6

1343 Words
Bellva turun dari tangga menuju lantai satu, sesampainya di lantai satu dia berlari dengan tergesa-gesa memasuki ruang makan. Seperti dugannya semula, sudah ada sepasang suami istri setengah baya yang tidak lain adalah orang tuanya. Yang pria tengah menikmati kopi dan koran hari ini, yang wanita sibuk memindahkan makanan ke piring. "Pagi, Ma... pagi, Pa..," sapa Bellva dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan deru napas akibat berlari melewati tangga tadi. "Pagi, sayang..," jawab Mama semangat, memperhatikan gerakan lemah gemulai Bellva menduduki kursi makan. Setelah Bellva duduk, Mama mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk ruang makan, seperti sedang menunggu seseorang untuk datang bergabung dengan mereka. "Mbok Luh..." Mama memanggil Mbok Luh. "Iya, Bu?" Mbok Luh datang, sembari sibuk mengelapi tangan yang basah dengan kain. "Ada yang kurang?" "Ada... Mbak Sasi kok belum turun? Hari ini nggak ikut sarapan lagi?" tanya Mama tanpa menutupi nada khawatirnya. "Panggilkan, Mbok." "Ma, Sasi sedang sibuk dengan lukisannya. Dia baru saja tidur jam lima subuh, baru tidur dua jam. Biarkan Sasi istirahat." Papa membujuk sang istri untuk mengurunkan niatnya membangunkan salah satu putrinya itu. "Sasi sedang sibuk melukis untuk pameran dia di Yogya, kita biarkan saja ya, Ma. Selama dua tahun Sasi tidak pernah melukis, dan ini kali pertama dia mendapatkan kembali semangat melukisnya." "Begitu, ya?" "Iya." "Kalau begitu..." Mama bangun dari kursi meraih piring yang disiapkan untuk Artemis dan mengambilkan semua lauk sarapan di atas meja, lalu memindah tangankan piring itu pada Mbok Luh. "Bawakan ke atas, Mbok. Siapa tahu Sasi kebangun dan lapar..." Bellva memandangi Mama, meraih satu tangan Mama, dan meminta beliau untuk kembali duduk. "Mama makan dulu ya..," ajak Bellva. Tentu saja Mama langsung duduk dan menuruti mau Bellva, kapan sang Mama akan menolak permintaan Bellva, tidak pernah. Bellva beradu pandangan dengan Papa dan juga Mbok Luh, lalu kembali memandangi makanan di atas piringnya. Selanjutnya suasana ruang makan ini menjadi hening, hanya ada suara detingan piring saling bersahutan. Sesekali Bellva melirik ke arah sang Mama, mengadu pandangan, lalu tersenyum secara bersamaan. Di saat semua orang tengah sibuk makan, Mama tiba-tiba saja meletakkan sedok dan garpu ke atas piring dengan kasar. Papa dan Bellva kompak memandang Mama. "Mama lupa! Sasi minta dibangunin pagi, dia bilang ada pertemuan sama pemilik gedung pameran." Mama bangun dengan terburu-buru, bersiap untuk keluar dari ruang makan. Bellva pun ikut bangun, merangkul pundak Mama sebelum beliau melangkah keluar. "Ma, pertemuannya diundur sampai sore. Sasi cerita ke aku..." Bellva mengucapkan kata demi kata dengan tenang. Mama menoleh ke Bellva, seperti sedang menguji kejujuran yang diucapkan Bellva. "Benar? Nanti Sasi marah kalau dia telat atau..." Bellva mengusap punggung Mama naik turun dengan sangat lembut. "Benar, Ma. Sasi udah bilang ada perubahan jadwal." Bellva terus mencoba meyakinkan Mama dan sepertinya berhasil. "Mama mau nonton drama Korea di kamar?" Mama mengulum senyum lalu mengangguk mantap. "Tapi, aku nggak bisa nemanin Mama. Ditemanin sama Suster Rena ya?" Sekali lagi Mama mengangguk, tepat saat Bellva bersiap untuk memanggil Mbok Luh. Wanita pengurus rumah itu lebih dulu muncul, setelah sebelumnya mengantar nampan berisikan makanan untuk Artemis di atas sana. "Mbok... tolong, temani Mama kembali ke kamar. Mama sudah selesai makan, terus sampaikan sama Suster Rena untuk..." Bellva seperti ragu untuk meneruskan kalimatnya, dia mengamati sang Mama untuk sesaat. "Menjaga Mama dengan baik." Mbok Luh mengangguk menyanggupi permintaan Bellva, tanpa banyak kata lagi Mbok Luh menggandeng tangan Mama dan keluar dari ruang makan. Setelah memastikan sang Mama sudah berjalan menuju kamar tanpa ribut-ribut atau pun hal lain yang berpotensi membuat Mbok Luh kerepotan, Bellva kembali memutar posisi tubuhnya, lalu duduk di kursi makan. Untuk sesaat pandangan Bellva dan sang Papa saling mengadu, saling mengatakan apa yang ada di pikiran masing-masing melalui tatapan bukan kata-kata. Sampai akhirnya Bellva dulu yang memutus aksi pandang-pandangan yang mereka lakukan, Bellva menundukkan kepalanya. Bellva memilih untuk melajutkan makannya dengan menyedokkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia butuh makan yang banyak untuk menguatkan diri menghadapi hari ini. "Kalau bisa Papa jangan terlalu sering lembur, kasihan Mama..." Bellva mengucapkan kalimat permintaan itu sambil menundukkan kepalanya, memperhatikan nasi goreng di hadapannya dengan hampa. Tidak ada jawaban dari sang Papa. Pria paruh baya yang terlihat masih gagah dalam balutan jas itu masih menyibukkan diri dengan koran, setelah sempat berhenti karena aksi yang dilakukan Mama beberapa menit lalu. Bellva mengintip dari balik kacamata yang dia pakai lalu melengos, karena mendapati tidak ada tanda-tanda Papa-nya akan menjawab. Cukup lama ruang makan itu hening, tidak ada yang berniat untuk berbicara. Baik itu Papa atau pun Bellva, terutama Bellva, ada rasa lelah sendiri berbicara tapi tidak pernah didengarkan. Mbok Luh terlihat masuk melewati ruang makan untuk kembali masuk ke dapur, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Mbok Luh..." Bellva memanggil Mbok Luh dengan tiba-tiba, dengan gerakan lambat Mbok Luh memutar posisi tubuhnya menghadap Bellva. "Iya, Mbak Bel?" "Lain kali jangan biarkan Mama masuk dapur, terutama memasak," kata Bellva setengah memerintah. "Hah?" Mbok Luh sedikit terkejut, sekaligus takut karena ketahuan membiarkan majikannya satu itu untuk memasak di dapur tadi pagi. "Nasi gorengnya nggak ada rasa selain manis, kayaknya Mama bukan masukin garam ke sini tapi gula." Bellva meletakkan sendoknya di atas piring yang kosong, alias habis dimakan. Dia mengambil segelas teh yang ada di samping piringnya, meneguk hingga tandas. "Dan teh ini nggak manis, tapi asin." Mbok Luh menundukkan kepalanya semakin dalam, ada rasa ngeri untuk mengangkat wajah dan memandangi ekspresi Bellva saat menggambarkan semua rasa yang telah masuk ke dalam perut wanita itu. Terdengar suara kursi berdecit, mau tidak mau Mbok Luh mengangkat wajah untuk melihat siapa yang akan meninggalkan ruang makan ini lebih dahulu. Ternyata Bellva. "Buatkan makanan dan kopi baru untuk Papa," kata Bellva, seraya melirik dan mendapati semua yang ada di hadapan Papa hanya berkurang sedikit saja. Bellva kembali menatap Mbok Luh, memberi kode untuk Mbok Luh melakukan semua yang dia perintahkan. Mbok Luh tidak banyak protes, hanya mampu menatap sendu ke arah Bellva lalu masuk ke dapur. Bellva sudah menjauh dari meja makan, kakinya hampir melewati perbatasan antara ruang makan dan ruang tengah. "Bel..," suara Papa memanggil Bellva. Bellva memutar tubuhnya menghadap ke arah sang Papa, berusaha tersenyum ramah, walaupun hatinya sungguh berat melakukan itu. "Terima kasih... Bellva." Papa terdengar tulus saat menyampaikan kalimat itu, tapi entah kenapa Bellva tidak sedikit pun merasakan itu. Bellva memeluk tas map putih miliknya di depan d**a, dia mengigigit bibir kencang, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menjawab. "Kalau Papa memang tulus berterima kasih, sediakan waktu untuk Mama. Setahu aku, Mama masih istri sah Papa bukan Tante Jovita. Sediakan waktu dan uang Papa untuk pengobatan Mama ke Penang, bukan hanya menyediakan waktu dan uang Papa untuk Tante Jovita." Tidak ada perasaan takut saat Bellva mengucapkan kata demi kata hingga terangkai sebuah kalimat dengan maksud menohok. Bellva pun tidak peduli, jika wajah sang Papa telah mengeras mendengar perkataan Bellva. Ada kilatan marah pada pandangan Papa untuk Bellva, tapi alih-alih takut Bellva semakin mengangkat tinggi dagunya, seakan sedang menantang Papa. "Kalau Papa melakukan semua itu, aku bisa istirahat... walaupun sejenak. Karena semakin hari, semua ini semakin berat untukku." Bellva membetulkan letak kacamata agar bertengger rapi pada tulang hidungnya yang tinggi. "Kalau tidak ada yang perlu Papa sampaikan lagi, aku pamit berangkat kerja dulu. See you, Pa." Bellva tidak menunggu izin dari Papa, dia keluar dari wilayah dapur begitu saja. Masih dengan posisi memeluk map berisikan setumpuk bahan mengajar, Bellva berlari cepat menuju mobil civic silver. Begitu masuk ke dalam mobil, Bellva tidak langsung menjalankan mobil itu. Dia hanya duduk dia di balik kemudi mobil, melemparkan tas dan map putih ke kursi sebelah kirinya. Sejurus kemudian, Bellva membuka mulutnya lebar-lebar, berteriak tanpa suara. Tidak berhenti di situ, Bellva pun mendaratkan pukulan secara bertubi-tubi pada kemudi mobil. Dia melakukan semua itu hingga kelelahan. Setelah puas melakukan semua hal itu, Bellva bersiap keluar dari halaman rumah. Sebelum benar-benat pergi, Bellva menyempatkan diri memandangi jendela kamar yang masih tertutup rapat dengan tirai, memberi tahu bahwa sang pemilik kamar tidak mau diganggu oleh sinar matahari atau pun mahluk hidup lainnya. "Mau sampai kapan semuanya berjalan seperti ini, Sasi?" bisiknya dengan parau. Bellva menjalankan mobil, melewati mobil Honda CR-V Prestige putih milik Sasi alias Artemis. Ketika melewati mobil itu, Bellva kembali membuang napas kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD