13

2047 Words
"Kapan lo mau punya anak?" tanya Keisya. "Kapan-kapan," jawab Ali. "Kenapa?" "Gapapa." "Belum pengen ya?" Ali enggak langsung menjawab. Ia diam. Terus terang saja. Ali enggak pernah memikirkan soal dirinya yang ingin segera memiliki momongan. Baginya hidup berdua dengan Aisyah sudah lebih dari cukup. Lagian ia masih muda. "Al, ditanya kok malah diam," ujar Keisya sambil menyentuh pundak Ali. Soalnya Ali bengong. "Gapapa. Gue lagi mikir aja." "Mikirin apa sih?" "Soal pertanyaan elo." "Terus apa jawabannya?" "Kalau Tuhan udah kasih," jawab Ali. Buat apa juga ia memikirkan masalah anak. Kalau udah rezeki juga gak bakal lari. Kalau Tuhan sudah menghendakinya ia segera memiliki keturunan, ia bakal sangat senang. Dan jika belum dikehendaki, ia gak bakal sedih. Untuk apa sedih, lebih baik jalani kehidupan dengan kebahagiaan. Hidupkan hanya sekali. Makanya jalani dengan senyum. Ali dan Keisya kini terdiam. Tidak ada lagi obrolan yang mereka bahas. Keisya kembali fokus menyetir. Jalanan macet dan Ali hanya memandang ke arah depan melihat kendaraan yang berlalu lalang. Meski sudah malam jalanan tetap saja ramai dan membuat jalanan jadi macet. Mobil mereka pun jadi tertahan. "Al, lo masih ingat gak tentang kita?" tanya Keisya tiba-tiba. Membuat Ali langsung menoleh ke Keisya. "Tentang kita, maksud lo?" Ali balik bertanya. "Lo benar-benar lupa, atau pura-pura lupa?" "Jika maksud lo tentang pertemanan kita waktu dulu, tentu gue ingat. Kita sering ribut, berantem tiap hari. Tapi kita gak pernah saling benci dan marahan. Gue juga sering anterin lo pulang sekolah, pakek sepada gue yang gue bilang itu motor gue di masa depan. Lo senang setiap gue boncengin pakai sepeda gue itu." "Tapi yang gue maksud bukan kenangan itu." "Terus apa?" "Kenangan saat lo nganterin gue ke Bandara. Tempat yang memisahkan kita. Ada ucapan yang elo ucapkan ke gue. Dan apa lo masih ingat perkataan lo waktu itu?" Ali paham sekarang dengan pertanyaan Keisya. Cewek itu bertanya tantang kejadian enam tahun lalu. Saat dirinya mengantar Keisya ke Bandara. Waktu itu Keisya mau pergi ke Singapura. Pindah ke sana untuk waktu yang cukup lama. Dan pada saat itulah Ali mengatakan sesuatu ke Keisya. Hal yang mungkin berarti bagi Keisya. "Gue masih ingat. Terus kenapa?" jawab Ali lalu bertanya. "Gue mau, lo katakan lagi." Keisya berujar. "Oke. Gue bilang waktu itu, lo cewek pertama yang gue suka. Udah, itu aja." Waktu itu, Ali mengungkapkan perasaannya. Ia mengaku pada Keisya bahwa ia menyukainya. Tiga tahun bersama dan selalu barengan membuat Ali pada saat itu merasakan nyaman saat di dekat Keisya. Keisya gadis yang baik walau menyebalkan. Lama-lama ia tertarik dengan Keisya dan ia pun mengungkapkan perasaannya. Bahwa ia suka Keisya. "Sekarang, lo masih suka sama gue?" Keisya bertanya. Dia gak malu bertanya begitu sama Ali. Karena emang dari dulu dia selalu terbuka dengan Ali. Dia bukan tipe cewek yang malu-malu bertanya. Lagian pertanyaannya kali ini, adalah pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan. Siapa suruh, dulu Ali bilang suka ke dirinya. Dan sekarang dia ingin tahu banget, apa Ali masih menyukainya atau tidak. Dia berharap besar, Ali masih menyukainya. Meski hanya sedikit, namun masih ada harapan. Pertanyaan Keisya membuat Ali diam sejenak sebelum menjawab. Ia melihat Keisya begitu menunggu jawaban darinya. Mata Keisya bahkan sampai tak berkedip melihatnya. "Lo memang cewek pertama yang gue suka. Tapi, lo bukan cewek pertama yang buat gue jatuh cinta," jawab Ali. Keisya membeku di tempatnya. Seketika dia merasakan sakit hati setelah mendengar jawaban Ali. Hatinya terasa diiris-iris pisau. Tadinya dia hanya sekedar bertanya dan ingin tahu. Tapi kenapa dia jadi sakit hati seperti ini. Kacau, kayanya dia benar-benar suka sama Ali. "Lo suka ya sama gue?" tanya Ali. "Enggak," bantah Keisya cepat. Jangan sampai Ali tahu jika dia suka Ali. Bisa berantakan nanti pertemanannya. Dia takut Ali sampai menjauhinya. Dia enggak maulah jika itu terjadi. "Bagus kalau gitu. Gue gak mau nyakitin perasaan lo Kei. Tapi seandainya jika lo bohong, sebaiknya lo hapus rasa lo itu. Karena percuma aja, gue gak bakal ada rasa apapun sama lo. Wanita yang gue cintai hanya Aisyah, dan gak bakal ada wanita lain." "Rasa gue ke elo hanya sebatas teman dan sahabat. Dan gak bakal lebih," tambah Ali. Kalimat yang Ali lontarkan hanyalah kalimat biasa. Namun mampu membuat Keisya membisu diam seribu bahasa. *** Sampai di kampus Internasional Modern. Ali dan Keisya keluar dari mobil. Mereka kini di parkiran kampus. Sudah ramai kendaraan terparkir di parkiran tersebut. Artinya sudah ramai yang datang dan mungkin mereka berdua adalah orang terakhir yang baru menghadiri acara party kampus yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Keisya melangkah masuk ke gedung kampus dan disusul oleh Ali yang berjalan di belakang Keisya. Sampai di lantai tiga dan di situlah acara diadakan. Semua orang memperhatikan Ali dan Keisya yang kini berjalan sejajaran sambil melihat suasana yang sangat ramai, dan gemerlap lampu yang khas dengan party menyambut pemandangan mata mereka berdua. "Itu serius, Ali dan Keisya pergi berdua?" "Kayaknya sih iya." "Mereka berdua 'kan, Raja dan Ratu kampus wajarlah kalau pergi barengan." "Mereka itu cocok banget ya." "Betul banget. Jodoh kayaknya. Yang cewek cantik yang cowok ganteng." "Mana mungkin, orang Ali udah nikah." "Jangan bilang gak mungkin. Denger ya, selagi dalam pernikahan ada kata pisah. Maka tak ada penghalang bagi pasangan yang memang dasarnya berjodoh." "Betul, gue setuju." "Gue juga setuju." "Gue sih setuju-setuju aja." "Ali keren, Keisya juga oke. Cocoklah mereka. Apalagi mereka pernah satu SMP bareng. Jadi udah kenal lama." "Bener tu. Ha ha ha. Semoga mereka berjodoh." "Aamiin ..." Itulah lontaran ucapan dari empat wanita yang sedang duduk bersama sambil memperhatikan Ali dan Keisya. Mereka berempat adalah sebagian kecil dari penggemar Ali dan Keisya di kampus. Mereka para junior yang mengidolakan Raja dan Ratunya kampus. Dan berharap besar idola mereka benar-benar jadi pasangan dalam kehidupan nyata. Ali dan Keisya tidak mendengar celotehan penggemar-penggemarnya itu. Jarak mereka jauh. Seandainya pun jika mendengar Ali tidak akan menanggapi apapun. Kerena udah biasa, setiap hari di kampus juga mendengar kalimat-kalimat yang mengatakannya cocok dengan Keisya. Ia enggak ambil serius. Biarkan saja, itulah resikonya jadi Raja kampus. Sebenarnya Ali ogah jadi Raja kampus. Tapi mau bagaimana lagi, ia yang ditunjuk. Dan dengan terpaksa ia terima. Ali mencari tempat duduk yang kosong. Ia pun mendudukkan dirinya saat menemukan tempat yang pas untuknya. Sedangkan Keisya ke tempat lain. Dia pergi berkumpul bersama teman-temannya. Ali memperhatikan gerak-gerik Keisya dari jauh. Cewek itu terlihat asyik ngobrol bersama teman-temannya. Enggak tahu membahas soal apa, tapi Keisya terlihat ketawa-ketawa dan sangat happy. "Hai Li, kamu ada di sini juga," sapa Aurel yang menghampiri Ali dan mendudukkan diri di dekat Ali. "Hai," balas Ali dan tak lupa sapaan senyum tipisnya. "Udah lama?" tanya Aurel. "Baru aja," jawab Ali. "Pergi dengan siapa?" "Dengan dia." Ali menujuk Keisya. "Wanita itu?" Aurel bertanya sambil menunjuk objek yang dimaksudnya. "Iya." "Siapa sih dia? Sampai-sampai bisa barengan sama Ali," batin Aurel gak terima Ali pergi bersama seorang wanita. Dia cemburu. "Dia siapa kamu Li?" tanya Aurel yang berstatus mahasiswi baru. Jadi belum tahu apa-apa soal Ali apalagi Keisya. "Dia Keisya. Teman baik aku sewaktu SMP. Sempat pisah saat SMA. Dan ketemu lagi saat sama-sama ngampus di sini." "Ohh." "Untung bukan pacar," batin Aurel. "Kamu gak ke rumah sakit temani mama kamu?" tanya Ali. Setahunya 'kan mama Aurel sakit. Tapi kenapa gadis itu malah ke party kampus? "Mama aku udah keluar rumah sakit. Sekarang mama baik-baik aja." "Syukurlah kalau gitu." "Iya." *** "Minum lagi Kei." "Masih banyak Kei hayo habisin." "Terus Kei. Tambah terus." "Hahaha." Keisya terus meminum-minuman yang disuguhkan teman-temannya. Tanpa dia tahu bahwa minuman itu beralkohol. Keisya lama-lama jadi pusing dan mulai berbicara ngelantur. Dia juga mulai ketawa-ketawa enggak jelas. Dia hanya setengah sadar. "Kei, lo suka ya sama Ali?" tanya Anjeli selaku teman Keisya. Dia sengaja bertanya begitu karena itulah tujuannya memberikan Keisya alkohol. Supaya Keisya mabuk dan akan menjawab semua pertanyaan darinya dengan jujur. Intinya dia sekedar mengerjai Keisya. "Gue suka sama Ali ...," jawab Keisya. Tentu saja dia gak sadar mengatakan itu. Dia terpengaruh alkohol. Jadi pikirannya enggak jernih. "Lo cinta ya sama dia?" tanya Rina. Teman Keisya juga. "Gue cinta sama dia. Ha ha ha," jawab Keisya sambil memegang kepalanya. Dia pusing banget. Enggak tahu kenapa. "Sejak kapan suka sama Ali?" tanya Maya sambil ketawa-ketiwi. Dia teman Keisya juga. "Sejak gue SMP, haha," jawab Keisya. "So sweet," seru Rina, Anjeli, dan Maya serempak. "Ali, gue suka sama elo ...." Keisya berucap sambil berdiri dan dia tambah meracau. Ketiga teman Keisya hanya menertawakan Keisya. Mereka sengaja mengerjai Keisya. Agar party malam ini tambah seru dengan pengakuan Keisya yang menyukai Ali. Pengakuan yang sangat menghebohkan, karena Ali 'kan sudah berstatus menikah sedangkan Keisya seorang single. Keisya melangkah menuju Ali. Dia berjalan terhuyung-huyung karena mabuk berat. Saat sudah di hadapan Ali, Keisya tersenyum manja ke Ali sambil terkekeh. Ali berdiri dan heran melihat tingkah Keisya. "Lo kenapa Kei?" tanya Ali. Keisya langsung memeluk tubuh Ali dan bilang," Gue suka lo Li." "Gue cinta lo." "Gue sayang lo." "Gue mau lo jadi milik gue." "Please terima gue Li." Keisya semakin meracau. Setiap ucapan yang dia katakan semua tanpa dia sadari. Efek alkohol pada dirinya semakin membutakan kesadarannya. Semua yang dia katakan di luar dari kendalinya. Tapi yang dia katakan adalah kejujuran hatinya yang paling dalam. "Kei, sadar Kei," ujar Ali menyadarkan Keisya. Tapi Keisya tetap tidak sadar. Dia masih mabuk berat. Ali dan Keisya jadi sorotan. Mereka berdua jadi bahan perhatian dan perbincangan. Semua pandangan mata tertuju ke Ali dan Keisya. Apalagi kelimat yang Keisya lontarkan mengundang kehebohan. "Li, aku cinta sama kamu," ucap Keisya sambil memegang pipi Ali. "Terima dong Li!" seru sebagian mahasiswa. "Ayo dong terima!" "Terima!" "Terima!" "Terima!" Ali tidak memperdulikan semua teriakkan yang dilontarkan padanya. Ia hanya fokus ke Keisya. Nafas Keisya tercium bau alkohol. Ali yakin ada yang sengaja mengerjai Keisya. "Siapa yang buat Keisya jadi kayak gini?! Hah!!" tegas Ali dengan luapan emosi. Mata Ali memandang tajam semua yang sedang memperhatikannya. Semua yang tadi heboh teriak-teriak jadi diam. Semua jadi hening dan enggak berani berbicara. Sangat jarang dan bahkan enggak pernah orang-orang di sana mendengar Ali marah. Barulah saat ini, dan semua jadi terkejut. "Uuueeekkk." Keisya muntah tiba-tiba. Muntahan itu tumpah di baju Ali. Sangat bau dan menjijikkan. "Uuueeekkk." Keisya muntah lagi. Baju Ali jadi kotor untuk kedua kalinya karena muntahan Keisya. Pandangan mata Keisya lama-lama jadi gelap. Dia kemudian kehilangan keseimbangan. Dia jatuh ke lantai dan pingsan di tempat. Semua kaget termasuk juga dengan Ali yang jadi panik. Ali berjongkok dan menggapai pipi Keisya. "Kei bangun Kei. Keisya bangun," ujar Ali berusaha membangunkan Keisya. Tapi Keisya tetap tidak sadarkan diri. Ketiga teman Keisya berlari menghampiri Keisya. Mereka juga ikut panik dan jadi merasa bersalah. Mereka bingung sekarang dan enggak tahu harus ngapain. Mereka bertiga jadi saling menyalahkan. Bukanya membantu Keisya malah jadi ribut bertiga. "Cukup! Kalian bertiga gak berguna!" ketus Ali. Membuat Anjeli, Maya, dan Rina diam dan berhenti ribut. Ali menyusupkan tangannya ke badan Keisya dan di lekukkan kaki Keisya. Ia pun mengangkat tubuh Keisya, lalu berdiri dengan menggendong Keisya. Ali melangkah melewati jejeran teman-teman kampusnya yang memperhatikannya dengan sorotan mata mengikuti kepergiannya. Ada sebagian yang mengambil foto dan vidio Ali yang tengah menggendong Keisya. Ali enggak peduli dengan hal itu. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah Keisya. *** Ali membuka pintu mobil. Kemudian ia berusaha merebahkan tubuh Keisya ke dalam mobilnya. Namun karena susah dan ketidaksengajaannya ia pun terjatuh ke tubuh Keisya. Keisya membuka mata. Dia jadi tersadar dan langsung mendapati Ali ada di atas tubuhnya dan pandangan mata mereka bertemu. "Ali, aku cinta kamu," ucapnya dan dia langsung mengecup bibir Ali. Ali langsung melepaskan ciuman Keisya dan ia bangkit. Tak! "Aduh ..." rintih Ali sambil mengusap kepalanya. Karena kepala Ali terbentur atap mobil dan rasanya sangat menyakitkan. Ali yang udah di luar mobil langsung menutup pintu mobilnya. Ia mengintip Keisya dari jendela mobil. Dilihatnya mata Keisya kembali tertutup. Itu artinya tadi saat Keisya menciumnya karena pengaruh alkohol. Ali berbalik badan. Sungguh, barusan saat ia jatuh di tubuh Keisya ia sangat gugup. Apalagi Keisya sampai menyatakan cinta serta menciumnya. Astaga, ia benar-benar enggak pernah menyentuh perempuan lain. Rasanya mati rasa dan ia memohon ampun sama Allah. Ia enggak sengaja menyentuh tubuh Keisya. Itu murni kecelakaan. "Astagfirullah," ucap Ali sambil mengelus dadanya. Pantas saja ia ada pirasat buruk saat mau ke party tadi. Rupanya hal ini yang bakal terjadi. Ali menggepal tangannya, dadanya turun naik mengikuti irama nafasnya yang tidak beraturan. Ia sedang panik saat ini. Sedang ketakutan juga. Karena perihal Keisya yang menciumnya barusan saja. Ia takut Aisyah bakal tahu dengan kejadian itu. Kejadian barusan harus ia rahasiakan. Istrinya enggak boleh tahu. Jika sampai Aisyah tahu, bisa habis riwayatnya. Bisa-bisa Aisyah berfikir ia selingkuh. Dan Ali takut, Aisyah bakal meminta pisah darinya. Ali membuka pintu mobil depannya. Ia masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri. Ia menutup pintu mobil lalu membuka jasnya yang kotor karena muntahan Keisya dan menaruhnya di kursi sebelahnya. Ali menoleh ke kursi belakang. Ia melihat Keisya sebentar dan dilihatnya Keisya berbicara dengan menyebut-nyebut namanya. Tapi dengan mata tertutup. Tidak salah lagi, Keisya masih dipengaruhi alkohol. Wanita itu masih meracau. Ali menghidupkan mesin mobilnya dan mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Sampai di jalan raya Ali mempercepat mobilnya dengan kecepatan tinggi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD