08. Batas Kesabaran

2192 Words
Rasanya puas bisa melampiaskan rasa kesalnya kepada wanita kurang ajar itu. Tapi setelahnya Yasmine merasa menyesal, dia yakin setelah ini akan banyak omongan tidak enak mengenai dirinya di kantor ini. “Ya ampun Yasmine, bisa-bisanya kamu berantem sama klien kamu sendiri!”―rutuk Yasmine dalam hati. Jika saja waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan bertindak gegabah seperti tadi. “Di apotek cuma ada salep ini aja, plesternya nggak ada,” ucap Lila dengan menenteng kantong plastik di tangannya. Pertengkarannya dengan Diana di ruang rapat tadi memang telah membuat heboh seisi kantor. Tepat setelah dirinya menampar Diana, wanita itu bersikap seperti orang kesetanan. Diana beralih menyerang dirinya membabi buta hingga pipinya pun tak luput dari sasaran wanita gila itu. Beberapa bekas cakaran tampak jelas di pipi kanan milik Yasmine, hal itu tentu membuat geram Lila―sahabat Yasmine. “Ck, kalau nggak pinter berantem itu nggak usah sok-sokan kayak tadi! Untung pipi lo cuma dicakar aja sama mak lampir itu, kalau sampai ditonjok gimana?!” “Nggak mungkin sampai segitunya lah, La,” ucap Yasmine sembari memutar bola matanya malas. Sahabatnya satu ini memang sangat berlebihan. Dia tau Diana tadi memang terlihat gila ketika menyerangnya, tapi dia yakin wanita itu tidak akan bertindak sejauh itu. “Dia itu perempuan gila! Lo nggak liat gimana matanya waktu ngelihat lo tadi?! Bahkan Pak Theo aja kewalahan buat nahan dia.” Ya, Yasmine memang sempat ketakutan tadi. Diana menyerangnya membabi buta. Wanita itu menjambak rambutnya hingga menyebabkan beberapa helai rambutnya rontok―dia bahkan masih merasakan nyeri di kepalanya sampai sekarang. Tak sampai di situ, Diana juga mencakar wajahnya dengan kuku-kuku panjang milik wanita itu. Disana Yasmine begitu panik hingga akhirnya dia berteriak untuk meminta tolong. Untungnya ada Pak Theo yang langsung sigap membantunya yang kemudian diikuti dengan para karyawan yang lain. Jika saja saat itu tidak ada Pak Theo dan karyawan lain, mungkin saja Yasmine sudah habis oleh wanita itu. Memikirkan kemungkinan tersebut membuat bulu kuduk Yasmine seketika merinding. “Hei, malah bengong!” tegur Lila “So-sori.” Melihat respon Yasmine yang terlihat gugup membuat Lila mengerti, perempuan di depannya ini pasti begitu shock dangan kejadian yang menimpanya hari ini. Lila bahkan bisa melihat kalau tubuh sahabatnya ini terlihat bergetar seolah menahan takut. “Lo pasti takut,” ucap Lila sembari menggenggam tangan milik Yasmine. “Aku baik-baik aja.” Inilah kebiasaan Yasmine yang begitu dibenci Lila, selalu mengatakan dia baik-baik saja padahal kenyataannya tidak. “Nggak usah bohong.” “Sini biar gue bantu ngasih salep,” ucap Lila sembari mendekatkan diri ke arah Yasmine. “Aku bisa―” “Berhenti bersikap seolah lo baik-baik aja, Yas!” bentak Lila. Dia tidak suka Yasmine yang terus bersikap seperti ini di depannya. Kalau boleh jujur, saat ini dia lebih suka melihat Yasmine yang menangis daripada tersenyum. Dia hanya ingin Yasmine jujur dengan perasaannya. Menangis jika memang terasa sakit. Dan tersenyum jika memang ada alasan untuk tersenyum. “Lo nggak harus selalu terlihat kuat, lo bisa nangis kalau memang rasanya sulit.” “Nggak ada alasan buat aku untuk nangis,” balas Yasmine. “Dasar keras kepala,” cibir Lila sembari mengoleskan salep untuk luka di pipi kanan Yasmine. “Biar aku pake sendiri―” “Biar gue aja! Bisa nggak sekali-sekali lo nurut sama gue?” Melihat Lila yang saat ini sudah terlihat begitu kesal, Yasmine pun akhirnya mengiyakan saja. Sebenarnya bukan maksud Yasmine untuk menolak segala kebaikan Lila. Hanya saja dia tidak ingin terlalu bergantung pada Lila. Semakin kesini Yasmine mulai menyadari sesuatu, bahwa suatu hari nanti Lila pasti juga akan pergi meninggalkannya. Suatu hari nanti perempuan itu pasti akan menikah sama seperti dirinya. Dan tidak selamanya Lila bisa terus menerus ada untuknya. Maka sekarang, dia pun mulai belajar untuk mengandalkan dirinya sendiri. Dia tidak mau bergantung pada siapapun. “Kenapa lo bisa berantem sama si Diana itu?” tanya Lila di tengah kegiatannya mengobati luka Yasmine. “Dia ngomong sesuatu yang enggak aku suka.” “Ngomong apa dia sampai bikin lo lepas kendali gini?” tanyanya heran. Lila tahu Yasmine luar dalam. Dia tahu sahabatnya ini tidak akan menyerang seseorang, kecuali jika memang orang itu sudah benar-benar keterlaluan. “Udahlah, aku nggak mau inget-inget itu lagi.” Dilihat dari ekspresi Yasmine saat ini, sepertinya perkataan Diana memang sudah sangat keterlaluan. Lila bahkan masih bisa melihat sorot sedih di mata Yasmine. “Udah beres. Salepnya lo simpen aja, jangan lupa pakainya yang rutin.” “Terus ini gimana ya, La?” “Apanya?” tanya Lila tidak mengerti. “Project buat gaunnya Diana jadinya gimana? Masa batal?” ujar Yasmine khawatir. Dilihat dari fatalnya pertengkaran mereka hari ini kecil kemungkinan project tersebut tetap dilanjutkan. Yasmine terlalu gegabah tadi, seharusnya dia bisa lebih bersabar lagi dalam menghadapi Diana. Ini adalah project penting pertamanya. Dia bahkan sudah begadang semalaman untuk meeting penting hari ini. Namun kini semuanya terancam gagal. “Lo masih mikirin itu?” “Gimana pun juga ini project penting pertamaku,” ucap Yasmine murung. “Sori Yas, gue nggak maksud gimana-gimana. Tapi setelah kelakuan Diana tadi emangnya lo yakin mau tetep ngelanjutin ini?” Mereka pun bertatapan dalam hening. Yasmine tau Lila kesal dengan perilaku Diana hari ini, begitu pun dirinya. Namun sejujurnya bagi Yasmine project itu lebih penting dibandingkan dengan rasa marahnya hari ini. Dia masih mau melanjutkan kerja sama ini jika memang masih ada kesempatan. “Yas, kamu bisa pulang setelah ini,” ucap Theo yang tiba-tiba saja muncul di ujung pintu pantry. Kehadiran Theo juga memutus aksi saling menatap antara Yasmine dengan Lila. “Tapi Pak, untuk―” “Untuk masalah project, kita bisa bicarakan besok. Sekarang kamu pulang dulu aja.” “Lila, kamu bisa antar Yasmine ‘kan?” tanya Theo yang beralih menatap Lila. “Bi-bisa, Pak,” jawab Lila gelagapan. “Oke, kalau begitu saya pergi dulu.” Kepergian Theo membuat ruangan kembali menjadi hening. “La, Pak Theo marah ya?” tutur Yasmine khawatir. “Kenapa marah?” tanya Lila dengan kening berkerut. “Ya karena aku udah nampar klien pentingnya, apalagi Diana juga teman baiknya Pak Theo.” “Seriusan?!” Jika memang benar begitu maka habis sudah riwayat sahabatnya ini. “Diana temennya si bos?” tanya Lila memastikan. “Iya, gimana dong ini?” Dia benar-benar merasa frustasi. Selain dibatalkannya project ini nanti, apakah Yasmine juga akan dipecat? “Lo siapin diri dari sekarang aja deh, Yas.” “Ma-maksudnya aku bakal dipecat gitu?” tanya Yasmine dengan tampang pucatnya. Yasmine masih sangat mencintai pekerjaannya, dia tidak mau dipecat. “Gue nggak tau, tapi semoga aja enggak. Mulai sekarang lo coba baik-baikin si bos aja deh pokoknya.” Dengan lemas Yasmine pun menelungkupkan kepalanya ke meja pantry. Dia tidak menyangka hari yang ia kira membahagiakan malah berubah menjadi seberantakan ini. *** Setelah memastikan Yasmine pulang diantar Lila, Theo pun kembali ke ruangannya untuk mengurus seseorang di sana. “Kamu akan pecat dia ‘kan?” ujar seseorang tepat setelah Theo memasuki ruangan. “Aku udah bilang tadi, aku nggak akan pecat Yasmine.” Dia sudah lelah dengan pembahasan ini. Masalah ini sudah selesai dan dia juga sudah meminta Diana untuk segera pulang. Namun perempuan itu menolak dan terus saja menerrornya untuk memecat Yasmine. Theo tidak tahu ada masalah apa di antara kedua perempuan ini. Tapi apapun itu dia tidak mau hal tersebut ikut masuk ke dalam ranah bisnisnya. Dia tidak mau disebut tidak profesional hanya karena masalah ini. “Buat apa kamu mempertahankan pegawai yang nggak punya attitude seperti dia?!” ujar Diana keras kepala. “Aku tau Yasmine seperti apa, dia pasti punya alasan kenapa dia sampai berani nampar kamu.” Dia mengenal Yasmine dan juga mengenal Diana. Dia paham kedua perempuan itu. Yasmine sudah bekerja dengannya selama dua tahun ini dan dia tahu sosok seperti apa Yasmine. Dia sosok perempuan yang lembut. Sebelumnya Theo tidak pernah mendengar kabar Yasmine ada masalah atau bahkan sampai bertengkar dengan rekan kerjanya. Ini pertama kalinya bagi Yasmine terlibat masalah di kantor. Dan untuk Diana, Theo tahu betul tabiat perempuan itu. Dia sosok perempuan keras kepala yang begitu sulit dikendalikan. Alasan kenapa Theo masih betah berteman dengan perempuan itu adalah karena orangtua mereka berteman dekat. “Maksud kamu semua ini salahku?” “Kalau begitu coba ceritakan kronologi kejadian tadi secara rinci, aku mau dengar semuanya,” pinta Theo kepada perempuan di depannya. “Aku udah cerita tadi, aku cuma mau minta ganti desain tapi dia nggak mau dan setelah itu kita cek cok dan berakhir dia nampar aku.” “Kamu pikir aku sebodoh itu?” Kalau Diana pikir Theo akan percaya semudah itu maka dia salah besar. “Aku nggak bohong!! Ternyata kamu sama aja kayak Ben, gampang kemakan sama tampang polos perempuan murahan itu!” “Perempuan murahan?” tanya Theo tidak mengerti. Melihat raut Diana yang kini mulai pucat sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres di antara keduanya. “Maksud kamu apa? Dan apa hubungannya dengan Ben?” tanya Theo lagi. “Kalau kamu nggak mau pecat dia buat aku―Oke, nggak masalah. Aku bisa hancurin perempuan itu dengan tanganku sendiri,” ucap Diana sembari pergi meninggalkan ruangan. Dan tinggalah Theo sendirian dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Sebenarnya ada masalah apa di antara mereka berdua? Dan apakah semua ini juga ada hubungannya dengan Ben? Semua ini semakin membuat Theo khawatir terhadap Yasmine. Dia tau bagaimana Diana, perempuan itu bisa melakukan segala cara untuk menghancurkan hidup seseorang. Dan sekarang Yasmine telah membuat kesalahan besar dengan masuk kedalam kehidupan perempuan kejam itu. *** Waktu masih menunjukkan pukul satu siang tapi Yasmine sudah berada di apartemen. Jika biasanya di jam seperti ini dia masih berada di kantor dan masih berkutat dengan pekerjaannya di sana, maka berbeda dengan hari ini. Hari ini dia dipulangkan secara paksa karena sikap gegabahnya terhadap kliennya sendiri. Dengan malas Yasmine melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia membasahi wajahnya dan tanpa dia duga rasa perih ia rasakan pada wajahnya. Dia mengangkat wajah perlahan dan mendapati luka memanjang pada pipi kanannya yang kembali memerah. Sepertinya dia membasuh wajahnya terlalu keras sehingga membuat lukanya kembali terbuka. Dia pun menghentikan kegiatan mencuci wajah dan kembali mengamati wajahnya di depan cermin dengan seksama. “Pantes aja rasanya perih,” gumam Yasmine sambil mengamati luka di pipinya. Di sana, tepat di pipi kanannya yang terlihat pucat terdapat luka memanjang yang mengerikan. Diana pasti sedang senang sekarang karena telah berhasil membuat wajahnya terlihat seperti monster. Kesal melihat bayangannya sendiri, Yasmine pun bergegas keluar dari kamar mandi dan pergi menuju dapur. Dia belum sempat makan siang, mungkin karena itu mood-nya kini terasa buruk. Yasmine melihat persediaan stock bahan makanan di kulkas dan memutuskan sekalian memasak makan malam untuk Damar juga. Ada di satu waktu dia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Dia tahu kalau Damar pasti tidak akan memakan makan malam buatannya, namun entah kenapa Yasmine masih saja terus memasak untuk laki-laki itu. Hari ini Yasmine memutuskan untuk memasak makanan favoritnya yaitu semur ayam. Jika Damar lebih menyukai makanan western, maka berbeda dengan Yasmine―perempuan itu lebih menyukai makanan nusantara dan semur ayam adalah makanan favoritnya. Yasmine tidak peduli apakah nantinya Damar akan suka dengan masakannya ini mengingat Damar memang lebih cocok dengan masakan barat. Bahkan setelah menikah, Yasmine sudah jarang sekali memasak makanan indonesia. Perempuan itu lebih sering memasak makanan seperti pasta, salmon grill, steak, dan makanan western lainnya. Tadinya Yasmine kira dengan dia memasak makanan seperti itu, maka Damar akan mau menyantap masakan buatannya―namun kenyataannya tetap sama, laki-laki itu masih saja tidak sudi menyentuh makanan buatan istrinya ini. Setelah selesai mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan, Yasmine pun dengan segera mencuci bahannya satu per satu. Kemudian dia mulai membuat bumbunya terlebih dahulu. Dengan fokus dia meneliti satu per satu rempah yang nantinya akan ia gunakan. Lama tidak membuat masakan seperti ini membuatnya tidak lagi seluwes dulu. Karena terlalu fokus dengan masakannya, dia pun tidak sadar bahwa ada seseorang yang sudah memasuki kediamannya. “Temen kamu bilang kamu sakit?” Kaget dengan suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya, Yasmine pun tidak sengaja menjatuhkan pisau yang tadi baru saja diambilnya. “Ya ampun Mas, kamu ngagetin aja!” “Kapan kamu masuk?” tanya Yasmine heran. “Barusan.” “Kok aku nggak dengar?” “Ck, itu nggak penting. Sekarang jawab aku, kamu sakit apa?” ujar Damar kesal. Wanita itu terus saja menanyakan hal-hal tidak penting seolah sedang menghindari pertanyaannya barusan. “Tunggu,” tahan Yasmine. “kamu tadi…, ke kantorku?” tanya Yasmine dengan tatapan menyelidik. “Iya. Aku ketemu temen kamu tadi, dan dia bilang kalau kamu udah pulang karena sakit.” “Kamu beneran dari sana? Ngapain?” tanya Yasmine dengan kernyitan di dahinya. “Tadinya aku mau ajak kamu makan siang,” ujar Damar yang terdengar kikuk. Yasmine terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Damar? Mengajaknya makan siang? Rasanya sulit dipercaya. Damar yang dulu mengatakan tidak sungguh-sungguh dengan pernikahan mereka datang ke kantornya hanya untuk mengajak Yasmine makan siang? ‘Apa ini mimpi?’—batin Yasmine sulit percaya. “Kamu ajak aku makan siang? Kamu…, nggak lagi demam kan, Mas?” Dan pertanyaannya kali ini mengundang decakan tidak suka Damar. “Memangnya salah kalau suami ngajak makan siang istrinya?” katanya membuat Yasmine semakin keheranan. Istri? Damar menyebutnya istri? “Ck, udahlah! Sekarang jawab aku, kamu sakit—“ “Tunggu, pipi kamu kenapa?!” sentak Damar membuat Yasmine terlonjak karena kaget. “Apa sih, Mas! Bikin kaget aja!” kesal Yasmine dengan masih mengusap dadanya naik turun. Sedari tadi suaminya itu hobi sekali membuatnya kaget. “Ini kenapa?!” sentak Damar lagi, yang kali ini sudah meraih kedua pipi Yasmine dengan tangannya. Diamatinya wajah Yasmine, dan didapatinya luka memanjang di pipi kanannya. Lukanya cukup dalam, dan Damar yakin ini pasti sangat menyakitkan. “Siapa yang ngelakuin ini? Kamu berantem?” tanya Damar bertubi-tubi. “Kamu apa-apaan sih, Mas!” kesal Yasmine. Pasalnya laki-laki itu menariknya dengan begitu kasar dan tidak ada lemah lembutnya sama sekali. “Aku tanya, ini kenapa?!” “Ya kamu sabar dulu dong, ini sakit!” ucap Yasmine sembari mencoba melepaskan kedua tangan Damar dari wajahnya. Sadar dengan tindakannya yang menyakiti Yasmine, Damar pun melepaskan kedua tangannya dari wajah perempuan itu perlahan. Dia tidak tahu kenapa, tapi melihat luka menghiasi wajah perempuan di depannya ini membuat pikirannya tiba-tiba kalut. Damar sendiri tidak mengerti apa yang terjadi kepada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD