PART 8

814 Words
"Bintang, aku mau tanya sesuatu sama kamu. Boleh?" suara itu, pemiliknya sedang memutar-mutar cangkir berisi chocolatos hangat. Ingin bertanya, tapi takut. Namun jika tidak bertanya, rasa penasarannya tidak kunjung hilang. "Ya tentu, Sen. Tanya apa?" gadis itu tersenyum sangat manis. "Ini sedikit privasi sih, kamu sendiri belum menceritakannya ke aku." ucapnya lagi, kini tangannya beralih mengusap tengkuknya. Hal privasi yang diketahuinya dari Jingga, bukannya tidak percaya pada sahabat kecilnya itu, tapi ada baiknya untuk tidak hanya mendengar dari satu sumber. Wajah Bintang berubah, "Apa Jingga sudah menceritakan sesuatu?" "Eh bukan Jingga kok." Senja sudah berjanji agar tidak memberi tau siapapun bahwa Jingga yang menceritakan hal itu, apalagi Bintang terlihat sangat menyembunyikannya. "Gapapa kok. Memang sudah saatnya kalian tau..." Bintang terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Aku sudah berpacaran. Itu kan yang mau kamu tanyakan?" Senja terdiam, dia tidak memberi respon apapun. "Aku memang sudah punya pacar selama ini. Tapi, akh mungkin aku juga butuh pendapatmu. Boleh kan, Sen?" tanya Bintang sebelum melanjutkan ucapannya. Senja masih diam, membuat Bintang semakin bingung. "Sen?" "Akh, iya. Boleh kok." jawab Senja kemudian. "Begini, aku memang sudah berpacaran dengannya, bahkan terbilang lama, hampir sekitar 1 tahunan, tapi karena suatu hal kita berjanji untuk saling menyembunyikan hubungan ini. Aku merasa tertekan dengan keadaan ini, apalagi akhir-akhir ini dia yang kurasa sudah berubah. Sikapnya mulai kasar dan tidak peduli lagi, benar-benar berubah, saat aku ingin kepastian dengan hubungan kita, dia malah melarangku bersikap jujur pada yang lain bahwa kita memang punya hubungan. Aku hanya ingin semua orang tau, bahwa kita saling memiliki. Apa itu salah?" nada suaranya semakin lama semakin emosional, wajah Bintang pun memerah. "Tidak, kamu tidak salah. Pasti ada yang membuatnya ingin terus menyembunyikan hubungan kalian." ucap Senja. "Maksud kamu?" "Bukannya aku memprovokasi, tapi seseorang yang menyembunyikan statusnya, artinya ada hati lain yang sedang dijaga. Atau bisa juga, dia tidak nyaman dengan hubungan itu." ucap Senja yang langsung membuat Bintang terdiam, wajahnya semakin memerah. "Itu menurutku, Bintang. Mungkin cowokmu berbeda pemikiran denganku, dan ada alasan lain. Berpositif thingking saja. Jangan terlalu menggantungkan harapan pada hubungan yang belum pasti akan berakhir di pelaminan, Bintang. Bahkan, seseorang yang sudah menikah saja bisa cerai." tambahnya, ingin menenangkan Bintang.   "Kalo bisa, kamu bicarakan dan bertanya baik-baik padanya. Kalian cari jalan keluarnya sama-sama." ucap Senja lagi. Meski dadanya terasa nyeri mengetahui kenyataan itu, tapi melihat Bintang yang bersedih, hatinya semakin sakit. Siapa kah laki-laki itu? Yang harusnya bersyukur mendapatkan Bintang, tapi malah menyia-nyiakan. Bintang mengangguk lemah, sudah beribu kali dia melakukan saran Senja. Tapi tetap saja, laki-laki yang dicintainya memiliki keegoisan super besar, dan Bintang kewalahan menenangkannya. "Jangan terlalu dipikirkan, kita disini untuk santai." ucap Senja lagi, melihat sekeliling cafe yang semakin banyak pengunjung. Dalam halusinasinya, para pengunjung itu seolah sedang mengejeknya, karena hatinya sudah patah saat masih seumur jagung. "Iya, jujur setelah kenal dan berteman denganmu. Aku merasa bebanku sedikit berkurang saja, bahkan saat bercerita seperti ini, aku merasa nyaman. Terima kasih ya, Sen." Senja tersenyum miris, baru kali ini dia menjatuhkan hati pada orang yang diyakininya, tapi hatinya sudah jatuh terlalu dalam sampai tidak tau ada luka didalamnya. "Oh ya, bagaimana dengan Jingga, Sen? Sekarang aku jarang sekali melihat kalian berdua. Kenapa? Jingga sedang sibuk?" Senja menggeleng, wajahnya berubah kesal. "Bukan sibuk lagi, tapi sa-ngat sibuk." jawab Senja seperti ada kekesalan super terhadap gadis itu. Bintang terkekeh, lucu melihat wajah setampan Senja bisa menggemaskan karena manyun. "Kamu nggak tanya sibuk apa?" ucap Senja yang menawarkan sendiri. "Memangnya sibuk apa?" tanya Bintang. "Sibuk dengan teman pura-puranya." jawab Senja. "Teman pura-puranya? Maksudnya?" "Yaa, temannya itu berpura-pura jadi teman." Bintang mengernyitkan alis. "Simplenya saja, ada modus dibalik kata teman. Katanya teman, tapi perhatian lebih dari status itu." ucap Senja yang terlihat sangat kesal. "Maksudmu, ada orang yang suka dengan Jingga? Dan dia pura-pura jadi temannya?" "Hm." jawabnya singkat. "Wah, berarti dia jelih banget jadi cowok. Soalnya nih, kalo aku liat, meski sikapnya selengekan, urat malunya udah putus, tapi Jingga itu punya hal yang istimewa. Untungnya kamu sendiri nggak suka sama dia." ucap Bintang sembari tertawa. "Kok gitu?"   "Iya lah, kalo kamu suka sama dia, sama aja kamu mengatai dirimu sendiri sebagai teman pura-pura." jawab Bintang yang dibalas cengiran oleh Senja. Laki-laki itu kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.   ***   "Gue sebenernya males tau nggak?" ucap Jingga sembari berjalan disamping laki-laki yang baru dinobatkannya sebagai teman. "Kenapa sih lo, nggak pernah ikhlas sama gue." gerutu Devan. "Lah biasanya nih ya, kalo gue jalan sama Senja, selalu ditraktir, ya meski gue paksa sih. Tapi setidaknya ngajak orang jalan itu ya dikasih makan." ucap Jingga. "Oh makan? Kenapa nggak bilang aja sih. Pakek bawa-bawa nama Senja lagi." "Kenapa?" Kini Jingga terlihat tidak terima karena Devan sedang mengentengkan nama Senja, SAHABATnya. "Gapapa, tapi lo kan sedang jalan sama gue. Plis, jangan bicara seseorang yang nggak ada disini." "He, apa maksud lo? Dia sahabat gue ya, kalo lo nggak terima gue ngomongin dia, lo bisa ngundurin diri jadi temen gue saja!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD