Kakak & Makan Malam

1118 Words
Usia pacaran Pak Frivan dan Vella baru seminggu, tapi mereka berdua sudah berapa kali cekcok. Bukan cekcok berat, hanya debat yang selalu berakhir dengan kata ‘mau-mau kamu sajalah' dari mulut Pak Frivan. Keras kepala Vella memang tak tertandingi sejak mereka pacaran, meskipun Vella masih tahu batasannya saat jam kuliah. Kaki Vella melangkah menuju ruangan Pak Frivan. Earphone terpasang di telinganya memutar lagu bernada ceria. Seminggu ini tak ada apa pun yang membuat mood Vella drop. Tak terkecuali debatnya dengan Pak Frivan. Dia malahan senyum-senyum sendiri lepas selesai cekcok. Entah kenapa, tapi Vella kadang masih merasa dia berhalusinasi tentang hubungannya dengan Pak Frivan. Tinggal satu belokan lagi. Saat berbelok di koridor, Vella hampir saja menabrak Xiani yang datang dari arah berlawanan. Gadis itu lantas terjengkang ke belakang karena terkejut. “Ngagetin aja,” gumam Vella kesal sambil melepas earphone dari telinganya. Gadis itu langsung teringat dengan perkelahiannya dengan Xiani di cafe beberapa waktu lalu. Ah, kenapa dia harus mengingatnya lagi, sih? Kejadian itu sungguh memalukan sekaligus menjengkelkan baginya. Xiani hanya diam sejenak menatap Vella dengan datar. Tangannya memegang sebuah map. Tanpa berkata apa-apa, cewek itu melewati Vella dengan menyenggol bahunya dengan keras. Vella mendelik pada gadis itu. Dia memasang kembali earphone ke telinganya. Dia tak mau emosinya terpancing hanya karena senggolan di bahu. Apa lagi saat ini dia berada di kampus. Bisa rusak reputasinya jika menantang seniornya itu. “Halo, Pak!” sapa Vella masuk ke dalam ruang bernuansa abu-abu hitam itu. Pak Frivan yang sibuk mengetik di laptop mendongak dan mendengus tersenyum. Pria itu langsung menutup laptopnya kala Vella duduk di hadapannya. “Saya ada jadwal di kelas kamu nanti, ‘kan?” tanya Pak Frivan. “Iya, Pak. Jam terakhir.” Vella menatap pria itu, menunggu arahan selanjutnya. Namun, laki-laki yang berstatus dosen sekaligus pacarnya itu hanya diam menatapnya. “Kenapa, Pak?” “Rasanya aneh saja. Saya pacar kamu, tapi kamu panggil saya dengan sebutan Bapak,” ujar Pak Frivan tersenyum geli. “Memangnya mau gimana lagi, Pak? Semua orang, ‘kan, tahu Bapak itu dosen, saya mahasiswa. Sudah seharusnya, dong, saya manggil dengan sebutan Bapak gitu. Ya kali, saya mau panggil ‘Sayang'. Bisa diborongi rame-rame nanti sama fans Bapak,” cerocos Vella. Pak Frivan tertawa ringan mendengar celotehan gadis itu. “Memang benar, sih, kalau di lingkungan kampus, saya ini dosen kamu. Tapi, di luar kampus? Saya tidak mau ada kesalahpahaman seperti di pantai kemarin.” Mengingat Bapak Penjual Sendal yang kemarin itu membuat Vella tergelak. Tanya rahasia awet muda pada orang yang memang masih usia muda. “Kamu kenapa ketawa?” tanya Pak Frivan tersinggung. “Lucu aja, Pak. Masa iya, si penjual kemarin langsung mikir kalau Bapak itu orang tua saya. Apa Bapak setua itu, ya?” tanya Vella dengan kilat jahil. “Ck! Muka kamu saja yang terlalu kekanak-kanakan!” decak Pak Frivan tak terima dibilang tua. “Yaudah, Pak. Tujuan Bapak nyuruh saya ke sini sebenarnya apa? Sebentar lagi, Pak Darmono masuk, nih. Saya nggak mau, ya, dikeluarin dari kelas lagi,” ujar Vella mengandung sindiran. Pak Frivan memutar bola matanya. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Mata pria itu menatap Vella dengan serius. “Sebelum membahas itu, mari kita putuskan panggilan kamu untuk saya di luar jam kuliah.” “Ha?” Vella menganga bingung. Pak Frivan menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya ke atas hingga mulut Vella kembali tertutup. “Tidak usah speechless gitu.” Vella menyingkirkan tangan Pak Frivan dari dagunya dan mulai berpikir. “Honey?” usulnya. “Tidak.” “Sweetie?” “Kayak merek popok bayi.” “Sayang.” “Alay.” “Ehm, sebentar. Kakak?” Pak Frivan terdiam sejenak terlihat sedang berpikir. Tak lama kemudian, pria itu tersenyum setuju. “Oke.” “Oke, jadi mulai saat ini kalau di luar kampus, saya panggil Kakak, ya, Pak,” ujar Vella tersenyum manis. Gadis itu mengulurkan tangannya. “Deal?” “Kenapa pakai begituan, sih? Kayak mau tandatangan kontrak aja,” ujar Pak Frivan menepis tangan Vella. Gadis itu menarik tangannya kembali dengan wajah cemberut. “Nanti saya ada rapat dengan dosen lain, jadi saya tidak yakin bisa sempat masuk mengajar.” Pak Frivan mengambil flashdisk dari laci mejanya. “Tolong sampaikan materi ini di kelasmu. Isinya ini rangkuman materi bab lima. Tolong pastikan semua teman-teman kamu menulisnya. Kalau sempat, saya akan masuk nanti untuk menjelaskannya. Tapi, kalau waktu sudah habis, pertemuan berikutnya baru saya jelaskan,” terang Pak Frivan panjang lebar. Vella menerima flashdisk itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya. Dia lantas berdiri dan pamit. “Saya keluar dulu, ya, Pak.” “Tunggu dulu,” sergah Pak Frivan. “Kenapa, Pak?” Pak Frivan menggaruk tengkuknya dengan wajah salah tingkah. “Nanti malam kamu ada waktu?” Vella memalingkan wajahnya menahan senyum. “Memangnya kenapa, Pak?” “Mama saya mau undang kamu makan malam.” “A-apa?” === Vella mengerjapkan matanya saat turun dari mobil. Di depan rumah Pak Frivan, ada beberapa pelayan yang mengenakan pakaian seragam putih hitam. Di tengah-tengah mereka, seorang wanita yang sepertinya sudah berumur lima puluhan berdiri menatapnya lama. Pak Frivan keluar dari mobil dan tersenyum kecil melihat tatapan Vella. Dia memutuskan menjemput gadis itu karena takut ada apa-apa di jalan. Gadis itu mengangkat pandangannya dan bergumam kagum. Pak Frivan sekaya ini. Kenapa harus repot-repot jadi dosen lagi? Pasti keluarga Pak Frivan punya bisnis yang besar. Rumah mereka saja seperti istana, belum lagi pelayan-pelayannya. Jasmine dan konco-konconya kalau lihat ini pasti bakal mimisan di tempat. “Ayo,” ajak Pak Frivan. Pria itu memegang pergelangan tangan Vella dan menariknya pelan mendekati Ibunya. Tanpa aba-aba, Fera, ibu Pak Frivan menggenggam tangan Vella dengan raut menyesal. “Maafkan, Tante, ya, Nak.” Vella mengerjap bingung menatap tangannya yang dipegang keras. Dia beralih menatap Fera dan tersenyum kikuk. “E-eh? Ng-nggak apa-apa, kok, Tante,” ucapnya tak tahu apa-apa. Kenapa ibu Pak Frivan tiba-tiba minta maaf padanya? “Tante minta maaf banget sama kamu,” ucap Fera lagi. Mata wanita itu berkaca-kaca membuat Vella merasa bersalah. “Nggak apa-apa, kok, Tante. Memangnya Tante salah apa, sih, sampai harus minta maaf sama saya? Saya justru mau berterima kasih karena sudah diundang makan malam sama Tante,” ujar Vella berusaha tersenyum manis. Akhirnya, kata-kata yang sudah Vella sediakan saat di kamar tadi bisa keluar juga. Fera menatap gadis itu dengan bingung. Frivan yang melihat keadaan mulai membingungkan segera merangkul pundak Vella. “Ayo, masuk ke dalam, Ma. Novella pasti sudah lapar,” ujar pria itu tersenyum kecil. Tanpa menunggu Fera menjawab, Pak Frivan menarik ibunya ke sisi lainnya dan menggiring dua wanita itu masuk ke dalam rumah. Sepanjang makan malam, Vella terus merasa tidak enak. Tante Fera begitu perhatian padanya. Wanita tua yang masih terlihat cantik itu juga kadang menggumamkan kata maaf. Vella bisa melihat raut tidak nyaman di wajah Pak Frivan. Sembari menghabiskan makanannya, otak Vella berpikir keras. Banyak pertanyaan silih berganti masuk ke otaknya. Mengapa Tante Fera terus saja minta maaf padanya? Raut wajah Pak Frivan juga sepertinya tidak bagus. Pria itu sedari tadi hanya diam. Vella membayangkan makan malam penuh canda tawa, tapi kenapa realitanya malah canggung begini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD