Kepulangan Ariekhsa ke rumah orang tuanya membuat kedua orang tua pria itu senang bukan main. Walaupun sebenarnya kunjungan mereka ke rumah sakit ketika pria itu masih berada di sana, bisa dihitung jari. Anne sendiri tidak tahu bagaimana hubungan Ariekhsa dengan orang tuanya sebenarnya, karena Gavrilla tidak pernah menceritakan apapun padanya.
“Gavrilla,” panggil ibu dari Ariekhsa ketika mereka berdua sudah duduk di meja makan keluarga mereka.
“Iya?” tanya Anneliese dengan lembut.
“Terima kasih sudah menjaga Ariekhsa selama ini.” Wanita itu tersenyum. Lalu, pandangannya beralih pada anaknya sendiri. “Ariekhsa, Ibu tahu bukan hal yang mudah untukmu memahami ini semua, tapi semuanya butuh proses. Selama itu, Ibu hanya ingin kamu mengerti bahwa kami akan selalu ada untuk kamu.” Grace mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Ariekhsa yang tidak dibalas sama sekali oleh pria itu. Dia hanya menatap genggaman tangannya tanpa bereaksi apapun.
Ariekhsa tahu bahwa kedua orang di hadapannya adalah orang tuanya sendiri. Tapi sayangnya, Ariekhsa tidak merasakan ikatan batin apapun pada mereka.
Anneliese menoleh pada Ariekhsa dan mengeryitkan dahinya ketika melihat Ariekhsa diam saja. Maksudnya, pria ini memang jarang sekali berbicara, tapi dia merasa ada yang salah dengan Ariekhsa sekarang. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Annelise dengan penuh perhatian. Tepukan pelan di pundak Ariekhsa, membuat pria itu terlonjak.
Dia mendapati Gavrilla menatapnya. “Tidak. Aku hanya kelelahan.”
“Oh, astaga, Ibu lupa bahwa kamu harus istirahat yang banyak. Gavrilla, bisa kamu antarkan Ariekhsa ke kamarnya?”
Ariekhsa mengeryitkan dahinya. Sedikit tidak suka ketika orang tuanya menyuruh Gavrilla untuk terus membantunya. Walaupun Ariekhsa tidak mengenal ketiga orang ini, namun bukankah harusnya yang bertanaggung jawab adalah orang tua Ariekhsa sendiri karena dia adalah anaknya? Kenapa mereka lebih memilih Gavrilla?
“Iya, Tante.” Anneliese mengangguk dan tersenyum sopan. Dia menggenggam tangan Ariekhsa dan mengatakan, “Ayo, aku antar kamu untuk istirahat di kamar.”
Ariekhsa menghela napas kesal secara terang-terangan di depan ketiga orang itu. Bermaksud untuk menunjukkan bahwa dia kesal kepada orang tuanya. Namun sayangnya, Anneliese menganggap bahwa Ariekhsa sedang kesal padanya.
“Ah, senang sekali rasanya,” ujar Grace ketika dua anak itu sudah masuk ke kamar putranya.
“Ada apa?” Dion menoleh pada istrinya dan mengerytikan dahinya heran mendengar ucapan Grace yang tiba-tiba.
“Hm?” Grace mengangkat kedua alisnya dan menatap suaminya. “Oh, apa kamu tidak merasa senang ketika anak kita akhirnya mendapatkan tunangan yang layak untuknya—lihatlah Anneliese; cantik, pintar, dan penurut. Dia seolah bisa kita kendalikan, Dion.”
Dion menghela napas. “Iya, tapi jangan lupa bahwa dia sedang berpura-pura menjadi Gavrilla, Grace.”
Grace memutar bola matanya malas. Suaminya tidak satu visi-misi dengannya, jadi percuma saja dia mengatakan apapun.
***
“Ariekhsa, apa kamu marah padaku?” Anneliese menutup pintu kamar Ariekhsa ketika mereka berdua sudah masuk ke kamar pria itu.
Ariekhsa melihat kamarnya. Lagi-lagi, perasaan asing dan aneh merasuki relung hatinya. Dan untuk diketahui, itu sangat menyiksa.
“Ariekhsa,” panggil Anneliese sekali lagi ketika merasa Ariekhsa sama sekali tidak mendengarnya.
Pria itu membalikkan badannya hanya untuk menatap tunangannya itu. “Apa ini yang kamu lakukan selama menjadi tunanganku?”
Annelise mengeryitkan dahinya samar. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ariekhsa. Dia merasa bahwa dia tidak melakukan hal yang salah, tapi kenapa Ariekhsa terlihat sangat tidak suka padanya? “Melakukan apa?”
“Menuruti apapun yang diperintahkan oleh kedua orang tuaku. Kamu terlihat seperti pengasuhku dari pada tunanganku, Gavrilla.” Ariekhsa berujar dengan nada sedikit kesal. Dia tahu dia baru terbangun dari koma, tapi dia sama sekali tidak butuh diasuh semacam ini.
“Aku ... hanya ingin membantu, Ariekhsa. Tidak lebih.”
“Tapi, kamu memperlakukan aku terlalu berlebihan, Gav.” Ariekhsa menghela napas. Dia lupa bahwa mereka masih menjadi orang asing dan bukanlah hal yang bijak jika Ariekhsa marah-marah tidak jelas padanya.
“Maaf jika tindakanku membuat kamu tidak nyaman, Ariekhsa.” Anneliese menundukkan kepalanya. Astaga, ini semua baru permulaan dan dia sudah membuat Ariekhsa tidak nyaman. Anneliese merutuki dirinya sendiri.
Ariekhsa menghembuskan napasnya perlahan. Bagaimana pun juga, wanita ini sudah membantunya dan berbaik hati padanya. Bukan suatu tindakan yang bijak jika Ariekhsa marah-marah tidak jelas padanya. “Jadi, ini kamarku?” tanya Ariekhsa dengan pertanyaan yang sepertinya tidak perlu dijawab oleh Anneliese karena itu sudah jelas.
“Iya. Kamu sebenarnya memiliki apartemen di pusat kota, tapi sepertinya orang tua kamu ingin kamu lebih dekat dengan mereka terlebih dahulu.” Anneliese menjelaskan. Dia memerhatikan gerak-gerik Ariekhsa yang sedang melihat setiap detail kamarnya.
“Aku ingin kamu melakukan sesuatu.” Ariekhsa berucap sambil membalikkan badannya untuk menatap Anne.
“Apa?” Jantung Anne berdegup tidak karuan untuk alasan yang tidak jelas. Tiap kali tatapan mata mereka bertemu, Anne selalu gugup. Dia juga sedikit tidak percaya bahwa kali ini dia bisa berada dekat dengan pria yang ia cintai walaupun memakai cara yang licik.
“Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang aku—yang dulu kamu kenali. Mungkin cara itu akan membuat aku kembali mengenal diriku sendiri,” ujar Ariekhsa. Dia mengambil buku yang ada di meja itu juga pena, dan duduk di samping ranjangnya.
Anne mengeryitkan dahinya, tidak mengerti kenapa Ariekhsa tiba-tiba menyuruhnya begitu. Tapi, dia juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih lanjut.
“Warna kesukaanku?”
“Abu-abu,” jawab Anne sambil menatap Ariekhsa. Tiap detik yang ia lewatkan bersama pria itu dipakainya untuk terus memujanya. Iya, Anne tergila-gila pada pria itu.
“Makanan favorit aku?”
“Black forest.”
Walaupun tidak semua hal yang diketahui Anne soal Ariekhsa, tapi dia sering memerhatikan bagaimana Gavrilla memperlakukan Ariekhsa dulu.
“Apa pekerjaanku?” Oke, Ariekhsa tahu ini sangat konyol, tapi dia butuh semua informasi ini. Dia sama sekali tidak mendapatkan bayang-bayang soal masa lalunya dan hal itu semakin menyulitkannya.
“Sastrawan.” Anne tersenyum. Dia bangkit dari duduknya dan mengambil satu novel yang dipajang di lemari buku kamar Ariekhsa. Anne memang tahu pekerjaan Ariekhsa dulu, dan saat sampai di kamar ini, tidak sengaja matanya langsung menangkap beberapa buku karya Ariekhsa.
“Ini salah satu buku karangan kamu.” Anne memberikannya pada pria itu.
“Apa?” Ariekhsa kelihatan bingung. Semenjak bangun dari tidur panjangnya, Ariekhsa menerka-nerka apa yang ia lakukan untuk menyambung hidup selama ini, dan menjadi penulis atau sastrawan adalah hal terakhir yang sampai di pikirannya.
“Iya. Kamu menghasilkan banyak buku. Penggemar kamu juga sepertinya banyak. Sayangnya, kamu tidak pernah mau memberitahu siapa nama kamu yang asli. Kamu menggunakan nama pena; lostchild.” Anne tertawa kecil. Sedikit aneh pada Ariekhsa yang dulu memilih nama pena yang konyol.
Ariekhsa tertawa kecil, dan itu membuat Anne terdiam. Ini kali pertama dia melihat pria itu tertawa, dan ternyata sangat menawan. “Apa nanti aku bisa mengganti nama pena aku?”
Anne tersenyum. “Bisa saja. Asal kamu tahu, dulu kamu awalnya akan menamai Jeon Jungkook sebagai nama pena kamu.”
Ariekhsa mengeryitkan dahinya. “Siapa dia?”
Anne menggeleng. Tidak mau menjelaskan lebih lanjut soal siapa Jeon Jungkook itu.
“Gavrilla.”
“Hm?”
“Terima kasih.” Pria itu tersenyum tipis. Hal itu membuat Anne terdiam beberapa detik, terlalu terpesona dengan senyuman Ariekhsa.
***