PART 7

1028 Words
"Jin, tumbenan makan lo kok dikit amat sih?" Sejak tadi Senja memperhatikan tingkah Jingga yang aneh. Biasanya setiap makan, apalagi gratisan selalu lahap dan tidak peduli orang disekitarnya. Tapi kali ini tidak, gadis itu seakan tidak berselera makan, namun matanya berbinar-binar melihat makanan. "Nggak apa-apa." jawab Jingga. "Bentar deh," Senja minum sejenak, kemudian kembali melihat Jingga yang menunggunya berbicara. "Sejak tadi pagi, sikap lo tuh aneh. Ada apa sih? Apa ada masalah? Biasanya lo selalu cerita kan sama gue." ucap Senja penuh curiga. Jingga hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana jika dia berbicara jujur saja mengenai perubahan sikapnya? Ha? "Lo inget kan pertanyaan gue, kalo seandainya gue bisa bersikap seperti cewek lainnya? Yang lembut dan gak begajulan." ucap Jingga. Senja memandangnya intens, dia berusaha mengingat apa jawaban yang dilontarkannya ketika Jingga bertanya seperti itu. Lama sekali. Padahal dihati Jingga sudah seperti ada orang sekampung yang menabuh bedug ketika takbir keliling. "Lupakan, lupakan." Jingga menyerah. Kalau dia terus menunggu Senja menjawab, bisa-bisa hatinya diisi oleh mercon seperti dimalam takbiran. "Bentar, gue mau ngingat dulu." elak Senja. "Artinya hal itu nggak penting." Jingga berucap serius. "Sudah lupakan saja." "Hal itu penting, karena sudah buat sikap lo berubah. Jawaban gue yang seperti apa, sampai buat lo kayak gini?" tanya balik Senja. "Kan gue bilang nggak penting. Kalo misalnya ini penting, itu artinya lo bisa mengingat tanpa waktu lama." jawaban Jingga membuat Senja semakin yakin bahwa jawabannya membawa perubahan bagi Jingga. Kini, tiba-tiba Senja merindukan Jingga yang begajulan, banyak tingkah, dan rese. Padahal setiap gadis itu bersikap melewati batas kecewekan, Senja selalu mengomel. Tapi sekarang, Senja malah merasa kehilangan sosok sahabatnya. "Eh Sen, gimana sama lo?" tanya Jingga mengalihkan pembicaraan. "Maksud lo?" tanya Senja, dia tau bahwa Jingga sedang mengalihkan pembicaraan. "Mmm," Jingga bingung. "Ngalihin pembicaraan kan?" sergah Senja, dia menatap Jingga yang salah tingkah. "Tapi nggak berhasil."   "Ah, apasih lo." Jingga mengambil ponselnya, "Gue disuruh pulang cepet nih. Gue duluan ya, lo bayarin kan?" ucapnya pura-pura melihat kotak pesan. "Ada apa? Dadakan banget?" tanya Senja yang begitu tau sahabatnya itu jika sedang menghindar. "Gak tau juga, yaudah ya gue balik dulu." "Hmmm." Jingga pun sudah pergi secepat kedipan mata. Senja jadi berpikir bahwa ada hal yang sedang disembunyikan sahabatnya itu, lain waktu dia akan kembali mencari tau.   ***   Jingga menciptakan senyum manisnya saat menyapa beberapa orang yang dikenalnya, dia sekarang sedang menuju kantin belakang, disamping ruang HIMPIS. Menemui Devan yang tiba-tiba mengajaknya bertemu. "Heh." Jingga langsung menghamburkan tubuhnya di bangku tepat depan Devan. Laki-laki itu terjengkit kaget. "Ada apa lo?" "Slow man." ucap Devan, dia sudah terbiasa dengan sikap Jingga yang keras dan kasar, tapi bukankah sekarang mereka sudah berteman? "Gue girl ya, bukan man." kritiknya. "Girl jadi-jadian." sahut Devan yang sudah gatal untuk menggodanya. "Mau yang mana lo?" Jingga sudah mengangkat kedua tangannya yang terkepal. "Oke oke sorry." kini Devan yang merendah, tidak ingin membuat Jingga marah. "Tumben." Jingga mengernyitkan alisnya heran. "Sekarang kan kita sudah jadi teman, kenapa harus berantem mulu?" jawab Devan yang tau maksud Jingga. "Ya ya," Jingga jadi merasa aneh, yang biasanya selalu berdebat dan berantem jadi kalem kayak Senja. "Kenapa lo? ada tujuan apa nyuruh gue kesini?" "Mau nyapa temen gue aja." jawab Devan dengan cengirannya, yang membuat Jingga bergidik ngeri. "Gila lo! Gue ninggalin kumpul BEM karna tau lo ngerengek nyuruh kesini, dan sampek sini cuman itu alesannya? Akh, ayo ke lapangan, kita berantem!" Jingga kesal, dia berdiri dan ancang-ancang mengajak Devan untuk beranjak juga mengikutinya. "Nggak nggak, oke gue cerita." ucap Devan akhirnya. "Oke, gue dengerin." dan gertakan Jingga akhirnya berhasil. "Gue punya pacar..." "Ya gue tau lo playboy." potong Jingga.   "Jin, denger dulu." ucap Devan tiba-tiba kesal. "Eh lo kok ikutan manggil Jin! harus lo tau, cukup Senja saja yang boleh manggil gue gitu." malah Jingga yang kesal. "Oke oke, Jingga. Duh, tadi lo nyuruh gue cepet cerita, tapi lo sendiri yang nggak serius dengerin." kini Devan jadi lebih cerewet dari Jingga. Jingga nyengir, lalu menumpukkan dagunya diatas tangan, membuktikan bahwa dia benar-benar serius mendengar Devan. "Sorry, sekarang lo cerita deh." "Ya, gini.. Gue kan punya pacar, dia mau ulang tahun minggu depan. Gue bingung harus gimana," ucap Devan. "Yaelah cuman masalah itu doang?" "iya, lo punya solusi kan?" "Pasti laah." jawab Jingga mantap. "Gimana gimana?" "Shut up and do nothing." "Hah? Maksud lo? Yakin itu solusinya?" Devan dijadikan bingung oleh Jingga. "Yaa, apa gue terlihat sedang bercanda?" Devan menggeleng, "tapi itu sebuah hari spesial untuknya, dan gue nggak ngelakuin apapun?" "Ya, terus? Di dalam islam hanya ada tiga perayaan yang harus dirayakan, yaitu idul fitri, idul adha, dan hari jumat. Lo muslim nggak?" tanya Jingga dengan mengendikkan alisnya, tanda sedang bertanya dengan lawan bicaranya. "Iya lah." "Jadi lo tau kan, kalo merayakan ulang tahun nggak ada di tiga perayaan dalam islam? Kalo lo nggak setuju sama gue, lo boleh dan silahkan untuk rayain. Setidaknya gue sudah ngasih solusi. Ya? Gak ada lagi kan? Gue balik kumpul lagi ya. Dah." Jingga berdiri dan melangkah menjauh dari Devan yang tertegun, kemudian berlari ketika Senja sudah menunggunya. "Gak nyangka, segilanya Jingga, dia punya sesuatu yang istimewa." ucap Devan pada akhirnya.   ***   Sedangkan ditempat lain, saat Senja sudah lama menunggu Jingga yang katanya ijin ke kamar mandi, ternyata terpergok sedang berdua dengan Devan di kantin. Membuatnya segera mengirim pesan w******p ke gadis itu, dan menyuruhnya menghampiri laki-laki itu di depan kamar mandi.   Jingga yang tadinya berlari, berhenti setelah bisa menjangkau Senja, dan di lemparkannya cengiran khas Jingga yang terpergok sedang berbohong. "Ini yang katanya ijin ke kamar mandi?" sindir Senja saat melihat Jingga. "Akh, tadinya gue emang ke kamar mandi, tapi Devan manggil gue." "Gausah bohong!" sahut Senja. "Ih, kok lo jadi posesif gitu sih?" tanya Jingga heran dengan sikap Senja. "Siapa yang posesif?" "LO! Cemburu ya?" tanya Jingga menggoda. Tapi tiba-tiba wajahnya dihadiahi dengan setumpuk kertas. Membuatnya langsung mencebik kesal. "Tuh, sekarang lo yang sebarin lembaran itu." ucap Senja. Dilihatnya selembaran berisi pemberitahuan untuk diklat mahasiswa baru yang mencalonkan jadi anggota BEM. "Kok gue sih?" "Salah lo sendiri, nggak ada ditempat. Jadi ini tugas lo." "Akh, pasti lo yang ngada-ada ya?" "Ngapain ngada-ada." sahut Senja datar. Jingga mengernyitkan alisnya, bingung dengan sikap Senja yang jadi cuek. Bahkan sekarang, laki-laki itu sudah meninggalkannya sendiri, berjalan menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD