"Capek. Aku malas ke kantor kalau gak ada Arron." Jesyca merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamar kosnya. Pagi ini dia baru saja pulang dari apartemen Arron. Semalam, pria itu benar-benar berangkat ke Singapura. "Benar-benar tidak mau rugi meskipun itu hanya seharga tiket ke Singapura, berapa sih?" Jesyca benar-benar merasa jengkel. Kemudian Jesyca berbalik, dia menatap pada langit-langit kamar, memikirkan bagaimana Arron yang menangis semalam. Sepertinya luka pria itu terhadap kematian calon istrinya benar-benar membuat luka yang begitu dalam di hati pria itu. "Bisakah aku mengobati lukanya?" gumam Jesyca, wanita itu kemudian memejamkan matanya, rasanya lelah, semalaman dia tidak bisa tidur sampai memastikan Arron sudah tiba di Singapura dengan selamat. Dia yang di pagi harinya ing

