Wanita Seram & Poliklinik

1812 Words
Vella kembali masuk dalam ruang gelap. Gadis itu meringkuk di sudut ruangan dengan memeluk lututnya. Vella sadar ini hanyalah alam bawah sadarnya, namun dia tak bisa membangunkan dirinya sendiri. Gadis itu mengamati sekelilingnya yang hanya diisi kegelapan. Dia hanya berharap semoga saja terjadi sesuatu yang bisa membuatnya sadar. Saat menutup matanya, Vella mendengar sebuah suara langkah kaki yang diseret. Gadis itu mengangkat pandangannya dan menahan napas ketika sebuah sosok perlahan muncul dari dalam kegelapan. Vella berusaha berani, namun nyatanya dia makin merapatkan tubuhnya ke sudut. Jari-jarinya terkepal erat dengan napas memburu. Sosok itu melangkah perlahan mendekatinya. “Jangan dekat-dekat dengan anak saya!” teriak sosok itu dengan suara yang nyaris berteriak. Suara tinggi itu membuat Vella tahu, sosok itu adalah seorang wanita. Tapi ... siapa dia? Vella familiar dengan suara itu, namun dia tak ingat pernah mendengarnya di mana. “Jangan dekat-dekat dengan anak saya!” teriak wanita itu lagi dengan suara keras. Vella memekik ketakutan. Dia terpojok di sudut ruangan. Kini, dia menyesal duduk di sana. Wanita yang tak bisa dilihat wajahnya itu makin mendekat pada Vella. Kening Vella mengerut ketakutan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain memeluk tubuhnya sendiri di sudut ruangan ini. Aura kebencian dari sosok wanita itu terasa sangat kental. “Mama!” Vella menoleh. Pemuda misterius di masalalunya itu tiba-tiba muncul. Hati Vella merasa lega melihatnya. Tunggu dulu ... Mama? Vella mematung. Gadis itu bahkan tak bisa bernapas. Dia perlahan menggerakkan kepalanya, menatap sosok wanita di depannya yang makin mendekat. “DASAR GADIS MURAHAN!” “ARGHHH!” === “Non Vella, bangun, Non. Astagaaa! Non, sadar, Non!” Ani tak berani mendekat. Gadis itu hanya bisa menatap Vella yang memberontak sendiri di tempat tidurnya masih dengan mata tertutup. “Yassalam, Non Vella! Sadar, Non!” teriak Ani lagi. “Hah!” Vella langsung terbangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya tremor hebat. Keringat dingin mengalir deras ke dagunya. Vella menatap Ani dengan mata sayu dan rebah kembali. Melihat itu, ketakutan Ani langsung sirna digantikan dengan rasa khawatir. Perempuan itu mendekat dan duduk di samping Vella. Dia mengusap keringat Vella dengan telaten. “Mimpi buruk lagi, ya, Non?” Vella mengangguk lemas. Dia bahkan terlalu lemah untuk bersuara. Mimpi kilas balik tadi benar-benar merenggut energinya. Vella menelan ludahnya dan membasahi bibirnya. Gadis itu menatap Ani yang masih mengelap keringatnya. “Sudah jam berapa?” tanyanya serak. Tenggorokannya terasa sakit akibat berteriak tadi. “Baru jam lima pagi, Non. Saya tadi juga baru bangun terus dengerin Non Vella teriak-teriak. Kirain ada maling yang masuk, jadi saya langsung masuk. Tapi, Non Vella ternyata mimpi buruk. Mimpi apa, sih, Non? Saya sampai takut bangunin, soalnya Non Vella ngamuk,” ujar Ani lalu membuang bekas tisu ke tempat sampah. “Ngamuk?” tanya Vella tak percaya. Ani mengangguk. “Iya.” “Lo ingat gue ngomong apa?” tanya Vella lemas. “Nggak ngomong apa-apa, kok, Non, cuma teriak aja.” Vella terperangah lemas. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya yang berwarna pink. Ais, melihat warna norak itu membuatnya pusing. “Muka Non Vella pucat. Hari ini tidak usah ke kampus, ya,” ucap Ani khawatir. Vella lantas menggeleng. Dia harus mengumpulkan tugas Bahasa Inggrisnya hari ini. Dia menghabiskan banyak waktu mendekam di perpustakaan untuk membuat tugas itu. Vella tak mau sakit sesaat menunda nilainya masuk hari ini. “Nggak, Ni. Gue harus kumpul tugas hari ini,” ucap Vella. Gadis itu teringat, tugasnya masih tersimpan dalam flashdisk dan belum dia print. Vella langsung menepuk jidatnya pelan. “Ni, bisa mintol print tugas gue? Nanti aja. Ini masih subuh, pasti belum terbuka tokonya.” “Nggak bisa lain hari aja kumpulnya, Non? Atau titip di temen aja gitu,” tawar Vella. “Nggak. Dosen gue itu nggak terima tugas yang dititip. Gue juga mau kumpulnya hari ini. Beliau banyak urusan jadi jarang masuk. Gue nggak mau nunda-nunda setor tugas. Lagian, gue nggak apa-apa, kok. Tadi cuma mimpi buruk doang.” Ani bergeming. Melihat itu, Vella menghela napas dan mengulum bibirnya. “Gue bener-bener baik-baik aja, Ni. Kok lo khawatir banget, sih. Itu flashdisk-nya ada di dalam laci meja gue. Tolong, ya.” Vella menekankan pertanda dia tak ingin dibantah. Ani masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas berat hati. === Setitik penyesalan muncul dalam hati Vella karena tak mau mendengarkan saran Ani agar tidak ke kampus hari ini. Saat ini, di tengah-tengah Bu Lycoris menerangkan dengan bahasa Inggris, kepala Vella merasakan sakit yang luar biasa. Gadis itu sekuat tenaga mempertahankan raut wajahnya agar tak menarik perhatian teman-teman dan Bu Lycoris. Wajahnya memang pucat sedari tadi. Namun, sebelum berangkat kuliah, Vella memakai liptin pada bibirnya dan blush on di pipinya untuk menutupinya. Tapi, itu tidak berarti menghilangkan rasa lemas dan pusing yang dirasakannya. Vella menatap ke depan, menatap papan tulis yang sudah dilukis spidol hitam dan merah milik Bu Lycoris. Vella menyipitkan matanya ketika merasakan tulisan-tulisan di depan sepertinya mempunyai bayangan. Matanya berkedip-kedip pelan. Namun, penglihatannya makin parah. Segala yang dilihatnya terlihat kabur. Perlahan-lahan, pandangannya mulai berkunang-kunang. Vella menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut hebat. Tubuhnya mulai oleng menarik semua perhatian orang-orang dalam kelas. “Vella? Lo kenapa?” tanya Haira menyentuh bahu Vella. Bu Lycoris yang sibuk menerangkan mendengar suara riuh rendah di belakangnya. Wanita itu langsung berbalik dan memperbaiki kacamatanya yang melorot. “What’s wrong?” tanyanya dengan suara menggema. “Anu, Ma'am, ini ada——“ “Cory, English,” komentar Bu Lycoris menatap Cory yang tergagap. Dosen satu itu mengharuskan mahasiswa memakai bahasa yang sesuai dengan mata kuliahnya. "Oops, sorry, Ma'am. Something's sick." "Who?" "Vella." Bu Lycoris melirik Vella. Wanita itu berjalan mendekat ingin memastikan keadaan Vella, namun belum sampai di sana, Vella sudah jatuh tak sadarkan diri. === Mata Vella perlahan terbuka namun tertutup kembali saat cahaya di ruangan putih itu masuk ke netranya. Butuh beberapa saat mata gelap Vella menyesuaikan dengan cahaya terang yang berada tepat di atasnya. Ketika matanya terbuka sempurna, Vella memperhatikan sekelilingnya. Sebuah ruangan putih yang didominasi bau obat-obatan. Agak jauh darinya, seorang wanita muda berpakaian putih sedang sibuk menulis sesuatu di mejanya. Vella menatap ke kanan dan di bawahnya. “Ini di rumah sakit, ya?” gumamnya bingung ketika melihat bilik-bilik yang hanya ditutupi kain putih. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Vella mengangkat alisnya ketika melihat Yaya masuk. Gadis pendiam itu menatap wanita yang duduk di balik meja dan tersenyum sebentar. Tatapannya beralih ke Vella. “Lo ... udah sadar?” tanya Yaya datar namun bernada khawatir. Tangan gadis itu terangkat hendak menyentuh kening Vella, namun dia kembali menarik tangannya sebelum Vella sadar. “Belum,” ujar Vella asal. Yaya mendengus kecil menahan senyum. “Lo udah dua jam nggak sadarkan diri.” “Apa?” Mata Vella terbuka sempurna. Rasanya baru lima menit yang lalu dia menyimak materi dari Bu Lycoris dengan sakit di kepalanya. Eh, tahu-tahu sudah dua jam berselang? “Pak Darmono masuk?” Yaya mengangguk dan langsung membuka mulut sebelum Vella cerocos panjang lebar akibat ketinggalan materi. “Kita-kita udah lapor, kok, kalau lo sakit. Lagipula, nggak ada tugas, cuma materi aja,” terang Yaya duduk di samping brankar Vella sembari bersedekap. “Ini sebenarnya di mana, sih?” tanya Vella. “Poliklinik,” sahut Yaya pendek. “Ooh.” Vella menatap langit-langit ruangan yang putih. Dia melirik sebentar pada Yaya yang menatap lurus ke depan. Keningnya mengerut ketika mengikuti arah pandangan Yaya. “Liat apa, sih, Ya?” “Lo nggak akan liat,” ujar Yaya cuek. “Memangnya apaan, sih?” Yaya menunjuk dinding yang ditatapnya. “Di sana, ada orang yang lihat lo dari tadi.” Seketika, suasana tiba-tiba saja terasa horor. Vella mengelus lengannya yang merinding. Matanya menatap takut-takut dinding sejauh lima meter darinya. Tak ada apa-apa di sana. “Jangan nakut-nakutin lo!” “Nggak nakut-nakutin. Dia emang ada di sana.” “Udah, jangan bahas itu!” “Oke.” “Dia cowok apa cewek?” Yaya menatap Vella dengan aneh. “Katanya jangan bahas.” Vella langsung mendengus kikuk. “Eihh, mau ke mana lo?” Vella menahan tangan Yaya yang beranjak dari kursinya. “Mau ke toilet bentar.” “Aduh, enak banget lo, ya. Abis nakut-nakutin gue, lo malah pergi gitu aja!” “Kan tadi lo nanya, jadi gue jawab, dong.” “Ya, tapi lo bisa bohongin gue, kek,” sewot Vella takut. “Dosa,” ujar Yaya pendek, “udah, lepasin tangan gue. Udah kebelet, nih,” sambungnya sembari berusaha melepas genggaman Vella. Vella terpaksa melepas tangan Taya dan menatap kepergian cewek itu dengan berat hati. Dia meringis takut ketika mencoba menatap dinding putih itu. “Huhu, jangan ganggu gue, please,” ujarnya menutup mata. Vella makin panik ketika wanita yang sedang berjaga di sana tadi tiba-tiba berdiri dan keluar ruangan. Cahaya memang full, namun auranya tiba-tiba saja mencekam. Angin yang bertiup pelan memasuki celah-celah ventilasi membuat kain-kain pembatas bilik berkibar pelan. Vella bahkan berkhayal ada sosok di balik kain berwarna putih polos itu. “Sumpah, gue nggak bakal balik lagi ke sini,” ujar Vella menutup matanya erat. Ini bahkan lebih buruk dari mimpinya selama ini. Kalau ini juga mimpi, tolong bangunkan Vella secepatnya. “Argh!” Vella berjengit kaget ketika sebuah tangan dingin menyentuh lengannya. “Aduuuh, jangan ganggu gue, ding! Sumpah, ganggu Yaya aja! Dia bisa lihat lo, kan? Gue nggak bisa lihat lo, jadi tolong jangan deket-deket gue!” usir Vella dengan mata tertutup rapat. Dia merengut ketika tak merasakan gerakan dari tangan yang menyentuhnya itu. “Pergi lo, dasar setan! Gue berdoa sekarang, nih, biar lo kesakitan!” ancam Vella. “Pfft!” Vella mengintip dengan sebelah matanya ketika mendengar suara tawa tertahan. “Pak Frivan?” “Bukan. Setan.” Vella merengut. “Dasar penakut!” “Nggak, Pak! Tadi Yaya bilang ada yang liatin saya dari dinding itu,” ujar Vella menunjuk dinding. Dia segera menarik kembali tangannya denga cepat. “Emang ada, sih.” “Pak!” Pak Frivan terkekeh pelan. Dia meraba kening Vella yang hangat. “Kenapa masuk kuliah kalau sakit, sih? Kalau gini, kamu yang rugi.” “Ish, saya lagi sakit, Pak. Jangan diomelin, dong!” “Memangnya saya sedang omelin kamu? Kamu tidak peka, ya, sama nada khawatir saya?” Vella memutar bola matanya. “Kamu masih ada kelas?” Vella menatap jam dinding. “Udah nggak ada, Pak. Tadi jam terakhir Pak Darmono.” “Gimana perasaan kamu? Sudah baikan? Saya antar pulang.” “Nggak usah, Pak. Nanti ada yang lihat.” “Nggak akan, ayo,” ujar Pak Frivan membantu Vella bangun. Vella terpaksa bangun. Gadis itu meringis ketika merasa ngilu di kepalanya. Dia perlahan turun dari brankar dan berjalan pelan bersama Pak Frivan keluar dari poliklinik. Semenit setelah kepergian mereka, teman-teman Vella muncul dari ujung koridor. Suasana yang sepi langsung riuh akibat celotehan mereka. “Eh, Vella mana?” tanya Jasmine. “Hah? Tadi dia baring di situ, kan?” tunjuk Sheva pada brankar tempat Vella tidur. “Iya, gue juga tahu. ‘Kan kita yang ngangkat dia tadi.” Haira menatap meja perawat yang kosong. “Perawat yang bertugas juga nggak ada,” komentar Bian lalu memeluk tubuhnya sendri, “apa cuma gue yang ngerasa ini ruangan serem?” “Gue juga rasain,” celetuk Aldo. “Serem kata lo!” sembur Jasmine. “Tadi Yaya duluan ke sini, kan? Tuh, cewek juga mana?” “Apa?” Kehadiran Yaya membuat mereka berjengit kaget. Perasaan mereka tadi tak mendengar suara langkah kaki. “Ve-Vella mana?” tanya Sheva belum lepas dari keterkejutannya. Yaya mengusek lehernya dengan santai seolah merasa pegal. Dengan tak acuh, dia menunjuk ke arah belakangnya. “Vella ud ah pulang.” “Sama siapa?” “Ada,” ujar Yaya lalu menguap lebar. Gadis itu berbalik kembali menuju kelas meninggalkan teman-temannya yang masih dilanda kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD