“Hai, Novella!”
Vella berbalik dan menatap seorang pemuda yang beranjak menghampirinya. “Hai, Kak. Sudah Vella bilang, cukup panggil ‘Vella' aja, nggak usah panjang-panjang.”
“Aku tidak mau. Aku lebih suka manggil kamu seperti itu,” ujar pemuda itu tersenyum manis.
Vella tersenyum kecil. Mereka tengah berdiri di sebuah taman, tempat mereka selalu berduaan. Kali ini, pemuda di samping Vella membawa dua cup es krim. Satu cup diberikan kepada Vella. Gadis itu lantas memakannya.
Pemuda itu membawa Vella ke kursi yang ada di pinggir taman. Keduanya duduk di sana sembari menikmati matahari yang sebentar lagi terbenam.
“Kak, bagaimana dengan mama Kakak? Beliau masih tidak menyukaiku?” tanya Vella dengan wajah menunduk.
Pemuda itu menatap Vella lalu meletakkan es krim-nya di sampingnya. Tangannya menepuk kepala Vella dengan pelan. “Mama bukannya tidak suka sama kamu, kok. Mama cuma belum bisa terima aja kedekatan kita.”
“Memangnya apa yang salah, sih, dari hubungan kita? Apa karena aku baru SMP sementara Kakak sudah kuliah?”
Pemuda itu terdiam.
“Kakak benar – benar suka sama aku, ‘kan?” tanya Vella menatap pemuda itu.
“Iya, Novella. Kakak benar – benar menyukaimu. Masalah Mama-ku nggak usah kamu pikirin. Lama – lama, Mama pasti nerima, kok, hubungan kita,” hibur pemuda itu.
Vella menatap beberapa saat pemuda itu. “Kakak janji akan tetap suka sama aku?”
“Iya, aku janji.”
“Walaupun aku masih SMP.”
“Kakak janji akan terus mempertahankan hubungan kita?”
“Iya, Novella, aku janji.”
Vella mengacungkan jari kelingkingnya. “Beloven?”
“Hah?” Pemuda itu menganga bingung.
“Ah, beloven itu bahasa Belanda dari kata janji. Aku belajar bahasa Belanda waktu tahu Mama-ku punya darah Belanda,” ujar Vella terkikik geli, “jadi, beloven?” ulangnya dengan nada berharap.
Pemuda itu lantas tersenyum geli. Dia mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking Vella.
“Beloven.”
Vella menatap mata pemuda itu dengan binar mendamba. Namun, perlahan – lahan wajah pemuda itu mengabur dari pandangannya. Tak lama kemudian, gelap gulita menyelimutinya.
Vella buru – buru kembali membuka matanya dan yang dia lihat hanyalah langit – langit kamarnya. Gadis itu terbangun dari tidur dan meraup udara dengan rakus.
Ketika dia menyugar rambutnya, tangannya menjadi agak basah. AC menyala dalam kamarnya namun ternyata dia tetap saja keringat. Pastilah mimpi tadi yang membuatnya keringat begini.
Sembari mengusap peluh dari rambut, kening dan lehernya, Vella kembali mengingat mimpinya tadi.
“Beloven,” gumamnya menatap dinding kamarnya.
“Pemuda itu,” gumamnya lagi. Wajah bantalnya berubah pucat. Itu pemuda yang ada di mimpi buruknya. Pemuda yang tidak memiliki wajah. Dia masih ingat bagaimana postur tubuh pemuda yang ada di mimpi buruknya dan itu sama dengan postur tubuh pemuda yang ada di mimpinya barusan.
Tapi, kali ini pemuda itu memiliki wajah dan tak ada yang aneh pada pemuda itu. Namun, dia tak bisa mengingat wajah pemuda itu. Semakin Vella berusaha mengingatnya, wajah pemuda itu makin mengabur.
Keningnya mengerut ketika rasa pusing mulai menyerang kepalanya. Vella berhenti memaksakan otaknya untuk mengingat mimpinya tadi dan memutuskan kembali berbaring.
Namun, Vella tetap saja bertanya – tanya siapa pemuda dalam mimpinya itu. Apa dia pacarnya? Dalam mimpi, mereka membicarakan mengenai hubungan. Vella menelengkan kepalanya. Ah, rasa – rasanya dia tak pernah memiliki pacar. Tapi, bisa saja pemuda itu memang pacarnya dan sekarang Vella melupakannya.
Akhirnya, Vella bertekad mencari tahu semuanya. Dia tak bisa membiarkan mimpi – mimpi itu menyiksanya. Lagi pula, dia sudah berjanji pada pemuda itu. Setidaknya, dia harus bertemu pemuda dalam mimpinya itu. Vella ingat tadi dalam mimpinya, pemuda itu sudah kuliah. Sekarang bagaimana kabar pemuda itu? Mungkin sudah berkeluarga? Apa mungkin Vella dan pemuda itu putus sebelum Vella kecelakaan?
Vella berguling di tempat tidurnya sembari mengerang frustasi. Kenapa semuanya makin terasa rumit, sih?
Gadis itu memperbaiki tidurnya yang tadi tengkurap sekarang menyamping. Setelah terdiam beberapa saat, bibir gadis itu membentuk bulan sabit. Dari pada diam dan menyusahkan otaknya memikirkan ini semua, mending dia bergerak berusaha untuk mengorek semuanya. Kini, Vella tahu harus berkuliah di mana.
Dia akan membicarakan hal ini pada orang tuanya besok.
===
“APA?!”
Vella meringis sembari mengorek telinganya mendengar teriakan Dio. Kini, dia dan keluarganya tengah berada di ruang keluarga membicarakan perihal kuliahnya.
“Tidak, tidak! Papa tidak ijinin kamu kuliah di sana!” larang Dio tegas.
“Tapi, Pa, Vella pengen kuliah di sana. Papa sendiri yang bilang, Vella bisa pilih sendiri mau kuliah di mana. Ya itu, Vella mau kuliah di Jakarta,” pinta Vella dengan wajah memohon setengah mati.
“Kamu bisa kuliah di mana pun kamu mau, asal jangan di Jakarta. Papa gak setuju,” tegas Dio mata tajamnya.
Mentari yang duduk di sampingnya mengelus pundak pria itu. “Tenang, Mas. Jangan terlalu emosi begitu. Nanti tekanan darah kamu naik,” tegur wanita itu.
“Pa, please, lah,” mohon Vella lagi.
Gadis itu menyatukan telapak tangannya di depan dadanya dan menatap papanya penuh permohonan.
“Ma, bujuk Papa, dong,” pinta Vella beralih ke Mentari.
Mentari hanya terdiam, namun wanita itu menatap suaminya dengan ekspresi yang tak bisa dibaca oleh Vella namun sepertinya dimengerti oleh Dio. Pria itu menatap sejenak istrinya dan memalingkan wajahnya dengan helaan napas kasar.
“Tidak bisa. Papa tetap tidak setuju kamu ke sana. Di Jogja banyak, kok, kampus yang bagus. Kalau kamu mau, Papa bisa pilihin yang paling baik untuk kamu,” ucap Dio mulai melunak.
Tangan Vella perlahan turun di sisi tubuhnya. Dia menatap papanya dengan raut kecewa.
“Vella nggak mau. Maunya kuliah di Jakarta,” bantah gadis itu keras kepala.
“Kamu ini dibilangin keras kepala sekali, sih, Vel? Memangnya apa bedanya Jakarta dengan Yogyakarta?” tanya Dio mulai emosi.
Mata Vella terasa perih. Tangan gadis itu mengepal emosi. “Kapan, sih, Papa bebasin Vella buat milih? Memangnya salah kalau Vella mau kuliah di Jakarta? Setuju aja, kok, susah amat! Dari dulu Papa selalu kekang Vella. Rasanya nggak enak banget, Pa. Vella tahu Papa pengen lindungi Vella dari pergaulan tidak baik, tapi kak Varda nggak segitunya juga Papa kekang seperti Vella!” ucap Vella dengan suara bergetar.
Varda yang mendengar namanya disebut mengerjap bingung.
“Vella mau keluar jalan – jalan sama teman, Papa larang. Sedangkan Kak Varda mau ke mana aja diijinkan. Vella sampai sekarang belum tahu nyetir mobil, Papa bilang belum waktunya. Terus, Kak Varda masuk SMA udah diajarin, itu apa, hah? Vella tahu Papa khawatir karena Vella pernah kecelakaan, tapi kalau begini Vella juga terbebani, Pa!”
“Vella, jaga mulut kamu!” tegur Mentari tegas.
Vella menatap Mentari dengan mata memerah. “MAMA SAMA AJA DENGAN PAPA!” teriaknya emosi lalu berlari naik ke kamarnya.
Ketiga orang yang masih tertinggal di bawah menatap kepergian Vella. Mereka terkejut ketika mendengar suara pintu dibanting dengan keras.
“Hah, anak itu keras kepala sekali,” keluh Dio memijit kepalanya.
“Mas, menurut aku, Vella ada benarnya juga. Kamu seharusnya nggak terlalu protektif sama dia,” ujar Mentari lembut. Wanita itu beralih menatap putri pertamanya, “Varda, kamu susulin adikmu, ya. Temani dia dulu sampai tenang,” suruhnya.
Varda mengangguk lalu naik ke kamar adiknya.
Mentari menatap lembut suaminya. “Mungkin kamu seharusnya mengijinkan Vella kuliah di mana pun dia mau, Mas.”
“Iya, iya, aku setuju dia mau kuliah di mana juga boleh, asal jangan di Jakarta. Lagi pula, ngapain, sih, itu anak mau banget ke sana.”
“Kamu takut kalau dia ketemu sama orang itu?” tanya Mentari tenang.
Dio menatap istrinya lalu mengangguk pelan. “Iya, aku takut. Kehidupan dia di sini sudah lebih baik. Vella tidak perlu mengingat bocah itu lagi.”
“Mungkin sekarang dia bukan bocah lagi,” ucap Mentari.
“Hah, terserah, pokoknya aku tidak mau kalau bocah itu bertemu dengan Vella lagi. Gara – gara dia, kita hampir kehilangan satu anak,” gerutu Dio.
“Sebaiknya, kamu pikir – pikir lagi, ya, Mas,” bujuk Mentari tersenyum kecil.
===
Varda berdiri di depan sebuah pintu. Di pintu itu tergantung papan nama bertuliskan ‘Novella Clarine Starillo'.
Dengan ragu, perempuan itu mengetuk pintu kamar adiknya. Tak ada jawaban dari dalam. Dia akhirnya berinisiatif membuka pintu yang tak dikunci itu.
Matanya menatap isi kamar adiknya. Vella tengah baring tengkurap di tempat tidurnya dengan bahu bergetar. Perlahan, Varda mendekatinya dan duduk di bibir tempat tidur. Dia mengelus pelan kepala adiknya sampai gadis itu menoleh.
“Ngapain Kakak ke sini?” tanya Vella dengan suara serak.
“Mau temenin lo,” sahut Varda.
“Kenapa Vella harus ditemenin? Jadi, sekarang biar dalam rumah, Vella tetep ditemenin, gitu?” tanya Vella menyindir.
“Bukan gitu, Vel. Papa itu bener – bener sayang sama lo. Gue ngerti perasaan lo, tapi gue juga nggak bisa nyalahin Papa. Lo dulu hampir mati makanya Papa sekarang makin berhati – hati kalau soal lo. Lo nggak tahu aja, Papa mau jantungan pas lo nggak bangun – bangun, tahu, nggak.”
“Kasar banget, sih, ngomongnya pakai hampir mati segala,” gerutu Vella.
Varda meringis geli. “Makanya, jangan bentak Papa kayak tadi, ah. Ntar lo sebelas dua belas sama Malin Kundang.”
Vella mendengus lalu beranjak duduk. Gadis itu menatap kakaknya antusias. “Tapi, kenapa cuma Vella aja yang diginiin. Kenapa Kak Varda nggak? Seharusnya, perlakuan Papa sama kak Varda juga sama seperti Vella.”
“Intinya, Papa sayang sama lo, Vel. Lagi pula, kamu, kok, ngotot banget mau kuliah di Jakarta?” tanyanya heran.
“Ya ... Vella mau aja, Kak. Itu ‘kan tempat Vella lahir. Memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Ya, tidak, sih. Tapi, kamu nggak ada alasan lain lagi?”
Vella bungkam sejenak lalu menggeleng pelan. Untuk saat ini, dia belum ingin memberitahu alasan sebenarnya ngotot ke Jakarta.