07. Harga Diri

2323 Words
Di kantornya, Damar kembali mengingat kegiatan paginya bersama Yasmine hari ini. Tidak ada yang spesial―yang ada justru terjadi perdebatan di antara keduanya. Tapi entah kenapa Damar lebih menyukai pagi seperti ini dibandingkan pagi sebelumnya. Dia lebih menyukai Yasmine yang pembangkang seperti ini dibandingkan sosok Yasmine yang penurut namun terlihat dingin baginya. “Senyum-senyum mulu! Gila ya lo?” celetuk Bimo yang tiba-tiba saja memasuki ruangannya. “Ck, ngapain lo kesini?” kesal Damar. “Ya kerjalah, mau ngapain lagi! Nih dokumen yang harus lo tanda tangani hari ini.” “Oh ya, rapat nanti siang diundur jadi besok. Sekretarisnya Pak Hilman udah konfirmasi ke gue semalem.” “Kenapa baru bilang sekarang?! Tau gitu gue berangkat agak siangan aja.” Hari ini dia berangkat pagi memang dengan niatan ingin mempelajari bahan rapatnya terlebih dahulu―tidak taunya malah diundur. “Salah siapa punya handphone tapi nggak bisa dihubungin! Dari semalem gue udah coba buat hubungin lo, tapi nggak aktif,” omel Bimo. Damar bahkan baru ingat akan nasib ponselnya sekarang. Semalam dia membantingnya hingga ponselnya hancur berkeping-keping―pantas saja Bimo tidak bisa menghubunginya. “Handphone gue rusak.” “Kok bisa?” tanya Bimo heran. “Ya bisalah!” ucapnya ketus. Mengingat nasib ponselnya hanya akan membuatnya kembali teringat akan kejadian semalam. Dia sedang tidak mau mengingat alasan kenapa dia sampai melempar ponselnya ke dinding. Namun ada sesuatu yang perlu ia selesaikan sesegera mungkin,”Bim, gue pinjem handphone lo bentar.” “Buat apa?” “Udah sini, cuma bentar kok,” ujar Damar agak memaksa. Setelah mendapatkan ponsel milik Bimo, Damar pun mulai membuka menu kontak dan mencari nomor milik Karin, “Halo Karin―Ini Damar. Bisa kita ketemu di cafe dekat kantor kamu nanti siang?” *** Bimo benar-benar tidak habis pikir―ia kira setelah kejadian di kantor beberapa waktu yang lalu, Damar akan kembali sepenuhnya kepada Yasmine dan akan memutuskan hubungannya dengan Karin. Tak disangka laki-laki itu kini malah secara terang-terangan terlihat masih berhubungan dengan Karin―dan bahkan dengan tidak tau malunya menggunakan ponsel milik Bimo untuk menghubungi kekasih gelapnya itu. “Lo masih berhubungan sama Karin?” “Bukan urusan lo,” jawab Damar enteng seraya mengembalikan ponsel milik Bimo. “Gue minta tolong banget sama lo Dam, berhenti sekarang juga. Kasihan Yasmine, dia wanita baik-baik dan dia nggak pantes lo perlakuin kayak gini.” Bimo memang belum terlalu mengenal Yasmine―istri dari sahabatnya itu. Tapi dia tau kalau wanita yang ia temui beberapa hari yang lalu di lobby kantor waktu itu adalah wanita baik-baik yang berhati lembut. Dia masih ingat ketika Yasmine tidak diperbolehkan menemui Damar oleh resepsionis di sana―wanita itu bahkan diperlakukan dengan tidak sopan oleh resepsionis itu. Tapi Yasmine masih saja mencoba untuk bersabar dan terus memberikan pengertian kepada resepsionis tersebut. Kata-k********r yang didapatnya tidak membuatnya lupa untuk selalu menjaga sopan santun. Untung saja Bimo melihat kejadian itu dan langsung saja mengajak wanita itu untuk menemui Damar di ruangannya. Jika tidak, mungkin Yasmine akan terus menjadi bulan-bulanan resepsionis disana. “Gue tau apa yang gue lakuin, jadi nggak usah ikut campur,” ucap Damar sambil menatap tajam sekretaris di depannya itu. Dia paling tidak suka jika ada orang yang ikut campur masalahnya―sekalipun itu sahabatnya sendiri. *** Di sudut cafe yang cukup ramai terlihat seorang wanita dengan pakaian yang cukup mencolok. Jika pengunjung lain kebanyakan menggunakan pakaian casual, lain halnya dengan perempuan tersebut. Dia justru terlihat menggunakan pakaian yang cukup glamour sehingga cukup menyita perhatian pengunjung disana. Karin tau kalau dirinya memang terlihat aneh dengan pakaian yang kini tengah ia kenakan, apalagi sekarang dirinya tengah berada di cafe. Namun mau bagaimana lagi, setelah pemotretan tadi dia memang tidak sempat untuk mengganti pakaiannya. Dia tidak mau Damar menunggunya telalu lama jika dia harus mengganti pakaiannya terlebih dahulu, apalagi setelah ini dia juga harus kembali melanjutkan pemotretan. “Sorry, jalanan agak macet,” ucap Damar yang baru saja datang. “Nggak papa, aku udah cukup seneng dengan kamu yang mau meluangkan waktu untuk makan siang sama aku hari ini.” Ya, bagi Karin ini adalah kesempatan langka. Damar adalah tipe orang yang tidak mau waktunya terbuang untuk sesuatu yang tidak penting. Jarang untuk Damar mau meluangkan waktunya untuk makan siang bersama Karin, apalagi Damar sampai rela pergi jauh-jauh untuk makan siang di cafe dekat kantornya. “Aku mau langsung aja,” ucap Damar sambil mencoba untuk mengambil jeda sejenak. “Karin, aku mau kita putus.” Mendengar hal tak terduga seperti itu tentu membuat Karin shock. Mereka baru saja duduk, dan tiba-tiba saja Damar mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti ini. “Putus?” “Ya.” “Apa ini karena Yasmine?” tanya Karin yang masih mencoba untuk tenang. “Ini karena tindakan kamu sendiri. Aku udah pernah bilang jangan pernah muncul di kantorku lagi, tapi hari itu kamu masih nekat datang. Jadi inilah akibat yang harus kamu terima.” “Dua tahun kita pacaran dan ini akhir yang aku dapet? Kamu bener-bener berengsek, Damar!” ucap Karin tidak terima. “Dengar Karin, dari awal aku memang nggak pernah menjanjikan apapun ke kamu. Aku nggak pernah mencintai kamu dan kamu pun tau itu. Kita menjalani hubungan ini karena memang kamu yang minta. Dari awal kamulah yang memaksakan hubungan ini, bukan aku.” “Ta-tapi… aku pikir setelah dua tahun kita bersama, pada akhirnya kamu mau membuka hati kamu buat aku―apalagi waktu itu kamu juga sempat ngenalin aku ke mama kamu,” ucap Karin yang masih saja mencoba mempertahankan hubungannya dengan Damar. Dia tidak mau hubungannya berakhir begitu saja, apalagi hanya karena perempuan semacam Yasmine. “Aku ngelakuin itu hanya karena desakan Mama.” “Tapi―” “Udah cukup! Aku ngajak kamu makan siang hanya untuk menyelesaikan masalah ini. Aku harus balik ke kantor sekarang, permisi.” Karin tidak pernah merasa dipermalukan separah ini selama tiga puluh dua tahun dia hidup di dunia. Karin merasa marah, sedih, dan terhina. Laki-laki itu berhasil menginjak-injak harga dirinya. Namun sialnya, seburuk apapun perlakuan Damar kepadanya―Karin masih saja mencintai laki-laki itu. Jika ada orang yang patut disalahkan atas kejadian yang menimpanya hari ini, orang itu adalah Yasmine. Semuanya berantakan sejak kehadiran wanita itu. Karin bersumpah tidak akan membiarkan Yasmine bahagia di atas penderitaannya. *** Pagi ini Yasmine merasa begitu bersemangat. Bagaimana tidak, hari ini dia akan mendapatkan klien penting pertamanya. Selama dua tahun dia berkarir di Glencio Brands, memang jarang baginya untuk mendapatkan kesempatan seperti ini. Orang kira, menjadi desainer di perusahaan fashion ternama sekelas Galencio Brands akan melambungkan namanya sebagai seorang desainer―namun nyatanya tidak. Galencio Brands memang perusahaan fashion terkenal, namun perusahaan itu lebih terkenal dengan pakaian-pakaian casualnya yang selalu mengikuti tren sekarang. Sedangkan Yasmine―dia hanyalah desainer gaun disini. Hanya gaun pengantin, bukan gaun-gaun indah yang selalu berlangganan tampil berlenggak-lenggok di atas cat walk. Secara garis besar, Yasmine hanyalah seorang desainer yang tidak terlalu dikenal publik. “Gimana Yas, udah siap?” tanya Theo. “Saya agak gugup pak,” jawab Yasmine. Jika saja waktu itu Theo tidak mengatakan bahwa kliennya kali ini berasal dari kalangan orang penting, mungkin dia tidak akan segugup sekarang. “Santai aja. Dia temen saya kok, kamu nggak perlu segugup ini.” “Kalau boleh tau, namanya siapa ya pak?” Setidaknya jika Yasmine tau nama dari kliennya ini, dia jadi bisa mengira-ngira sepenting apakah orang itu. “Kamu akan tau kalau udah masuk kesana,” ucap Theo sambil mengedikkan dagu ke arah pintu di depannya. Sekarang mereka memang tengah berada di depan ruangan meeting dengan klien yang sudah menunggu di dalam sana. Yasmine tau seharusnya dia segera masuk sekarang. Namun dia butuh waktu untuk menenangkan rasa gugupnya. Yasmine merasa heran dengan dirinya sendiri, tidak biasanya dia gugup seperti ini. Apa memang ini karena kliennya bukan berasal dari kalangan orang biasa? “Biar aku yang masuk duluan. Kayaknya kamu memang nggak sanggup buat muter handle pintunya,” ujar bosnya geli. Pasalnya sedari tadi dia hanya melihat Yasmine yang terus saja memandangi pintu di depannya tanpa ada niatan untuk segera memutar handle-nya. “Hai Theo… lama ya kita nggak ketemu,” ujar seorang wanita tepat setelah Theo dan Yasmine memasuki ruangan. “Ben nggak ikut?” tanya Theo kepada wanita itu. Mendengar nama tersebut segera saja Yasmine mendongakkan kepalanya guna melihat rupa dari klien di depannya ini. ‘Ya Tuhan… Itu Diana!’―batin Yasmine. Sekarang dia tau kenapa sedari tadi dia merasa begitu gugup bahkan merasa enggan untuk segera memasuki ruangan ini, ternyata itu merupakan firasat buruknya. “Dia lagi ada urusan di luar negeri.” “Pasti masalah kerjaan lagi,” tebak Theo. “Oh ya, Ini Yasmine―Desainer yang aku ceritain waktu itu.” Rasanya saat ini Yasmine ingin menghilang saja, dia tidak menyangka klien yang dibicarakan oleh bosnya itu adalah Diana―anak dari pengusaha ternama sekaligus tunangan dari mantan pacarnya sendiri. “Hai, Saya Diana,” ujar wanita itu ramah. “Sa-saya Yasmine Bintara,” ucap Yasmine gugup. Sekarang Yasmine hanya bisa berdoa, semoga saja wanita di depannya ini memang betul-betul tidak mengenalnya. “Kalau gitu, aku tinggal dulu ya,” pamit Theo kepada keduanya. Setelah kepergian Theo, suasananya menjadi agak canggung. Ini pertama kalinya bagi Yasmine merasa bingung dalam menghadapi kliennya sendiri. Biasanya dia selalu bisa bersikap profesional. “Hai Yasmine… sekarang kita nggak perlu bersikap formal kayak tadi kan?” Seharusnya Yasmine tau kalau wanita itu hanya berpura-pura tidak mengenalnya. Sejujurnya mereka berdua memang tidaklah saling mengenal. Bahkan ini merupakan pertemuan pertama bagi mereka. Namun tentu tidak sulit bagi Diana untuk mengorek informasi mengenai dirinya. Yasmine bahkan yakin kalau Diana sengaja membuat gaun pernikahannya disini hanya untuk membuatnya sulit―ini pasti sudah direncanakan oleh wanita itu. “Maaf, tapi saya tetap harus bersikap profesional. Bagaimana pun juga Mbak Diana kan klien saya,” balas Yasmine. “Kayaknya kamu udah nggak sabar banget ya buat bikinin gaun pernikahanku dengan Ben?” “Kalau begitu saya mau langsung aja, ini contoh desain yang sudah coba saya buat. Mbak Diana bisa lihat-lihat dulu,” ucap Yasmine mencoba mengalihkan pembicaraan. Dengan tangan gemetar dia membuka map di tangannya yang berisi lembaran-lembaran desain yang telah ia buat tadi malam. Dengan tampang malas Diana menerima lembaran-lembaran tersebut dan melihatnya satu per satu, “Saya nggak suka sama semua desainnya.” Yasmine tau kerja sama kali ini tidak akan mudah. Namun dia harus sabar dan harus tetap bersikap profesional, apalagi ini merupakan klien penting pertamanya. “Kalau saya boleh tau, Mbak Diana mau tema gaun yang seperti apa?” tanya Yasmine hati-hati. “Aku sendiri juga belum tau.” “Boleh saya kasih saran?” tawar Yasmine. “Ya, silakan.” “Belakangan ini gaun model silk dress sangat populer, saya bisa coba variasikan detailnya agar gaun pernikahan Mbak Diana nantinya bisa terlihat lebih eksklusive dan nggak pasaran. Selain itu―” “Kalau model gaun pernikahan impian kamu seperti apa?” potong Diana tiba-tiba. “Maaf?” tanya Yasmine tidak mengerti. “Kamu pasti juga punya model gaun impian kamu sendiri kan?” “Saya nggak punya.” “Bohong,” ucap Diana dengan kekehan yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Yasmine. “Kamu kan udah lama jadi selingkuhan Ben, aku yakin kamu pasti juga pernah berpikiran kesana,” lanjutnya lagi. “Maksud kamu apa?” Hilang sudah sikap profesionalitas yang sedari tadi coba Yasmine pertahankan. Menurutnya Diana sudah sangat keterlaluan, dia tidak terima jika disebut sebagai selingkuhan Ben. “Kenapa? Kamu tersinggung?” tanya Diana menyebalkan. “Aku nggak pernah selingkuh dengan tunangan kamu itu.” “Oh ya?” “Kalau kamu memang butuh seseorang untuk disalahkan, Ben-lah orangnya. Aku sama sekali nggak tau apapun, disini aku juga korban―sama seperti kamu,” jelas Yasmine. Dia lelah dengan semua tuduhan tak berdasar itu. Kenapa setiap kali terjadi suatu perselingkuhan semacam ini, selalu saja pihak perempuan yang disalahkan. Padahal di kasus ini, Yasmine memang benar-benar tidak tau. Kalau saja waktu itu dia tau kalau Ben merupakan lelaki yang sudah bertunangan, tentu dia tidak akan menerima pernyataan cinta dari laki-laki itu. “Kalau saja kamu nggak merayu tunanganku saat itu, mungkin saja semua ini nggak akan terjadi.” “Merayu?” ujar Yasmine tidak habis pikir. Apakah dimata perempuan ini, Yasmine memang serendah itu? “Ya, kamu merayu Ben ketika kalian berkuliah dulu. Meskipun saat itu aku sedang menempuh studi ke luar negeri, tapi informanku nggak akan pernah salah.” Kenapa nasibnya selalu berakhir seperti ini, seolah nasibnya tidak bisa lebih menyedihkan dari ini. Dia berani bersumpah kalau dirinya tidak pernah merayu Ben. Bahkan ketika berkuliah dulu, dia dikenal sebagai gadis yang pemalu. Dia memang pernah beberapa kali berpacaran, namun itupun karena memang pihak laki-laki yang mendekati dirinya terlebih dahulu. Bukan dia yang mendekati atau bahkan merayu para laki-laki itu. “Aku nggak pernah merayu siapapun, kami memang bertemu pertama kali dan bahkan kenal ketika di kampus dulu. Tapi aku nggak pernah sekalipun merayu Ben, aku bukan perempuan seperti itu.” “Sejauh mana kamu berhubungan dengan Ben?” tanya Diana mengabaikan penjelasan yang sudah diterangkan panjang lebar oleh Yasmine. Memang benar kata orang, tidak ada gunanya menjelaskan suatu kebenaran kepada seseorang yang sudah jelas-jelas membenci kita. “Apa maksud kamu?” “Lebih baik kamu ceritakan semuanya sekarang, aku nggak mau suatu hari nanti kamu datang di tengah-tengah rumah tanggaku dengan Ben dan meminta pertanggung jawaban kepada suamiku nanti.” “Pertanggung jawaban?” “Udah berapa kali kamu dipakai sama dia?” tanya Diana sambil menatap jijik ke arah Yasmine. Dengan cepat tangan Yasmine pun melayang ke arah pipi kiri perempuan itu. Perempuan di depannya ini sudah benar-benar keterlaluan. Sudah cukup dia diperlakukan seperti wanita rendahan olehnya. Dia tidak mau diinjak-injak seperti ini terus. Dia punya harga diri, dia punya hati―tidak seharusnya Diana mengatakan hal menjijikan seperti itu kepada Yasmine. Apa di mata Diana, Yasmine memang sudah dianggapnya sebagai p*****r? “Beraninya kamu!!” bentak Diana yang tidak terima dengan perlakuan Yasmine.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD