Chapter 9

1094 Words
Walaupun hanya menghabiskan beberapa menit membantu Ariekhsa untuk mencukur kumis dan janggutnya, Anne merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam kecanggungan yang sangat menyiksa dirinya sendiri. Tangannya selalu gemetar setiap kali terangkat untuk membantu Ariekhsa. Dan mungkin pria itu tidak sadar bahwa salah satu tangannya bertengger manis di pinggangnya sedari tadi. "Gavrilla." Sial. Kenapa pria itu terdengar seperti sedang menggodanya tiap kali memanggil namanya? Oh salah, nama samarannya. "I-iya?" Dan selalu saja Anne terbata-bata ketika menjawabnya. "Aku suka harum kamu." Anne terdiam. Apa? Tunggu, apa sungguh pria di hadapannya ini Ariekhsa? Anne sedikit curiga bahwa ini bukanlah Ariekhsa yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin pria dingin yang memandangnya seperti orang asing selama mereka bersama, tiba-tiba memujinya dengan mengatakan bahwa dia suka harum tubuhnya? Mama! Anne menjerit dalam hati. "Terima kasih," ujar Anne setelah sekian detik hanya terdiam dan menatap pria itu. Ariekhsa tersenyum kecil. "Kamu gugup." Pernyataan itu semakin membuat Anne ingin melenyapkan dirinya saja. Astaga, sebenarnya apa maksud pria ini? Apa dia ingin membuat Anne cepat-cepat mati muda karena terus terkena serangan jantung?! "Ti-tidak. Aku tidak gugup." Ariekhsa diam saja. Tapi, Anne melihat senyuman miring diberikan oleh pria itu. Sialan! "Sudah," ujar Anne sambil mengusap dagu dan area sekitarnya dengan handuk secara perlahan. "Terima kasih, Gavrilla." Perkataannya terdengar sangat tulus dan mampu membuat darah Anne berdesir tidak karuan. Anne bergeser ke samping, mencoba menjauh dari Ariekhsa setelah pria itu tidak lagi mengukungnya. Namun, Anne membulatkan matanya ketika pria itu malah mendekatinya dan bahkan seperti akan memeluknya. Wajah pria itu sejajar dengan lehernya, mengakibatkan terpaan napas hangatnya terasa oleh Anne. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Anne dengan nada siaga seolah Ariekhsa akan melecehkannya. "Mengambil bajuku." Anne mengeryitkan dahinya tidak mengerti. Lalu, sepersekian detik kemudian dia menyadari bahwa dia berdiri tepat di depan lemari baju Ariekhsa. Dia merutuki kebodohannya. "Astaga, maafkan aku." Anne menunduk dalam-dalam. Beberapa kali dia berharap Tuhan menghilangkan nyawanya sekarang juga karena dia sangat malu. Lalu, bola matanya yang kurang ajar ini mencuri-curi pandang pada Ariekhsa yang membelakanginya. Punggungnya yang terbentuk sempurna, yang menggoda Anne untuk bersandar di sana. Lengan yang kokoh dan otot yang sempurna, tidak berlebihan dan enak dipandang. Anne bisa merasakan pipinya memanas. Sial, Anne, tidak bisakah kamu tenang?! "Gavrilla." Anne mengerjapkan matanya beberapa kali. Untung saja ketika pria itu membalikkan badannya, Anne sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Hm?" "Terima kasih sudah datang kemari." Anne tersenyum. Padahal mereka bertunangan, tapi Ariekhsa terlihat segan padanya. Oh sial, lagi-lagi Anne selalu menganggap bahwa dirinya yang asli-lah yang mengikatkan diri pada Ariekhsa. "Tidak apa. Aku memang ingin selalu berada di sisi kamu." Ada keheningan setelah Anne mengatakan hal itu, dan Anne merutuki dirinya sendiri yang tidak pandai memilah kata. "Maksudku, sebagai tunangan yang baik." Anne tersenyum canggung. Ariekhsa tidak mengatakan apapun dan memilih untuk menatap Anne. Hal itu tak pelak membuat Anne mati kutu di tempatnya, entah untuk ke berapa kalinya. "Di mana Tante Grace?" Anne harus mencari topik lain agar mereka tidak terjebak terus-menerus di situasi yang sangat tidak enak ini. Ariekhsa menghela napas dan mengendikkan kedua bahunya tidak peduli. "Tadi dia hanya mengatakan bahwa dia akan pergi sebentar." Ariekhsa terlihat tidak bersemangat saat Anne menanyakan orang tuanya. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Anne dengan penuh perhatian. Jantungnya kembali berdegup kencang saat Ariekhsa memilih untuk duduk di sampingnya yang berada di sisi ranjang pria itu. "Apa mereka sungguh orang tuaku?" Mata Anne membulat saat mendengar pertanyaan konyol itu. Dia tertawa kecil. "Tentu saja, Ariekhsa. Kenapa kamu bertanya begitu?" Senyuman Anne menghilang ketika Ariekhsa tidak tersenyum barang se-centi pun. "Ariekhsa?" tanya Anne lagi. Yap, dia salah kata, lagi. "Aku merasa sangat asing, Gavrilla. Tidak ada ikatan batin yang aku rasakan pada mereka. Mereka mungkin terlihat ramah padaku, tapi aku merasa ... hampa. Grace seperti bukan Ibuku." Ariekhsa menatap Anne tepat di matanya, membuat Anne seolah melihat kekhawatiran di matanya. "Ariekhsa, semuanya butuh proses. Kamu belum mengingat apa pun dan sudah terlalu banyak informasi yang masuk padamu, mungkin kamu bingung saja. Tapi, sungguh, tidak mungkin aku membohongi kamu soal orang tua kamu sendiri." Anne tidak lupa melemparkan senyumannya untuk menenangkan pria itu. "Kamu akan baik-baik saja." Ariekhsa melihat kedua tangan tunangannya dan mengambilnya untuk ia genggam dengan erat. "Aku merasa kamu lebih dekat denganku dibandingkan dengan orang tuaku sendiri." Sial, Anne. Kamu sedang menjadi Gavrilla! Yang berarti kata-kata itu ditujukan untuk Gavrilla! Bukan untuk kamu! Anne harus menahan dirinya sendiri. Tidak mungkin dia terbawa perasaan di sini walaupun memang sudah jelas bahwa dia sangat mencintai pria di hadapannya ini. "Apa kamu akan selalu menemaniku, Gavrilla?" Anne mengangguk yakin. "Aku merasa semua orang itu mengatakan informasi palsu yang sulit aku percaya." Ariekhsa menyentuh pipi Anne yang memerah dengan gerakan seringan kapas. Lalu, menariknya kembali. Seolah tadi adalah kesalahan dan dia sudah melewati batas. "Aku hanya bisa memercayai kamu." Ariekhsa sendiri tidak mengerti dari mana kepercayaan itu dengan mudah ia berikan pada Gavrilla. Tapi, mengingat bagaimana wanita itu mengurusnya dengan telaten sejak dia di rumah sakit, mampu meruntuhkan benteng pertahanan Ariekhsa dan membuatnya percaya sepenuh hati. "Jangan membohongi aku, ya, Gav?" Sialnya, ucapan itu menjadi cambukan untuk Anne. Bahkan ... dia sudah berbohong sejak awal. * "Bagaimana? Kamu suka lagunya?" Kini, setelah momen-momen canggung di antara mereka, Anne memutuskan untuk kembali membantu Ariekhsa dalam mengingat masa lalunya, dan hal pertama yang dilakukan Anne adalah memberikan lagu kesukaan Ariekhsa. Still With You dari Jeon Jungkook. Anne sendiri mengetahui itu dari Gavrilla, yang sempat mengatakan padanya bahwa Ariekhsa sering mendengarkan lagu itu. "Iya. Suaranya menenangkan." Ariekhsa melepas sebelah earphone di telinganya, sementara sebelah lagi dipasangkan di telinga Anne. "Tapi, aku tidak mendapatkan bayangan masa lalu apapun. Apa itu normal?" Ariekhsa mendapatkan informasi dari dokter yang menanganinya bahwa dia akan mengingat semuanya secara bertahap selama Ariekhsa mau menjalankan beberapa terapi dan juga tenang. Yap, tenang. Sayangnya, pria itu belum mendapatkan secuil gambaran dari kehidupannya sebelum ingatannya hilang total. "Tidak langsung, Ariekhsa. Ingat, proses." Anne tersenyum. "Oh iya, lagu ini kamu bawakan di kafe dekat kampus kita dulu. Itu adalah kali pertama aku melihat kamu." Anne tahu ini salah. Alih-alih memberitahu bagaimana Gavrilla dan Ariekhsa bertemu, dia malah memberitahu bagaimana dirinya dan pria itu bertemu. "Sungguh?" Anne melihat ketertarikan di tatapan Ariekhsa. "Iya." Ariekhsa tertawa kecil. "Konyol ketika aku bahkan tidak ingat bagaimana kita bertemu, Gav. Padahal, aku yakin kamu sangat berarti untukku, benar?" Lagi-lagi Ariekhsa mengusap pipi Anne. Membuat Anne mati kutu. "i-iya." Anne tidak yakin dengan ucapannya. Dia juga heran bagaimana bisa Ariekhsa menjadi sangat romantis sekarang. Ariekhsa, pria itu, hanya menatapnya dalam dan kembali memasang earphone di telinganya. Tatapan mata mereka terkunci, dengan degup jantung yang sama menggilanya. Dan lagi, lagu Still With You-lah yang mengiringi momen itu. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD