Nuke dan Bude Sari tiba di saat yang tepat yaitu saat pengantin masih mengucap janji suci. Rupanya mereka tidak terlambat.
Setelah mengisi buku tamu dan memasukkan amplop mereka, bude dan Nuke segera menempati posisi duduk tidak jauh dengan pasangan yang sedang mengikat janji.
Nuke juga melihat deretan kursi dan meja putih di posisi outdoor. Dengan hiasan bunga dan renda di setiap kursinya menambah suasana meriah. Tampak ada panggung kecil di ujung dan singgasana pengantin pun tersedia di sana.
Meja-meja berisikan makanan juga tersedia di dalam bagian indoor restaurant. Namun karena akad masih belum selesai, panci-panci berisikan makanan belum dibuka.
Setelah pasangan dinyatakan resmi menikah, mereka pun melakukan foto bersama keluarga. Ada juga momen pasangan berfoto sambil menunjukkan cincin pernikahan dan surat nikah. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah mempelai.
Kemudian sang pengantin bersama keluarga diminta masuk ke ruangan vip untuk persiapan pesta. Tamu undangan yang mulai berdatangan diminta segera memasuki ruangan pesta dengan berjalan menuju ruangan outdoor.
Para pelayan menghampiri tiap meja dan meletakkan makanan kecil juga menawarkan minuman dan buah-buahan sebagai makanan pembuka. Nuke bertemu juga dengan teman-teman sekantornya. Ada juga mbak mirna dan beberapa pemimpin yang menyempatkan untuk hadir.
Mereka masih bicara sambil berdiri dan memegang segelas air. Bude Sari mencari tempat duduk yang nyaman dekat panggung.
"Wah, Linda kelihatan manglingi ya. Beda sekali. Make up pengantinnya bagus," kata mbak Mirna yang disetujui oleh Nuke dan teman-teman lainnya. Manglingi dari bahasa Jawa biasanya diartikan bahwa pengantin di dandani dengan pulasan make up yang membuat wajah mereka berbeda dari kesehariannya.
"Aku pun suka dengan baju pengantinnya sederhana modelnya tapi pernak-perniknya membuat Linda kelihatan anggun," seru Nuke.
Nuke dan teman-teman melakukan swa foto. Kemudian saat dilihat ada pelayan yang sudah tidak sibuk, mereka minta bantuannya untuk foto mereka.
Suasana ceria dan penuh canda tawa memenuhi tempat pesta. Tamu Masih ada yang berdatangan. Acara inti akan segera dimulai. Tampak emcee mulai sibuk mempersiapkan acara.
Masih terdengar alunan musik dari piano tunggal. Lagu-lagu romantis pun terdengar oleh para tamu. Namun tiba-tiba panitia meminta pemain piano untuk menghentikan permainannya karena acara akan dimulai.
Emcee pun hadir di panggung dan meminta semua hadirin untuk duduk. Emcee memberikan kata pembuka dengan memberikan kata pembuka kepada semua hadirin.
Kemudian emcee meminta pemain piano untuk kembali memainkan musik yang mempersilahkan pengantin diikuti oleh orang tua mereka berjalan ke atas panggung.
Kedua mempelai bergandengan mesra. Mereka juga menebarkan senyum kepada semua tamu yang hadir di sana. Para pengapit pengantin yang berdiri berjajar di samping jalan menuju panggung melemparkan mereka dengan bunga warna warni. Hingga akhirnya mereka tiba di atas panggung dan duduk menempati pelaminan yang diikuti oleh orang tua mereka.
Acara berikutnya, kedua mempelai pengantin diminta untuk bercerita bagaimana mereka bertemu serta apa yang mereka rasakan setelah sah menjadi pengantin.
Ternyata mereka berkenalan sejak SMA. Perjalanan cinta mereka begitu unik. Hingga akhirnya mereka saling mengucapkan janji suci saat akad tadi. Hadirin pun memberi tepukan meriah bagi mereka.
Ternyata Linda pun memberikan kejutan untuk Tyo pasangannya. Linda menyanyikan lagu romantis diiringi piano. Suasana menjadi semakin ramai dan tepuk tangan pun bergemuruh.
Setelah itu emcee juga mempersilahkan para undangan yang mungkin akan menyampaikan ucapan Selamat untuk maju ke panggung atau juga mereka yang ingin menyanyi sebagai ungkapan syukur bagi mempelai.
Beberapa teman SMA mempelai turut juga mengucapkan Selamat dan kemudian bersalaman serta berfoto bersama. Beberapa teman kuliah Linda dan teman kuliah Tyo pun turut naik ke atas panggung untuk mengucapkan Selamat kemudian berfoto bersama.
Secara bergantian mereka naik ke panggung dan mengucapkan selamat ataupun langsung berjabat tangan kepada kedua mempelai dan keluarganya.
Begitupula dengan perwakilan kantor Linda. Ada Nuke dan mbak Mirna yang sudah bersiap-siap antri untuk memberikan ucapan selamat. Emcee juga mempersilahkan para undangan untuk memulai mengambil makanan mereka.
Bude Sari memberi kode pada Nuke untuk mengambil makanan terlebih dahulu. Sementara dilihatnya Nuke akan bersama-sama temannya. Nuke pun mengangguk pada bude, mempersilahkan bude untuk menambil makan siang terlebih dahulu.
Semakin mendekati pelaminan, semakin tercium wangi bunga yang sangat dikenalnya. Wangi bunga melati pun tercium harum. Nuke, mbak Mirna dan beberapa teman langsung memberikan salam kepada kedua mempelai dan keluarganya. Kemudian mereka memilih posisi yang pas untuk berfoto bersama kedua mempelai. Senyum ceria terlihat tampak mengembang karena canda yang diutarakan oleh mbak Mirna dan teman-teman. Nuke pun turut berbahagia bersama mereka.
Setelah berfoto dan bersenda gurau, Nuke, mbak Mirna dan teman-teman sekantor Linda pun bergerak turun dan rencananya mereka akan ke meja prasmanan untuk mengambil makanan dan kembali ke meja untuk makan bersama. Mereka pun berurutan turun dari panggung. Nuke jalan cukup berhati-hati karena ia memakai kebaya putih dan rok batik. Nuke tampak cantik dengan pulasan make up sederhana.
Saat turun dari panggung tiba-tiba Nuke yang berjalan paling belakang dalam rombongan merasa tangan kirinya ditarik oleh seseorang yang terhalang oleh teman-teman di depannya. Otomatis Nuke berjalan ke pinggir kiri dan berhenti di pojokan yang sepi. Saat matanya mulai beradaptasi, dilihatnya seseorang memakai jas putih dan celana putih yang sangat tampan melihat ke arahnya.
Pangeran melati merah muda, itulah yang dilihat Nuke berada tak jauh dihadapannya. Nuke mengenali sosok Andi yang terlihat bercahaya karena mungkin pakaian putih yang ia kenakan. Wangi aroma melati tiba-tiba berada di sekelilingnya.
"Andi, kamu tahu aku di sini?", tanya Nuke penuh dengan rasa terkejut. Andi tak banyak berkata-kata wajahnya tampak serius ia hanya mengatakan maaf karena telah menarik tangan Nuke tadi.
"Nuke, kamu masih percaya padaku meski sedikit kan? Ulurkan tanganmu padaku karena aku ingin kita bicara berdua," begitu pintanya.
Andi sepertinya mengetahui bahwa Nuke mulai meragukannya. Namun Nuke ingin tahu apa yang akan disampaikan Andi saat ini.
Diulurkan tangannya pada Andi dan perlahan mereka berjalan ke sebuah meja dan kursi serba putih dimana di atas meja sudah ada berbagai jenis makanan dan minuman menanti Nuke dan Andi.
Nuke merasa sedang berada di dimensi lain. Meja dan kursi yang ia lihat memang mirip dengan yang berada di restaurant. Bahkan seharusnya mereka masih berada di tempat yang sama.
Nuke hanya merasa berjalan tak lebih dari 20 langkah saja hingga berada di sini. Namun kenapa ia merasa berada di dimensi lain karena suasana yang ia rasakan sungguh berbeda. Suasana tampak sepi tak seperti beberapa saat lalu masih ramai terdengar suara tamu di pesta pernikahan Linda.
Andi menarik kursi untuk Nuke dan memintanya duduk. Di meja terdapat berbagai jenis makanan dan minuman. Terdengar lembut alunan suara biola samar-samar. Ini menambah bingung perasaan Nuke sebab tadi iringan musik yang ia lihat hanya organ tunggal.
Andi mempersilahkan Nuke untuk mencicipi beberapa hidangan yang disajikan. Namun entah kenapa Nuke malas untuk menyentuh makanan itu. Ia hanya ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Andi.
Dilihatnya Andi memetik anggur hijau sambil menawarkannya pada Nuke. Namun Nuke menggelengkan kepala dan berterima kasih. Seperti mengetahui bahwa Nuke menunggu penjelasannya, ia pun berujar setelah meneguk minuman berwarna merah dan kemudian meletakkan gelasnya di meja kembali.
"Nuke, aku tahu kamu terus bertanya-tanya tentang keberadaanku selama ini. Terkadang aku muncul namun nanti lama menghilang dan akhirnya muncul kembali seperti ini," begitu Andi mengawali ceritanya. Nuke hanya terdiam mendengarkan dan memang itu salah satu pertanyaan yang selalu saja ingin ia tanyakan tiap kali bertemu Andi namun lupa pada akhirnya karena jatuh pada pesona orang dihadapannya.
Keduanya tampak seperti serempak terdiam hanya alunan biola yang masih tampak terdengar seolah mengiringi pertemuan mereka. "Nuke, maafkan aku karena tidak bisa selalu berada bersamamu," Andi memandang Nuke dengan mata penuh kehampaan.
"Saat ini aku masih belum dapat membuatmu mengerti akan sikapku. Tapi perasaanku padamu sungguh tulus. Alasan utama untuk datang ke kota ini adalah dirimu. Namun akhirnya aku sadar akan ada waktunya aku tak akan pernah kembali menemuimu. Suatu saat nanti kamu akan bertemu seseorang yang dapat menjelaskan sikap anehku," kata-kata Andi tadi seperti suatu tanda perpisahan darinya.
Nuke masih terdiam terpaku melihat Andi mulai berdiri tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Sinar terang menyilaukan tampak menutupi dirinya dan menarik perlahan Andi. Nuke seperti lupa untuk bernapas beberapa saat hingga akhirnya kepalanya terkulai di atas tangannya. Dirinya lemah tak berdaya. Dan sayup-sayup suara biola menghilang dan berganti kembali dengan suara musik organ tunggal yang mengiri acara pernikahan.
Terdengar suara beberapa orang memanggil nama Nuke yang Masih tak sadarkan diri di meja.
"Ini Nuke, ayo ke sini bantu, " teriak Linda panik setelah menemukan temannya. Tampak bude pun turut menghampiri. Ia segera membangunkan tubuh Nuke dari samping kemudian menyangga kepala Nuke dengan lengan kirinya. Bude pun mengoleskan minyak angin pada hidung dan beberapa bagian tubuh Nuke agar segera sadar. Sementara beberapa kenalan lainnya mengipasi Nuke sambil memanggil namanya untuk membangunkannya.
"Nduk..nduk ono opo to? Ayo bangun," panggil bude untuk menyadarkan Nuke. Beberapa saat kemudian Nuke terbangun Dan seperti kaget habis terbangun Dari tidur.
Nuke mulai menegakkan badannya perlahan dan ingatannya pun kembali bahwa dia sedang berada di sebuah acara pernikahan.
"Aku kenapa bude?," tanyanya bingung pada bude. Bude kemudian menjelaskan bagaimana keadaan Nuke saat pertama dirinya ditemukan. Nuke pun menceritakan bahwa sebelumnya dirinya bersama Andi yang kemudian menghilang entah kemana.
Beberapa kenalan yang berada di sana mulai tampak bingung akan cerita Nuke karena mereka tidak melihat siapapun di dekat Nuke saat ditemukan. Bahkan pemain biola yang Nuke gambarkan pun tidak ada bukan bagian dari acara hari itu.
Nuke dan bude meminta maaf pada pasangan pengantin dan keluarga akan kehebohan yang diakibatkan dirinya. Nuke pun akhirnya dipapah untuk menuju ke tempat yang lebih nyaman di dalam sekaligus makan siang.
Nuke menikmati makan siang hari itu sambil kembali mengingat momen pertemuan yang aneh dengan Andi. Ada yang aneh pada Andi. Terlalu banyak yang ada dipikiran Nuke saat itu. Ia pun berusaha mengalihkan pikirannya pada hal lain.