36wp 25

1437 Words

Aya tak kunjung berhenti menangis di pelukan Arnold, tubuhnya masih bergetar hebat mengingat kejadian tadi. Regan yang khawatir pada istri dan calon anaknya terus berdiri di depan pintu ruangan tempat Aquila diperiksa. Napasnya memburu, sekelebat ingatan mimpi malam itu kembali muncul dalam otaknya. Melihat Aya yang masih menangis di pelukan Arnold membuat Regan iba pada gadis itu. Bahkan Aya juga tak berhenti menyalahkan dirinya atas kejadian ini. "Ay, kamu tenang dulu ya. Jangan nangis terus, nanti kamu drop lagi," bisik Arnold. "Aya takut, kalau Aquila sama anaknya kenapa-napa gimana?" tanya gadis itu dengan suara menahan tangis. "Bentar, Ay, pipi kamu kenapa kayak habis dipukul gini?" Arnold baru sadar pipi Aya merah bukan karena menangis, melainkan karena bekas pukulan. "Tadi Aya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD