PART 6

1456 Words
"Senja ya?" Suara itu muncul tiba-tiba, dan sosok gadis yang masih berusia sekitar 17 tahun itu mengeluarkan ponselnya. "Iya, ada apa ya?" Tanya Senja heran. "Boleh minta foto nggak? Aku follow, dan sering pantengin i********: kamu loh." Ucap gadis itu. Senja akhirnya sadar, dia tersenyum kecut. "Maaf ya, bukannya nggak mau. Tapi aku bukan siapa-siapa, untuk apa meminta foto." Balas Senja. Sikunya terasa disenggol gadis yang ada disampingnya, Senja pikir gadis itu akan bereaksi seperti biasanya, yang selalu heboh karena followers Senja diinstagram yang tidak sengaja bertemu, dan meminta foto berdua. Bahkan gadis itu yang biasanya berantusias sekali. Tapi sekarang? "Nggak boleh ngomong kayak gitu, kalo ada yang meminta, dan lo bisa ngabulin, kenapa harus ditolak?" Ucap Jingga, yang jauh dari perkiraan. Dia bisa bersikap sebijak itu. "Iya bener, aku juga bisa tunjukkin ke temen-temen aku, mereka juga followersmu, mereka juga suka pantengin instagrammu. Please.." Gadis itu memohon. "Senjaa, jangan buat orang meminta seperti itu." Senja benar-benar heran. Tidak peduli orang meminta foto, toh biasanya, ujung-ujungnya juga dia akan mau, selain itu karena dorongan Jingga yang bikin telinganya panas karena kehebohan dan antusiasnya. Tapi sekarang? Gadis itu bersikap berbeda sekali. "Oke." Senja menyetujuinya, tapi dia berjanji akan menginterogasi Jingga nanti. Setelah hampir beberapa jepretan, akhirnya Senja selesai dari sesi foto bersama fansnya. Fans? Ah, dia hanya mahasiswa biasa, tapi entah kenapa instagramnya penuh dengan followers, yang hampir beratus ribu. "Lo kenapa?" Tuding Senja langsung, yang membuat Jingga mendongakkan wajahnya, setelah bergulat dengan ponsel. "Kenapa? Ini gue ngecek i********:, dan dia yang minta foto tadi langsung ngepost, bener dia, temennya langsung pada iri semua." Ucap Jingga sembari tertawa kecil. Senja semakin bingung. Biasanya gadis itu akan tertawa lebar, bahkan hingga terbahak-bahak, jika melihat i********: Senja yang dipenuhi oleh fans. "Lo kenapa sih?" Protes Senja. "Udah gue bilang, gue lagi ngecek instagram." Senja langsung mengambil ponsel yang ada ditangan Jingga, gadis itu terhenyak, bukannya merebut, Jingga malah merengut dengan memanyunkan bibirnya. "Gue tanya kenapa, bukan lagi apa!" Mata laki-laki itu sudah sangat mengintimidasi.   "Biasa aja ngeliatnya." Gerutu Jingga, yang sedikit salah tingkah. "Lo kenapa? Sakit? Nggak enak badan? Gue anter pulang aja ya." Tangan satunya memegang lengan Jingga, matanya masih menatap Jingga lekat, menilik gadis itu, ada apa gerangan dengannya. "Nggak, gue sehat. Ada apa sih?" Tanya Jingga. "Atau lo habis kebentur dinding? Kepala lo sakit nggak?" Senja masih khawatir. "Apasih lo, gue nggak kenapa-kenapa. Gue sehat wal-afiat, dari rumah sampai disini." Ucap Jingga sembari mengibaskan lengannya, agar tangan Senja lepas, dan mengambil ponsel ditangan Senja yang mulai lengah. Dia berlalu melewati Senja yang masih dengan keherannya. "Nggak-nggak, lo pasti ada apa-apa." Senja mensejajari Jingga. "Atau Pak Sumarto tadi nyuruh lo presentasi lagi? Oh ya, lo kan belum nyelesain tugasnya. Ya, gue yakin pasti gara-gara itu." Tebak Senja yang diyakininya pasti benar. "Pak Sumarto nggak masuk kelas." Jawab Jingga. Dan dengan telak, tebakan Senja salah. "Lah, terus lo kenapa?" Tanya Senja masih bersikekeh. "Kenapa apa sih Sen? Ah yok, gue laper. Traktir gue!" Ucap Jingga, kini dia menampakkan tingkahnya seperti biasa. Membuat Senja semakin heran. Tapi dia bersyukur, sahabatnya itu kembali lagi seperti dulu, itu artinya tidak terjadi apa-apa, untuk sementara. "Yaudah, gue teraktir apa aja yang lo mau." Jawab Senja. "Seriously?" Jingga tercengang, juga senang. "Iyaa, yaudah gih." Senja melangkahkan kakinya lebih lebar, hingga melewati Jingga, agar bisa menjangkau mobil lebih dulu. Jingga yang ada dibelakangnya hanya tersenyum kecut. "Kenapa lo pertanyain sikap gue sih Sen? Gue harus jawab apa? Kalo gue pengen berubah, agar bisa lo liat." Gadis itu menggaruk kepala yang terbungkus oleh jilbab, yang sebenarnya tak gatal. "Eh monyet." Suara itu membuat Jingga terhenyak, dan dilihatnya seorang laki-laki yang selama ini selalu menyulut amarahnya, ada didekatnya dengan wajah yang mengejek. "Beraninya lo bilang gue monyet?" Jingga tidak terima. "Lah, lo garuk-garuk kepala. Kerjaannya apa kalo bukan monyet?" Jingga mulai mengangkat tangannya kearah Devan, siap-siap memberi pelajaran pada laki-laki itu. "Lo bisa bersikap manis ke gue nggak?" Ucapan Devan membuat Jingga menghentikan aksinya. "Jika ada orang yang bersikap manis, gue juga bisa bersikap manis dengannya." Jelas Jingga, sembari melipat kedua tangannya didepan d**a. Menantang Devan yang mulai tersenyum manis. "Gue sudah tersenyum manis sama lo, sekarang lo bisa bersikap lebih manis ke gue?" Jingga menghembuskan nafas kasarnya, sembari memijit pelipisnya. "Akh, susah bilangin orang ruwet kayak lo ya?" Gadis itu tidak peduli, dia melangkah pergi untuk bisa menjangkau Senja yang sudah jauh. "Bisa kita berteman?" Tawar laki-laki itu yang sudah ada dibalik tubuhnya. Jingga berbalik, untuk melihat Devan, apakah laki-laki itu sungguhan atau sedang menjebaknya. "Plis, jangan membuat permainan dengan menawarkan kata teman." Kecam Jingga. "Gue serius. Kalo teman bisa saja jadi musuh, apa salahnya musuh bisa menjadi teman? Terkadang, seseorang yang sering menyakiti, akan berpikir berulang kali untuk menyakiti lagi." Jelas Devan dengan menampakkan wajahnya yang serius, berbeda dengan biasanya. "Sedangkan, orang yang selalu terlihat baik didepan kita, sejatinya tetap mempunyai cara untuk menyakiti. Disengaja, maupun tidak." Tambahnya, membuat Jingga terkesiap. "Tapi, orang yang baik akan menjaga dirinya agar tidak menyakiti siapapun. Karena memang manusia tidak lepas dari kesalahan." Suara laki-laki muncul disamping Jingga. Gadis itu terhenyak ketika mendapati Senja lah laki-laki tersebut. "Lo serius menawarkan diri untuk jadi teman Jingga?" Tanya laki-laki itu kemudian. Devan mengangguk dengan mantap. "Oke, lo harus lewati beberapa tahap." "Senja, apaan sih lo? Udah, nggak usah hirauin dia." Jingga menarik tangan Senja agar pergi menjauh dari Devan, dia yakin Devan hanya main-main kali ini, sejak kapan laki-laki itu bersikap baik dengannya, bahkan menawarkan dirinya agar bisa menjadi teman Jingga. Namun, Senja enggan pergi dari tempatnya, dia bahkan menarik balik tangan Jingga yang coba mengajaknya pergi. "Jangan menolak orang yang mengajakmu berteman, bagaimanapun juga kita hidup untuk berteman, ditemani dan menemani." "Tapi, dia cuman main-main, Sen. Gue tau banget cowok itu." "Itu kenapa dia harus melewati beberapa tahap dulu, untuk bisa jadi temen lo. Kalo seandainya dia seriusan, dia pasti bisa melewatinya." Jingga jengah kali ini, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa Senja benar. Kenapa dia menolak seseorang yang mengajaknya berteman? "Oke," Jingga beralih melihat Devan yang tersenyum simpul. Wajah yang berseri-seri, entah kenapa kali ini Devan terlihat tampan. Lah biasanya gimana? Biasanya mah ngeselin, jadi tampannya nggak kelihatan. "Lo bisa pergi, biar gue sama Senja yang tentuin tahap pertamanya apa." "Oke." Devan pergi begitu saja, melangkah lebar menjauh dari mereka berdua.   Jingga mendengus, "liat, nggak niat kan dia. Percuma banget tau nggak sih, pake ada acara kayak gini segala." Gadis itu segera berbalik, tanpa melihat Senja. "Seenggaknya, gue bisa bikin lo dekat dengan orang yang lo suka. Dan, semoga saja kalian sama-sama sadar dengan perasaan masing-masing." Ucap Senja mensejajari Jingga. "Apa lo bilang?" Jingga mendengus kesal lagi, ini semua karena kejadian di cafetaria beberapa hari lalu, sekarang Senja mengira Jingga benar-benar sedang menyukai Devan. Gadis itu segera melangkah lebih cepat, ada apa dengan Senja? Kenapa perubahan diri Jingga beberapa waktu lalu, tidak membuatnya mengerti dengan perasaannya? Sedangkan terperangkap dalam kata teman, membuatnya takut mengungkapkan yang benar adanya.   ***   Ditempat lain, yang tidak jauh dari keberadaan Senja dan Jingga, ada Bintang yang sedang menunggu seseorang dengan setianya, matanya tak teralih sedikitpun dari ponselnya, menunggu kabar Dari Ren, yang hingga kini masih memiliki hubungan dengannya, namun tak bisa dipastikan. Ren lagi-lagi menghilang, padahal sebelumnya mereka sudah janjian untuk pulang bersama, dan makan malam. Dia mengetuk pinggiran bangku yang didudukinya, hari semakin petang, dengan senja yang sudah terpampang warna jingganya. Tapi Ren tak kunjung menghampirinya. Ditekannya panggilan terakhir yang ada diponselnya, dan muncul foto laki-laki dengan nama "Ren Mailuv". Bukan nama belakang aslinya, itu hanya singkatan dari my love. Suara seseorang diseberang akhirnya terdengar. "Halo."   "Halo, Sayang kamu dimana?"   "Lihat siapa yang ada disampingmu?"   Seperti perintah pacarnya, Bintang mengalihkan pandangannya kearah kanan, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Ren sudah duduk disampingnya. Segera dimatikan panggilan tersebut.   "Kamu sudah disini?" "Kamu yang nggak sadar saja, coba kamu tanya orang yang ada disekeliling, sejak kapan aku sudah ada disini." Jawab Ren yang mencebik. Membuat senyum dengan gigi-gigi yang terjejer rapi dan putih nampak dibibir Bintang. "Yang bener? Kok aku gak tau ya?" "Kamu saja yang sibuk main hp." "Aku coba menghubungimu..." "Iya aku tau," Telapak tangannya sudah menyentuh puncak kepala Bintang yang terlihat khawatir dan coba menjelaskan yang tadi dilakukannya. "Jangan menjelaskan apapun." Bintang tersenyum. Kini dia menatap mata Ren dengan lekat. "Aku suka kamu balik kayak dulu lagi." Ren hanya tersenyum mendengarnya, meskipun dia bosan mendengar curahan pacarnya yang selalu merindukan saat-saat dulu. Hatinya coba dipertahankan, dia takut menyakiti Bintang dan membuatnya menangis, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa sebenarnya perasaan yang dulu diembannya, dan membuatnya menjalani hubungan dengan Bintang, sudah habis, tidak bersisa. Kini dia begitu bimbang, antara mempertahankan hubungan dengan perasaan yang sudah tidak ada, atau memutuskan hubungan dan menyakiti hati gadis yang begitu mencintainya. "Ren, katanya kamu mau ngajak aku? Kemana?" Tanya Bintang kemudian. "Oh ya, ayok ikut aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD