Noda di Kamar

843 Words
"Belum tidur juga?" Dinginnya suara Taufiq menyadarkan Callista, membuat wanita itu menegang di tempat. Tatapan matanya kosong seolah bingung ingin berbuat apa. Callista menggeser tubuhnya sedikit sebelum akhirnya mendongak untuk melihat orang yang menyapanya dengan sangat hangat. Tatapan mereka bertemu, Taufiq menatapnya dengan tajam dan tidak ada rasa tenang di sana. Alisnya menyatu membentuk ekspresi jengkel yang nyata. Callista menggigit bibirnya, jantungnya berdebar tak menentu. "Be–belum. Lagi nunggu orang," sahutnya terbata. Dia sendiri sangat kesal karena suaranya gemetar. Mana bisa dia tidur? Callista begitu paham kebiasaan Taufiq yang selalu pulang larut dalam keadaan pengaruh minuman. Yang terjadi sekarang memang sudah menjadi kebiasaan Callista juga, walaupun sebenarnya itu sangat keliru karena harapannya putus asa. Taufiq mengangkat satu alis, tatapannya mengarah ke Callista dengan campuran ejekan dan amarah yang terpendam. Setiap kali Callista menatap mata tanpa emosi itu, rasa perih kembali menusuk hatinya. "Sedang bermain peran sebagai istri yang setia?" tanya Taufiq yang sinis. Callista langsung ingin membuka mulut untuk membela diri, tetapi Taufiq memotongnya dengan tawa yang sarkas. "Berhenti lah! Kamu hanya istri di atas kertas, tidak lebih. Saya tidak menganggapmu milik saya dan itu tidak akan pernah. Berhentilah membuang waktumu pada fantasi gila ini!” tutur Taufiq tanpa penekanan dan justru hanya suara rendah. Pria itu tidak menunggu jawaban. Taufiq langsung melangkah melewati Callista, membuat suara detak sepatu mahalnya terdengar di ruangan sekitar, menyisakan Callista sendirian. Callista menggigit bibirnya dengan keras sampai terasa besi di sana. Ia tahu darah telah keluar dari tempat persembunyian, tetapi gigi itu tanpa henti menekan dan justru menjadi lebih kuat. Tatapan matanya mulai kabur oleh air mata yang tertahan sejak tadi. Suami. Kata itu terasa sangat berat untuk tercipta dan bahkan mungkin sebuah kekosongan belaka. Pernikahan mereka adalah sangkar yang dibangun dari rasa bersalah dan kewajiban. Saat ayah Callista mengetahui fakta kehamilan dan yang menghamilinya, titik balik kehidupan pun terjadi. Dunia Callista hancur sehancur-hancurnya, dia terasingkan, tersudutkan, bahkan menjadi buah bibir keluarganya sendiri sekaligus pihak yang mendapatkan sinisan tajam dari seluruh anggota keluarga besar. Taufiq keluar dari ruangan, diiringi beberapa anggota keluarga besar. Pria itu menatap tajam Callista dengan penuh kebencian. Lalu beberapa orang setelahnya, keluar seorang Leonita yang manis parasnya, tetapi tertutup oleh wajah penuh air mata. Dia menatap nanar Callista yang terduduk bingung. Tanpa mengucap sepatah kata, Leonita pergi dari sana, seolah keberadaannya diusir secara halus karena Callista. Sudah dua minggu pernikahan ini berlangsung, tetapi dunia Callista belum kembali seutuhnya menjadi dunia yang tenang. Justru dia semakin mendapatkan rasa bersalah karena Taufiq selalu menyudutkannya, membuat harinya tidak tenang. Pria itu pergi sebelum matahari terbit dan pulang sangat larut. Dia membuat rumahnya seperti hotel, sebuah tempat tinggal saja. Tidak ada interaksi antar penghuninya, bahkan dia tidak pernah menganggap ada siapa-siapa di rumah yang ia tempati sekarang, menunjukkan seberapa tidak berharganya Callista di hidup seorang Taufiq Adinata. Dengan mulut bergetar, Callista meletakkan tangan di perutnya yang masih rata. Ia memejamkan mata, mencoba menarik kekuatan dari kehidupan kecil di dalam dirinya. “Yang sabar, ya, Nak! Kita bisa lewatin ini satu-persatu. Suatu saat nanti Ayahmu … dia akan menerima kehadiran kita.” Mengucap kata Ayah saja Callista tidak sanggup, karena dia sangat tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan yang tidak pernah berubah. Hanya karena janji pernikahan, Callista berusaha untuk tetap tegar. Langkah kaki gontainya membawa Callista ke sebuah pintu yang pemiliknya tidak pernah mengharapkan Callista. Dia ketuk perlahan-lahan pintu itu, tetapi tidak ada balasan. Sampai akhirnya Callista mencoba memberanikan diri untuk memutar gagangnya. Callista masuk perlahan-lahan. Tidak ada orang di sana, hanya ada jaket yang berantakan dan tas kantor yang berserakan di atas kasur. Dia langsung buru-buru merapikan semua itu saat mendengar suara air mengalir deras dari dalam kamar mandi. Callista ambil jaket itu dan meletakkannya ke dalam keranjang cucian. Lalu ia melangkah ke lemari hendak menyiapkan pakaian untuk Taufiq. Jantungnya berdebar sangat cepat, khawatir sang pemilik kamar sudah selesai dan mendapatkannya di sana. Callista menatanya rapi di tepi ranjang, sebuah bentuk kepedulian yang sunyi. Tepat setelah pakaian itu terletak, derit pintu kamar mandi berbunyi. Callista mematung di tempatnya. Taufiq melangkah keluar, uap air mengikuti di belakangnya. Dia hanya mengenakan handuk yang melingkar rendah di pinggang, tubuhnya yang terpahat berkilauan oleh tetesan air. Napas Callista tercekat. Pria itu tampak sangat tampan, bahkan saat sedang marah sekali pun. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara bariton terdengar, bergetar dengan tingkat kebencian yang meningkat. "A-aku … aku hanya menyiapkan pakaianmu," jawab Callista pelan, matanya buru-buru berpaling dari d**a telanjang orang yang di atas kertas adalah suaminya. Kening Taufiq berkerut tajam. "Sudah saya bilang, Callista. Jangan buang waktumu.” Pria itu mendekat dan memaksa wajah Callista menatapnya. Tatapan Taufiq menusuk, membuat genangan air di mata Callista kembali muncul. “Ini semua tidak akan mengubah apa pun. Kamu bukan istri saya. Sekali lagi, jangan sentuh barang-barang saya. Saya tidak ingin kamu mencampuri hidup saya." Bagi Taufiq, semua sentuhan Callista adalah sebuah noda. Penolakan itu begitu telak hingga membuat kepala Callista terasa pening. "Dan mulai sekarang, jauhi kamar ini!” tambah Taufiq dengan matanya yang menyipit. "Saya tidak mau kamu berada di ruangan saya. Jelas?" Callista menundukkan kepalanya. "Jelas," bisiknya. "Sangat jelas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD