Malamnya, Bilven memaksa matanya membuka meski rasa kantuk hampir membuatnya ketiduran berkali-kali. Dia berlari kecil keliling kamar lalu melompat-lompat seperti kanguru. Semua dia lakukan supaya matanya tetap awas dan pikirannya tidak mengajak ke tempat tidur.
Tepat pukul sembilan malam, pintu kamarnya diketuk. Lalu handle pintu bergerak perlahan. Bilven waspada, walau dia sudah bisa menebak siapa yang akan datang jam segini.
Seraut wajah ... dengan topeng tentu saja, muncul dari balik pintu. Senyum tersungging di bibirnya dan rasanya Bilven ingin berlari ke pelukannya lalu melompat agar digendong olehnya. Badannya yang besar tentu cukup kuat untuk menggendong Bilven yang langsing.
"Selamat malam. Kamu menungguku?" tanyanya lembut. Suaranya membuat Bilven seperti di awang-awang dan lupa caranya turun ke bumi.
"Emm, aku belum ngantuk," jawab Bilven acuh. Namun dadanya berdetak cepat sekali dan bersuara terlalu kencang. Dia takut jantungnya tiba-tiba melompat ke luar saking cepatnya dia berdetak.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Tuan Muda melihat Bilven yang memegangi dadanya. Langkahnya lebar dan cepat menghampiri Bilven. Dia memegang pergelangan tangan Bilven.
"Aku nggak papa, kok," jawab Bilven. Ditepiskannya tangan Tuan Muda dan dia memilih duduk di tepi tempat tidur untuk menenangkan jantungnya.
'Sialan! Kenapa jantungku malah makin cepat berdetak. Dan kenapa dia begitu dekat denganku?'
Bilven menggeser duduknya. Dia tidak ingin Tuan Muda mendengar detak jantungnya. Melihat Bilven menggeser duduknya, Tuan Muda ikut bergeser juga. Jarak yang kembali rapat membuat Bilven bergeser lagi. Tuan Muda pun ikut bergeser lagi. Bilven bergeser lagi hingga dia hampir jatuh karena ternyata sudah berada di tepi ranjang.
"Stop! Cukup! Aku berdiri saja." Bilven berdiri di tepi tempat tidur. Tuan Muda ikut berdiri.
"Stop! Gavin, kamu nggak bisa apa nggak usah ngikutin aku?!"
"Kenapa? Masa aku nggak boleh dekat sama kamu?" tanya Gavin. Suaranya terdengar tak bersalah. Tidak tahu wajahnya. Mungkin di balik topeng itu Gavin sedang mengejeknya. Begitu pikir Bilven.
"Kalau dekat sama kamu otakku kehabisan oksigen!"
"Oh, ya? Kok, bisa?" tanya Gavin dengan suara polosnya. Membuat Bilven ingin menarik topeng dari wajahnya saking gemasnya.
"Kenapa tidak menjawab? Aku sudah membuat kamu tidak nyaman atau ... kamu yang ternyata mengagumi aku diam-diam?" Gavin tersenyum miring seolah mengejek Bilven.
Mulut Bilven menganga saking terkejutnya. Gavin ini punya rasa percaya diri yang kelewat tinggi. Dan kepercayaan seperti itu biasanya dimiliki oleh orang-orang yang punya ketampanan mendekati dewa.
Apa Gavin tampan? Bilven tidak punya bayangan. Namun setidaknya, melihat kulit Gavin yang halus terawat, membuat Bilven percaya kalau dia tidak sejelek Squidward.
"Kamu pede sekali. Orang pede biasanya moodnya bagus. Mumpung mood kamu lagi baik, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Bilven penuh harap.
Gavin memandangnya. Dia sudah mendapat laporan dari Kiro tentang keinginan Bilven. Namun dia ingin Bilven yang meminta sendiri padanya.
"Duduklah di sini. Kamu boleh minta apa saja kecuali pergi dariku." Gavin duduk di tempat tidur dan menepuk kasur di sisinya. Memberi kode pada Bilven agar duduk di dekatnya.
"Aku tidak menggigit. Aku bukan vampir." Gavin memperlihatkan giginya yang rata dan putih.
Melihat sikap Gavin yang seperti itu, Bilven melihat kesempatan untuk memastikan sesuatu. Dia berjalan mendekati Gavin dan memegang pipi lelaki itu. Diamatinya gigi Gavin. Semua normal. Tidak ada gigi taring yang mengandung racun mematikan yang bisa membuatnya mati seketika.
Gavin menahan kedua telapak tangan Bilven di pipinya. "Sudah puas?" tanyanya. Bilven mengangguk.
"Kini giliranku."
Ditariknya Bilven ke pangkuannya dan di kecupnya bibir Bilven dengan cepat. Secara alamiah, Bilven meletakkan kedua tangannya di pundak Gavin dan membiarkan dirinya hanyut dalam ciuman Gavin.
"Aku cemburu," bisik Gavin di telinga Bilven ketika ciuman mereka terlepas.
"Ke-kenapa?"
Didekatkannya kening Gavin ke kening Bilven. "Kamu dan Kiro. Kalian akrab sekali."
"Kamu mengawasi aku?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilanganmu."
Bilven memberanikan diri menyentuh bibir Gavin dengan bibirnya. Mereka kembali berciuman. Ciuman yang dalam, seolah waktu tak pernah cukup bagi mereka berdua.
"Aku nggak akan meninggalkanmu. Aku janji."
"Sungguh?"
"Kamu juga harus janji nggak akan meninggalkanku."
Dada Bilven terasa longgar ketika bisa mengucapkan kata-kata itu. Dia ingin membuat kesepakatan dengan Gavin. Dia ingin memastikan Gavin hanya untuknya. Dia mulai menginginkan Gavin sejak malam ini.
"Kamu nggak akan menyesal?"
Bilven menggeleng kuat-kuat. "Berjanjilah," pintanya.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, Bilven sayang." Dikecupnya lagi bibir manis kekasihnya.
"Kalau begitu, tidurlah bersamaku malam ini."
Gavin menurunkan Bilven dari pangkuannya. "Permintaanmu berlebihan," katanya sambil berdiri hendak keluar kamar.
"Jangan pergi! Kamu sudah berjanji nggak akan ninggalin aku."
"Tapi tidak untuk bersamamu semalaman."
"Kenapa? Hanya tidur. Kita hanya tidur. Aku kesepian di kamar ini. Di rumah sebesar ini. Aku rindu rumah. Please, jangan pergi." Suara Bilven mulai tercekat.
Entah setan apa yang bersarang di kepalanya sehingga dia bisa mengucapkan permintaan seperti itu. Bilven pikir, apa dia terdengar seperti perempuan murahan yang minta ditiduri? Namun sungguh dia tidak ingin sendirian setiap malam. Ketika bayang-bayang malam mulai turun, dia merasa seluruh kebahagiaan tercabut dari dalam dirinya.
"Please ...." Bilven menundukkan kepala. Berharap Gavin tidak melihat air matanya yang perlahan mulai menetes.
Namun Gavin melihatnya. Dia berjalan mendekati Bilven dan mengangkat wajahnya.
"Kamu tidak boleh menangis selama ada aku. Apa lagi untuk menangisiku." Gavin menghapus air mata yang meleleh di pipi Bilven.
"Permintaanmu kuturuti. Ada lagi?" tanyanya.
Tanpa sadar Bilven memeluk Gavin. Rasanya sungguh nyaman. Seperti pelukan Papa. Ah, Bilven sungguh menyayangi Gavin. Ya, Bilven menyayangi Gavin meski tak tahu alasannya apa.
"Tapi ada syaratnya," ujar Gavin sambil melepaskan pelukan Bilven.
"Pake syarat apa lagi?"
"Kamu belum boleh melihat wajahku sampai kita resmi menikah. Jadi kamar harus gelap. Tanpa ada cahaya sedikit pun."
"Ya, ya, terserah apa katamu. Asal kamu tahu, aku tidak peduli jika mukamu sejelek Squidward. Dengan hidung besar, jidat lebar dan berkerut juga pipi kendor dan bentuk muka tak beraturan." Bilven naik ke atas kasur dan mulai mematikan lampu. Dia menepuk-nepuk bantal dan merebahkan diri di balik selimut.
"Aku ngantuk. Kalau kamu masih mau berdiri di sana, tolong nanti matikan lampunya, ya."
Gavin menggeleng-geleng melihat kelakuan kekasihnya. Ya, Bilven adalah kekasihnya. Mungkin lebih baik menyebutnya demikian, sebelum mereka menikah resmi. Menyandang gelar istri bagi gadis seumuran Bilven mungkin terasa berat. Gavin tidak mau membuat Bilven merasa terenggut kebebasannya. Dia hanya ingin memastikan Bilven aman dan terus berada di sisinya.
Gavin melepas kemeja dan celana kerjanya. Dimatikannya lampu utama kamar. Lalu dia berjalan ke sisi tempat tidur dan mematikan lampu di sampingnya. Dia melepas topeng dan membaringkan diri di sebelah Bilven.
"I love you, Sayang," katanya sambil melingkarkan tangan ke perut Bilven.
Di tengkuknya, Bilven merasakan napas hangat Gavin. Dia bisa merasakan pipi Gavin, hidung Gavin dan bibir Gavin. Namun matanya terlalu mengantuk untuk membalas ucapan Gavin. Satu yang dia yakini, mimpinya akan indah malam ini.
_*_
Paginya Gavin terbangun lebih dulu. Dia memang terbiasa bangun Subuh untuk berenang atau olah raga lainnya. Dia memandang Bilven yang masih mendengkur halus di sebelahnya.
Setelah mengecup pipi Bilven, dia mengenakan topengnya lagi dan keluar kamar.
Di depan kamar Bilven, Kiro sudah menunggu dengan kimono kamarnya. Dikenakannya kimono itu ke tubuh Gavin.
"Suruh pelayan membereskan pakaianku di kamar Bilven dan pindahkan beberapa piyamaku ke kamarnya. Aku akan tidur di kamar Bilven setiap malam," kata Gavin sambil berjalan menuju halaman belakang.
Kiro membelalakkan mata. Tidak menyangka jika tuannya bergerak cepat. Dia berjalan di belakang Gavin dengan pikiran bermacam-macam.
"Jangan berpikiran kotor. Kami cuma tidur. Tidak ada hubungan fisik yang kelewat batas."
Kiro mengangkat bahu. Sewaktu di luar negeri, tuannya itu sering meniduri gadis-gadis. Berganti-ganti tiap malam.
"Dia berbeda Kiro. Dia bukan gadis biasa. Aku tidak ingin merusaknya karena dia istimewa." kata Gavin seolah bisa membaca pikiran orang kepercayaannya. Gavin melepas kimono dan topeng lalu memberikannya pada Kiro.
"Oh, ya. Hari ini, ajak dia ke kota untuk berbelanja. Belikan apa yang dia mau," kata Gavin sambil melepas alas kakinya.
"Tapi saya harus menemani Tuan rapat!"
"Dia lebih penting, Kiro. Jaga dia," pesannya sebelum menerjunkan diri ke air kolam yang dingin. (*)