Chapter 7

1077 Words
Anneliese tidak mungkin melewati peringatan kematian Gavrilla saat dia diundang khusus oleh sepupu dari sahabatnya itu. Anne sempat mengirim pesan kepada Grace Cleon untuk mengatakan pada Ariekhsa bahwa dia tidak bisa datang ke rumahnya pagi ini karena ada satu-dua hal yang harus ia urus. Untungnya, Grace tidak mengatakan apapun dan percaya dengan ucapan Anne. Anne menarik napas dalam-dalam. Dia mematut penampilannya di depan cermin yang menampilkan pantulan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Anne memakai dress hitam dengan pita hitam yang menghiasi rambutnya. Seharusnya dia merasa sedih hari ini karena sahabat satu-satunya yang dia punya, sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini. Namun, kenapa Anne lebih merasa sangat bersalah pada Gavrilla? "Anne?" Anne menoleh ke ambang pintu kamarnya dan melihat Ibunya di sana. "Iya?" "Oh, ada apa? Kamu mau kemana?" Ibunya terlihat heran saat melihat Anneliese memakai busana serba hitam. Anne tersenyum masam. "Sepupu Gavrilla mengatakan kalau hari ini akan diadakan peringatan kematian Gavrilla." Zee terkejut mendengarnya. Dia memilih untuk masuk ke kamar anaknya dan berdiri tepat di belakang Anne. "Kamu yakin akan datang?" tanya Zee dengan khawatir. Anne tertawa sumbang. Dia mengendikkan bahunya. "Aku hanya akan merasa semakin bersalah jika aku tidak datang, Mama." "Tapi ..." Zee menggantungkan ucapannya. Dia tahu apa yang dirasakan Anne; rasa sesak, asing, dan bersalah bersatu padu dalam satu waktu, dan tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Zee mengusap pundak Anne dengan pelan. "Jika itu memberatkan kamu, kamu tidak perlu menghadirinya. Bukankah kamu sudah menghadiri pemakamannya waktu itu?" Anne membalikkan badannya hanya untuk mendapati tatapan iba dari ibunya sendiri. "Aku tidak apa, Mama. Aku tetap akan berangkat." Lagipula, bukankah ini juga salahnya sendiri? Andai jika dia tidak berpura-pura menjadi Gavrilla, mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah. "Anneliese." Anne mendongakkan pandangannya. "Iya, Mama?" "Apa kamu bahagia memerankan ini semua?" Sial. Ucapan ibunya itu sangat menohok. Dia tidak bisa berbohong di depan Tjahaya Zeera, dan ibunya itu selalu memiliki seribu satu cara untuk membuatnya terjebak dalam pertanyaannya. "Aku sudah membantu kedua sahabatku dan itu sudah cukup, Mama." Anne tahu jawabannya bukan itu. Dia hanya mengalihkan topik dan menghindari menjawab pertanyaan ibunya. Zee menghela napas lelah. Seharusnya dia tahu bahwa Anne sedang tidak merasa baik-baik saja jika ditanya demikian. Maka dari itu, Zee memberikan senyuman tulus pada putri sulungnya. "Pergilah, dan hati-hati, ya." Anne mengangguk dan pamit dari hadapan ibunya. * Anneliese sampai di rumah Gavrilla yang dulu ditinggali oleh gadis itu juga sepupu wanita yang seumuran dengannya. Gavrilla adalah gadis yatim-piatu dan selama ini dia hidup bersama Jocie, sepupunya. Anne sendiri tidak terlalu mengenal sepupu Gavrilla, jadi dia sedikit sungkan ketika melangkahkan kaki menuju pelataran rumah itu. "Anneliese, ya?" Anne menoleh dan mendapati sepupu dari Gavrilla itu menyapanya. Anne mengangguk dengan senyuman hangat di wajahnya. Dia menunduk sopan pada wanita itu. Saat di pemakaman Gavrilla dulu, Anne datang tanpa memberitahu sepupu sahabatnya itu dan mungkin wanita itu sudah lebih dulu melupakan wajah Anne. "Terima kasih sudah datang." Jocie memeluk Anne secara tiba-tiba dan membuat Anne terkejut. "Gavrilla pasti senang melihat kamu masih menyempatkan hadir di sini." Anne mengangguk. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya basa-basi sambil mengurai pelukan mereka. Dia sedikit tidak nyaman ketika dipeluk oleh orang asing begitu. Raut wajah Jocie langsung berubah sendu. "Tidak. Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Gavrilla adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Kami tidak memiliki banyak kerabat dan itu sangat menyiksa. Dulu, kami bergantung satu sama lain, dan ketika Gavrilla tiada, aku tidak tahu harus bagaimana." Anne iba. Dia merasa sangat kasihan pada wanita di hadapannya ini. Anneliese sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sebatang kara di dunia yang fana dan kejam ini. Namun, yang bisa dia lakukan hanya mengusap punggung Jocie. "Aku turut berduka cita. Tapi, aku yakin kamu bisa melalui ini." Anne tidak yakin ucapannya akan menenangkan Jocie, karena dia sendiri masih gamang dengan semua perubahan di hidupnya; Gavrilla yang tiada tiba-tiba dan dia yang berpura-pura menjadi Gavrilla di depan Ariekhsa. Dia juga ... tersiksa, karena pilihannya sendiri. Jocie mengusap air matanya yang terus jatuh ke pipinya. "Terima kasih. Kamu juga pasti sangat merindukan Gavrilla." Anne mengangguk tanpa ragu. Tentu saja dia merindukan wanita itu, secara, hanya Gavrilla yang menjadi sahabat dekatnya dari dulu. Anne bahkan hampir merasa nyawanya ikut melayang saat tahu Gavrilla tidak bisa diselamatkan. "Dia wanita yang baik. Aku yakin dia ditempatkan di tempat terbaik di sana." Jocie mengangguk. "Ah iya, ayo masuk ke rumah. Kita akan melakukan do'a bersama untuk sepupuku itu." Jocie tersenyum ramah dan menuntun Anne masuk. Anne mengikuti serangkaian acara itu. Ternyata, tidak banyak yang datang ke peringatan kematian Gavrilla, mungkin hal itu karena mereka juga tidak memiliki banyak kerabat. Anne menoleh ke kamar Gavrilla ketika di sela-sela acara itu. Rasa penasaran menariknya untuk masuk ke sana dan melihat-lihat. Anne tahu ini sangat lancang, tapi dia sangat ingin menuntaskan rasa penasarannya ini. Anne melirik Jocie yang dikelilingi dua orang yang sedang menenangkannya. Melihat ke sekitarnya dan menyadari tidak ada yang memerhatikan dia, Anne memutuskan untuk melangkah masuk ke kamar Gavrilla. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan. Anne membuka kamar itu dan menutup pintunya perlahan ketika sudah berada di dalam. Kamar Gavrilla tidak ada yang berubah sejak terakhir kali Anne ke sana. Warna putih mendominasi kamar itu, diisi dengan ranjang kecil dan dekorasi tanaman di sudut-sudut ruangan. Terdapat juga satu meja di sisi ranjang itu dan mengundang rasa penasaran Anne untuk membuka laci meja tersebut. Anne berhati-hati ketika membukanya dan ternyata isinya hanya buku-buku bacaan milik Gavrilla, beberapa alat tulis, dan sisanya laptop juga keperluan bekerja sahabatnya itu. Namun, dari sekian banyak buku bacaan di sana, ada satu buku yang menarik perhatiannya. Judulnya, Aku dan Satu Alasan untuk Hidup. Judul yang cukup asing, batin Anne. Dia melihat penulisnya dan terkejut saat tahu bahwa itu adalah buku Ariekhsa. "Ariekhsa menulis buku ini?" gumam Anneliese. Untuk diketahui saja, dia hampir tahu setiap buku terbitan Si Lostchild itu, dan dia sama sekali tidak sadar bahwa Ariekhsa menulis buku ini. Anne membuka halaman depan buku tersebut dan terdapat tulisan Gavrilla di sana. Di sana tertulis; properthy of Gavrilla and Ariekhsa Cleon. Lalu, di ujung kanan bawah halaman pertama itu, terdapat tulisan kecil. "This is my little gift for you, semoga kamu menyukainya, Gav," gumam Anne membaca catatan kecil tersebut. Ah, sudah pasti itu dari Ariekhsa. Memang, ya, sastrawan selalu memiliki cara paling indah dalam menuturkan semua kasih sayangnya. Semakin Anne membaca buku tersebut, semakin sakit hatinya karena satu yang dia sadari; Ariekhsa sangat-amat mencintai tunangannya dulu. "How lucky you are, Gavrilla." Anne merasakan air mata jatuh ke pipinya. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD