Chapter 4

1179 Words
Anneliese selalu mengingat momen ketika dia bertemu Ariekhsa pertama kalinya. Saat itu, dia masih menjadi mahasiswa baru di kampusnya. Seperti biasa, senioritas yang sangat tinggi ketika pengenalan baru lingkungan kampus, membuat sebagian mahasiswa baru merasa tersiksa. Termasuk Anne. Karena dia terlalu badmood untuk langsung pulang ke rumah, karena tahu Ibunya pasti mencecarinya dengan banyak pertanyaan mengenai harinya di kampus, Anne memilih untuk pergi ke Cruel Cafe yang tidak jauh dari lokasi kampusnya. Dengan atribut aneh yang sudah dia lepas dan simpan di tasnya, Anne yang juga sudah mengganti bajunya, masuk ke kafe tersebut di mana cukup ramai malam itu. Anne memilih duduk di tengah-tengah. Posisinya saat itu berada tepat di hadapan panggung kecil tempat band di kafe itu yang akan bersiap-siap untuk tampil. “Apa yang akan Anda pesan?” Anne tersenyum. “Satu Banana Milk.” Dia mungkin terlihat seperti anak-anak karena memesan minuman itu, tapi Anne tidak peduli, banana milk selalu dapat membuat suasana hatinya membaik. Semoga saja, sepulang dari kafe ini, dia tidak lagi mengingat betapa lelahnya hari yang sudah dia jalani. Setelah minumannya datang, Anne sempat mengecek ponselnya dan melihat banyak pesan masuk dari Ibunya yang menanyakan keberadaannya. Anne membalasnya sebentar sebelum menutup ponselnya lagi. Tidak sengaja Anne melihat seorang lelaki dengan rambutnya yang diikat menjadi satu. Laki-laki itu duduk di kursi yang disediakan di panggung tersebut dan mulai mengatur-atur posisi. Anne berasumsi bahwa dia akan menyanyi malam ini. Anne seakan terbius oleh lelaki tersebut. Dia memerhatikan setiap gerakannya. Pemuda itu sepertinya seumuran dengannya. Dia mengenakan kaos panjang berwarna khaki, dengan lengan yang ia tarik sampai sikunya. Dengan gelang berbentuk rantai yang melingkari pergelangan kanannya, laki-laki itu tampak memiliki kesan brandalan ditambah dengan tattoo yang memenuhi lengannya bahkan hingga jari-jarinya. Anne terus menatapnya. Dia bahkan mengindahkan beberapa notif di ponselnya karena terbius oleh pesona laki-laki itu. Lagu Still With You yang dipopulerkan oleh Jeon Jungkook dari BTS-lah yang ia bawa malam ini. Anne tetap memerhatikannya, dia terpukau dengan suara lembut dan menenangkan milik laki-laki tersebut. Walaupun tidak mengerti arti dari lagu berbahasa korea itu, tapi Anne tetap mendengarkannya dengan seksama karena suara penyanyinya yang sangat halus. Anne terlalu terpesona hingga dia tidak sadar tatapan mata mereka bertemu. Bahkan, laki-laki itu juga terlihat menikmati suaranya sendiri, hampir dari awal dia menutup matanya sambil tersenyum kecil. Anne telat menyadari bahwa laki-laki itu menatapnya tepat saat dia membuka matanya, dengan bodohnya Anne hanya membalasnya dengan tatapan polos. Tatapan laki-laki itu terlihat dingin. Senyumnya menghilang ketika tatapan mereka beradu. Sejak saat itu-lah, Anne tidak bisa jatuh cinta lagi ke pada laki-laki lain selain lelaki yang ia temui secara random di kafe itu. Ariekhsa Cleon. *** Ariekhsa mungkin tidak menyadari satu hal; bahwa dia sudah mengubah hati seseorang dalam di satu malam itu, dan membuatnya lebih ceria. Anneliese, gadis itu, dengan polosnya memantapkan hati untuk tetap jatuh cinta pada laki-laki yang bahkan dulu tidak ia tahu namanya. “Dia anak sastra.” Untungnya, Anne memiliki sahabat yang memiliki kemampuan FBI dan bisa mencari informasi dari laki-laki yang ditemui Anne tadi malam. “Hm?” “Laki-laki yang kamu tanyakan itu. Ternyata, salah satu temanku juga datang kemarin ke kafe itu dan membuat video saat laki-laki itu sedang bernyanyi.” Gavrilla, memberikan ponselnya pada Anne yang sedang menunjukkan seorang laki-laki sedang bernyanyi dengan merdunya. “Dia ‘kan yang kamu maksud?” tanya Gavrilla untuk memastikan. Anne mengangguk. “Dia tampan.” “Iya.” Anne dengan polos membenarkan. Anne yakin semua gadis juga akan menyetujui bahwa laki-laki tersebut sangat tampan. “Namanya Ariekhsa Cleon. Dia mengambil jurusan sastra Indonesia. Masih mahasiswa baru, seperti kita.” Anne hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia fokus pada video Ariekhsa dan memutarnya berulang-ulang kali. “Tapi, kenapa kamu sangat penasaran dengannya, Anne?” Anne langsung kikuk. Dia memang tidak memberitahu pada Gavrilla bahwa dia menyukai Ariekhsa. Anne bahkan belum yakin dengan perasaannya sendiri—maksudnya, bukankah ia semua terlalu cepat? Anne menggeleng. “Aku hanya penasaran. Suaranya indah sekali.” “Hm. Mungkin saja dia memang penyanyi.” *** Anne membawa album foto milik Ariekhsa saat dia kembali ke kamar rawat pria itu. “Hai.” Seperti biasa, senyuman dan sapaannya itu hanya dibalas tatapan bingung dari Ariekhsa, tanpa sapaan apapun lagi. “Aku membawakan sesuatu yang spesial untukmu,” ujar Anne sambil duduk di sisi ranjang Ariekhsa. Seperti biasa, Ariekhsa hanya diam saja dan menunggu Anne untuk melanjutkan ucapannya. “Ini album foto-foto kamu. Aku sudah mengumpulkan dan menyusunnya.” Anne tersenyum riang dan membuka album foto itu. Tentu saja album itu hanya berisi foto Ariekhsa saja. Tidak ada foto Gavrilla sama sekali. Anne bahkan sudah menyimpan dengan apik semua foto Gavrilla yang Ariekhsa punya. Anne tahu tindakannya ini sedikit tidak baik, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Ariekhsa mengambil album itu dari tangan Sydney dan melihat-lihatnya. Dia sama sekali tidak berkomentar. Ariekhsa hanya menatapnya lekat-lekat dan membalik halamannya, terus seperti itu hingga halaman terakhir. Selama Ariekhsa melihat foto-fotonya, Anne terbius oleh ketampanan pria itu yang di luar batas kewajaran. Sial. Dia selalu jatuh cinta pada pria ini dari dulu, dan Anne tidak tahu bagaimana cara menghapus perasaannya ini—karena nanti, ketika Ariekhsa mengingat semuanya, pria itu akan sangat membencinya dan Anneliese akan ditinggalkan. “Gavrilla.” Anne tersentak. “Iya?” jawabnya setelah mengerjapkan matanya sepersekian detik. “Dokter mengatakan aku sudah boleh pulang besok.” Ariekhsa berkata sambil mengembalikan album foto tersebut. Dia tidak menunjukkan emosi apapun, tidak terlihat senang ataupun sedih saat tahu dia boleh pulang dari rumah sakit itu. Anne mengangguk dan tersenyum kecil. “Syukurlah, keadaan kamu sudah membaik, Ariekhsa.” Ariekhsa mengalihkan pandangannya dari manik mata Anne yang menatapnya dengan tatapan yang ... lembut. Ariekhsa berdehem pelan. “Hm. Syukurlah,” ujarnya tanpa menatap Anne. “Orang tua kamu pasti senang. Mereka selalu menunggu kamu.” Ariekhsa tidak menjawab sama sekali. Hatinya seolah mati rasa. Dia tidak mengenal dirinya, dan orang lain lebih mengenalnya dari pada dia sendiri—dan itu sangat menyiksa. Ariekhsa tidak tahu bagaimana dia akan melewati ini semua; mengenal dirinya kembali. Ariekhsa seolah kehilangan tujuan hidupnya. Sepulang dari rumah sakit ini, dia tidak tahu akan seperti apa dirinya kelak. *** “Halo?” Anne menyimpan tasnya di atas kasur sembarangan ketika sepupunya yang bernama Sydney MacMillan meneleponnya. “Kamu gila!” Anne memutar bola matanya malas. Selalu saja. Setelah orang tuanya tahu apa yang sudah ia lakukan, beberapa sepupunya yang mengetahui hal tersebut dari bibir Ibunya, selalu mengatakan dua kata itu padanya; kamu gila. Iya. Anne akui dia gila sekarang—karena Ariekhsa Cleon. “Apa?” tanya Anne ogah-ogahan. Berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Sydney. “Bagaimana mungkin kamu berpura-pura menjadi Gavrilla, Anne? Kamu tidak boleh melakukan itu!” Anne tersenyum miris. “Semuanya sudah terjadi, Sydney. Aku tidak bisa mundur.” “Kenapa?! Ayolah, Anne, kamu membuang-buang waktumu untuk pria itu. Dia tidak mungkin mencintai kamu hanya karena kamu menjadi tunangannya yang sudah mati.” Anne berdecak. “Jangan marah-marah begitu. Ingat, kamu lagi hamil,” tegur Anne dan dia langsung bisa mendengar hembusan napas kasar dari seberang sana. “Jawabannya sederhana, Sydney; karena aku mencintainya.” ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD