Seminggu sudah berlalu pertemuan terakhir dirinya dengan Tika. Namun Tika belum menghubunginya.
Sebenarnya tidak ada keraguan dalam diri Nuke terhadap janji sahabatnya itu. Namun Nuke tak sabar ingin sekali banyak bertanya mengenai Andi.
Pria bernama Andi mungkin menjadi cinta monyetnya. Karena saat itu mereka masih di bangku sekolah dasar. Namun Andi merupakan sosok yang menarik saat itu. Bukan hanya wajahnya yang imut namun juga kehebatannya saat menunjukkan senior bela diri yang dimilikinya.
Minggu Ini kembali Nuke membantu bude di toko. Memasuki minggu kedua bulan Desember, nampak pengunjung di kota Bandung mulai ramai. Nuke tampak kelelahan juga hari ini. Seperti minggu sebelumnya Nuke akan menjaga hingga siang hari hingga bude Sari datang dan mereka bergantian.
Nuke pun sibuk sekali melayani pembeli di kasir. Hingga ia tidak sempat makan siang. Hingga akhirnya ia dapat beristirahat setelah jam 2 siang.
Nuke pergi ke rumah makan dekat toko dan membeli makan siangnya. Sambil beristirahat melepaskan penat. Nuke duduk di bangku panjang depan toko bude.
Angin bertiup sepoi-sepoi sangat menyejukkan. Dari sudut matanya, Nuke merasa ada yang memandanginya dari balik pepohonan diujung jalan.
Wajah dan senyum sesosok pria di sana seperti begitu dikenalnya. Ia berusaha mengingat siapa pria itu.
"Hmm... Andi... iya itu sepertinya dia,'" begitu pikir Nuke yang masih belum yakin dan berusaha untuk berdiri agar melihat sosok pria itu lebih jelas lagi.
Benar, pria itu adalah Andi sahabat masa kecilku, pikir Nuke sambil berjalan cepat menuju posisi dimana Andi berada.
Andi menyapanya dengan suara lembut. "Nuke, akhirnya aku dapat melihatmu. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Dan sekarang aku menemukanmu!"
Nuke tanpa sadar telah berada dalam pelukan Andi. Nuke merasakan harum tubuh Andi. Sempat Nuke berpikir pilihan parfum Andi sungguh berbeda dengan pria kebanyakan. Wangi yang tercium sungguh lembut dan tentu saja akan selalu membuatnya rindu.
Nuke tersadar setelah mendengar suara pengunjung sedang berbicara tak jauh darinya.
"Maaf Andi, aku spontan memelukmu karena kaget dan senang bertemu kamu lagi setelah sekian lama," seru Nuke sambil melepas pelan pelukannya.
Nuke melihat Andi masih tersenyum hangat melihat dirinya. Andi kemudian memegang tangan Nuke dan mengajaknya berkeliling taman di dekat tempat wisata.
Nuke baru tersadar ada taman indah di sini. Rumput hijau dan jalan setapaknya yang bersih membuat Nuke tidak lagi merasa berjalan di Bandung. Beberapa tahun sudah dia berada di Bandung tak pernah menemukan taman indah ini.
Hamparan bunga warna warni tampak tak jauh dari pandangan mata. Wangi bunga pun tercium hingga Andi dan Nuke duduk di bangku taman.
"Bagaimana kabarmu Nuke? Burung Camarku...," tanya Andi yang dibalas dengan tawa renyah Nuke.
"Kamu Masih ingat kan kenapa aku memanggilmu burung Camar?," lanjutnya lagi.
Tentu saja ingat. Nuke ingat saat itu Andi memanggilnya dengan sebutan Manuk karena namanya Nuke. Manuk adalah bahasa Jawa yang artinya burung.
"Tapi aku tak mengerti kenapa harus Camar nama burungnya?" tanya Nuke pada Andi.
Andi kemudian bercerita tentang pengalamannya saat bertamasya ke pantai bersama keluarganya. Saat itu dia melihat kumpulan burung Camar dan terbang tinggi sangat menarik perhatiannya. Oleh sebab itu burung Camar lah yang diingat Andi saat menggoda Nuke.
"Dan memang kamu cocok jadi burung Camar karena sudah jauh meninggalkanku dan terbang kemari," sahut Andi sambil mengelus lembut rambut Nuke.
Andi tiba-tiba mengeluarkan dari kantong kemejanya beberapa bunga Melati yang di dalam kelopak putihnya ada warna merah Muda keungu-unguan. Diberikan bunga itu pada Nuke. Ini mungkin tidak seperti bunga Melati putih yang biasanya kamu lihat tapi ini melambangkan diriku.
Nuke menerima melati itu di kelopak tangannya dan mencium harumnya. Kemudian Nuke memasukkan bunga itu di kantong kemejanya. Tidak terasa sudah betapa lama mereka di taman itu. Akhirnya Andi berpamitan dan kembali mengantar Nuke dengan menggandeng tangan Nuke Kembali ke tempat kerimbunan pepohonan dekat toko bude.
"Aku Masih akan kembali menemuimu Nuke, tunggu aku di sini minggu depan," ujar Andi sambil melambaikan tangan dan bergerak menjauh ke arah parkiran tak jauh dari sana.
Nuke begitu terpesona akan pertemuan itu dan membalas lambaian tangan Andi. Dilihatnya kembali bunga Melati di kantong bajunya.
Nuke tersadar hari semakin gelap. Rupanya sudah beberapa jam dia pergi meninggalkan toko bude. Ia pun lari kembali ke toko. Ternyata bude sudah menunggunya dengan wajah panik.
"Nduk kamu kemana to? Lastri dan Merry cari kamu. Kata mereka tiba-tiba kamu menghilang dari jam 3 tadi. Ini sudah nyaris jam 6." tanya bude Sari dengan suara panik.
Nuke pun minta maaf akan kepergiannya yang tanpa pamit pada kedua karyawan bude yaitu Lastri dan Merry. Nuke pun menceritakan bahwa dia baru saja bertemu teman dan pergi ngobrol dengannya hingga lupa waktu.
Bude agak menyesali kenapa mereka harus meninggalkan toko. Bisa saja mereka duduk di toko atau ngobrol di rumah makan sebelah.
Nuke tak lagi memperpanjang ceritanya mengenai Andi pada bude. Biar nanti jika bude sudah tidak ngomel maka Nuke berniat untuk bercerita.
Nuke pun diminta bude untuk pulang terlebih dahulu seperti biasa. Sementara bude menggantikannya menjaga di toko.
Nuke masih memegang telepon genggamnya di ruang tengah. Nuke kembali menenggelamkan pikirannya dalam pusaran waktu pertemuan pertamanya dengan Andi. Nuke yakin itu adalah pertemuan awal yang nantinya akan diikuti dengan pertemuan lainnya seperti janji Andi padanya.
Tiba-tiba Nuke teringat kesalahannya lagi dia telah lupa bertukar nomor telepon dengan Andi. Ditepuk jidatnya dengan menggunakan telapak tangan kanannya. Namun memang ketika pertemuannya dengan Andi, Nuke seperti kembali ke nostalgia bersama Andi. Genggaman lembut Andi saat menggandeng tangannya membuat Nuke lupa bahwa telepon genggamnya tertinggal dalam tas di toko bude.
Nuke terbangun dari imajinasinya, ketika dia sadari bude sudah berada di sampingnya. Bude seperti menunggu Nuke untuk bercerita mengenai hilangnya dia tadi sore.
Nuke pun menceritakan apa yang dialaminya. Keberadaan Andi yang menemuinya, taman indah rahasia milik mereka serta bunga melati oh iya tiba-tiba ia kembali ingat bunga melati dari Andi yang disimpannya di saku baju.
Nuke pun berlari mengambil bunga Melati dan menunjukkannya pada bude yang dari tadi diam saat mendengarkan cerita Nuke.
Bude melihat bunga melati yang ditaruh di tangannya.
"Ini bunga melati Jepang. Kelopaknya tidak seputih melati biasa. Wanginya pun tidak seharum melati biasa. Namun banyak gunanya untuk pengobatan," jelas bude.
Nuke hanya mengangguk mendengar penjelasan bude Sari.
"Nduk bude hanya merasa ada yang tidak pas dengan pertemuanmu dengan nak Andi. Seharusnya kamu perkenalkan pada bude," kata bude memberikan nasehat.
Bude pun sambil berkelakar berkata untuk meyakinkan dirinya bahwa Nuke tidak sedang berkhayal sendiri dan merasa ada sosok Andi datang menemuinya.
"Bude, Nuke serius memang bertemu Andi. Bahkan kami membicarakan banyak kejadian Lucu saat dulu Masih kecil. Makannya maaf aku lupa waktu karena mengenang masa-masa indah dulu," Nuke berusaha meyakinkan bude.
Bude pun tersenyum sambil berdiri dan menyiapkan makan malam untuk mereka. Bude hanya berpesan lain kali coba perkenalkan Andi dengan dirinya. Nuke pun mengangguk dan memasukkan bunga melati tadi ke dalam gelas berisi air bening.
Beberapa hari ke depan Nuke kembali sibuk dengan pekerjaannya. Namun ia ingat janji Andi untuk datang mengunjungi dirinya setiap minggu.
Tibalah hari Sabtu dimana Nuke akan membantu bude di toko. Hari itu lumayan ramai karena mungkin menjelang libur akhir tahun. Banyak para remaja lokal yang mungkin sudah lebih santai dengan pelajaran sekolahnya dan menyempatkan diri berekreasi di akhir minggu. Hati Nuke masih berdegup cepat karena menunggu kedatangan Andi. Tak terasa sudah jam 2 siang dan bude sudah berada di toko. Nuke masih sibuk beres-beres kemudian duduk di depan toko kembali dengan es tehnya. Bude pun sudah mulai sibuk melayani pembeli.
Nuke bergerak maju ke arah rimbun pohon dimana Andi berada saat itu. Namun yang ditunggunya tak nampak jua. Hingga tanpa disadari langit menjadi gelap. Bude Sari rupanya sudah memperhatikan Nuke semenjak tadi. Saat langit bertambah gelap dan terlihat keponakannya hanya diam beberapa menit bahkan hampir sejam berdiri diujung jalan, bude pun meneriakkan nama Nuke hingga tiga kali untuk memintanya pulang.
Nuke mendesah berulang kali karena gagal bertemu Andi hari ini hingga tersadar ia mendengar teriakan bibi di kejauhan memanggil namanya.
Nuke pun membalikkan badan dan berlari ke toko karena hujan mulai turun. Hari itu Nuke berencana kembali pulang bersama bude karena hujan turun hingga sekitar jam 7 malam.
"Nduk, bude iku serius. Kamu ndak boleh lagi bengong seperti tadi. Tidak baik buat perempuan karena bahaya kalau tidak sadar kamu dihipnotis maka apapun hal buruk bisa terjadi. Kalau Andi itu nyata dia akan muncul sendiri tanpa kamu tunggu," bude mulai menegur sikap Nuke yang dinilainya akan membahayakan keponakannya itu setelah mereka berada kembali di rumah.
Dalam hati Nuke merasa tersinggung dengan ucapan bude. Kenapa bude meragukan bahwa pengalamannya dengan Andi itu nyata. Seolah bude menganggap Nuke itu hanya bengong kemudian berkhayal dan halusinasi. Aneh sekali rasanya ucapan bude barusan bagi Nuke.
Namun Nuke memilih untuk diam saja dan tidak membalas apa yang diucapkan bude Sari. Dikepalanya saat ini hanya ada kebingungan akan keberadaan Andi.
"Siapa nama teman wanitamu yang ke toko kapan hari? Apa dia tidak menghubungimu? Menurut bude dengan kalian bicara lagi maka kamu ada kepastian soal Andi," bude rupanya teringat akan Tika.
"Tika namanya, bude. Aku tidak tahu dia bagaimana sekarang. Karena sejak bertemu dia tak menghubungi Nuke," balas Nuke.
Akhirnya setelah makan malam bersama bude, Nuke kembali ke kamarnya dan mulai tidurnya. Biasanya dia lupa berdoa sebelum tidur, tapi malam ini ia berdoa agar dapat dipertemukan kembali dengan Andi besok.
Pagi pun menjelang, Nuke sangat bersemangat untuk berangkat ke toko dengan harapan hari Minggu ini ia akan berjumpa kembali dengan Andi dan ia berusaha mengingat beberapa hal penting yang ingin disampaikannya.
Nuke tak sadar bude memperhatikan gerak geriknya. Sepertinya bude Sari mulai khawatir dengan kesehatan mental Nuke. Beberapa peristiwa menyedihkan yang bertubi-tubi terjadi dalam kehidupan keponakannya ini.
"Mau berangkat sekarang nduk? Kamu ndak capek?," tanya bude saat melihat Nuke sedang memesan ojek online dari telepon genggamnya.
"Iya bude ini lagi pesan ojek," sahut Nuke.
"Ingat pesan bude yo nduk hati-hati jangan gampang percaya sama orang baru. Fokus konsentrasi jangan banyak melamun," begitu pesan bude yang dibalas dengan anggukan oleh Nuke.
"Pamit bude..," sahut Nuke sambil berjalan ke pintu ruang tamu sebab dia melihat ojeknya telah tiba. Bude pun mengiyakan dan menemani Nuke hingga pergi naik ojek.
Hari itu toko bude lumayan ramai karena sudah hampir memasuki libur Natal. Bahkan dari jam 10 pagi yang biasanya sepi, hari ini nampak ramai. Bahkan Nuke nyaris tak bisa beristurahat.
Sekitar jam 2 siang karena Nuke belum makan, ia pamit pada pegawai budenya untuk mencari makanan yang sedang ia inginkan siang itu. Entah kenapa rasanya Nuke ingin sekali makan soto ayam, dan penjualnya lumayan jauh dari toko bude. Nuke harus naik angkot sebentar ke arah atas.
Nuke melihat angkot yang ditunggunya sedang mendekat ke arahnya. Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk menghentikan angkot tersebut yang terus melaju melaluinya. Nuke melihat Andi, yang hari ini tampak bercahaya dengan kaos berkerah warna putih di parkiran tempat wisata di seberang jalan.
Andi terlihat tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Nuke. Dia memberi kode agar Nuke tetap berdiri di tempatnya dan Andi yang akan menghampiri nya.
"Camarku, kamu mau terbang kemana barusan?," candanya setelah mendekat ke arah Nuke. Rupanya ia tadi melihat Nuke yang hampir menghentikan angkot.
Nuke seperti terkesima sehingga tidak dapat berkata-kata karena melihat aura yang terpancar seperti keluar dari diri Andi saat itu.
"Andi kamu datang sekarang?," tanya Nuke.
"Seperti doamu yang berharap aku datang. Maafkan aku tak bisa datang kemarin. Cuaca tak bersahabat tak baik buatmu untuk pergi," jawab Andi.
Andi kembali menggenggam tangan Nuke lembut. Dia menunjuk ke arah sedan putih yang terparkir di seberang jalan.
"Kita mau kemana Andi? Jangan jauh-jauh aku tak mau kemalaman,"pinta Nuke karena tahu dia akan diajak ke suatu tempat dengan mobil itu.
Andi tersenyum dan perlahan mereka menyebrangi jalan yang mulai ramai. Andi membukakan pintu mobil sebelah kiri untuk Nuke kemudian dia naik Dari pintu kanan.
"Camarku, aku tak akan membawamu pergi jauh. Tapi aku akan membawamu ke tempat indah yang mungkin belum pernah kamu kunjungi," begitu jelas Andi Masih dengan gaya romantisnya.
Nuke tersipu-sipu akan perlakuan sopan Andi padanya saat itu. Membuat Nuke lupa semua hal yang ingin ditanyakannya. Tapi suara perut Nuke karena kelaparan tak dapat ia tutupi. Andi pun tertawa keras dan segera menjalankan kendaraannya.
Singkat cerita, mobil menuju ke restaurant. Namun Andi tidak ikut makan karena dirinya sudah makan siang.
Setelah itu mobil kembali melaju menuju tempat yang dirahasiakan Andi.