Chapter 2

1235 Words
Berhubung ada lembur dan fokus bekerja, Sila berhasil melupakan mengenai bunga besar itu. Sama seperti yang lainnya juga tidak membahas apapun mengenai bunga itu. Hingga tiba saatnya pulang. Bunga itu terlalu besar untuk diletakkan di meja Sila. Jadi diletakkannya di sudut ruangan untuk sementara. Lalu disaat pulang seperti ini, semua mengingatkan agar jangan sampai Sila melupakan bunga itu. Sungguh Sila bahkan tidak tahu harus membawanya ke rumah dengan cara apa. Satu-satunya cara ya naik taksi online. Sila sengaja pura-pura sibuk saat semuanya sudah pulang. Ia malas pulang bersama rekannya karena mereka semua mulai membahas bunga itu. Pembahasan yang membuat Sila bingung. Ia juga sama bingungnya seperti mereka. Setelah satu jam bermain game, Sila memutuskan untuk pulang. Sebentar lagi kantor akan ditutup karena sudah jam sembilan malam. Ia menghela napas saat melihat bunga itu. Akan cukup sulit membawanya namun detik kemudian Sila tersenyum. Ini bunga terindah yang pernah ia terima. Akan tetapi selama membawa bung aitu di dalam lift, Sila jadi penasaran kenapa Axel sampai sebegininya. Ia justru menjadi khawatir. Pemberian ini terlalu berlebihan hanya untuk sekadar meminta kontak. Sila menganggapnya begitu. Dirinya keluar dari lift dan disambut oleh Pak Joko, security. Beliau sedang cross and check sebelum kantor tutup sepertinya. “Wah. Bunganya gede banget, Mbak Sila.” Mereka akrab jadi Pak Joko bisa menyapa dengan santai. “Iya, Pak.” Sila hanya menyengir kuda. “Pasti dairi pacarnya, ya? Nungguin tuh disitu.” “Hah?” tanya Sila. Sila kemudian mengikuti arah tunjuk Pak Joko. Agak jauh disana, di lobi. Di sofa tepatnya. Ada seorang lelaki yang sedang menunduk menekuri ponsel. Mata Sila membulat. Itu Axel. “Aku permisi ya, Mbak.” Ucapan Pak Joko membuat lamunan Sila buyar. Ia langsung melangkah menuju lobi. Sempat kesulitan untuk men-tap out kartunya, Sila meletakkan bunga itu sejenak di lantai. Axel menyadari kedatangan perempuan itu dan dia mendekat. “Hai,” sapanya tersenyum. Lelaki itu terlihat lebih ramah dibanding kemarin. “Hai, Axel. Kamu ngapain disini?” tanya Sila. Ia sungguh ingin langsung mencecar lelaki itu atas gagasan pemberian bunga yang berhasil membuat heboh rekannya. “Jemput kamu.” Hari ini Sila sudah cukup terkejut dengan datangnya sebuah bunga. Lalu kejutan belum berhenti. Axel menjemputnya? Lelaki itu masih waras kan? Terlalu dikejar seperti ini membuat Sila justru bergidik ngeri. Bahkan meski ini Maximilian Axel Halim sekalipun. Baru saja Sila membuka mulutnya, Axel langsung bicara. “Suka bunganya?” tanya Axel. “Well. Terima kasih atas bunganya. Kenapa kamu kasih ini?” Sebenarnya Sila ingin mengembalikan. Masalahnya ini bukan barang yang bisa begitu saja dikembalikan. Bunga segar yang akan layu. Ia berusaha menghargai pemberian lelaki itu meski sebenarnya sangat khawatir. “Supaya kamu menghubungi aku. Sayangnya tidak,” ujar Axel. Sila tadi benar-benar ingin langsung menghubungi Axel setelah menerima bunga ini. Tentu saja ia bisa mendapatkan kontak Axel dari Arman. Masalahnya adalah ia berpikir bahwa itu sama saja dengan secara tidak langsung membuka gerbang komunikasi dengan Axel. Jadi idenya, ya ia tidak punya ide. Ia baru berpikir harus apa dengan bunga itu saat di lift tadi. Selama bekerja tidak ada waktu untuk memikirkan bunga yang diletakkannya di sudut ruangan. Bahkan meski Sila merasa begitu penasaran. “Kamu tahu kantor aku dari mana?” tanya Sila. “LinkedIn. Jadi, boleh aku minta kontak kamu?” Sila pun terdiam. Bingung harus menjawab apa. Hanya kontak saja sepertinya tidak masalah. “Boleh,” sahut Sila putus asa. Ia sebenarnya merasa canggung karena sudah menolak lamaran lelaki itu. “Tapi aku … maksudnya tolong jangan salah paham. Mungkin kita bisa berteman,” ucap Sila hati-hati. Ia tidak bermaksud memberikan harapan. Meski sebenarnya lucu juga ia terlalu percaya diri begini. Masalahnya adalah Axel sudah melamarnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Axel pun mengangkat sudut bibirnya. “Oke. Ngomong-ngomong, mau makan bersama? Kita bisa coba berbincang. Tanpa juru bicara seperti waktu itu.” Sila jadi merasa serba salah. “Maaf tapi aku sudah makan,” sahut Sila berbohong. Yang kemudian dikhianati oleh perutnya sendiri karena tiba-tiba berbunyi akibat kelaparan. Axel pun tersenyum menatapnya. *** Sila tidak ingin makan di restoran mewah. Dirinya harus mengirit karena tanggal tua. Jadi pilihannya jatuh pada sate ayam pinggir jalan. Axel ternyata tidak keberatan. Akan tetapi sungguh Sila sebenarnya malu. Tempat makan mereka jauh berbeda dari pertama bertemu. Disini bising dan banyak asap. Belum lagi polusi kendaraan yang tidak terlihat karena sudah malam hari. Mereka tidak banyak berbincang. Axel lebih sering menekuri ponsel. Sekalinya berbincang, mereka membicarakan tentang sate ayam langganan Sila ini. Sila makan dengan cepat. Selain karena lapar dan tidak ingin berlama-lama bersama Axel. Juga karena memang pada dasarnya ia makan dengan cepat. Makan malam itu benar-benar berlangsung cepat. Saat hendak pulang pun, Axel bersikeras mengantar. Sila akui ia nyaman naik Alphard lelaki itu. Hanya saja ia takut diculik, Who knows? Apalagi sikap lelaki itu kini berbeda dengan pertemuan pertama mereka. Sekarang terkesan lebih hangat dan ramah. Selama perjalanan, menghindari untuk ditanya maka lebih baik Sila yang bertanya. Ia menanyakan mengenai pengalaman Axel kuliah di Harvard. Lelaki itu bercerita banyak seraya fokus menyetir. Sila minta berhenti di depan supermarket. Supaya Axel tidak benar-benar tahu alamatnya. Biar bagaimana pun, mereka asing satu sama lain. Sila pikir cukup sampai disini saja. Lelaki itu tidak boleh tahu terlalu banyak tentangnya. Satu-satunya alasan Sila membiarkan dirinya menghabiskan waktu hanya berdua dengan lelaki itu adalah karena tidak enak terhadap bunga yang diberikan. Juga Sila tidak enak jika terlalu ketus. Who knows Axel bisa memberi penawaran lain yang lebih menarik? Bekerja di perusahaan Halim misalnya. Meski tawaran menjadi istri lelaki itu sangat menggiurkan. Hanya saja Sila tidak yakin. If it’s to good to be true, then it’s to good to be true. Dan tawaran menjadi istri seorang Axel adalah hal paling tidak wajar dikala mereka baru pertama kali bertemu. “Kamu tinggal disini?” tanya Axel saat mobilnya berhenti di depan supermarket. Pertanyaan yang konyol sebenarnya karena Axel menatap serius ke supermarket. “Deket sini. Masuk gang. Aku turun disini aja, nggak papa.” Sila melepas sabuk pengamannya dan Axel pun ikut serta. Lelaki itu turun untuk mengeluarkan bunga dari bagasi. “Aku antar ya sampai depan tempat tinggal kamu,” ucap Axel. Sila langsung menggeleng. “Nggak usah. Sampai sini aja. Terima kasih banyak ya Axel karena sudah mengantar,” ucap Sila tulus. Sila mengambil bunga berukuran besar itu dari Axel. Dirinya terdiam sejenak sebelum kemudian memutuskan bertanya mengenai hal yang mengganggu pikirannya. “Kamu kenapa langsung melamar aku? Kita kan baru pertama bertemu waktu itu.” Axel hanya tersenyum. “Dan kamu kenapa menolak aku?” “Untuk pertanyaan kamu, jawabannya sudah jelas. Perempuan waras mana yang langsung menerima lamaran lelaki yang baru ditemui,” sahut Sila. Perempuan gila mana yang mau menerima lamaran semendadak itu? Apalagi tidak saling mengenal sama sekali. Well, kalau yang menawarkan Axel maka mungkin saja perempuan yang menolak tawaran tersebut yang dianggap gila. Axel memilih tidak membahasnya lagi. “Aku pulang. Kamu hati-hati,” ucap Axel seraya tersenyum. “Terima kasih, Axel. Kamu juga hati-hati pulangnya.” Lelaki itu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Sila masih bertahan di pijakannya dan menanti hingga mobil Axel menjauh. Memastikan ia tidak diikuti. Setelah Axel benar-benar pergi, Sila langsung melangkah. Keputusan bodoh untuk turun disini. Tempat tinggalnya cukup jauh jika berjalan. Akan tetapi mau bagaimana lagi. Setengah jam berikutnya, saat Sila sedang mandi. Pesan masuk ke ponselnya. From : Axel By the way yang bersama Arman itu bukan pertemuan pertama kita From : Axel Kamu nggak ingat aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD