“Saya mau kamu jadi pacar saya.”
Vella diam-diam mencubit pelan pahanya. Oke, ini bukan halusinasi. Ini benar-benar nyata.
Apa Pak Frivan benar-benar serius mengatakan itu. Apa pria itu juga menyukainya? Tidak. Vella tak boleh percaya begitu saja. Biarpun dia juga menyukai dosennya itu, dia harus tetap menahan diri. Jangan sampai Pak Frivan hanya mempermainkannya.
Sebentar.
Kenapa ini rasanya tidak asing? Suasana ini, tempat ini dan es krim di tangannya. Vella tiba-tiba saja merasa pusing. Dia benar-benar familiar dengan suasana ini.
Ya!
Vella kini ingat. Dia pernah duduk bersama pemuda yang selalu ada di mimpinya itu di sini. Semuanya terasa sama. Mereka duduk bersama setelah lari-lari sore sembari menikmati es krim dengan suasana matahari yang hampir tenggelam. Tapi, wajah pemuda itu masih mengabur.
Vella memiringkan kepalanya sedikit. Berusaha menyamakan bentuk wajah pemuda itu dan wajah Pak Frivan.
“Pak, apa kita pernah ketemu sebelum ini?” tanyanya dengan nada lirih.
Pak Frivan meneguk ludahnya. “Tidak.”
Vella langsung menunduk dan menggigit bibirnya. “Ah, begitu, ya, Pak.”
Vella memalingkan wajahnya dengan helaan napas yang terdengar jelas. Kenapa juga dia harus berharap pemuda itu adalah Pak Frivan. Kalau pemuda itu memang Pak Frivan, pasti sudah sedari dulu laki-laki itu memberitahunya.
“Novella, kamu belum menjawab pertanyaan saya.”
Jantung Vella kembali berdegup kencang. Dia tak berani menoleh pada Pak Frivan. Gara-gara perasaan familiar yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya, dia melupakan fakta bahwa Pak Frivan baru saja menyatakan perasaannya.
Astaga, gue kudu jawab apa? Batin Vella menjerit.
Vella menahan napas ketika Pak Frivan menyentuh dagunya dan membawanya agar menatap pria itu. Vella spontan menutup matanya.
“Jawab pertanyaan saya, Novella.”
“Pak, itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.”
“Oke, kali ini saya yang salah. Tapi tolong buka mata kamu dan lihat saya.”
“Saya takut dihipnotis Bapak,” jawab Vella ngaco.
“Kamu kira saya tahu yang begituan? Buka mata kamu dan jawab pernyataan saya.”
Vella mencebik. Gadis itu perlahan membuka sebelah matanya.
“Pfffttt!” Pak Frivan memalingkan wajah menahan tawa.
Melihat itu, mata Vella langsung terbuka sempurna. Dia menatap Pak Frivan dengan kesal.
“Bapak kenapa ketawa?” tanyanya jengkel.
“Kamu lucu sekali,” ujar Pak Frivan melepas tawanya.
“Hah, jadi tadi Bapak cuma main-main doang pas bilang suka sama saya?”
Pak Frivan buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan! Saya benar-benar suka sama kamu, Novella.”
Vella langsung tersipu malu. Gadis itu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. “Terus, Bapak kenapa ketawa?”
“Ekspresi wajah kamu lucu sekali. Itu saja.”
“Ah, begitu, ya.”
“Hm, sekarang saya tagih jawaban kamu.”
Vella melirik Pak Frivan. Hatinya berteriak mendukungnya agar mengatakan ‘ya’, tapi pikirannya membujuknya agar jual mahal dulu.
“Novella, ya atau tidak?”
“Ya?” Vella mengangkat kepalanya.
Pak Frivan tersenyum puas. Pria itu menepuk kepala Vella dengan gemas. “Jadi, kamu sekarang milik saya, Novella.”
“E-eh? Sa- saya belum jawab, Pak!” bantah Vella.
“Ah, masa, sih? Tadi kamu bilang ‘ya’, tuh,” tutur Pak Frivan geli.
Vella mengingat kembali dan meringis cemberut. Dia terkena jebakan Pak Frivan.
“Tapi, Bapak sejak kapan suka sama saya?” tanya Vella heran.
“Sejak kita pertama ketemu,” jawab Pak Frivan menatapnya.
“Ah, waktu yang saya ngira Bapak itu mahasiswa terus nggak sengaja injak kaki Bapak?”
Pak Frivan hendak mengucapkan sesuatu namun tertahan. Pria itu akhirnya hanya mengangguk geli.
“Kenapa saya tidak bisa tahu, ya, Pak?”
“Laki-laki memang pintar menyembunyikan perasaannya.”
“Tapi, selama ini Bapak kesannya jadiin saya babu, tahu!”
“Ita taktik saya biar bisa dekat terus sama kamu.”
“Apa?” Mata Vella membulat. “Jadi, ancaman nilai merah itu cuma bohongan aja?”
Pak Frivan mengangguk.
“Sikap nggak sopan itu sebenarnya nggak ada?”
Pak Frivan mengangguk mengiyakan.
“Jadi, selama ini gue jadi PJ dan hampir stres berat gara-gara taktik Bapak ini?”
“Betul sekali.”
“Niir, jadi selama ini gue——“
“Heh! Saya masih dosen kamu, ya. Jangan ngomong gitu di depan saya.”
===
Vella turun dari mobil dengan wajah berseri-seri. Dengan langkah riang, dia memasuki HU. Sheva yang baru saja tiba langsung turun dari taksi dan mengejar gadis itu.
“Woy, Vel! Seneng banget kayaknya lo! Kenapa? Cerita, dong!” pinta Sheva memeluk lengan Vello.
Vella melirik gadis itu misterius dan mengendik geli.
“Ish, cerita, dong!” paksa Sheva.
“Lo sendiri juga belum cerita apa-apa sama gue dan yang lain,” ujar Vella ambigu.
Gadis itu berhenti dan menatap Sheva datar. Mata abu-abu gelap Sheva membalas tatapan itu dengan binsr bingung.
“Cerita apa?”
“Hih, pura-pura nggak tahu lagi!” ketus Vella lalu menaiki tangga.
Sheva mengerutkan keningnya dan buru-buruh menyusul Vella. “Cerita apa, sih?”
“Pacar bule lo itu!”
Sheva mematung. Gadis itu menahan Vella agar berhenti. “Kok, lo bisa tahu?” tanyanya tak percaya.
“Gue lihat status lo semalam.”
“Eh, gue, ‘kan, udah privasi,” gumam Sheva.
Mata Vella langsung melotot mendengarnya. Gadis itu meneruskan langkahnya dengan kaki dihentak keras.
Sementara Sheva tertinggal di belakang sembari mengumpati dirinya sendiri. Kenapa dia harus keceplosan, sih?
Vella sampai di kelas dengan senyum tertahan. Gadis itu buru-buru meletakkan tasnya di meja dan menyuruh teman-temannya berkumpul.
“Guys, kalau Sheva muncul liatin, ya!” ucapnya antusias.
“Emangnya kenapa, sih?” tanya Haira.
“Udah, turutin aja. Ntar kalian ngerti, kok!”
“Eh, tapi kasih tahu——“
Ucapan Bian terpotong karena Vella melihat Sheva dari jendela sedang berjalan menuju kelas.
“Ayo, cepat-cepat kembali ke tempat kalian masing-masing,” suruh Vella buru-buru.
Mereka semua bergegas ke tempat masing-masing dan pura-pura melakukan kegiatan. Ketika Sheva masuk ke dalam kelas, mereka semua memulai akting. Menatap Sheva dengan wajah datar. Terlebih lagi Yaya. Akting tidak akting, tatapan cewek itu benar-benar menusuk.
“Kok, kalian lihat gue gitu, sih?” tanya Sheva takut-takut.
Dia berjalan pelan menuju tempatnya dan duduk dengan wajah tertekuk. Teman-temannya masih mempertahan akting masing-masing.
Sheva terdiam beberapa saat dan akhirnya menghela napas kasar. Gadis itu meremas jari-jarinya yang saling bertautan.
“Iya, iya, gue minta maaf karena nggak bilang ini sama kalian. Cowok yang ada dalam status gue itu kemarin emang pacar gue. Kita udah pacaran cukup lama tapi LDR karena dia lanjut pendidikan di Jerman. Udah itu aja. Sorry, ya. Jangan lihat gue gitu, dong! Kalian jadi mendadak nyeremin gitu!”
Akting mereka hancur sudah. Semuanya saling tatap dengan kebingungan kecuali Vella.
“Maksud lo?” tanya Bian tak mengerti
“Pacar?” beo Aldo.
“Gue nggak ngerti,” tutur Jasmine.
“Eh?” Sheva menatap semuanya dengan bingung.
“Maksud lo ... pacar? Lo punya pacar?” tanya Haira dengan mata membola.
“Kalian baru tahu?” Sheva balik bertanya dengan wajah bingung.
“Ya,” sahut Yaya pendek.
“Tapi, tadi ....”
“Ah, itu,” Vella menaik-turunkan alisnya dengan usil, “gue cuma nyuruh mereka gitu.”
“Maksud lo?” tanya Jasmine tidak ngerti.
“Si Sheva, tuh, udah punya pacar tapi rahasiain dari kita-kita. Tadi malam gue dapet status w******p-nya. Kayaknya kontak gue lupa dia privasiin, deh,” ujar Vella tertawa pelan.
“Gue nggak lihat statusnya,” ujar Bian melirik tajam Sheva.
“Ya, iyalah! Sheva privasiin statusnya itu,” ujar Vella gemas.
“Ooh, jadi ceritanya ini lo sembunyi-sembunyi punya pacar?” tanya Haira.
“Heh, gue sama dia udah lama pacaran, ya,” bantah Sheva.
“Kenapa lo nggak bilang sama kita?”
“Emangnya harus?”
“Ya, nggak, sih. Tapi, setidaknya lo bilanglah. Lo nggak tahu, ya, ada kating yang diam-diam suka sama lo. Mana gue udah bilang lo jomblo lagi. Ntar, kalau dia udah siap buat ngatain perasaan ke lo dan tahu sebenarnya? Bisa potek hatinya dia,” ujar Haira panjang lebar.
Tanpa Sheva ketahui, Vella sudah membagikan screenshot foto pacar Sheva itu ke grup mereka.
“Njir, bule! Tampan lagi!” jerit Jasmien menggigit jarinya.
“Ampun, dah, gue jadi insinyur,” lirih Bian.
“Insecure, b**o!” sewot Aldo.
“Buset, dah, lo nggak suka cowok lokal, ya, Shev? Nih, cowok bulenya kental amat,” celetuk Haira.
“Gue suka cowok bule,” ujar Sheva tersenyum miring.
“Lo gimana, Jas? Masih bertahan sama Pak Frivan?”
“Tetap, dong! Pak Frivan tetap satu-satunya!” sahut Jasmine lebay.
Mendengar itu, Vella menahan rapat-rapat bibirnya. Jangan sampai semburan panas nan menyakitkan keluar dari bibirnya. Pak Frivan itu miliknya bukan milik bersama lagi!
Melihat itu, Yaya tersenyum kecil.
Kejadian yang ditunggu-tunggunya sudah tiba.