Lari Sore & Pernyataan

1153 Words
Vella bangun dari tidurnya dan meraup napas banyak-banyak. Gadis itu memegang dadanya yang naik turun dengan cepat. Vella membuang napasnya dan berbaring kembali. Kilas balik tentang kecelakaannya kembali mendatanginya. Dia memang sudah terbiasa dengan mimpi itu. Namun, rasa sakit yang dirasakan tubuhnya saat terlempar dan bau anyir darah yang menghampiri hidungnya terasa sangat nyata. Vella menatap kamarnya yang diterangi matahari berwarna keemasan. Cahaya sore sang surya menembus celah ventilasi kamarnya, membuat kamarnya seperti berada dalam keremangan. Vella menatap jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul lina sore. Dia kembali bangun dan meringis pelan. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, seolah rasa sakit dari masalalunya datang menghantuinya. Hampir tiga jam dia tidur siang. Momen ini susah sekali didapatkan oleh Vella sejak masuk kuliah. Kalau bukan karena pulang sore, ya, mengerjakan tugas. Karena itu, saat mendengar berita Pak Darmono, dosen Psikologi, tidak masuk. Dia langsung ambil langkah seribu pulang ke rumahnya. Kakinya melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah setelah melihat beberapa gadis seumurannya lari-lari sore. Seingatnya, dia belum pernah lari-lari sore di sekitar rumahnya. Entah dia pernah melakukannya saat SMP atau tidak, tapi Vella merasa pernah melakukannya walaupun tak ingat kapan. Lokasi rumahnya memang sangat bagus dijadikan tempat untuk lari-lari sore. Selain karena jarang kendaraan yang lewat, suasana di sana juga terasa sejuk karena banyaknya pepohonan cemara di pinggir jalan. Setahu Vella, taman sekitar sini juga memiliki sejarah indah mama dan papanya. Bukan hanya orangtuanya, Om Bayu dan Tante Yuri serta Om Raja dan Tante Shinta juga sama-sama memiliki sejarah indah di sini. Katanya tiga pasangan itu memulai hubungan masing-masing di taman itu. Oh, manis sekali, pikir Vella. Omong-omong, Vella belum mendatangi teman-teman orangtuanya itu sejak ada di sini. Dia juga bahkan belum bertemu dengan Raska dan Clay. Vella mengganti piyamanya dengan baju kaos yang dibalut sweter dan celana training. Dia meraih ikat rambutnya dan mencepol rambutnya agar tak mengganggunya saat lari sore nanti. Sembari memasang earphone ke telinganya dan menyambungkannya di ponselnya, Vella menuruni tangga dan menghampiri Ani yang baru masuk rumah dengan sekantong belanjaan bahan dapur di tangannya. “Mau lari-lari sore, ya, Non?” tanya Ani menyapa. “Iya, Ni. Mau ikutan?” Ani langsung menggeleng. “Nggak, Non. Saya mau masak untuk makan malam.” “Lain kali ikut, ya!” ajak Vella menepuk pundak Ani. Ani mengangguk kecil dan pergi ke dapur. Vella mengambil sepatu dan kaos kaki berwarna biru muda dan bergegas memakainya. Pak Burhan yang membersihkan isi mobil langsung mengangkat alisnya ketika melihat Vella keluar dari rumah dengan outfit seperti itu. “Mau lari-lari sore juga, Non?” “Juga?” beo Vella. “Ah, tadi cowok yang pernah jemput Non Vella juga lari-lari sore di sekitar sini.” Vella berpikir sejenak. Cowok? Cowok yang mana, ya? Sudah berapa cowok yang datang ke rumahnya? Aldo? Bian? Halah, mustahil! Dua cowok itu mager banget kalau masalah olahraga. Vella langsung membulatkan mata. “Yang datang malam itu, Pak?” tanyanya kaget. “Iya, Non. Yang ajak Non Vella makan malam waktu itu. Ganteng, ya, Non? Udah resmi hubungannya?” tanya Pak Burhan nyengir lebar. Vella tertawa kikuk. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia baru sadar, Pak Burhan mau pun Ani belum tahu siapa sebenarnya Pak Frivan. Bagaimana, ya, kira-kira reaksi mereka kalau tahu Pak Frivan itu dosen? Vella mengerutkan keningnya. Kenapa dia harus memikirkan itu? Harusnya dia sekarang bertanya-tanya kenapa Pak Frivan ada di sekitar sini. Rumah pria itu, ‘kan .... “Eh, gue, ‘kan, emang belum tahu rumahnya di mana.” “Kenapa, Non?” “Ah, nggak apa-apa, Pak. Btw, Bapak ketemu dia di mana, ya?” “Tadi di jalan pas pulang anter Ani beli. Tidak jauh dari sini, kok, Non.” “Oh, gitu ya, Pak. Saya pergi dulu, ya, Pak!” pamit Vella dan berlari keluar. Dia berbelok ke kiri menuju taman. Jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar 500 meter dari rumahnya. Vella mempererat earphone di telinganya. Bibir mungilnya menyenandungkan lagu yang didengarnya. Sesekali, Vella mengedarkan pandangannya, berharap menangkap sosok Pak Frivan. Namun, sampai di taman pun dia tak melihatnya. Vella masuk ke taman dengan napas ngos-ngosan. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di tengah taman. Suasana di sana cukup ramai. Banyak orang yang beristirahat di sana saat lelah berolahraga. Di bagian sudut, beberapa orang mengerumuni pedagang kaki lima yang menjual makanan ringan dan air mineral. Vella melepas earphone dari telinganya dan mengipasi wajahnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat memerah karena kecapean. Dia tak terbiasa berolahraga. Napasnya juga belum teratur. Dia merasa haus ketika seorang gadis melewatinya sembari meminum air. Vella merogoh kantong celananya dan mendesah lega ketika menemukan selembar uang lima ribu dari sana. Untung saja, dia bawa uang. Vella bergegas membeli sebotol air mineral dan kembali kursi tadi. Sembari menenggak minumannya, dia menatap matahari yang sebentar lagi tenggelam. Taman ini juga tempat yang bagus untuk menikmati sunset. “Oh, astaga!” Vella memekik kaget ketika sebuah benda dingin tiba-tiba saja menempel di pipinya. Dia menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya dengan netra membulat. “Pak Frivan?” Pria itu mendengus pelan. Dia berjalan memutari kursi dan duduk di samping Vella. Di tangannya ada dua cup es krim. Dia menyerahkan satu cup untuk Vella yang diterima dengan senang hati. “Terima kasih, Pak!” “Sama-sama.” “Saya baru lihat kamu lari-lari sore di sini. Kamu pasti baru pertama kali, ‘kan, lari-lari sore di sini?” tuding Pak Frivan. Vella yang sedang membuka tutup es krimnya mencebik. “Yee, Bapak asal tuduh aja. Saya pernah, kok, ke sini. Tapi, saya nggak ingat,” ujar gadis itu mulai memakan es krimnya. “Maksudnya?” “Saya nggak ingat pernah ke sini, tapi saya rasa sudah pernah lari-lari sore di sini.” “Saya belum mengerti.” Vella langsung menepuk jidatnya. “Oh, iya, saya lupa, astaga. Ceritanya panjang, Pak. Tapi intinya, saya hilang ingatan. Saya nggak ingat masa-masa SMP. Aneh banget, saya nggak ingat yang bagian SMP aja.” “Kamu ... amnesia?” “Iya, Pak. Ah, nggak usah bahas itu, deh,” ujar Vella tertawa kering. “Kalau bahas yang itu, bisa-bisa kita duduk di sini sampai besok pagi.” Pak Frivan tertegun. Tangannya membuka tutup es krimnya. Sembari melahapnya, pria itu melirik Vella yang juga asyik menikmati es krimnya sembari tersenyum menatap matahari yang hampir tenggelam. Bibir Pak Frivan menyunggingkan senyum manis. Matanya menatap sekelilingnya seolah teringat sesuatu. “Saya jadi bernostalgia karena suasana ini,” gumamnya memandang es krim di tangannya. “Bapak bilang apa? Saya dengernya kurang jelas,” tanya Vella dengan wajah lugu. Pak Frivan terpaku sejenak melihat raut wajah itu sampai akhirnya mengerjap dan menggeleng kecil. “Ah, tidak apa-apa, Novella. Kamu suka es krimnya?” Vella mengangguk erat. “Cewek mana, sih, yang nggak suka es krim, Pak!” Pak Frivan menunduk dengan senyum tertahan. Laki-laki itu merubah gaya duduknya menghadap ke Vella. “Novella?” “Iya, Pak?” sahut Vella. Gadis itu menoleh dan mengerjap bingung ketika Pak Frivan menatapnya dengan dalam. Detak jantung gadis itu mulai berpacu. Rasa hangat menjalari seluruh pembuluh darah Vella. Gadis itu bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari Pak Frivan sekali saja. Netranya terpaku pada bola hitam yang indah itu. Sebegitu berpengaruhnya tatapan Pak Frivan bagi Vella. “Saya mau kamu jadi pacar saya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD