BERSAMA KIRO

1697 Words
"Nona kenapa? Apa Nona cemburu?" tanya Kiro dengan tangan menutup mulutnya. Seolah pertanyaan Bilven barusan terdengar menggelikan. Bilven memutar bola matanya. Ada apa dengan laki-laki di rumah ini? Mereka seolah menganggap dirinya mainan baru yang lucu. "Aku nggak cemburu. Buat apa cemburu? Aku nggak kenal sama Tuan Muda Gavin." Bilven mengerucutkan bibirnya. Pipinya semburat merah muda. Hhh, cemburu. Enak saja Kiro bilang dia cemburu. Kiro masih terkikik dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bilven memandang sebal kelakuan Kiro. Apa-apaan, sih cowok satu ini? Ketawa saja malu-malu. "Kiro! Kalau kamu tidak bisa berhenti tertawa aku laporin Tuan Muda supaya kamu nggak usah ngikutin aku ke mana-mana!" ujar Bilven sebal sambil berlari menuruni tangga. Menyadari Bilven meninggalkannya, Kiro tersadar dan segera mengejar nona muda yang kini harus dia layani seperti dia melayani Tuan Muda. Jangan sampai Bilven mengadu pada tuannya. Jika itu terjadi dia bisa dipecat. Emm, mungkin berlebihan. Tuan Muda tidak akan memecat dia. Selain karena dia punya kedekatan khusus dengan Tuan Muda, hanya Kiro yang bertahan menghadapi kelakuan Tuan Muda yang punya emosi seperti Ninja Hatori. Mendaki gunung, turuni lembah. Turun naik, naik turun sesukanya. Kadang Tuan Muda bisa selembut dan semanis gula-gula, tapi dalam sekejap dia bisa berubah seperti singa betina yang baru pertama kali PMS. "Nona! Nona Bilven! Nona maafkan saya!" Kiro mengejar Bilven dan menggamit lengannya. Memegangnya beberapa saat sebelum Bilven menghempasnya kasar. Gadis muda berambut panjang sebahu ini melipat kedua tangannya di depan d**a. Pandangannya mengarah ke mana-mana. Mulutnya mengerucut dan bergerak-gerak lucu. Kiro setengah mati menahan diri untuk tidak terkikik lagi. Rumah suram dan angkuh ini memang sedikit cerah dengan kehadiran Bilven yang ceria dan segar layaknya remaja. Seperti embun di pagi hari yang bening dan membiaskan tujuh warna pelangi. "Maafkan saya. Tolong Nona jangan melaporkan perbuatan saya tadi kepada Tuan Muda." Kiro menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. "Kalau aku melaporkan, terus kenapa?" tanya Bilven sambil mengerutkan keningnya. "Tuan Muda akan menggantung dan mengiris leher saya sedikit. Dia akan membiarkan saya mati perlahan-lahan karena kehabisan darah," ujar Kiro serius sambil menundukkan kepala. Suaranya terdengar sedih dan ketakutan. Bilven menganga mendengar penjelasan Kiro. Matanya membelalak indah. "Tidak mungkin! Gavin benar-benar vampir? Dia bisa sekejam itu?" Diam-diam Kiro menyembunyikan tawanya. Dia harus minta kenaikan gaji karena harus menjaga gadis menggelikan ini. Urat ketawanya bisa putus satu per satu karena terlalu tegang dan sering menahan tawa. "Jadi tolong maafkan saya, Nona," katanya masih menunduk. "Ok-oke. Aku maafkan. Aku nggak akan mengadu sama Gavin. Eh, Tuan Muda." Suara Bilven melembut. Dia juga baru menyadari jika selama ini menyebut nama Gavin di depan Kiro. Padahal perjanjiannya hanya boleh menyebut nama Gavin hanya jika sedang berdua saja. Kiro mengangkat wajah dan tersenyum menenangkan Bilven. "Tidak apa-apa, Nona. Nona boleh menyebut nama Tuan ketika bersama saya. Tapi jangan sebut nama Tuan di depan orang lain apa lagi pelayan. Bisa-bisa mereka mengira Tuan sudah berlutut di depan Nona. Itu tidak baik untuk nama baik Tuan." Kiro menjelaskan dengan sikap tenang. Sekarang dia sudah bisa menguasai diri. "Baiklah Kiro. Sekarang kita mau apa?" tanya Bilven sambil memandang berkeliling. Dia menyadari jika mereka dari tadi hanya sendirian. Tidak ada pelayan yang hilir mudik sekadar menyapu atau mengelap pegangan tangga. "Terserah, Nona. Toh, Nona tidak mau belajar tata krama dan lainnya. Meskipun menurut saya, Nona perlu belajar semua itu, karena ...." Kiro tidak jadi melanjutkan perkataannya. "Karena apa?" selidik Bilven. Penasaran dengan kelanjutan perkataan Kiro. "Apa menurutmu aku urakan?" "Emm, eh, ti-tidak. Nona hanya terlalu bersemangat," jawab Kiro cepat-cepat. Bilven masih memelototinya dan menyipitkan mata. Berusaha mencari kebenaran dari perkataan Kiro. Dia berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada Kiro. "Eh, No-Nona mau apa?" Kiro sedikit cemas dengan kelakuan Bilven. Dia mundur selangkah. "Awas kalau kamu bohong!" ancam Bilven. "Kalau bohong kenapa?" "Aku akan mengiris bibirmu supaya tidak bisa mencium gadis-gadis," kata Bilven mengancam. Dia membalikkan tubuh dan berjalan perlahan meninggalkan Kiro dengan langkah yang slengean. "Nona sadis," desis Kiro sambil menggelengkan kepala. Entah mengapa tuannya bisa jatuh cinta dengan gadis bar-bar seperti Bilven. Namun dalam hati dia mengakui jika Bilven memang menarik dan cocok menjadi Nona di rumah besar yang sepi dan suram ini. Dia bisa mengimbangi pribadi Tuan Mudanya yang cenderung keras. Perpaduan sempurna untuk membuat kekacauan dunia. "Nona, tunggu!" Kiro berjalan cepat dan mensejajari langkah Bilven. Dia menawarkan diri untuk mengantar Bilven berkeliling dan gadis manis itu tersenyum setuju dengan usul Kiro. Di lantai atas, tersembunyi di balik dinding, sosok Gavin mengamati dengan teliti semua yang terjadi antara Bilven dan orang kepercayaannya. Dia tersenyum-senyum sendiri memandangi kelakuan Bilven. Gadis itu sungguh unik dan dia menyukainya. Gavin merasa dadanya menghangat setiap kali membayangkan dan menyebut nama Bilven. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk meresmikan hubungan mereka dalam selembar kertas. Sayang, niat itu tidak bisa disegerakan karena Bilven masih tujuh belas tahun. Menurut undang-undang, Bilven boleh menikah jika sudah berumur delapan belas tahun. Itu artinya setahun lagi. Gavin harus bersabar dan menunggu sampai saat itu tiba. Hingga Bilven berumur delapan belas tahun, dia harus menjaganya dan membuat Bilven benar-benar jatuh hati padanya. Yang terpenting, dia harus membuat Bilven mengingat dirinya. -*- "Kiro, aku lapar. Rumah ini luas sekali. Aku capek," keluh Bilven ketika mereka baru saja keluar dari kandang kuda. Dalam hati Bilven mengingatkan agar besok minta diajari menunggang kuda. Sepertinya menyenangkan. Dan memanah. Dia tadi melihat sasaran panah di kejauhan. Agak ke tepi hutan kecil di belakang rumah besar. "Kita masuk ke dalam. Nona membersihkan diri dulu baru kita makan." "Mandi? Tapi aku lapar. Aku mau langsung makan!" ujar Bilven setengah memaksa. "Nona ..., kita baru habis berkeliling. Berkeringat dan bau kuda." Kiro melihat Bilven mengendusi rambut dan tangannya. Dia menahan diri lagi untuk tidak terkikik. "Aku nggak bau kuda, kok. Kalu bau asam ..., sedikit, kok. Tapi, kan nggak apa-apa. Nanti saja aku mandi kalau sudah makan. Aku lapar banget, Kiro!" kata Bilven setengah merengek. Entah mengapa dia berbuat seperti itu. Rasanya enak sekali bisa bersikap sedikit egois. Toh mereka juga memanjakannya. "Setidaknya ganti baju, cuci muka dan tangan Nona dengan sabun," ujar Kiro tegas. "Eit! Tidak boleh membantah," katanya ketika dilihatnya Bilven hendak membuka mulut dan memprotes perkataan Kiro. "Oke, oke, aku ganti baju. Eh, Kiro ..., boleh minta sesuatu?" "Mmm, apa itu?" "Tolong bilang sama Gavin kalau aku minta baju yang lebih casual. Gaun-gaun ini bikin kulitku jadi gatal." Kali ini Kiro tertawa pelan. Tidak terkikik geli apa lagi ditahan. "Nona ..., Nona bisa bilang sendiri pada Tuan Muda. Nanti malam dia akan datang menemui Nona lagi, kan? Kali ini berusahalah untuk tidak tertidur." Wajah Bilven semburat merah muda. Dia mendekatkan diri pada Kiro dan mencari tahu. "Dia cerita apa saja sama kamu?" tanyanya penasaran. Wajahnya yang malu-malu dan bola matanya yang bergerak-gerak karena ingin tahu terlihat sangat menggemaskan. "Hanya bercerita yang perlu diceritakan. Tidak sampai hal-hal yang intim, kok. Nona tidak perlu malu." Bilven menarik diri dari Kiro dan berjalan disampingnya dengan langkah besar-besar. Tangannya mencabuti kelopak bunga mawar yang tadi dia petik di taman. "Mmm, Nona? Boleh saya minta sesuatu dari Nona?" tanya Kiro sambil menghentikan langkahnya. Bilven ikut menghentikan langkah dan membalikkan badan menghadap Kiro. "Apa?" "Jangan marah, ya, Nona. Tapi saya mohon, Nona mau memperbaiki tata bahasa Nona selama di rumah besar." Dahi Bilven mengernyit. "Memangnya kenapa dengan tata bahasaku?" "Berbicaralah dengan bahasa formal di rumah ini. Nona adalah calon istri Tuan Muda. Jadi harus bisa menyesuaikan diri." Bilven memandangi Kiro dengan tatapan yang sulit dilukiskan. "Mengapa Nona memandang saya seperti itu?" "Kiro ... baru kamu yang mengatakan kalau aku calon istri Tuan Muda. Semua bilang aku ini istrinya. Kamu nggak tahu kayak apa rasanya mendapati kenyataan dalam sehari kamu berumur tujuh belas sekaligus menjadi istri dari seseorang. Hhhh." Bilven menendang kerikit yang berada di ujung sepatunya. "Aku masih ingin kebebasanku Kiro. Aku masih ingin bermain dengan teman-teman dan juga bertemua Ayah. Kamu nggak tahu bagaimana perasaanku ketika dipaksa pergi ke rumah ini. Menjadi istri. Apa menurutmu aku sudah cukup pantas untuk menggendong anak?" tanya Bilven tiba-tiba pada Kiro sambil menatap sendu padanya. Dalam hati, Kiro mengasihani gadis di hadapannya ini. Gadis seumuran adiknya jika saja adiknya itu masih hidup. Dia tersenyum pada Bilven dan meraih telapak tangannya untuk digenggam. "Nona belum pantas untuk punya anak. Tuan juga tidak mungkin sekejam itu memaksa Nona menikah dengannya cepat-cepat. Dia membawa Nona ke rumah ini hanya untuk memastikan keberadaan Nona agar tidak menghilang lagi dari hadapannya. Dia sangat menyayangi Nona dan ingin membahagiakan Nona apa pun caranya." Kiro menepuk-nepuk punggung tangan Bilven. "Apa maksudmu, Kiro? Apa dia pernah mengenalku dan kami pernah bertemu sebelumnya? Rasanya nggak mungkin. Aku nggak pernah merasa kalau pernah bertemu Gavin sebelumnya." Menyadari kesalahannya yang terlalu banyak bicara, Kiro menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia mengeratkan genggamannya pada jemari Bilven. "Nona tidak boleh memikirkan hal seperti itu. Yang Nona harus tahu, Tuan Muda sangat menyayangi Nona dan ingin membahagiakan Nona. Jadi tolong perhatikan dan pahami dia. Mungkin caranya kadang kasar dan salah, tapi percayalah pada perasaannya yang tulus." Bilven memandangi Kiro dengan tatapan tak mengerti. Namun Kiro balas memandang dan seolah berkata, Bilven harus memahami perkataannya. "Ada kalanya kita harus diam untuk memahami suatu kejadian. Pahami dengan hati, bukan dengan perkataan. Nona masih sangat belia. Dan juga cerdas. Saya yakin, suatu saat Nona bisa memahami yang terjadi dengan Nona. Saya juga yakin Nona tidak akan menyesalinya. Anggap saja jika semua yang terjadi dengan hidup Nona memang sudah ditentukan oleh semesta. Nona tinggal menerima dan menjalaninya dengan baik." Bilven memandangi Kiro dengan lembut. Dia tersenyum pelan, lalu berubah menjadi tawa yang renyah. Kiro melepaskan pegangan tangannya dari Bilven dan memandang gadis ajaib itu dengan pandangan bertanya. "Apa saya mengatakan hal yang salah?" Bilven menghentikan tawanya dan memandangi Kiro dengan jenaka. "Kiro? Berapa, sih umurmu? Kata-katamu itu terdengar seperti kakek penjaga sekolahku, tahu tidak? Kalau kamu ngomong kayak gitu sama gadis-gadis, kamu nggak akan pernah bisa pacaran, tahu?!" kata Bilven sambil lanjut tertawa. Kiro memandangi Bilven tak percaya. Belum pernah ada gadis yang mengatainya dengan bebas seperti tadi. Mau tidak mau, dia ikut tertawa juga bersama Bilven. Kiro menyadari, sejak hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Bilven seperti angin segar yang diembuskan dari celah surga.(*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD