BAB 1 PAGI YANG SAMA
Senja selalu bangun sebelum alarm berbunyi.
Bukan karena ia tidak butuh diingatkan. Tapi karena tubuhnya sudah terlatih, sudah bertahun-tahun, untuk terjaga di detik-detik sebelum dunia memaksanya membuka mata. Seolah ada bagian kecil dari dirinya yang tahu, bahwa begitu ia sadar sepenuhnya, sesuatu akan hilang.
Dan memang selalu begitu.
Setiap pagi.
Tanpa terkecuali.
Cahaya matahari menerobos celah tirai kamarnya yang berwarna putih gading — tipis, keemasan, seperti jari-jari yang meraba perlahan. Senja menatap langit-langit kamarnya beberapa detik. Diam. Membiarkan kesadaran datang pelan-pelan, seperti air yang mengisi cekungan batu.
Namanya Senja.
Ia tahu itu.
Ia tahu ini kamarnya — dinding berwarna krem pucat, rak buku di sudut kiri yang penuh sesak, poster kecil bergambar konstelasi bintang yang sudah sedikit mengelupas di sudut kanan atas. Ia tahu ini rumahnya. Ia tahu ada ibu di lantai bawah yang mungkin sedang merebus air untuk teh pagi.
Tapi selain itu?
Kosong.
Seperti kanvas yang baru dicuci bersih. Seperti halaman buku yang baru dibalik — putih, segar, dan sama sekali tidak menyimpan jejak halaman sebelumnya.
Senja menarik napas panjang. Perlahan ia meraih buku yang selalu ada di meja nakas sebelah tempat tidurnya — buku bersampul coklat tua, sudutnya sudah mulai kusam karena terlalu sering dipegang, dengan tali kulit tipis yang melingkari tubuhnya dua kali sebagai pengunci. Di sampulnya tidak ada judul. Tidak ada nama. Hanya tekstur kulit yang kasar dan warna yang menggelap di bagian tepinya karena minyak jari yang bertahun-tahun tertinggal.
Ia membukanya dari halaman pertama.
Seperti biasa.
Namaku Senja Kinara. Aku tujuh belas tahun. Aku tinggal di Jalan Kenanga nomor empat belas bersama ibu dan kucing bernama Kopi yang lebih sering tidur daripada bergerak. Aku punya penyakit yang membuatku lupa segalanya setiap kali aku tidur. Bukan lupa permanen — dokter bilang ingatanku tersimpan, hanya tidak bisa diakses secara otomatis. Seperti file yang tersembunyi, katanya. Butuh kunci untuk membukanya. Dan kunci itu adalah tulisan ini.
Jadi setiap malam aku menulis. Dan setiap pagi aku membaca.
Ini bukan hal yang menyedihkan. Ini hanya hidupku.
Senja membaca kalimat terakhir itu dan berhenti sebentar.
Ini hanya hidupku.
Ia ingat menulis kalimat itu — atau lebih tepatnya, ia membaca bahwa ia pernah menulisnya — di hari pertama ia memutuskan untuk berhenti menangisi kondisinya. Ia tidak ingat tepatnya kapan. Tapi kalimat itu selalu ada di halaman pertama. Ia tulis ulang setiap kali halaman pertama penuh dan buku baru dimulai. Semacam pengingat. Semacam janji kepada dirinya sendiri.
Ia membalik halaman. Membaca terus.
Halaman-halaman berikutnya berisi hidupnya — tersusun rapi dalam tulisan tangannya yang agak miring ke kanan, dengan tinta biru yang kadang berganti hitam tergantung pulpen mana yang lebih dulu ia temukan. Ada deskripsi tentang sekolah, tentang teman-teman yang namanya ia hafal dari tulisan bukan dari ingatan, tentang rutinitas harian, tentang hal-hal kecil yang terjadi kemarin dan hari sebelumnya dan minggu lalu.
Dan ada halaman khusus yang ia buat untuk wajah-wajah penting.
Foto kecil yang ditempel dengan selotip, di sebelahnya tulisan nama dan keterangan singkat. Ibu — perempuan yang selalu menyiapkan sarapan sebelum aku turun tangga, yang tidak pernah menangis di depanku meski aku tahu ia sering melakukannya di kamarnya sendiri. Beberapa teman sekelas. Guru favorit. Nama-nama yang tanpa foto dan keterangan itu hanya akan menjadi rangkaian huruf tanpa wajah.
Senja membaca sampai tuntas — seperti biasa, butuh sekitar dua puluh menit — lalu menutup buku itu dengan kedua tangan.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Di luar, suara motor lewat. Suara ibu yang memanggil nama kucing. Suara angin yang mendorong daun jendela berderit pelan.
Dunia bergerak.
Dan Senja, seperti setiap pagi, memulai hidupnya lagi dari awal.
Sekolah berjarak dua belas menit berjalan kaki dari rumahnya — ia tahu itu karena tertulis di buku hariannya, lengkap dengan rute yang harus diambil dan tanda-tanda jalan yang perlu diperhatikan. Belok kiri di pohon mangga besar yang batangnya berlubang di bagian bawah. Lurus terus sampai melewati warung bu Lastri yang catnya sudah pudar. Sekolah ada di sebelah kanan.
Pagi ini udaranya bersih. Langit berwarna biru muda yang cerah, dengan awan tipis yang bergerak lambat ke arah barat. Senja berjalan dengan tas di punggung dan buku hariannya di dalam tas — selalu di dalam tas, selalu, karena ada satu entri yang ditulis dengan huruf kapital dan digaris bawahi dua kali: JANGAN PERNAH TINGGALKAN BUKU INI DI RUMAH.
Ia pernah melakukannya sekali.
Ia tidak ingat bagaimana rasanya — tentu saja — tapi tulisannya tentang hari itu cukup untuk membuatnya tidak mau mengulanginya.
Di gerbang sekolah, beberapa teman menyapanya. Senja membalas senyum mereka dengan senyum yang ia latih terlihat alami — dan memang sudah alami, setelah bertahun-tahun. Ia mencocokkan wajah-wajah itu dengan foto-foto di buku hariannya dengan cepat, dalam hitungan detik, sebelum membuka mulut.
Rina. Duduk sebangku. Suka tertawa keras. Tidak tahu tentang penyakitku.
Bimo. Ketua kelas. Pernah mengajakku keluar, aku tolak dengan baik-baik.
Della. Teman paling lama. Satu-satunya yang tahu.
"Senja!" Della melambaikan tangan dari depan kelas. "Kamu terlambat dua menit. Hampir rekor."
"Masih belum terlambat," jawab Senja, duduk di kursinya.
"Beda tipis." Della menjatuhkan diri ke kursi sebelahnya, menyandarkan dagu di atas tangan. "Tadi ada yang nyamperin kamu di gerbang loh. Anak kelas sebelas yang kemarin itu."
Senja membuka buku hariannya sebentar, mencari nama yang mungkin cocok. Tidak menemukan. "Siapa?"
"Yang tinggi, rambut ikal. Katanya mau ngasih sesuatu." Della mengangkat bahu. "Aku bilang kamu belum datang, terus dia pergi."
Senja mengangguk pelan, tidak terlalu tertarik. Ini bukan pertama kalinya — di buku hariannya ada beberapa entri tentang anak laki-laki yang mencoba mendekatinya dengan berbagai cara. Bunga yang ditaruh di laci mejanya. Surat yang diselipkan di loker. Seseorang yang menunggunya di depan gerbang selama tiga hari berturut-turut sebelum akhirnya menyerah.
Senja selalu menolak.
Bukan karena ia tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Bukan karena hatinya terbuat dari batu seperti yang mungkin mereka pikirkan.
Tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi.
Hari ini ia bisa menyukai seseorang. Merasa ada sesuatu yang hangat di dadanya ketika nama mereka disebut. Menuliskan tentang mereka di buku hariannya dengan kalimat yang panjang dan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati.
Tapi besok pagi, ketika ia membuka matanya — semua itu hanya akan menjadi tulisan.
Dan bagaimana caranya mencintai seseorang jika setiap pagi kamu harus belajar mencintai mereka lagi dari awal?
Bagaimana caranya adil terhadap seseorang yang mencintaimu, jika yang kamu bisa berikan hanyalah versi dirimu yang diperbaharui setiap dua puluh empat jam?
Senja meletakkan buku hariannya di atas meja. Menatap papan tulis yang masih kosong di depan kelas. Di luar jendela, daun-daun bergerak ditiup angin.
Ini hanya hidupnya.
Dan ia baik-baik saja dengan itu.
Jam istirahat pertama, Senja duduk sendirian di koridor samping — tempat yang menurut buku hariannya adalah tempat favoritnya karena sepi dan ada angin yang masuk dari jendela yang selalu dibiarkan terbuka. Ia membaca ulang beberapa halaman terakhir buku hariannya sambil makan roti yang dibawanya dari rumah.
Ia tidak melihat buku itu jatuh.
Buku hariannya tergeletak di tepi bangku dengan posisi yang tidak stabil — dan ketika seseorang lewat di koridor dan angin ikut berhembus pada saat yang sama, buku itu meluncur jatuh ke lantai dengan suara tepukan kecil.
Senja menoleh. Buku itu sudah terbuka di lantai, beberapa halaman terlipat.
Dan ada seseorang yang berjongkok mengambilnya.
Anak laki-laki. Seragam yang sama, berarti satu angkatan. Rambutnya hitam sedikit berantakan, ada bekas luka kecil di sudut bibirnya yang sudah mengering. Ia tidak melihat ke arah Senja — matanya tertuju pada buku yang ada di tangannya, dan Senja melihat ekspresinya berubah begitu ia menyadari buku apa yang sedang ia pegang.
Ia tidak membukanya.
Hanya memegangnya sebentar, lalu berdiri dan berbalik.
Wajahnya biasa saja. Tidak tampan secara mencolok, tidak pula tidak menarik. Ada sesuatu yang tenang di ekspresinya — bukan dingin, tapi lebih seperti seseorang yang sudah lama belajar untuk tidak menunjukkan terlalu banyak.
Ia mengulurkan buku itu kepada Senja.
"Jatuh," katanya. Singkat.
Senja mengambil bukunya. "Makasih."
Anak laki-laki itu mengangguk sekali. Lalu melanjutkan langkahnya, berjalan menjauh di koridor tanpa menoleh lagi.
Senja menatap punggungnya sebentar. Lalu menatap buku hariannya yang ada di tangannya.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Ia membuka buku itu — memastikan tidak ada halaman yang sobek, tidak ada tulisan yang terlipat terlalu dalam. Semuanya baik-baik saja. Ia hampir menutupnya lagi ketika sesuatu di bagian belakang buku menarik perhatiannya.
Di halaman kosong paling belakang — yang selama ini selalu ia biarkan kosong sebagai cadangan — ada tulisan.
Bukan tulisannya.
Tulisan tangan yang berbeda. Lebih tegak. Lebih rapi. Dengan tinta hitam yang terlihat baru.
Hanya satu baris.
Semoga besok harimu lebih baik dari kemarin. — Seseorang yang tidak kamu kenal.
Senja membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu ia mendongak — mencari anak laki-laki yang tadi mengambil bukunya. Tapi koridor itu sudah sepi. Hanya ada angin yang masuk dari jendela yang terbuka, dan daun-daun pohon di luar yang bergerak pelan.
Ia tidak tahu siapa yang menulisnya.
Ia tidak tahu kapan.
Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi di dadanya — sesuatu yang kecil dan hangat dan sama sekali tidak ia rencanakan.
Senja menutup buku hariannya.
Dan tanpa benar-benar menyadarinya, ia tersenyum.
Bukan senyum yang dilatih.
Bukan senyum untuk orang lain.
Hanya senyum — yang datang begitu saja, seperti cahaya yang menerobos celah yang tidak pernah ia sadari ada.
Di sudut koridor yang sama, tanpa Senja ketahui, seorang anak laki-laki berdiri sebentar sebelum membelok ke arah kelasnya.
Ia tidak melihat ke belakang.
Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Hanya sedikit.
Cukup untuk disebut senyum.
Malam itu, Senja duduk di meja tulisnya dengan lampu kuning menyala dan buku hariannya terbuka di depannya.
Ia menulis tentang hari ini — tentang pelajaran, tentang obrolan dengan Della, tentang roti yang agak keras karena ibu lupa beli yang baru. Hal-hal biasa. Hal-hal yang selalu ada.
Tapi di bagian akhir, ia berhenti sebentar.
Lalu menulis:
Hari ini ada seseorang yang mengembalikan buku harianku. Aku tidak tahu namanya. Tapi ia menulis sesuatu di halaman belakang — kalimat yang sangat sederhana, tapi entah mengapa aku menulisnya di sini dengan huruf yang lebih besar dari biasanya.
Semoga besok harimu lebih baik dari kemarin.
Aku harap ia tahu bahwa kalimat itu berhasil.
Senja menutup buku hariannya.
Mengikat tali kulitnya dua kali.
Meletakkannya di meja nakas.
Di luar, angin bergerak pelan. Di langit yang mulai gelap, awan tipis bergeser menutupi bulan — sebentar, lalu bulan itu muncul lagi, lebih terang dari sebelumnya.
Senja mematikan lampu.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak takut menutup matanya.