Teman tak selamanya berasa teman. Jika ada rasa suka, apakah salah? Tidak. Jika dia sudah memiliki seseorang yang spesial gimana?
Haruskah diperjuangkan?
***
Aisyah tertidur dengan pulas karena kelelahan. Sedangkan Ali hanya melelapkan matanya sebentar. Ali mendudukkan tubuhnya dengan hati-hati. Ia harus pelan-pelan, takut Aisyah terbangun nanti. Ia gak mau mengganggu tidur Aisyah.
Ali menoleh ke Aisyah sambil mengusap kepala Aisyah. "Terima kasih untuk malam ini," ucap Ali bersuara pelan.
Ali melihat jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ali berangsur ke tepi tempat tidur. Ia menjuntaikan kakinya menyentuh karpet lantai. Tangannya menggapai HP yang terletak di atas meja. Ia langsung mengecek HP-nya dan ada notif pesan masuk.
Keisya: Ali, awas ya lo gak jemput gue! Jangan gak dateng! Pokoknya kalau lo gak dateng, gue bakal lapor ke dosen tentang elo yang sering gak hadir setiap acara kampus.
Ali menghembuskan nafasnya jengah, sehabis membaca pesan ancaman dari Keisya. Ali mikir sejenak antara pergi atau enggak. Ali berdiri, ia sudah memutuskan. Ia akan pergi.
Ali melangkah ke kamar mandi. Ia sekedar mencuci mukanya. Setelah itu ia keluar kamar mandi dan menuju lemari baju. Ia pun berganti pakaian. Merapikan rambut, dan memakai parfum kesukaannya. Selesai, ia beranjak menghampiri Aisyah. Berdiri di samping tempat tidur dan menatapi wajah istrinya.
"Aisyah, aku pergi dulu. Aku perginya gak lama. Maaf, gak izin langsung ke kamu. I love you. Tidur yang nyenyak ya." Ali mengecup kening Aisyah. Ia gak tega membangunkan Aisyah. Sebenarnya Ali tidak mau pergi, tapi mengingat dirinya sering gak hadir di acara kampus, mau tak mau kali ini ia harus menghadiri acara tersebut.
Ali melangkah pergi. Tiba-tiba tangan Aisyah menahan Ali. Aisyah memegang lengan baju Ali. Otomatis Ali langsung balik badan dan melihat Aisyah.
"Jangan pergi," gumam Aisyah dengan mata yang tertutup. Wanita ini mengigau.
"Kirain dia bangun," ujar Ali. Ia melepaskan pegangan tangan Aisyah dari bajunya.
"Aku perginya cuma sebentar," ucap Ali sambil membenarkan selimut Aisyah yang terturun.
Ali belum melanjutkan langkahnya. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba aja ia jadi bimbang antara pergi atau enggak. Perasaannya enggak enak. Berat rasa langkahnya ingin pergi. Seperti ada pirasat buruk. Tapi ya sudahlah, Ali gak percaya dengan hal begituan. Ia akan tetap pergi.
***
Ting ... tong ...
Suara bel rumah berbunyi. Keisya yang sedang rebahan di kamarnya segera keluar untuk membukakan pintu.
"Siapa malam-malam bertamu?" tanya Bunda Keisya.
"Teman Keisya Bun. Hari ini ada acara party di kampus," jawab Keisya.
"Ohh, tapi malam banget acara partynya. Ini 'kan, udah hampir jam sepuluh."
"Emang jam segini Bun mulainya."
"Ya udah, bukain gih pintu. Nanti temannya capek nungguin."
"Siap Bun." Keisya melangkah menuju pintu utama rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Ali kepada pemilik rumah yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Waalaikumsalam," balas Keisya sambil memperhatikan Ali dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Ali keren banget malam ini, batin Keisya.
"Kenapa liatin gue segitunya?" tanya Ali.
"Gapapa," jawab Keisya. Gak mungkin dia mau jujur. Nanti Ali mikir dia suka lagi sama Ali.
"Gue gak dipersilahkan masuk?" Ali bertanya.
"Sorry-sorry gue lupa. Ayo masuk."
Ali masuk ke dalam rumah Keisya dan Keisya pun segera menutup pintu.
"Gue izin duduk." Ali berucap sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Duduk aja, gak perlu minta izin."
"Makasih."
"Itu tangan kenapa?" tanya Keisya sambil menujuk tangan kanan Ali yang diperban.
"Luka," jawab Ali singkat.
"Kalau boleh tau luka karena apa? Kalau gue tebak sih, lo ninju dinding. Benerkan gue?"
"Tebakkan lo benar, kok bisa? Lo peramal?"
"Gue kenal lo dari SMP. Udah hatam gue kelakuan elo, termasuk hobi mukulin dinding. Ha ha ha."
"Lo masih ingat."
"Masih lah, mana bisa gue lupa. Setiap seminggu sekali 'kan, elo selalu bikin masalah. Dan pada ujungnya lo nyakitin diri lo sendiri."
"Kok bisa ya gue gitu?"
"Mana gue tau. Mungkin takdir lo."
"Bisa jadi."
"Lo mau minum apa?"
"Gak usah. Gue gak haus."
"Ya udah kalau gitu, gue masuk dulu, mau ganti baju."
"Oke."
Keisya berlalu pergi. Saat tidak ada Keisya Ali bangkit dari duduknya dan melihat sekitar pajangan ruang tamu. Ada satu yang menarik perhatian Ali, yaitu sebuah foto persegi yang dipajang di meja hias.
Ali menggapai foto itu. Ada dua orang yang sedang duduk di taman dalam foto itu dengan menampilkan ekspresi kocak dan sangat lucu. Ali sampai menahan tawa melihatnya. Orang tersebut adalah dirinya dan Keisya saat kelas tiga SMP. Benar-benar masa yang tidak terlupakan.
Ali meletakkan kembali foto itu dan kembali duduk. Sepuluh menit kemudian Keisya keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke ruang tamu untuk menemui Ali.
"Ali, gue cantik gak?" tanya Keisya sambil bergaya memperlihatkan gaun selututnya yang sangat indah bagi Keisya.
Ali mendongakkan kepalanya memandangi wanita yang berambut lurus sepinggang, mata kecoklatan, hidung kecil yang mancung, badan ramping, dan berwajah mulus.
"Cantik," jawab Ali.
"Thank you," balas Keisya dengan senang.
"Tapi ..." ucap Ali gantung.
"Tapi apa?"
"Terlalu terbuka. Aurat lo kemana-mana."
"Enggak kok, biasa aja. Bedain dong gue sama istri sholehah lo itu. Gaya gue ya gini, penampilan gue sebatas wajar kok. Banyak yang jauh lebih terbuka daripada gue." Keisya berucap membela diri. Baginya pakaiannya cukup sopan. Lagian acara kampusnya merupakan acara party, jadi menurut dia pakaiannya sangat cocok.
"Terserah lo deh," balas Ali.
Keisya susah dikasih tahu. Ali malas berdebat dengan gadis itu, maklum Keisya itu cewek keras kepala dan susah dibilangin. Udah sering Ali menasehati cara berpakaian yang sopan untuk wanita, tapi cewek itu tidak mendengarkan sama sekali.
"Ayo berangkat," ajak Keisya yang udah gak sabar.
"Yuk." Ali berdiri dan berjalan munuju pintu.
***
"Kunci mobil lo mana?" tanya Keisya.
"Untuk apa?" tanya Ali balik.
"Biar gue aja yang nyetir. Gue kasihan sama lo."
"Lama-lama lo perhatian sama gue. Beda banget kayak dulu."
"Setiap manusia itu pasti berubah. Lo aja berubah."
"Iya sih."
