukan main. Ini bukan kota kecil yang berjarak lima belas menit dari desanya. Kalau kota itu, Bilven sering pergi ke sana bersama teman-temannya. Namun kota yang Bilven kunjungi kali ini adalah kota besar dengan segala kemegahannya. Bilven pernah pergi ke sana bersama Papa. Namun pergi ke kota bersama Papa kurang mengasyikkan. Papa ke sana untuk membeli stok pupuk dan benih sayuran karena teralu lama kalau harus menunggu pasokan dari distributor di kota kecil mereka. Namun pergi ke kota bersama Kiro rasanya sedikit berbeda. Sepanjang perjalanan juga tidak membosankan karena Kiro pandai bercerita. Pengetahuannya luas dan dia pernah pergi ke berbagai tempat untuk menemani Gavin. Bilven ingin mengenal Gavin lebih jauh lagi. Dia senang jika Kiro mulai bercerita tentang tingkah Gavin atau kebiasaannya. “Nona lelah? Kita bisa beristirahat dulu sebelum lanjut berbelanja? Saya tidak ingin dimarahi Tuan Muda karena Nona kelaparan. Berbelanja itu butuh energi besar,” tanya Kiro ketika mereka sudah memasuki gerbang kota. “Kamu menyindirku, Kiro?” “Saya? Menyindir? Tidak.” Kiro memasang wajah pura-pura polos. Membuat Bilven mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir karena tidak percaya dengan penyangkalan Kiro barusan. “Mmm, itu yang Tuan Muda katakan. Nona ini makannya besar, jadi saya harus memastikan Nona cukup makan selama perjalanan ke kota.” Apa?! Bilven tak mengira jika Gavin penuh perhatian seperti itu. Bahkan sampai tahu porsi makannya segala. Pantas saja di ruang makan selalu tersedia makanan yang banyak dan beraneka jenis padahal hanya dia saja yang makan. “Maksud Gavin ... aku rakus?” tanya Bilven tajam. “Eh, bu-bukan! Tuan Muda hanya bilang Nona sedang dalam masa pertumbuhan jadi wajar saja kalau makannya lebih banyak dari gadis biasa.” “Gadis biasa? Berapa banyak gadis yang sudah ditemui Gavin?” Astaga! Kiro menarik napas panjang. Susah sekali ternyata bicara sama anak gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Sensitif sekali. Perkataan apa pun yang dikeluarkan dari mulutnya harus hati-hati. Kalau tidak bisa menimbulkan pertanyaan balik yang mungkin tidak bisa dijawab. “Maksud saya, gadis-gadis sebelum Nona. Mereka tidak makan sebanyak Nona. Wajar, sih, karena mereka ketakutan. Jadi mungkin napsu makannya hilang. Berbeda dengan Nona yang selalu bersemangat.” Kiro mengangkat lengannya seperti para binaragawan. Dia tersenyum menenangkan Bilven. Sementara Bilven masih merasa belum puas dengan jawaban Kiro. Dia masih ingin tahu lebih banyak tentang Gavin. Namun tiba-tiba pandangan matanya meredup dan dia memandang keluar jendela. Mengembuskan napas berkali-kali. “Nona kenapa? Ada yang salah lagi?” tanya Kiro sambil menyentuh bahu Bilven. “Kenapa bukan Gavin yang nemenin aku ke kota? Kalau dia yang nemenin pasti rasanya menyenangkan,” keluh Bilven. “Apa bersama saya tidak menyenangkan?” Bilven menoleh menatap Kiro. “Kamu bukan Gavin,” katanya merajuk. Lalu mendesah lagi dan memalingkan wajah ke arah jendela. Memandangi kendaraan yang saling menyalip di jalur cepat. Diam-diam Kiro tersenyum dan menghubungi Gavin melalui ponsel. [Calon istri Tuan sepertinya merindukan Tuan. Apa tidak berniat mengakhiri permainan ini sehingga Tuan dan Nona bisa sering menghabiskan waktu bersama?] [Belum waktunya.] [Kiro, aku sudah di kota. Setelah meeting aku usahakan melihat kalian makan siang. Pergi ke tempat biasa, ya.] [Baik, Tuan.] Diam-diam ... Kiro mengambil foto Bilven yang sedang termenung dan mengirimkannya kepada Gavin. Tuan Mudanya itu sudah melihat foto Bilven tapi tidak berkomentar apa pun. Namun Kiro tahu, Tuan Muda pasti ingin segera menemui Bilven. “Nah, kita sudah sampai. Di butik ini ada kafe juga. Nona bisa minum sebentar atau makan camilan sebelum berbelanja. Nanti selesai berbelanja kita bisa makan siang di restoran kesukaan Tuan Muda. Sekadar info yang mungkin bisa membuat Nona bersemangat, Tuan Muda sedang meeting di kota ini. Mungkin dia akan bergabung dengan kita ketika makan siang nanti.” Mendengar perkataan itu membuat Bilven sangat bersemangat dan seperti disuntik doping, dia kembali tersenyum cerah dan keluar mobil tanpa diminta. “Kiro, boleh aku meminum sesuatu di kafe? Aku haus dan ... sedikit lapar,” katanya dengan mimik lucu. Membuat Kiro terbahak dan memintanya mengikuti dia masuk ke dalam kafe. Di dalam kafe, Bilven menyentuh siku Kiro dan mendekatinya untuk berbisik. “Tolong jangan bilang apa-apa pada Gavin, ya. Tentang selera makanku yang katamu nggak biasa.” Kiro mengulum senyum dan mengangguk cepat-cepat. Dia meminta Bilven duduk di salah satu kursi. “Nona tunggu di sini, ya. Saya akan memesankan sesuatu yang enak. Makanlah duluan, tidak perlu menunggu saya.” Bilven mengangguk. Dia sudah biasa makan sendirian. Sambil menunggu makanan datang, dia memandang berkeliling. Kiro sedang berbicara di meja kasir dan sesekali memandang ke arahnya. Bilven mengangumi interior kafe yang sungguh sejuk dengan bunyi gemericik air dari arah luar. Mungkin ada kolam ikan atau air mancur di belakang kafe. Pemandangan dari tempat Bilven terhalang partisi-partisi kayu dan pajangan lucu-lucu yang disusun memenuhi jendela kaca yang besar-besar. Ketika Bilven memalingkan wajah ke arah kasir, dia sudah tidak melihat Kiro di sana. Tidak masalah. Lelaki itu seperti jailangkung. Sama seperti tuannya. Suka datang tiba-tiba dan pergi tanpa pamit. Ketika makanan datang, Bilven pun tidak perlu menunggu Kiro. Dia menyantap semua makanan enak di atas meja. Kiro benar-benar mengerti seleranya. Bilven tidak heran ketika Kiro muncul tiba-tiba saat dia selesai makan. Tanpa banyak bicara, Kiro langsung membawanya ke pintu kafe yang mengarah langsung ke sebuah butik Bilven tidak tahu apa nama butiknya. Yang jelas, dia sangat terkesan dengan penataan butik yang menyusun pakaian berdasarkan warna. Bilven membayangkan mengunjungi butik ini bersama teman-temannya. Pasti mereka sama seperti dirinya sekarang ini. Terheran-heran dengan mata membelalak dan mulut menganga. “Nona, silakan pilih semua pakaian yang Nona suka,” kata Kiro pada Bilven sementara dia berbicara dengan seorang perempuan muda yang sangat cantik dan modis. Bilven hanya membolak-balik beberapa pakaian di dekatnya. Dia bingung akan memilih yang mana di butik sebesar ini dengan segala jenis pakaian yang beraneka model. “Sudah lama aku tidak melihatmu atau Gavin datang ke sini. Apa kabar tuanmu itu? Lama tidak menghubungiku. Dan siapa dia? Cewek barunya?” tanya perempuan muda yang berbicara dengan Kiro. Kiro mengajak perempuan itu menjauh dan menempelkan telunjuk di bibir. “Sheila, tolong kamu berikan yang terbaik untuknya. Asal kamu tahu, jangan mengharapkan Gavin lagi karena sekarang dia sudah punya calon,” tunjuknya dengan matanya ke arah Bilven yang masih bingung memilah baju. “Perempuan kampung itu calon Gavin? Kok, bisa turun selera, sih dia?” “Ssstt! Pelankan suaramu. Dia gadis yang Gavin cari selama ini. Kalau kamu ingin butikmu laku dan Gavin terus belanja di sini, sebaiknya kamu mulai bersikap baik sama gadis itu. Kamu tahu Gavin seperti apa, kan kalau sudah kecewa?” Perempuan bernama Sheila itu mengangguk. Jika Gavin sudah kecewa dan tidak suka dengan pelayanan seseorang, dia tidak akan segan memusnahkan usaha orang tersebut. Sheila menggantungkan keuangannya pada butik yang dia bangun dari nol ini dan Gavin adalah pelanggan utama. Dia tidak mau kehilangan sumber pendapatannya. “Baiklah. Aku akan mendandani dia agar sesuai selera Gavin.” “Goog girl!” Kiro menyentil hidung mancung Sheila dengan gemas. “Emm, Kiro ... apa kita bisa keluar makan sesekali?” Ajakan kencan. Bukan sekali ini Kiro mendapatkan ajakan kencan dari perempuan yang pernah didekati Gavin. Namun Kiro sudah tahu akhirnya, perempuan-perempuan itu hanya mendekati Kiro untuk mencari kesempatan mendekati Gavin. “Akan aku hubungi kamu nanti. Sekarang, dandani dia dulu. No limit!” Mendengar kata “no limit” membuat mata Sheila bersinar cerah. Itu artinya, jika Bilven ingin membeli barang satu toko pun, akan dibelikan oleh Gavin. Itu artinya juga, dia akan mendapat untung besar. Dengan bersemangat Sheila mendatangi Bilven dan mulai memilihkannya pakaian yang sesuai.(*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD