"Jadi apa kegiatanmu setelah ini?" tanya Angkasa saat keduanya melangkah keluar dari ruang studio bioskop.
Angkasa merasa pertanyaan itu lebih baik, daripada bertanya tentang film yang mereka tonton. Karena Angkasa sendiri pun tidak tahu harus membahas apa, sepanjang film berlangsung yang dia kerjakan bukan memperhatikan alur cerita, bukan juga memperhatikan artis yang berperan di film tersebut. Angkasa hanya memperhatikan Artemis.
Bagaimana cara Artemis tersenyum saat adegan manis...
Bagaimana cara Artemis mengerutkan kening saat film memasuki konflik...
Bagaimana cara Artemis menyedot minuman...
Semua hanya tentang Artemis.
"Mengurus pekerjaan," jawab Artemis, membuat Angkasa sedikit terkejut. Lagi-lagi, Artemis membuatnya kehilangan konsentrasi.
Angkasa memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jins-nya, berusaha mengimbangi langkah Artemis yang tergolong cepat.
"Emang apa sih pekerjaan kamu? Aku masih penasaran, terutama pada bagian hanya bisa mencari inspirasi saat malam hari." Artemis menoleh sebentar ke arah Angkasa, tersenyum simpul, lalu memberi kode untuk Angkasa mengikutinya.
Angkasa tidak lagi bertanya. Dia mengikuti Artemis melewati satu ekskalator ke eksklator yang lain, hingga tiba di lantai dasar. Artemis nembawa Angkasa ke tengah-tengah mall, ke sebuah acara dengan deretan lukisan yang menghiasi area berbentuk lingkaran itu. Sebuah pameran lukisan. Beberapa orang hilir mudik melewati Artemis dan Angkasa. Ada yang sekedar melihat dan menikmati keindahan lukisan itu, ada juga yang keluar dari area itu dengan membawa lukisan.
Artemis berdiri tepat di tengah-tengah acara, membiarkan Angkasa mengamati setiap lungkisan dengan kening mengerut.
"Bagaimana?" Artemis bertanya, mengembalikan konsentrasi Angkasa padanya.
"Apanya?"
"Semua lukisan ini."
Angkasa mengedarkan pandangannya lagi, menilai semua lukisan untuk memberikan jawaban Artemis.
"Bagus, imajinasinya unik, lukisannya juga kayak punya cerita gitu bukan asal kasih warna di atas kanvas. Secara keseluruhan semua lukisan ini keren!"
Artemis tersenyum, ikut memandangi deretan lukisan itu, lalu menghampiri salah satu lukisan. Artemis terdiam memandangi lukisan itu. Menyadari Artemis sudah berpindah tempat, buru-buru Angkasa menghampirinya. Berdiri di samping Artemis dan ikut mengamati lukisan di hadapan mereka, sebuah lukisan dengan gambar dua orang wanita tengah berdiri di tengah ilalang, saling memunggungi.
"Kamu mau beli lukisan ini?" tanya Angkasa, seraya membungkuk sedikit untuk memastikan deretan angka yang terdapat di bawah lukisan. "Nggak masalah, aku belikan!" Angkasa menegakan kembali tubuhnya, menoleh ke Artemis. "Kalau kamu suka, kita beli... anggap saja, hadiah perkenalan."
Artemis memandangi Angkasa tanpa ekspresi, baru saja dia berminat untuk menanggapi. Tangan Angkasa sudah lebih dahulu terangkat, memberi kode pada salah satu penjaga pameran untuk segera datang. Artemis ikut memperhatikan si penjaga yang lari tergopoh-gopoh dari jarak yang cukup panjang, menyunggingkan senyum tipisnya. Tidak butuh waktu lama, si penjaga sudah ada di hadapan Artemis dan Angkasa.
"Kami mau beli lukisan ini," kata Angkasa dengan yakin sambil menunjuk lukisan tersebut.
Si penjaga membuka mulut cukup lebar, memandangi Artemis dan Angkasa bergantian, kebingungan tercetak jelas pada wajah lelah si penjaga.
"Kok bengong? Jalur transaksinya seperti apa?" tanya Angkasa tidak sabaran. Dia ingin cepat-cepat membuat Artemis terkesan dan Angkasa yakin lukisan itu bisa menjadi kuncinya.
Si penjaga menatap Artemis. "Maaf Mbak Artemis, sepertinya kita tidak bisa memberikan lukiasan itu pada teman Mbak yang satu ini. Lukisan itu baru saja dibeli oleh seorang pria sekitar dua puluh menit yang lalu dan akan diambil setelah beliau selesai menyelesaikan urusannya di mall ini. Kami ingin segera menurunkan lukisan itu, tapi sejak tadi banyak sekali pengunjung dan pembeli yang datang. Kami jadi tidak sempat menurunkan," kata si petugas menjelaskan.
Angkasa menaikkan satu alisnya saat mendengar cara si petugas berbicara dengan Artemis, seperti seorang bawahan memberikan laporan untuk atasannya.
"It's okay, Dod! Rame?"
"Rame, Mbak. Banyak kolektor yang memborong lebih dari tiga lukisan. Katanya; mereka sudah sangat memanti lukisan baru Mbak Artemis sejak dua tahun yang lalu dan mereka tidak mau ketinggalan untuk memiliki lukisan baru itu." Artemis mengangguk dengan senyum puas mendengar jawaban Dodi-si petugas, sementara Angkasa melongo untuk kesekian kalinya sepanjang hari ini.
Artemis memerintahkan Dodi untuk kembali melanjutkan kembali pekerjaannya. Wanita itu menggeser posisi tubuhnya dua langkah, tersenyum manis ke arah Angkasa.
"Ini semua alasan aku tidak bisa tidur sepanjang malam, karena aku butuh suasana yang sangat tenang untuk menghasilkan satu lukisan yang kamu bilang memiliki cerita ini," ucap Artemis, sambil memandangi satu demi satu lukisan yang dia ciptakan.
Angkasa masih belum sanggup pulih dari keterkejutannya dan Artemis menyadari itu.
"Kenapa? Aku nggak kelihatan seperti seorang pelukis ya? Apa aku lebih terlihat seperti seorang wanita nakal yang menjajakan kehangatan untuk pria-pria berdompet tebal?" Artemis memicingkan mata, tapi tidak bermaksud untuk menunjukkan dia tersinggung. Dia hanya ingin menikmati wajah konyol Angkasa saat panik, seperti yang terjadi saat ini.
"Bukan... astaga, aku nggak punya pikiran ke sana." Angkasa menggosok tengkuk lehernya. "Aku cuma... ya... kaget aja."
Artemis menghampiri Angkasa, meraih lengan pria itu, lalu melingkarkan tangannya di sana. Artemis tertawa kecil dan membawa Angkasa berjalan beriringan bersama dengannya, menyusuri sepanjang jalan yang disediakan untuk pengunjung menikmati lukisan.
"Nggak usah gugup gitu, hampir setiap pria berpikir seperti itu padaku. Jadi... aku sudah terbiasa." Angkasa memperhatikan cara Artemis mengatakan itu, dia merasa ada yang berbeda dengan cara Artemis mengatakan itu. "By the way, apa pekerjaanmu?"
"Pilot," jawab Angkasa.
Artemis menghentikan langkahnya, memusatkan perhatiannya pada Angkasa. Membiarkan bola matanya bergerak dari ujung rambut menuju ke ujung kaki, lalu kembali ke wajah Angkasa.
"Tuh! Kamu aja nggak percaya kalau aku pilot. Kenapa? Apa aku terlihat seperti pria yang siap memberi kepuasan kepada setiap wanita, asal ada uang?" Kali ini posisi terbalik, Angkasa yang sengaja memicingkan matanya, memberikan kesan dia sedang mengitimidasi Artemis karena tatapannya barusan.
Artemis melepaskan tangannya dari lengan Angkasa, lalu tertawa renyah. Dan Angkasa sangat menyukai wajah Artemis yang tertawa, karena awal pertemuan mereka. Angkasa hanya melihat air mata.
"Sepertinya kita akan jadi teman yang baik," kata Artemis setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
Teman? Angkasa mengulang kata itu dalam hati.
Pria itu berjalan menghampiri Artemis, mengeyahkan jarak di antara mereka hingga Artemis tak sengaja menabrak d**a bidang Angkasa. Artemis terkejut melihat kehadiran Angkasa sudah sedekat itu, karena sejak tadi dia sibuk mengusap air mata yang keluar akibat terlalu banyak tertawa.
"Angkasa?" Artemis bersiap untuk memundurkan tubuhnya namun, tangan Angkasa bergerak lebih cepat. Melingkari pinggang Artemis dan mencegah wanita itu untuk menghindar darinya.
Angkasa sengaja memajukan wajahnya, hingga ujung dagunya menyentuh puncak kepala Artemis.
"Aku nggak mau jadi teman baik, aku mau lebih dari itu. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri nggak tahu. Kamu seperti punya kekuatan sihir rahasia, dan aku tersihir. Jangan juga menghindariku dengan alasan awal pertemuan kita yang tidak normal, kalau kamu menggunakan itu..." Angkasa memundurukan tubuhnya dua langkah dari Artemis lalu menjulurkan tangan kanannya ke hadapan wanita itu. "Kita ulang awal perkenalan kita, lupakan pertemuan kita di Bali, apa yang kita lakukan."
Artemis memandangi tangan Angkasa, walaupun sedikit ragu. Akhirnya Artemis menyabut uluran tangan Angkasa.
"Hai! Perkenalkan nama Aku, Angkasa Onesimus Jannes. Pekerjaan pilot batch tiga. Salam kenal." Angkasa memperkenalkan diri dengan menyelipkan nada bangga saat menyebutkan pekerjaannya.
Angkasa menunggu sahutan Artemis, sementara wanita itu terlihat berpikir sejenak.
"Hai juga! Nama aku, Artemis Sasikirana. Aku seorang pelukis." Artemis mengakhiri perkenalannya dengan senyum.
Angkasa menarik tangan Artemis tiba-tiba, tentu saja bukan jenis tarikan kasar, tarikan lembut namun berhasil membuat tubuh Artemis tertabrak d**a Angkasa untuk kedua kalinya.
"Sekarang semua beres! Kita punya cara berkenalan yang sebenarnya." Artemis mengangguk cepat, meloloskan tangannya dari genggaman tangan Angkasa, lalu memundurkan badannya lebih banyak dari posisi sebelumnya.
"Kalau mengikuti tata cara berkenalan pada umumnya, nggak boleh langsung deket-dekatan kayak tadi. Harus ada proses... kata orang; pelan-pelan asal kelakon," ucap Artemis, setengah menggoda Angkasa. "Jadi, mulai dari sekarang. Nggak boleh ada kontak fisik, pegangan tangan, rangkulan, pokoknya nggak boleh." Angkasa bersiap untuk protes. "Kan baru kenalan, masa baru kenalan udah pegang-pegangan." Angkasa merekatkan kembali kedua bibirnya, meruntuk dalam hati karena mengambil keputusan untuk mengajak Artemis berkenalan ulang.
Artemis tersenyum penuh kemenangan. "Oke deh! Aku rasa pertemuan kita cukup untuk malam ini, aku harus mengurus beberapa pekerjaan."
"Eh?"
"Kenapa?"
"Kamu nggak mau makan malam bareng atau aku anterin pulang?"
Artemis menggeleng. "Sebelum nonton tadi, aku sudah makan. Terus, aku juga bawa mobil sendiri. Jadi... kamu belum beruntung malam ini."
Angkasa terpaksa menerima kenyataan mengecewakan itu, tanpa mengucapkan kalimat basa basi lagi Artemis bersiap untuk meninggalkan Angkasa.
"Artemis?" Angkasa memanggil nama Artemis dan wanita itu sengaja menunda kepergiannya untuk mendengarkan kalimat yang ingin disampaikan Angkasa. "Aku benar-benar ingin pertemuan kita ini berhenti pada status teman baik, sahabat, teman, atau apa pun bahasanya itu. Aku ingin mendapatkan status yang lebih tinggi dan aku belum pernah menginginkan status itu dari wanita mana pun." Angkasa mengangkat kedua bahunya bersamaan, sekaligus menyunggingkan senyum hingga salah satu pipinya memunculkan lesung pipit.
Artemis memperhatikan lesung pipit itu. Angkasa memang tidak memliki dua lesung pipit, hanya satu di pipi sebelah kanannya. Tapi satu saja sudah berhasil menambahkan kadar ketampanan Angkasa.
"Kalau begitu aku pamit, senang menghabiskan waktu bersama kamu. Hati-hati saat mengendarai mobil." Setelah berpamitan dan Artemis mempersilakan, Angkasa pergi dari area pameran lukisan itu.
Artemis masih bertahan di tempat semula, memperhatikan punggung Angkasa semakin menjauh dari pandangannya lalu menghilang.
Artemis menepis sebuah asa aneh di dalam hatinya, cepat-cepat menyibukan diri dengan beberapa orang yang dia percayai untuk mengurusi pameran lukisan dia kali ini. Setelah puas dengan semua laporan dan hal-hal kecil lainnya, Artemis memutuskan untuk pulang. Kebetulan dia masih ada satu lukisan yang harus diselesaikan.
Butuh waktu dua jam untuk Artemis tiba di sebuah rumah minimalis dua lantai dengan halaman luas, di daerah Duri Kepa.
Begitu masuk ke dalam rumah, Artemis di sambut seorang ibu berumur 40 tahun.
"Mbak Sasi, tumben pulang jam segini." Si Ibu bertanya dengan seringai menggoda.
"Kalau pulang subuh khwatir, kalau aku pulang di bawah jam dua belas bingung. Jadi... aku harus pulang jam berapa, Mbok Luh?"
Mbok Luh tertawa geli dengan pertanyaan Artemis.
"Ya, Mbok juga bingung." Keduanya tersenyum bersamaan, mereka berjalan berdampingan sampai di ujung tangga.
"Papa udah pulang, Mbok?"
"Belum, Mbak. Mungkin hari ini ada rapat penting lagi."
"Mama?"
"Ibu sudah tidur, sudah minum obat juga."
Artemis mengangguk. "Bellva?"
"Mbak..."
Artemis buru-buru menoleh ke Mbok Luh. "Nggak usah dijawab," katanya sambil tersenyum.
Tidak mau memperpanjang obrolan, Artemis menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Sesampainya di lantai dua, Artemis menghampir salah satu dari tiga kamar yang terdapat di lantai dua itu. Membukanya secara perlahan, dengan sangat hati-hati.
"Hai, Bel! Gue balik cepat nih! Kalau kata Mbok Luh tumben." Artemis tertawa, tapi tidak ada jawaban. "Gue cuman mau kasih tahu itu doang, sori kalau ganggu. Eh, tadi gue ketemu pria namanya Angkasa. Katanya, dia itu kakak dari anak yang lo ajar. Gila nggak sih! Dunia emang sesempit itu..." Lagi-lagi, tawa dan kata-kata Artemis tidak ada yang menyahut. "Oke, gue nggak akan ganggu lo lebih lama lagi." Artemis bersiap untuk menutup pintu. Tapi sebelum pintu tertutup, Artemis kembali mengajak Bellva bicara, "pameran lukisan gue yang pertama setelah dua tahun berlangsung sukses, banyak lukisan laku. Yeaayyyy!!!"
Lelah bermonolog, Artemis memutuskan untuk benar-benar pergi dari kamar Bellva.
"Buat apa coba gue kasih tahu semua itu? Lo juga nggak akan peduli," bisik Artemis di depan pintu kamar Bellva.