"Mana kunci mobil lo," pinta Keisya.
"Ini." Ali memberikan kunci mobilnya ke Keisya.
Keisya membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Lalu disusul oleh Ali. Mereka berdua sudah di dalam mobil sekarang. Ali memakai sabuk pengamannya dan saat ia memasang sabuk itu, ia gak sengaja melihat pakaian Keisya yang terangkat karena duduk dan paha wanita itu jadi kelihatan. Ali enggak suka melihat hal itu.
Ali menggapai handuk kecil yang ada di dalam mobil dan langsung memberikannya ke Keisya. "Ini pakai," ujarnya.
"Untuk apa ni?" tanya Keisya.
"Untuk nutupin paha lo," jawab Ali.
Keisya langsung melihat ke bawah dan benar saja, bajunya terangkat dan pahanya jadi kelihatan sedikit. Pantas aja Ali memberikannya handuk kecil itu, rupanya masalahnya ini. Ali emang beda dari cowok yang lain. Kalau cowok lain pasti membiarkan hal itu dan malah menikmatinya. Namun Ali kebalikannya, pikir Keisya.
"Thanks," balas Keisya sambil mengambil handuk yang Ali berikan dan lalu menutup pahanya yang kelihatan.
Ali membalasnya hanya dengan anggukan.
Keisya menghidupkan mesin mobil dan memulai perjalanan dengan kecepatan sedang. Di perjalanan Ali hanya diam dengan pandangan mata ke arah depan. Melihat kendaraan yang masih ramai berlalu lalang di malam hari. Sedangkan Keisya yang menyetir mobil sesekali memperhatikan Ali secara diam-diam. Aneh, Keisya merasakan ada sesuatu dalam dirinya. Ada rasa gimana gitu saat dia berada di dekat Ali. Dia merasa nyaman dan tenang. Apa dia diam-diam suka Ali? Entahlah, semoga saja tidak. Karena yang dia tahu Ali itu sudah menikah. Dan gak mungkin dia menyukai suami orang. Andai itu benar terjadi, entah harus bagaimana. Tapi yang pasti cinta adalah perjuangan.
"Al, rasanya nikah muda itu gimana sih?" tanya Keisya.
"Hah!" Ali berucap sambil menoleh ke Keisya. Ia enggak terlalu jelas dengan yang Keisya ucapkan padanya.
"Nikah muda itu rasanya gimana? Setahu gue elo nikah diusia 17 tahun dan awet sampai sekarang, rasanya gimana tuh?" tanya Keisya lagi.
"Rasanya kayak gula," jawab Ali.
"Manis maksud lo?"
"Enak maksud gue."
"Apa enaknya? Bukannya elo dijodohin ya, sama orang tua lo. Terus dimana letak nikmatnya?"
"Gue gak pernah masalah soal dijodohin. Apalagi dijodohkan sama wanita cantik dan sholehah, ya walaupun diawal-awal dia gak suka gue. Cinta 'kan hanya masalah waktu."
"Terus, enaknya dimana?"
"Enaknya nikah muda adalah saat lo bisa pacaran setelah menikah. Dan bebas ngapain aja, udah halal. Cium boleh, pegangan boleh, dan bahkan lebih dari itu."
"Ha ha ha. Dasar cowok. Sukanya yang gituan."
"Bukan yang macem-macem Kei. Tapi jika kita menikah itu dapat pahala. Di situ kenikmatannya."
"Itu gue juga udah tau. Ngomong-ngomong, lo gak kepengen jadi seorang ayah gitu? Ha ha. Minta keturunan gitu sama si doi. Ha ha." Keisya tertawa tanpa sadar orang yang di sebelahnya hanya diam memperhatikannya.
"Ada yang lucu." Ali berujar dan Keisya jadi berhenti tertawa.
"Jadi ..." ucap Keisya.
"Jadi apa?" tanya Ali.
"Kapan lo mau punya anak?"
***