Wanita itu terduduk di tepi ranjang. Jemarinya memijat ringan pelipis kepala guna mengurangi rasa sakit yang seolah berputar-putar, walaupun dia tahu kalau itu hanya sia-sia. Rasa sakit yang dialami ini bukanlah pertama kali, justru sudah kesekian kali bahkan sampai membuatnya berburuk sangka, apakah ada masalah dalam tubuhnya?
Masih teringat memorinya pagi ini saat Callista mendatangi klinik terdekat untuk memeriksa keadaan. Benaknya sudah dipenuhi pikiran-pikiran negatif tentang penyakit serius yang dia derita. Namun, kenyataan justru membuatnya kembali terpuruk karena keadaannya bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah takdir yang akan mengubah hidupnya 180 derajat.
Callista mengandung bayi berumur empat minggu.
Seharusnya berita ini menjadi sebuah berkah, bukan? Tampaknya tidak bagi Callista, fakta ini adalah bencana. Kalau saja keluarganya tahu siapa ayah dari bayi itu, tamat sudah riwayat Callista. Dia akan dibenci, diusir, bahkan mungkin dibunuh oleh orang lain atas perintah keluarganya.
Perlu diketahui Ayah dari bayi itu adalah Taufiq Adinata, seorang miliarder muda yang disegani sekaligus pemilik dari perusahaan pesawat terbang bernama Adinata Airlines. Lalu kenyataannya, Callista bukanlah pacar dari Taufiq Aditana, dia hanya sepupunya Leonita, tunangan Taufiq Adinata.
Jelas saja Callista menebak Taufiq Adinata. Memangnya siapa lagi yang berhubungan dengannya selama ini? Hanya seorang Taufiq Adinata.
Dipertegas lagi, TAUFIQ ADINATA.
Callista bukanlah wanita yang hobi bermain dengan laki-laki. Memang dia pernah pacara sebelumnya, tetapi selalu dalam batas wajar. Dia selalu menjaga batasan dan justru menyimpan dirinya untuk orang yang benar-benar ia cinta di kemudian hari menjadi suaminya.
Taufiq Adinata adalah yang pertama baginya. Mereka dalam keadaan pengaruh minuman dan tampaknya suasana membawa mereka ke malam nikmat yang menjadi pembuka sejarah pelik keluarga Adinata.
Takdir kejam lainnya adalah … Taufiq Adinata adalah orang yang Callista cinta selama ini dan Callista harus menyaksikan seorang yang ia cinta sudah menjadi tunangan dari sepupunya sendiri.
Setelah peristiwa malam panas itu, Taufiq meminta Callista merahasiakan semua yang mereka lakukan. Bak diperintahkan oleh orang yang dicinta, Callista hanya bisa menurut dan menutup mulutnya. Callista tahu semua niat ini untuk melindungi Taufiq agar tidak kehilangan Leonita, padahal Callista sangat menderita menerima semua kenyataan ini.
Belum pernah Callista membuka mulut tentang kejadian gila malam itu dan bahkan dia juga tidak ada niat untuk mengabarkan kehamilannya sekarang. Yang terbesit dalam benaknya hanya satu, kabur. Callista akan mencari tempat yang tenang jauh dari kota menggunakan tabungannya. Lalu dia memulai usaha kecil dan membesarkan anak itu sendirian.
Kira-kira seperti itulah rencana satu-satunya yang Callista punya untuk melindungi kebahagiaan Leonita dan reputasi keluarganya sendiri.
Sejak siang itu, Callista belum menyantap satu butir nasi pun untuk menghidupi dirinya dan sang bayi. Dia berusaha untuk bangkit, sambil menarik napas dalam-dalam karena rasa mual itu kembali muncul saat ia bergerak.
Perlahan-lahan dia berjalan. Selangkah demi selangkah dia lakukan dengan susah payah karena rasa mual yang membuatnya tak nyaman. Sampai akhirnya saat ia berbelok di sudut ruangan, jantungnya seolah berhenti berdetak dalam beberapa saat.
Pujaan hatinya dan Leonita terduduk rapi di meja makan bersamaan dengan kedua orang tuanya. Callista mati kutu, dia tidak bergerak sejengkal pun dan bahkan menahan napas sebentar.
Dalam hatinya Callista sangat ingin berbalik dan lari sebelum mereka menyadari kehadirannya. Namun apa daya? Sedetik sebelum dia berbalik, ibunya melihat dan saat itu juga mata Callista memejam rapat karena tak sanggup melihat kebersamaan di depan sana.
"Loh, Callista! Sini bareng-bareng makan!” panggil Sinta. "Kirain kamu masih tidur, makanya kita makan duluan jadinya.”
Leonita menoleh dengan senyum cerah dan tulus. "Sini duduk, Ta!”
Sementara pria di sebelahnya mematung dengan pandangan mengarah ke meja di depannya. Dia mengatupkan rahang sekeras mungkin sampai Callista bisa melihat bentuk rahangnya dari jauh.
Callista terjebak, dia tidak mungkin menolak. Akhirnya dia berjalan mendekat.
Tepat tiga langkah sebelum meja makan, Callista berhenti berjalan dan malah menutup hidung dengan raut wajah tidak suka.
“Ini bau apa, ya?” tanya Callista dengan mulut tertutup tangan.
Mendengar itu, kening Sinta berkerut. “Bau apa? Tidak ada bau apa-apa di sini.”
Lalu Sinta menoleh ke Leonita dan bertanya, “Kamu mencium sesuatu?”
“Tidak cium apa-apa, Tan. Wangi-wangi saja,” jawabnya keheranan.
Callista menurunkan tangannya dan akan mencoba menghirup udara lagi, tetapi begitu ia menarik napas, perutnya langsung bergejolak hebat.
Buru-buru Callista berlari ke dapur tanpa ada kata permisi keluar dari mulutnya. Dia memuntahkan cairan bening yang membuat perutnya semakin sakit. Berusaha dia menahan itu, tetapi gelombang mual seolah tidak pernah berhenti. Tangannya mencengkeram dinding sampai membuat buku-buku di jarinya memutih. Beberapa detik dia terdiam dengan mata tertutup, hingga akhirnya rasa sakit itu menghilang dan Callista kembali ke meja makan.
Sunyi, itu yang Callista rasa saat dia kembali ke meja makan. Tidak ada yang bersuara bahkan tidak ada yang menggerakkan sendok, semua mata tertuju padanya.
Dengan langkah gemetar, Callista mengambil kursi untuk duduk di hadapan Leonita. Dia ambil roti bakar yang tersedia dan berusaha melupakan kejadian beberapa saat lalu. Namun, tampaknya takdir tidak membuatnya tenang, ibunya kembali memecah keheningan.
"Kamu hamil, Ta?" tanya Sinta dengan alis yang berkerut tajam.
Napas Callista tersendat. Mulutnya terbuka seolah hendak bersuara, tetapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Sebelum ia sempat menyusun kebohongan, suara ayahnya menggema dari ujung meja.
"Siapa ayahnya?" tuntut Reno. Pria itu menatap tajam ke arah Callista.
Kepanikan mencengkeramnya. Dalam keputusasaan, matanya refleks melirik ke arah Taufiq. Pria itu menatapnya dengan sangat tajam, dengan campuran amarah dan ketakutan yang menjadi satu. Lalu Callista mengalihkan pandangan ke Leonita yang sama menatap ke arah Taufiq.
Suara dentingan alat makan yang jatuh ke lantai terdengar seperti tembakan. Garpu Leonita terlepas dari genggaman, wajahnya berubah pucat pasi saat kepingan-kepingan teka-teki itu akhirnya tersusun menjadi satu.