Bilven sedikit merinding mendengar suara dingin Tuan Muda di telinganya. Namun dia menguatkan diri dan mencoba terlihat sedikit angkuh.
“Dan kenapa aku harus takut? Apa kamu sejenis vampir yang suka menghisap darah gadis muda supaya panjang umur?” tanyanya sambil memalingkan wajah. Kini jarak antara pipinya dengan pipi Tuan Muda hanya sehembusan napas.
Tuan Muda mendengus mendengar jawaban Bilven. Gadis ini memang berbeda dengan gadis yang lain. Dia pemberani.
“Karena aku memang seharusnya menakutkan bagimu. Apa kamu tidak mendengar rumor yang beredar kalau gadis yang datang ke rumah ini tidak pernah kembali ke keluarganya?”
“Aku dengar,” jawab Bilven. Suaranya sedikit bergetar. “Tapi pasti ada alasannya kenapa mereka tidak kembali.”
Tuan Muda terbahak dan dia menjauhkan diri dari tubuh Bilven. Berdekatan dengan gadis itu terlalu lama membuatnya ingin memeluk dan mencumbunya. Bilven seperti magnet yang selalu menariknya untuk mendekat. Apa dia menyadari pesonanya terhadap Tuan Muda?
“Aku senang bisa membuatmu tertawa. Mumpung kamu bisa kutemui, aku ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu,” ujar Bilven tegas.
“Kamu di sini tawanan, Nona. Kamu tidak punya hak untuk bernegosiasi.” Tuan Muda berjalan ke mejanya.
“Aku istrimu!” kata Bilven sedikit berteriak. Membuat Tuan Muda membalikkan tubuh menghadapnya. Menyadari tatapan tidak suka dari Tuan Muda, Bilven cepat-cepat meralat ucapannya. “Ya, itu yang selalu kamu dan orang-orang di rumah ini katakan padaku. Aku ini istri Tuan Muda. Padahal kita tidak pernah terikat dalam upacara pernikahan resmi, kan? Hhh.” Bilven tersenyum sinis.
“Kamu benar. Kamu istriku sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Tak perlu ada upacara khusus untuk merayakannya. Perjanjian leluhur membuatku berhak melakukan apa saja dengan warga desa sini. Termasuk mengambil putri mereka untuk kujadikan istri.”
“Kamu jahat! Memanfaatkan kebaikan leluhurmu! Itu perjanjian kuno dan tidak pernah digunakan!”
“Tapi masih berlaku. Dan warga desa menurutinya, kan? Mereka punya hutang budi kepada leluhurku. Dengan norma-norma seperti itulah warga desa hidup selama ini. Hal-hal yang sudah mendarah daging susah untuk diubah.”
“Berapa? Kamu butuh berapa gadis untuk menjadi istrimu? Dan ke mana gadis-gadis yang lain?”
Tuan Muda menatap Bilven lembut. Tangannya dimasukkan ke saku celana dan dia menyandar pada sisi meja. “Aku hanya perlu satu. Sekarang hanya kamu. Dan aku tidak harus menjawab ke mana gadis-gadis yang lain.” Dia melangkah mendekati Bilven lagi. Tanganya terulur menyentuh pipi Bilven. “Apa kamu tidak senang berada di sini?” tanyanya lembut. Ujung jarinya mengusap bibir Bilven perlahan.
“Aku ..., aku ...,” Bilven kehilangan kata-kata. Tuan Muda memerangkapnya. Tubuhnya bereaksi berbeda dengan isi kepalanya. “Aku ingin kebebasanku. Aku tidak suka semua pelajaran itu. Aku ingin mengisi waktu luangku dengan hal-hal yang aku suka.”
“Oh, ya? Seperti apa misalnya?”
“Apa saja selain duduk dan mendengarkan Miss Camelia mengoceh tentang cangkir-cangkir atau melihat Miss Iris merajut benang. Aku bosan melakukan hal-hal seperti itu. Dan jika aku akan menjadi istrimu, aku tidak mau menghabiskan waktu untuk hal-hal semacam itu.” Bilven memberanikan diri menatap mata Tuan Muda. Iris mata cokelat cerah itu balik menatap tajam padanya. Apakah permintaan Bilven akan dikabulkan?
“Baiklah. Kamu boleh melakukan apa saja di rumah ini asal tidak mencoba kabur. Kalau kamu kabur, aku pasti akan menangkapmu dan menyuruh Miss Camelia mengoceh lebih lama soal cangkir dan juga piring-piring. Dan sebaiknya kamu takut kali ini, karena Miss Camelia punya pengetahuan soal piring melebihi toko keramik mana pun. Dan ya, dia senang menjelaskannya pada siapapun!”
“Terima kasih. Aku berjanji tidak akan kabur, asal ....” Bilven tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Asal apa?”
“Tidak. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku.”
“Kalau tidak ada yang lain, kamu boleh keluar dari ruangan ini,” tunjuk Tuan Muda pada pintu besar.
“Emm, sebenarnya ada satu lagi,” kata Bilven takut-takut.
“Kamu gadis yang banyak maunya, ya?”
“Namamu Gavin, kan? Boleh aku memanggilmu dengan nama itu? Kamu bilang aku boleh memanggilmu apa saja.”
Tuan Muda sedikit tercekat dengan keinginan Bilven yang ini. Mendengar gadis itu memanggil namanya mengingatkan dia akan sesuatu. “Ya, kamu boleh memanggilku dengan nama itu.”
“Terima kasih.”
“Hanya kalau kita sedang berdua saja. Selain itu kamu tetap memanggilku Tuan,” katanya datar sambil berjalan menuju kursi di balik meja kerjanya. Dia merebahkan diri di kursi empuk itu dan menekan sebuah tombol di atas meja.
Suara ketukan di pintu terdengar tak lama setelah Tuan Muda mengangkat jarinya dari atas tombol.
“Tuan memanggil saya?” tanya seorang pemuda yang mungkin lebih tua sedikit dari Bilven. Wajahnya tampan dengan dagu sedikit runcing. Hidungnya mancung dan sebuah kaca mata bulat bertengger di sana. perawakannya tinggi langsing, sepertinya dia hampir sama tinggi dengan Tuan Muda.
“Tolong antar Nona Bilven keluar ruangan. Mulai hari ini dia tidak lagi harus mengikuti pelajaran yang katanya membosankan. Terserah dia mau melakukan apa di rumah ini. pastikan saja dia tidak kabur.”
“Baik, Tuan,” kata pemuda itu sambil sedikit membungkuk.
“Bilven, mulai hari ini Kiro akan bersamamu. Anggap saja dia sebagai asistenmu.”
“Laki-laki? Aku lebih suka asisten perempuan!”
“Kamu ini banyak maunya, ya? Kiro ini kepercayaanku. Cuma dia yang kupercaya menjagamu di rumah ini!”
“Aku bisa jaga diri, kok!”
“Turuti perkataanku, Bilven!” kata Tuan Muda sedikit kejam. Membuat Bilven tak ingin berdebat lagi.
“Baik. Kiro boleh mengikutiku ke mana saja. Tapi aku juga mau asisten perempuan.”
“Terserah. Kamu boleh pilih satu dari sekian banyak pelayan di rumah ini. Sekarang keluarlah! Aku perlu konsentrasi.”
Kiro mengajak Bilven keluar ruangan. Sesampainya di luar ruangan, Bilven mengembuskan napas lega.
“Nona hebat bisa membuat Tuan mengubah keputusannya. Sepertinya Tuan betul-betul menyukai Nona.”
“Iya, setelah dia menyukaiku nanti dia menghisap darahku.”
“Nona pikir, Tuan Muda itu vampir?” tanya Kiro heran sekaligus geli. Dia mengajak Bilven berjalan menjauh dari ruang kerja Tuan Muda.
“Jadi apa ada penjelasan lain? Dia itu selalu pake topeng. Di ruang kerjanya nggak ada jendela. Dan dia selalu muncul kalau malam hari. Ciri-ciri vampir, kan? Ditambah lagi gadis-gadis sebelum aku nggak tau ke mana perginya.”
Mendengar penjelasan Bilven, Kiro terkikik geli. Dia menutup mulutnya agar tawanya sedikit teredam.
“Oh, bagus banget. Hari ini aku sudah membuat dua orang tertawa bahagia. Sepertinya aku berbakat jadi badut di rumah ini.”
“Maafkan saya. Tapi analisa Nona sungguh luar biasa. Tuan betul, Nona memang berbeda dengan gadis sebelumnya.”
“Memangnya gadis sebelumnya seperti apa?” tanya Bilven menyelidik.
“Mereka sedikit bodoh dan ketakutan. Wajar saja, sih. Karena Tuan selalu menemui mereka malam-malam dengan menggunakan topeng. Pasti mereka takut. Tapi anehnya, tidak ada yang berpikiran seperti Nona. Astaga, vampir!” Lagi-lagi Kiro terkikik geli.
“Emm, Kiro. Kalau kamu sudah selesai tertawa, boleh aku bertanya satu hal?” tanya Bilven ragu. Ada perasaan tidak enak menyelusup di dadanya mendengar penjelasan Kiro tadi.
“Apa yang ingin Nona tanyakan?” Kiro menghentikan langkah. Kini mereka sudah tiba di ujung tangga yang mengarah ke lantai dasar.
“Emm, apa yang Tuan Muda lakukan ketika menemui gadis itu di malam hari? Apa ..., apa seperti yang aku pikirkan? Maksudku .., apa dia ..., mmm, apa dia menceritakan sesuatu padamu?” Sesungguhnya yang ingin Bilven tanyakan adalah: Apa Tuan Muda mencumbu gadis-gadis itu seperti dia mencumbu dirinya? Atau mungkin lebih? []