Chapter 3

1154 Words
Zee menemui Anne yang duduk di sisi ranjangnya sambil memegangi satu figura di tangannya. “Anne,” panggil Zee yang membuat anaknya menoleh padanya. Zee tersenyum sedih melihat jejak air mata mengalir di pipi anaknya. “Anne, boleh Mama duduk di samping kamu?” Sekalipun Anne adalah anaknya, Zee tetap menghargai privasi Anne. Dia tidak ingin mengganggunya ketika Anne sendiri butuh privasi. Anne mengangguk dan Zee akhirnya duduk di sampingnya. Dia melihat foto Anne bersama Gavrilla, sahabatnya yang sudah tiada. Hati Zee ikut hancur. “Dia sudah bahagia di sana.” Zee mengusap lengan anaknya. “Apa dia akan marah saat tahu apa yang aku lakukan pada Ariekhsa, Mama?” Zee terdiam. Dia sendiri tidak setuju jika Anne menyamar menjadi Gavrilla. Itu ide yang buruk! Cepat atau lambat, Ariekhsa pasti akan tahu siapa Gavrilla. Apalagi, jika Ariekhsa mencoba untuk mencari tahu lewat jejak digital, pasti dia akan mengetahui wajah tunangannya yang asli. “Aku salah. Tapi setidaknya, aku bisa membuat keadaan menjadi baik-baik saja. Setidaknya, untuk saat ini.” Anne mencoba mencari pembenaran dari apa yang dia lakukan. Jika tidak ada seorang pun yang mendukung tindakannya, setidaknya dia harus mencari alasan sendiri agar dirinya tidak merasa sangat bersalah. “Anne, tapi walaupun kamu berpikir saat ini baik-baik saja, bukan berarti keadaan akan membaik di lain hari. Ariekhsa akan tahu siapa Gavrilla, dan mungkin kelak kamu akan menyesal karena melakukan ini.” Zee masih mengatakan dengan nada lembut. Sudah cukup Regan yang membuat anak mereka ini ketakutan. Dia tidak akan memarahi Anne, sekalipun dia juga sedikit jengkel pada anaknya. “Semuanya sudah terlambat,” ujar Anne pelan. Zee mengangguk. Memang, nasi sudah menjadi bubur. Jika Anne tiba-tiba saja meninggalkan Ariekhsa, sudah pasti masalah akan semakin besar. “Apapun yang terjadi, Mama ingin kamu selalu ingat bahwa Mama akan selalu di sisi kamu.” Setidaknya, Zee bisa memberikan dukungan moral pada anak  sulungnya itu. *** Zee meletakkan secangkir teh hangat di depan suaminya. “Regan, minumlah.” Jika sedang emosi begini, secangkir teh pasti akan membantu suaminya. Regan yang awalnya sibuk menonton TV, akhirnya mengambil cangkir tersebut dan menyesapnya pelan. Tangannya beralih untuk meraih pinggang istrinya, membuat Zee duduk tepat di pahanya. “Regan,” ujar Zee tidak setuju. Di rumah mereka, masih ada Anneliese dan Elizabeth, putri keduanya yang kini sedang duduk di bangku kuliah. Tidak lucu jika kedua anak mereka melihat mereka sedang bermesraan begini. Seolah tidak mendengarnya, Regan memilih untuk memeluk istrinya erat. Harum tubuh Zee secara aneh mampu menenangkan dirinya. “Just hug me, Wife.” Regan memerintah. Hal itu tentu saja membuat Zee menggelengkan kepalanya, namun tetap memeluk Regan. “Kamu terlalu emosi tadi. Aku saja hampir ketakutan, Regan.” Regan hanya menarik napas dalam-dalam. Dia mengeratkan pelukannya. “Perilakunya ini hanya akan membawanya ke jurang masalah, Zee. Kamu tahu itu. Aku tidak ingin Anne mengacau di sini, apalagi ini soal Ariekhsa. Kamu tahu sendiri.” “Tapi, semuanya sudah terjadi. Kamu dan Anne sama saja. Sama-sama keras kepala. Kalian akan mempertahankan apapun yang kalian percayai benar.” Kadang, Zee lelah menghadapi mereka berdua yang akan bersikeras dan tidak mau minta maf terlebih dahulu. Regan dan Anne jika sudah berdebat, seperti perang dunia ketiga. “Biarkan saja dia memilih apa yang dia mau, Regan. Apapun yang terjadi nanti, kita harus pastikan kita ada saat dia membutuhkan kita.” Zee melanjutkan pembicaraannya. Regan menangkup wajah istrinya agar dia bisa menatap manik mata cantik dari Zee. “Aku sangat beruntung memiliki kamu.” Walaupun sudah menikah lebih dari dua puluh lima tahun, Zee tetap merasakan pipinya memerah saat Regan memujinya. *** Anneliese membuka pintu kamar rawat Ariekhsa pagi itu dan melihat pria tersebut sedang memandangi taman di luar kamarnya. Sepertinya dia tidak menyadari kedatangan Anne sekarang. “Pagi,” sapanya dan itu membuat pria tersebut tersentak. Masih dengan tatapan datar dan dinginnya, Ariekhsa mengangguk. “Pagi juga.” Anne menghela napasnya. Memangnya apa yang bisa dia harapkan? Ariekhsa yang tiba-tiba bersikap manis padanya? Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Bahkan ketika sekarang dia menyamar menjadi Gavrilla, Ariekhsa tidak akan melakukan hal itu. Di tangan Anne, terdapat sebuket bunga cantik yang sengaja ia bawa untuk mempercantik kamar Ariekhsa. Kata dokter, pria itu masih harus mengalami perawatan dikarenakan kondisinya dan apa yang sudah dialaminya cukup parah, untuk itu Anne akan mencoba untuk membuat Ariekhsa nyaman di kamarnya sendiri. “Bagaimana tidur kamu semalam?” tanya Anne untuk basa-basi. “Tidak buruk.” Anne mengangguk. Dia masih sibuk mengganti bunga di vas yang ada di nakas Ariekhsa. Jadi, dia tidak melihat ekspresi pria itu. “Baguslah. Hari ini, aku akan mengajak kamu berjalan-jalan lagi, bagaimana?” “Hm.” “Apa kamu tidak keberatan?” “Lakukan saja apa yang menurut kamu baik, Gavrilla.” Mendengar itu, Anne membalikkan badannya. Dia menatap pria yang sama sekali tidak menoleh padanya. Sepertinya, taman di luar terlihat lebih menarik dibandingkan dirinya. “Okay, mau kita pergi sekarang?” “Hm.” Anne mencoba untuk tersenyum. “Apa kamu baik-baik saja?” Wanita itu menghampiri Ariekhsa dan berdiri di belakangnya. Ariekhsa sempat terdiam sementara sebelum menoleh pada Anne. “Tidak,” ujarnya. Anne terkejut. “Apa? Kenapa?” Dia secara impulsif untuk mendekat ke arah pria itu dan menggenggam tangan Ariekhsa. “Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?” Ariekhsa menatap genggaman tangan mereka. “Tidak, Gavrilla. Aku...kebingungan. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan di sisa hidupku dengan kondisi seperti ini.” Anne menghembuskan napasnya lega. Dia sudah berpikiran buruk bahwa Ariekhsa kenapa-napa. Ternyata, pria dingin ini ketakutan. “Ariekhsa, semuanya butuh waktu.” Anne mengusap punggung tangan Ariekhsa. “Aku tahu ini semua membingungkan. Bahkan, aku tahu kamu sebenarnya sama sekali tidak mengenali aku. Tapi, we need time. Aku dan kamu, kita sama-sama membutuhkan waktu untuk ini semua.” “Apa kamu juga merasa kehilangan diriku?” tanya Ariekhsa dengan nada pelan. Manik matanya tepat menatap Anne. Anne memutuskan kontak mata mereka. Dia tidak bisa berbohong jika ditatap begitu oleh Ariekhsa. “Iya. Aku juga kehilangan tunanganku, Ariekhsa. Jadi, ayo kita saling mengenal lagi. Aku tidak akan menyerah atas kamu.” Sial. Anne terbawa perasaan! Ini adalah satu-satunya hal yang harus ia hindari dalam menjalankan misinya. Dia tidak boleh jatuh cinta lebih dalam lagi pada Ariekhsa—sekalipun sebenarnya dia sudah mencintai pria itu sejak jauh hari. Tapi, jika keterlaluan, Anne akan kesulitan melepaskan pria itu nanti. “Gavrilla.” “Iya?” “Aku bahkan tidak lagi mencintai kamu. Aku tidak kenal kamu, bagaimana bisa aku mencintai kamu sebagai tunanganku?” Itu menyakitkan. Walaupun Anne bukan Gavrilla, tetap saja rasanya sakit saat mendengar kenyataan itu. “Ariekhsa, semuanya akan baik-baik saja.” Dengan bodohnya, hal yang bisa dikatakan Anne hanya sebait kalimat sederhana itu yang sebenarnya tidak akan membuat keadaan lebih baik. Ariekhsa terdiam. Dia tidak lagi menoleh pada Anne. “Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya?” Anne melanjutkan. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan, “Aku tidak akan menyerah atas kamu, Ariekhsa.” ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD