Ann yang sejak beberapa menit lalu hanya berdiam diri di dalam pesta itu, kini ia mulai bosan dan memilih berkeliling tempat itu. Ia juga mengamati keadaan sekitar untuk memastikan jika tidak ada yang mencoba berbuat jahat pada Zack. Dengan membawa segelas minuman, Ann berkeliling dan akhirnya langkah itu terhenti karena … lagi-lagi aimar datang untuk mengganggunya. Seperti sedang mengalihkan perhatian Ann, Aimar terus menghalangi pandangan Ann agar tidak bisa melihat Zack.
“Kau memang tidak tahu diri.”
“Hmm, apa kau lupa bagaimana perasaanku padamu, Ann?”
“Tidak, sepertinya ada lalat berbicara kepadaku. Ahh … sepertinya aku sedang mabuk.”
Ann kembali melangkah untuk menjauhi Aimar. Ia mencari keberadaan Zack yang tidak nampak lagi di sana. Ann terlihat sedikit panic saat ini, ia bergegas untuk melihat alat pelacak yang sudah dipasang pada tuxedo milik Zack.
“Sial mereka ada di mana?” gerutu Ann.
Ann berjalan ke toilet mengikuti alat yang ada di tangannya, hingga akhirnya Ann menabrak seseorang saat di tikungan.
“Akh!”
“Apa yang kau lakukan?” tanya Zack.
“Kau! Aku mencarimu. Kemana saja?”
“Aku baru saja dari sana, ada apa? Kau sudah merindukan aku?”
“Gila! Aku pengawalmu!”
“Lalu kenapa pandanganmu berpaling?”
“Apa?”
“Pria itu, sejak bertemu di kantor, lalu di sini … ia tidak pernah melepaskan pandangannya padamu. Apa kalian memiliki hubungan khusus?” tanya Zack.
“Tidak, kami hanya pernah berselisih paham saja. Lagipula ia sudah menikah,” jawab Ann.
“Ah … jika ia belum menikah, apa kau berharap untuk bisa bersamanya?”
“Diam! Jika pesta ini selesai, sebaiknya kita pergi. Karena terlalu berbahaya jika ada Aimar di sini.”
“Kenapa? Apa ia juga akan membunuh aku?”
“Ya, apalagi jika misinya adalah untuk itu. Aimar bukanlah pria yang akan menyerah jika gagal. Ia justru akan mengejarmu dan semakin menyiksa targetnya.”
Mendengar penjelasan Ann, Zack akhirnya menarik tangannya untuk kembali bergabung bersama beberapa rekan bisnisnya. Ann hanya bisa menahan kesal saat Zack berbuat semaunya sendiri tanpa melihat resiko yang akan terjadi.
Benar saja … di mana ada Aimar, pasti aka nada korban yang berjatuhan. Seseorang berteriak di dalam kamar mandi wanita, ia melihat ada sosok mayat dengan tubuh dan kepala yang terpisah. Wanita itu langsung tidak sadarkan diri setelah berteriak dengan kencang.
Ann tidak begitu peduli dengan hal itu, ia justru memilih untuk berada di samping Zack dan mengawasi setiap pergerakan Aimar. Sayangnya … setelah semua orang berlarian untuk melihat apa yang terjadi, Aimar menghilang dari sana.
“Kau lihat! Ini akibat jika kau tidak mendengarkan perkataanku!” omel Ann pada Zack.
“Hei, tenanglah! Aku bahkan tidak bergerak sejak ada suara teriakan itu.”
“Aku tahu, sebaiknya kita pergi dari sini.”
Ann dan Zack berjalan keluar dari area pesta, dan mereka bergerak menuju mobil yang tadinya akan mereka gunakan lagi. Tetapi, sial untuk Zack … mobil yang harganya selangit itu meledak saat mereka baru saja tiba di area parkiran.
“Sial!” umpat Zack.
“Aku sudah mengatakannya padamu.”
Ann segera menarik Zack untuk pergi dari tempat itu. Mereka berjalan keluar dari area gedung, hingga sampai di tepi jalan, Ann memutuskan untuk memanggil taksi.
Awalnya Zack menolak, tetapi saat itu Ann menyuruh seseorang untuk melepaskan tembakan yang sengaja meleset ke arahnya dan Zack. Hingga membuat Zack masuk begitu saja ke dalam mobil dan menyuruh supirnya segera bergerak.
Ann menahan tawa saat melihat Zack melompat masuk ke dalam mobil. Ia kini bersikap tenang ,tetapi masih tetap waspada. Sampai akhirnya taksi itu akan masuk ke dalam area mansion.
“Berhenti!” ucap Ann.
Ann memberikan sejumlah uang, lalu mereka turun di sana.
“Jalan!” ucap Ann.
“Apa?”
“Jalan!” Ann mengulangi perkataannya.
“Kau gila! Jarak pintu masuk ini sampai ke gerbang masih sangat jauh, lalu dari gerbang menuju pintu masuk mansion juga masih jauh.”
“Aku tidak peduli, jika kau tidak segera bergerak, kemungkinan mereka sudah sampai di sekitar sini. Dan jangan salahkan aku jika tubuhmu berlubang karena tembakan,” ujar Ann dengan santai.
Akhirnya Zack memilih untuk berjalan mengikuti langkah Ann. Mereka menempuh jarak yang cukup membuat kaki Zack serasa ingin lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak, jarak dari pintu masuk hutan ke gerbang mansion masih lima kilometer, sedangkan jarak dari gerbang ke mansion adalah dua kilometer.
Ann terlihat kesulitan berjalan menggunakan sepatu hak tingginya, ia pun melepaskan sepatu itu dan membuangnya sembarangan.
“Kau tahu harga gaun dan sepatu yang baru saja kau buang?” tanya Zack.
“Aku tahu.”
“Kenapa kau membuangnya?”
“Aku tidak akan menggunakan gaun ataupun barang itu lagi setelah hari ini.”
“Apa?”
“Sepertinya kau harus mengosongkan kepalamu agar bisa menerima ucapanku.”
“Hei!” Zack menarik tangan Ann.
Tubuh ke duanya berhadapan, tatapan mereka saling bertemu. Ann menatap tajam pada Zack lalu melesatkan sebuah tendangan yang mengenai perut Zack.
“Argh! Dasar wanita gila!” ucap Zack.
Ann kembali melanjutkan langkahnya, hingga sebuah mobil datang untuk menjemput mereka.
“Tuan, silakan masuk!”
“Terima kasih.”
Zack pun masuk ke dalam mobil, lalu ia menutup pintu mobil sebelum Ann masuk.
“Hei!”
“Sebaiknya kau melanjutkan langkah kakimu. Aku pergi dulu!”
Mobil pun berjalan meninggalkan Ann di sana. Kesal, Ann kini terlihat begitu emosi melihat sikap Zack yang seperti itu.
“Pria bodoh! Gila! Tidak tahu diri! Argh!” umpat Ann.
Ann kembali melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan gerbang masuk mansion. Kakinya terasa sakit saat menginjak bebatuan. Sampai akhirnya Ann telah berada di depan pintu masuk mansion. ia langsung menuju kamarnya untuk segera beristirahat.
“Kenapa aku harus melindunginya, sebaiknya ia dibunuh saja!” gerutu Ann.
Kini Ann berada di dalam kamarnya, ia melepaskan satu persatu pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu merendam seluruh tubuhnya di dalam bathup dengan air hangat.
“Terasa jauh lebih baik.”
Ia tidak menyangka jika hari ini akan sesial ini. Pria yang harus ia lindungi memang tidak seharusnya dilindungi. Zack terlalu santai untuk seorang yang menjadi target pembunuhan oleh kelompok manusia yang iri pada kekayaan keluarganya.
Setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi, Ann keluar hanya dengan mengenakan handuk yang berbentuk kimono.
“Kau sangat lama di dalam sana! Aku pikir kau tidak bernyawa lagi,” ucap Zack yang sedang duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan di sini? Keluar!” usir Ann.
“Kau lupa? Kau berada di dalam mansion milikku!”
Ann terdiam, meski begitu … tidak seharusnya Zack berbuat sesuka hati. Pria itu beranjak dari tempatnya, lalu berjalan mendekati Ann.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Ann dengan melangkah mundur.
Hingga Ann akhirnya terpojok dan duduk di atas ranjang. Zack merendahkan posisinya, lalu pria itu menyentuh kaki Ann dan mengobatinya.
“Dasar wanita ceroboh!”