Setelah pulang dari rumah sakit, sekarang Arnold lah yang tak bisa membendung air matanya. Kini ia berada di bandara untuk melepaskan kepergian gadis cantik yang selalu bersamanya akhir-akhir ini. Beberapa kali ia memohon agar gadis itu tidak pergi meninggalkan dirinya, tapi gagal. "Arnold jaga diri ya, jangan suka marah-marah. Usahain emosinya jangan barbar, dan jangan lupa kamu gak boleh telat makan. Aya pergi dulu," ujar gadis itu ceria. "Ay—" Brukk Arnold menjatuhkan dirinya, berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kecil Aya, lalu mencium kedua tangan Aya lembut. Beberapa detik setelahnya, Arnold mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dari saku celananya. Membuka kotak itu perlahan dan mengarahkan pada Aya. Terdapat cincin sederhana d

