SENANG BISA MEMBUATMU TERTAWA, TUAN!

1116 Words
He loves me ... He loves me not ... He loves me ... He loves me not ... Bilven mendesah lagi. Diam-diam dia memandang keluar jendela. Menghitung kemungkinan perasaan Tuan Muda dari daun yang terlihat gugur. Miss Camelia masih mengoceh dengan lincahnya. Dia sangat bosan. Tadi pagi Tuan Muda tidak kelihatan untuk menemaninya sarapan. Kepala pelayan membujuknya setengah mati untuk duduk diam di kursi dan menyantap sarapannya. Bilven berusaha merajuk lagi, namun kepala pelayan bilang usahanya akan sia-sia. Keajaiban tidak datang dua kali di rumah ini. Yang artinya, Tuan Muda tidak akan menemaninya sarapan pagi ini, besok, atau besoknya lagi. Tuan Muda tidak suka sarapan di meja. Yang terjadi tempo hari adalah keajaiban. “Sudah cukup. Saya bosan, Miss. Pelajaran ini tidak akan berhasil pada saya.” Bilven berdiri dan menghentakkan kakinya. Dia harus mencari kegiatan lain yang lebih berarti dibanding mempelajari pelajaran kuno tentang tata cara menjadi istri bangsawan. “Nona sebaiknya duduk. Pelajaran ini sangat penting untuk masa depan Nona,” kata Miss Camelia dengan sabar. “Apa gadis-gadis sebelum saya juga belajar seperti ini, Miss?” tanya Bilven menyelidik. Miss Camelia terlihat terkejut dengan pertanyaan Bilven. Dia salah tingkah. Baiklah, memang ada sesuatu yang disembunyikan di rumah ini, pikir Bilven. “Miss tidak perlu menjawab. Akan saya cari jawabannya sendiri,” ujarnya sambil berlalu dari hadapan Miss Camelia yang melongo ditinggalkan Bilven. Keluar dari ruang perpustakaan tempatnya belajar, dia sedikit kebingungan mau ke mana. Rumah ini besar sekali. Bilven hanya tahu kamarnya, ruang makan, dan perpustakaan. Selebihnya dia tidak tahu. Karena tidak ada kesempatan baginya untuk menjelajahi rumah ini. Sekarang kesempatan itu datang. Dia harus tahu dia tinggal di tempat seperti apa supaya bisa menyusun rencana selanjutnya. ‘Aku nggak perlu pelajaran tata krama dan lainnya. Toh, kalau aku bakalan hilang kayak gadis-gadis yang dulu itu, pelajaran tata krama nggak akan bisa menyelamatkan aku.’ Bilven berjalan menuju tangga besar yang melingkar ke atas dengan indah. Ruangan tempatnya berada sungguh besar. Mungkin ini seperti auditoriumnya rumah ini, pikir Bilven. Tempat diadakannya pesta-pesta mewah. Bilven pernah melihat ruangan seperti ini di film India yang dia tonton bersama teman satu gengnya. Waktu itu mereka bosan setengah mati dan Raisa menyodorkan DVD India kesukaan mamanya. Lumayan juga, film yang entah apa judulnya itu cukup menghibur dan mereka bisa tertawa melihat kekonyolan tokoh-tokohnya. Ketika kaki Bilven menyentuh anak tangga paling bawah, sebuah suara mengejutkannya. “Nona! Mau ke mana? Bukankah Nona seharusnya belajar di ruang perpustakaan?” Bilven menoleh dan melihat pelayan yang melayaninya di hari pertama sedang memandangnya panik. Di pintu masuk perpustakaan dia melihat Miss Camelia berdiri dengan panik juga. Bilven sedikit bimbang melanjutkan rencananya, namun dia tidak mau duduk bosan di depan Miss Camelia lagi. Dia pun berlari menaiki anak tangga. Bilven mendengar derap langkah di belakangnya namun dia tak mau menoleh. Di ujung tangga paling atas, Bilven kebingungan. Mau ke kanan atau ke kiri? Rumah ini luas sekali. Banyak pintu-pintu di sepanjang lorong. Mengikuti kata hatinya, Bilven berbelok ke kanan. Terus berlari sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari peluang mencari pintu yang terbuka. Ketika di dengarnya para pengejar sudah berada di belakangnya, Bilven mulai panik. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai tertangkap. Pasti tidak akan terlalu buruk. Pasti diceramahi Miss Camelia dan dihukum tidak dapat makan siang. Tidak! Bilven bukan anak kecil. Dia tidak sudi diperlakukan seperti itu. Dia pun mulai mencoba membuka pintu-pintu tertutup yang berada di sepanjang lorong. Ketika menoleh ke sebelah kanan, dia melihat ada pintu yang bentuknya sedikit berbeda dibanding pintu lainnya. Lebih besar dan lebih tinggi. Bilven mencoba peruntungan dan mendekati pintu itu. Lalu membukanya. Berhasil! Bergegas dia masuk dan segera menutup pintu itu lalu menguncinya. Ketika membalikkan badan, dia cukup terkejut ketika menyadari di mana dia berada. Perpustakaan. Lagi-lagi perpustakaan. Ada berapa perpustakaan di rumah ini sebenarnya? Eh, tunggu. Tapi perpustakaan ini sedikit berbeda dari yang dia temui di bawah. Tidak seluruh dindingnya penuh buku. Buku hanya terletak di dinding selatan. Selebihnya, dinding dihiasi lukisan dan ada lemari yang memajang beberapa penghargaan. Bilven mendekati lemari pajangan itu dan mengamati nama-nama yang tertulis di sana. Gavin Leon Chastelein. Semua plakat dan penghargaan di lemari itu atas nama satu orang. Gavin. Siapa dia? Ketukan lembut di pintu mengejutkannya. Sepertinya para pengejar sudah sampai di pintu. Bilven mundur selangkah sembari memandang ke arah pintu. Matanya menatap ke sekeliling ruangan, mencari-cari celah dia bersembunyi atau bahkan melarikan diri lagi. Di sudur ruangan ada pintu kecil. Dia tidak tahu pintu ke mana. Namun tidak ada salahnya mencoba. “Itu pintu ke kamar mandi kalau kamu mau tahu,” kata suara lembut di belakangnya. Bilven terkejut. Dia menoleh ke arah suara itu. Bagaimana bisa tadi dia tidak melihat ada seseorang duduk di balik meja tulis besar dengan laptop terbuka di atasnya? Ketika seseorang itu bangkit, Bilven menyadari jika tadi tubuh itu sedikit rebah di atas kursi kerjanya yang terlihat nyaman sehingga dari sudut pandangnya, seseorang itu tidak kelihatan. “A-aku ....” Dia menyadari siapa sosok itu. Dan rasa panik mulai menyergapnya lagi. Tidak seharusnya dia berada satu ruangan dengannya di siang hari, setidaknya itu yang dikatakan Tuan Mudanya. Ketukan di pintu terdengar lebih intens. Gavin berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu dan tersenyum kepada pelayan dan Miss Camelia yang berdiri dengan sedikit membungkuk di depannya. “Tidak apa-apa. Istriku aman di sini. Mungkin dia sedikit rindu padaku. Kalian tahu sendiri, kan bagaimana pengantin baru?” kata Gavin menenangkan. Bilven melihat pelayan dan Miss Camelia tersenyum canggung. Dia memutar bola matanya. Apa katanya? Rindu? Setelah Gavin menutup pintu, dia berbalik dan berjalan ke arah Bilven lalu berdiri di depannya dengan melipat tangan di d**a. “Apa ada yang mau mengaku dosa hari ini?” tanyanya dengan senyum mengejek. Dari balik topengnya, Bilven bisa melihat sorot mata Gavin yang menelusuri tubuhnya dari kepala sampai kaki. Lalu dia tersenyum geli. “Apa yang lucu?” sungut Bilven. Baginya, Tuan Muda satu ini sekarang tidak terlihat mengerikan. Sebaliknya, Gavin terlihat menyebalkan. “Kamu. Kamu bikin aku tertawa. Kupikir gaun-gaun ini bakal bikin kamu terlihat lebih anggun. Ternyata tidak, ya? Kamu terlihat seperti ..., seperti apa, ya?” Gavin mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari. Matanya memandang ke atas seolah sedang berpikir keras. “Seperti apa? b*****g?” Bilven tidak akan heran dengan penilaian terhadapnya. Karena teman-temannya pun beranggapan demikian jika dia mengenakan rok. Tuan Muda Gavin tertawa keras hingga perutnya berguncang. Dia menunduk sedikit untuk menekan perutnya. Benar-benar Tuan Muda yang tidak ada wibawanya, pikir Bilven. “Senang bisa membuatmu tertawa, Tuan Muda. Ternyata kamu tidak semengerikan saat pertama kali kita ketemu.” Kata Bilven santai. Tawa Gavin terhenti. Dia mendekati Bilven dan menghimpitnya hingga ke lemari pajangan. Tubuh mereka kini hanya dibatasi pakaian yang melekat di badan. Napas Gavin terasa hangat di kening Bilven. “Seharusnya kamu takut. Bilven. Sebaiknya kamu takut,” bisik Tuan Muda di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD