Bulan dan matahari enggak bakal bisa bertemu. Dari itu mereka saling merindu. Jangan sampai kita seperti mereka. Terpisah dan jadi merindu.
_Ali
***
Ali menghentikan mobilnya. Ia sudah sampai di rumah Keisya. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang. Ia mengeluarkan Keisya dari dalam mobilnya. Agak sulit memang, apalagi tubuh Keisya berat. Meski terlihat ramping bak seorang model.
Ali menggendong tubuh Keisya menuju pintu rumah Keisya. Sesekali Ali melirik wajah mulus Keisya. Dapat terlihat mata Keisya tertutup dengan rapat. Bibir tipisnya berwarna merah muda mengatup dengan rapi. Keisya cantik, Ali akui itu.
Ali tersenyum sedikit. Ia benar-benar tidak menyangka. Gadis yang dijulukinya si curut, kini tumbuh seperti bidadari dari kayangan. Tiba-tiba Ali jadi teringat saat bibir tipis Keisya menyentuh bibirnya. Dengan cepat Ali melenyapkan ingatan itu. Ali mempercepat langkahnya menuju pintu rumah Keisya. Ali segera memencet bel dan tak lama Bunda Keisya membukakan pintu.
"Keisya kenapa Li?" tanya Bunda Keisya khawatir karena melihat anaknya tak berdaya dalam gendongan Ali.
"Dia ketiduran, Tante," jawab Ali bohong. Ia gak bisa jawab jujur kalau Keisya sebenarnya mabuk. Karena ia gak tega dengan Bunda Keisya kalau mengatakan yang sebenarnya.
"Ya udah, ayo bawa masuk," ucap Bunda Keisya.
Ali pun masuk ke rumah Keisya. Ia mengikuti langkah Bunda Keisya yang mungkin mengarah ke kamarnya Keisya. Dan benar saja, Bunda Keisya membuka kamar yang bertulis: room private Keisya. Itu sudah pasti kamarnya Keisya. Ali pun masuk ke dalam kamar itu bersama dengan Bunda Keisya.
"Ini kamar Keisya, berbarikan saja dia di sana." Bunda Keisya berucap sambil menujuk tempat tidur Keisya.
"Baik, Tante." Ali menjawab lalu merebahkan tubuh Keisya di tempat tidur gadis itu.
Ali juga merapikan posisi tubuh Keisya agar berbaring dengan posisi yang nyaman. Ali melepaskan sepatu high heels Keisya. Kemudian ia menyelimuti tubuh Keisya dengan selimut. Tak hanya itu, Ali juga menggapai tisu yang terletak di meja samping tempat tidur Keisya. Ia mengusap wajah Keisya yang dipenuhi keringat dengan tisu itu. Ali kasihan melihat Keisya. Mau bagaimana pun, Keisya adalah wanita yang juga berarti dalam hidupnya.
Bunda Keisya yang berdiri memperhatikan Ali hanya tersenyum. Dia tahu, Ali dan anaknya memang sangat dekat. Wajar jika Ali memberikan perhatian lebih ke Keisya. Dia juga kenal Ali sudah lama. Dia tahu, dulu Ali anak yang nakal. Sama seperti Keisya yang dulunya tomboy dan susuah dibilangin. Meski begitu, Ali selalu berprilaku baik ke Keisya. Enggak pernah macam-macam ke Keisya. Bahkan Ali sampai rela setiap sekolah selalu mengantar jemput Keisya.
"Ali, Tante keluar dulu ya," pamit Bunda Keisya keluar dari kamar Keisya. Dia mau pergi ke dapur untuk membuatkan Ali minuman.
"Iya Tante," sahut Ali.
Ali selesai mengurusi Keisya. Ia berbalik badan dan berjalan keluar kamar sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ia harus segera pulang sekarang.
"Tante, Ali pamit pulang dulu ya. Soalnya udah malem banget," ujar Ali yang kini di ruang tengah.
"Duduk dulu Li, Tante udah buatin kamu minuman. Kamu minum dulu ya," ucap Bunda Keisya yang tengah duduk di kursi ruang tengah.
Ali pun manarik kursi dan menundukkan dirinya. Ia enggak enak kalau menolak tawaran Bunda Keisya. Ali pun menggapai gelas yang berisi cappucino hangat yang disuguhkan untuknya. Ia meneguknya dan kembali meletakkan gelas itu.
"Minumannya enak Tante, makasih," ucap Ali.
"Sama-sama," balas Bunda Keisya sambil tersenyum.
"Kalau gitu, Ali pulang dulu ya Tante," pamit Ali. Ia segera beranjak.
