Anne membaca beberapa halaman dari buku itu. Buku tersebut terbagi menjadi banyak bab dan Anne berasumsi bahwa buku tersebut terdiri dari beberapa cerita pendek yang disisipkan juga beberapa puisi indah. Anne tidak salah ketika menganggap Ariekhsa adalah sastrawan yang hebat. Caranya mengolah kata sungguh menggugah perasaannya. Anne merasa bahwa setiap untaian kata yang ditorehkan Ariekhsa di sana itu diperuntukkan untuknya. Walaupun sebenarnya, asumsi itu salah besar. Ah, beruntungnya Gavrilla memiliki tunangan yang sangat romantis. Beberapa kali Anne mengatakan itu dalam hatinya.
Anne menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. Dia ingin membaca keseluruhan buku tersebut dengan khidmat dan di kamar Gavrilla bukanlah tempat yang cocok.
Anne keluar dari kamar Gavrilla dengan hati-hati. Beberapa kali dia melihat ke sekitarnya hanya untuk memastikan bahwa gerakannya itu tidak diketahui oleh siapapun.
"Anneliese." Anne terlonjak ketika dia sudah berada di depan kamar Gavrilla dan Jocie memanggilnya. Untungnya, wanita itu tidak menunjukkan ekspresi curiga sama sekali. "Ini, bingkisan untukmu. Terima kasih sudah datang." Jocie melemparkan senyuman manisnya sambil memberikan Anne bingkisan tersebut.
Anne sungkan menerimanya, tapi dia tetap mengambilnya sebagai rasa menghargai. "Terima kasih, Jocie."
Jocie mengangguk. Anne menatap wajahnya dan Jocie terlihat seperti tiba-tiba teringat sesuatu. "Ada apa?" tanya Anne.
"Bagaimana kabar Ariekhsa? Aku dengar dia sudah sadar, bukan?"
Sial. Sial. Sial.
Entah berapa kali Anne mengumpat karena itu. Astaga, kenapa harus sekarang Jocie menanyakan soal Ariekhsa?
Anne gelagapan. Matanya menghindari tatapan dari Jocie dan bergerak-gerak liar. "Hm ... iya. Dia sudah sadar," ujar Anne sambil tertawa canggung. Oke, dia malah terlihat semakin mencurigakan.
"Apa dia baik-baik saja?" Jocie terlihat sangat khawatir. "Aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi aku tidak tahu bagaimana keadaannya setelah itu. Lagipula, aku terlalu sibuk mengurus semua hal tentang sepupuku dan tidak memikirkan hal lain," ujar Jocie menyesal. Dia menarik tangan Anne perlahan dan menggenggamnya erat. Anne terlonjak pelan ketika merasakan genggaman itu.
"Apa kamu bisa menyampaikan salamku padanya? Juga, maaf karena tidak menjenguknya."
Anne terdiam cukup lama. Sial. Lagi-lagi dia mengumpat. Dia lupa bahwa masih ada kemungkinan Jocie ingin bertemu dengan Ariekhsa. Secara, Jocie juga pasti khawatir dengan pria itu.
Diam-diam Anne menggigit bibir bawahnya. "Hm ... iya, aku akan menyampaikannya. Kamu tidak perlu khawatir, dia sudah dijaga dengan baik dengan orang tuanya. Aku yakin sebentar lagi dia pulih perlahan."
Jocie mengjembuskan napasnya. Anne bisa melihat kelegaan di tatapan matanya. "Lain kali aku akan menyempatkan diri untuk menjenguknya."
Anne langsung menggeleng cepat. Gila! Semuanya akan terbongkar jika Jocie mengatakan itu. Anne mungkin akan ditelan hidup-hidup oleh Ariekhsa saat itu tiba. Ayolah, jangan secepat ini kebenarannya terbongkar! "Ah, tidak perlu. Maksudku ... Ariekhsa masih sangat lemah. Belum ada yang diizinkan untuk menjenguknya, Jocie." Anne tahu ucapannya mencurigakan dan mungkin akan membuat Jocie sedikit sakit hati.
"Oh, begitu, ya." Namun sepetinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya karena Jocie terlihat dengan mudahnya percaya padanya. "Baiklah. Aku hanya berharap semoga dia baik-baik saja. Terima kasih, ya, Anne." Kebaikan dan sikap ramah Jocie secara tidak langsung membuat Anne semakin merasa bersalah di tempatnya. Bagaimana mungkin dia tega membohongi wanita ini juga mendiang sahabatnya? Sungguh, Anne merasa dia adalah wanita terhina di muka bumi ini.
Tidak ingin semakin merasa tidak enak hati, Anne memilih untuk pergi dari sana secepatnya.
"Gav, maafkan aku," gumamnya ketika meninggalkan pelataran rumah itu.
*
Anne tetap menepati janjinya pada Grace untuk mampir ke rumahnya dan memeriksa keadaan Ariekhsa. Dia sampai di rumah itu yang mana keadaannya sangat sepi. Dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran Grace dan suaminya.
"Permisi," ujarnya dengan sopan. Dia menoleh ke sekitarnya dan ternyata memang benar, rumah itu dalam kondisi kosong.
"Gav, aku di kamar." Seruan itu berasal dari kamar Ariekhsa. Anne menghembuskan napasnya lega, setidaknya Ariekhsa berada di kamarnya dan aman.
Sambil menetralkan degup jantungnya yang menggila hanya karena Ariekhsa memanggilnya, Anne melangkahkan kakinya menuju kamar pria itu. "Ariekhsa?" Dia melihat pria itu berada di depan cermin.
"Oh sial," umpat Anne dan hampir menutup kembali pintu tersebut ketika melihat Ariekhsa bertelanjang d**a. Dari pinggang ke bawah, pria itu hanya memakai handuk yang dililitkan begitu saja. Astaga, kenapa Anne sial sekali?!
"Maaf," ujar pria itu tiba-tiba dan membuat Anne yang akan menutup pintu itu mengurungkan niatnya. "Aku membutuhkan bantuan kamu."
"I-iya?" Anne bertanya gugup. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar itu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak, dia tidak boleh berpikiran kotor. Ini baru permulaan dan hubungan mereka masih sangat canggung.
Hei! Memangnya apa yang kamu harapkan jika hubungan ini sudah tidak secanggung saat ini, Anneliese Wijaya?! Gadis batinnya mengingatkan. Anne perlahan menarik napas dalam-dalam.
"Bisa bantu aku mencukur?"
Anne mendongak dan mengeryitkan dahinya tanda bahwa dia sangat bingung. Permintaan macam apa itu?! Apa Ariekhsa tidak menyadari atmosfer canggung yang sangat mencekik ini di sekitar mereka?!
Sungguh, pria ini adalah manusia paling tidak peka yang pernah Anne kenali.
"Aku kesulitan menggunakannya, Gavrilla. Tanganku belum terbiasa."
Ah, iya. Benar sekali. Pria ini baru bangun dari koma yang panjang. Bukankah itu adalah alasan yang bisa diterima untuk membenarkan tindakannya nanti?
Anne mengangguk dan melempar senyuman manis pada Ariekhsa. Dengan langkah canggung dan hati-hati, Anne mendekati Ariekhsa. Dia mengambil alat cukur itu dari tangan pria itu.
Anne hampir menjerit ketika pria itu mengambil pinggangnya dan membuat Anne berada di dalam kukungannya. Tubuh Anne diapit antara tubuh kekar Ariekhsa dan juga meja di belakangnya. "Ariekhsa?" tanya Anne meyakinkan bahwa pria ini sadar dengan apa yang dia lakukan.
Ariekhsa mengangkat sebelah alisnya. "Apa? Oh ..." Yap, pria itu sadar. Dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Bukankah akan lebih mudah jika kamu berada di depanku?"
Tolong, siapapun, tenggelamkan Anne sekarang juga karena dia malu setengah mati! Seumur hidupnya, Anne tidak pernah berinteraksi intim dengan lawan jenis. Memiliki orang tua yang strict adalah alasan terkuat. Jadi, saat ini, Anne sangat panik!
Dengan perlahan dan penuh dengan siaga, Anne membantu Ariekhsa mencukur kumis dan juga janggutnya. Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantung Anne.
"Gav," panggil Ariekhsa yang terdengar serak dan seksi di telinga Anne. Astaga, Anne, terkutuklah kamu!
"Iya?"
"Apa saja yang sudah kita lakukan selama ini?"
Anne menghentikan gerakannya. Untungnya kesadarannya sudah mengambil alih sebelum Anne kelepasan dan melukai Ariekhsa dengan alat cukur ini. "Apa maksud kamu?" Anne menatap mata tajam Ariekhsa lamat-lamat. Oke, dia tidak sepolos itu dan dia mengerti apa maksud Ariekhsa. Hanya saja, dia takut pemikirannya berbeda dengan apa yang ingin diucapkan pria itu.
"Sebagai tunangan kamu, apa aku pernah ... bertindak lebih jauh?"
Kesopanan Ariekhsa saat menanyakannya patut diacungi jempol. Namun bagaimanapun, Anne malu bukan main.
"Tidak. Kita ... tidak melampaui batas."
Ariekhsa hanya menganggukkan kepalanya dan kembali mendongak, memberikan akses kepada Anne untuk membantunya lagi.
Sial, Ariekhsa!
***