Bunda Keisya mengangguk. Dia pun mengantarkan Ali sampai pintu depan. Saat udah di depan rumah. Bunda Keisya menggapai pundak Ali sambil berkata, "Makasih ya Li. Kalau gak ada kamu, Tante gak tau deh nasib Keisya gimana. Dari dulu, kamu selalu bisa jagain Keisya. Makasih ya."
"Iya, sama-sama Tente. Keisya itu kan, teman Ali. Wajar jika Ali jagain dia," balas Ali tak lupa senyum berbarengan dengan ucapannya.
"Tante dengar kamu udah menikah ya, selamat ya. Maaf, Tante baru bisa ngucapin sekarang. Soalnya kita udah lama gak ketemu. Kamu udah gak pernah main lagi ke sini."
"Makasih Tante. Gapapa kok, baru ngucapinnya sekarang. Maaf, Ali gak pernah main ke sini lagi. Soalnya sibuk kerja sama kuliah juga."
"Kalau gitu, Ali pulang dulu ya Tante. Assalamualaikum," tambah Ali. Sebelum ia pergi, Ali mencium punggung tangan Bunda Keisya terlebih dulu.
"Waalaikumsalam," sahut Bunda Keisya.
Ali melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobil dan berlalu pergi.
***
Mata Aisyah terbuka. Ia mendengar suara berisik mobil malam-malam. Ia jadi terbangun gara-gara suara bising mobil itu. Entah siapa yang datang, dan mengakibatkan tidurnya terganggu.
Apakah itu pencuri yang mencoba merampok rumahnya? Ah, tidak mungkin. Jika pencuri, masa menimbulkan suara yang berisik. Apa mungkin orang tuanya datang? Tidak mungkin juga. Mana mungkin mami-papinya malam-malam bertamu. Lantas, siapa yang datang jika begitu?
Aisyah meraba ke sampingnya. Rencananya mau membangunkan suaminya dan menyuruh mengecek siapa yang datang malam-malam. Namun, Aisyah raba-raba kasurnya terasa datar, tidak ada yang berbaring di sebelahnya. Terus Ali dimana? Aisyah lalu menoleh dan tidak mendapati Ali tidur bersamanya. Ali hilang.
Aisyah mendudukkan dirinya. Ia berfikir sejenak. Apa mungkin suara mobil yang berbunyi barusan itu mobilnya Ali. Jika benar, Ali dari mana? Kenapa pergi secara diam-diam? Ia bahkan tidak sadar saat Ali meninggalkannya. Apa mungkin Ali sengaja tidak pamit kepadanya? Tapi kenapa?
Aisyah jadi bertanya-tanya. Apalagi ini malam hari. Jika siang hari Aisyah masih maklumi. Namun, ini sudah larut malam. Jam aja sudah menunjukkan setengah satu. Terlintas pemikiran negatif di otak Aisyah tentang Ali. Apa jangan-jangan Ali selama ini sering meninggalkannya saat ia sedang tertidur? Tapi tujuan Ali kemana?
Aisyah merugas turun dari tempat tidur. Ia melangkah keluar kamar. Sampai di ruang tamu Aisyah membuka tirai jendela dan mengintip ke arah luar rumah. Ia mendapati Ali di garasi. Tampaknya Ali baru keluar dari dalam mobil.
Aisyah menutup kembali tirai jendela. Ia mendudukkan dirinya di sofa. Ia sudah tak sabar menyambut kedatangan suaminya yang diam-diam pergi dari rumah tanpa sepengetahuannya. Ia akan mengintrogasi suaminya itu.
Pintu utama pun perlahan terbuka. Ali memunculkan dirinya di balik pintu yang terbuka tak terlalu lebar. Ia masuk ke dalam rumahnya dan kembali menutup pintu dengan perlahan supaya tidak menimbulkan efek suara.
"Dari mana kamu?" tanya Aisyah sambil berjalan mendekati Ali.
"Aisyah," ucap Ali kaget melihat istrinya yang ada di ruang tamu. Kiranya Aisyah tidur. Tapi ternyata istrinya sedang memergokinya. Pasti suara mobilnya yang membangunkan Aisyah. Ah, ia ketahuan.
"Ayo jawab kamu darimana?" tanya Aisyah mengintrogasi Ali. Siapa sih, istri yang hanya diam saja jika mengetahui suaminya pulang larut malam dan tanpa seizinnya. Pasti seorang istri yang sayang sama suaminya akan marah. Suami yang berbuat begitu sama halnya menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Alias cari mati. Hanya pribahasanya saja.
"Aku dari party kampus," jawab Ali terus terang.
Aisyah melipat tangannya di atas d**a. "Siapa yang izinkan kamu pergi?" tanyanya dengan nada marah.
"Kamu," jawab Ali.
"Aku?" Aisyah menunjuk dirinya. Ia enggak merasa mengizinkan Ali pergi. Jika benar Ali meminta izinnya. Enggak mungkin ia terima, yang ada ia tolak.
"Iya kamu, tapi kamunya tidur."
"Kenapa gak dibangunin?"
"Gak tega."
"Alesan."
"Enggak Aisyah. Aku gak alesan. Aku betul-betul enggak tega kalau bangunin kamu. Kamu tidurnya nyenyak banget," jelas Ali penuh kelembutan. Tak ada satu katapun yang berintonasi marah. Ia harus sabar. Ia gak boleh berdebat dengan istrinya, karena perdebatan yang dimulai oleh seorang suami pada istrinya adalah perbuatan dosa.
"Kamu tau kan, kalau aku gak suka kamu pergi ke acara begituan!" Aisyah menatap Ali dengan tatapan marah.
Ali menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Ia enggak boleh terbawa emosi. Ini memang kesalahannya. Pantas kok, jika istrinya marah. Karena ia pergi tanpa izin dan pulang sangat larut malam.
"Iya aku tau," ucap Ali menunduk merasa bersalah.
"Terus kenapa kamu tetap pergi?"
Ali mengangkat kepalanya memandang Aisyah. "Terpaksa Syah. Karena aku selalu gak hadir di acara kampus. Jadi untuk kali ini aku pergi. Aku minta maaf gak izin sama kamu." Ali menggapai tangan Aisyah dan menciumnya. Ali kemudian memeluk tubuh Aisyah. Agar Aisyah bisa tenang.
"Maafin aku ya istriku," ucap Ali dalam pelukan hangat tubuh istrinya yang berbau harum. Aroma tubuh Aisyah sangat ia sukai. Setiap saat ia merindukan aroma khas istrinya itu.
"Lepasin!" Aisyah meminta Ali melepaskan tubuhnya.
"Aku masih kangen sama kamu," bicara Ali.
"Lepasin!"
"Iya-iya oke, aku lepasin." Ali melepaskan pelukannya. Lalu ia tersenyum menatap istrinya yang menatapnya juga. Tapi Aisyah enggak senyum. Aisyah hanya cemberut.
"Janga marah, please ..." pinta Ali sambil menggenggam tangan Aisyah.
Aisyah diam aja dengan wajah cemberutnya. Ali menggapai sudut bibir Aisyah dan mengangkatnya. Sehingga sudut bibir Aisyah jadi membentuk senyuman.
"Nah, kalau gini kan, cantik," puji Ali. Ia mengaitkan satu tangannya di leher Aisyah. Lalu ia tarik tubuh Aisyah dalam pelukannya.
Aisyah hanya diam dalam dekapan Ali. Ia mulai membalas pelukan Ali. Ia melingkarkan tangannya di punggung Ali dan menyadarkan kepalanya di pundak Ali.
"Aku gak serius marahin kamu. Aku hanya khawatir sama kamu." Aisyah berucap pelan.
"Iya aku tau kok. Gapapa kamu marahin aku. Aku memang salah. Aku gak pamit pergi sama kamu. Maaf ..." Ali berucap lirih, ia kemudian mencium pipi kanan Aisyah dengan pelan.
"Aku sayang kamu Ali. Aku takut kamu ninggalin aku." Aisyah mempererat pelukannya.
Ali melepaskan pelukannya. Tangannya menggapai kedua pundak Aisyah. "Kok kamu ngomongnya gitu?" tanyanya.
Aisyah enggak jawab. Ia langsung memeluk tubuh Ali dan tiba-tiba Ali merasakan pundaknya basah.
"Kamu nangis?" tanya Ali.
"Hiks ..." Aisyah tak tahan menahan air matanya yang terus mengalir, meski ia sudah berusaha menghapusnya.
Ali mempererat pelukannya dan tangannya mulai mengelus punggung Aisyah untuk menenangkan. "Aku gak bakal ninggalin kamu Syah ..." ujarnya lirih.
"Kamu gak selingkuhin aku, kan?" tanya Aisyah membuat satu alis Ali terangkat, kerena bingung dengan pertanyaan istrinya itu. Ia gak menduakan Aisyah. Namun Kenapa istrinya menuduh ia berselingkuh?
"Kok, kamu nanyanya gitu? Gak mungkin aku selingkuhin kamu Syah," jelas Ali sambil melepaskan pelukannya dan ia memegangi pundak Aisyah.
Aisyah mendekatkan dirinya ke tubuh Ali. Ia memejamkan matanya, lalu mencium aroma tubuh Ali. Setelah itu, ia membuka mata dan berkata, "Aroma tubuh kamu bau parfum wanita. Dan bau itu bukan bau parfum aku."
"Siapa wanita itu Ali?" tanya Aisyah membuat Ali langsung membeku dan diam di tempat.
***