Hari ini Damar tidak bisa bekerja dengan fokus. Pikirannya dipenuhi oleh Yasmine. Perempuan itu seharusnya marah karena kejadian kemarin. Dia seharusnya meneriakinya―atau kalau perlu memukulnya. Tapi kemarin perempuan itu hanya menangis ketika di kantornya, setelahnya dia hanya mengurung diri di kamar seharian. Untungnya tidak ada pembahasan mengenai perceraian lagi dari Yasmine. Ya, setidaknya Damar lega. Kalau sampai Yasmine meminta cerai darinya, dia akan membuat perhitungan kepada Karin. Karena dia semuanya menjadi kacau seperti ini. Kalau saja hari itu Karin tidak nekat menemuinya di kantor, semua ini tidak akan terjadi.
“Bos, lima menit lagi rapatnya dimulai,” ucap Bimo mengingatkan.
Rasanya hari ini Damar sedang tidak mood untuk bekerja. Dia masih saja diam ditempatnya meski Bimo sudah mengingatkan mengenai jadwal rapatnya berkali-kali.
“Bos, buruan. Yang lain udah nungguin dari tadi.”
Damar pun menghembuskan nafasnya kasar, “Cancel aja, ganti di hari lain.”
“Masalahnya ini bukan rapat biasa Bos. Ini rapat penting mengenai kelangsungan kerjasama dengan PT. Mitra Abadi. Para petingginya bahkan udah siap di ruangan rapat, masa lo minta gue buat batalin gitu aja.”
Bimo benar. Ini rapat penting yang tidak bisa ia cancel seenak jidatnya. Akreditasnya sebagai pemimpin dipertaruhkan disini. Dengan berat hati Damar pun mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meeting room yang diikuti oleh Bimo di belakangnya. Dia harus bersikap profesional. Dia tidak boleh mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan.
***
Hari ini Yasmine benar-benar sibuk. Selesai dari makan siangnya bersama Lila, bosnya memanggilnya ke ruangan dan mengatakan bahwa akan ada klien penting yang akan menemuinya besok. klien ini adalah pasangan suami istri yang akan menggunakan jasa galencio brands untuk merancang busana penikahan mereka nanti. Sebenarnya itu memang sudah pekerjaan sehari-hari Yasmine disini dan bukanlah sesuatu yang baru―hanya saja bosnya mengatakan bahwa klien-nya kali ini benar-benar penting karena berasal dari keluarga yang cukup terpandang di Indonesia.
Mendengar hal itu, Yasmine menjadi sedikit khawatir dan berakhirlah Yasmine disini―di kantor dan di jam selarut ini demi membuat contoh rancangan gaun untuk ia presentasikan ke klien-nya besok. Memang seharusnya Yasmine tidak perlu bersusah payah membuat design-nya sekarang, toh besok mereka juga baru akan membicarakan untuk masalah design. Namun karena bosnya bilang kalau ini adalah klien penting, jadi dia ingin menunjukkan contoh rancangan baru yang lebih dari biasanya dengan harapan klien-nya bisa merasa puas dan menjadi semakin yakin untuk menggunakan jasanya.
“Belum pulang Yas?”
Yasmine yang kaget pun spontan langsung menoleh ke sumber suara dan dengan tidak sengaja menyenggol cangkir berisi coklat panasnya hingga terjatuh ke lantai―untungnya cangkir yang ia gunakan bukanlah dari bahan kaca sehingga tidak menimbulkan pecahan.
“Ck, hati-hati dong Yas,” ucap Theo agak kesal. Pasalnya cangkir yang berisikan coklat panas itu jatuh ke lantai dan cipratannya juga mengenai celana bahan yang kini ia kenakan.
“Ma-maaf pak, saya nggak sengaja.” Dengan cepat Yasmine mulai mencari-cari tissue di tas miliknya dan kemudian mulai berjongkok di depan Theo.
“Mau ngapain kamu!!” ucap Theo agak kasar. Pasalnya posisi Yasmine saat ini benar-benar membuat Theo menjadi marah dan tidak habis pikir dengan perempuan di depannya ini. Orang lain yang melihat posisi mereka saat ini pasti akan berpikir yang tidak-tidak.
“Saya cuma mau bantu bersihin celana bapak,” jawab Yasmine dengan polosnya.
Dengan wajah memerah Theo pun mulai merebut tissue di tangan Yasmine, “Bangun! Saya bisa bersihin ini sendiri.”
“Maaf pak, saya tadi beneran nggak sengaja. Saya pikir di kantor ini cuma tinggal saya aja, jadinya saya kaget waktu tiba-tiba bapak datang,” jelas Yasmine yang kini telah berdiri di hadapan bosnya itu.
“Jadi maksud kamu, semua ini gara-gara saya?”
“Bu-bukan pak! Saya yang tadi nggak hati-hati,” ucap Yasmine cepat.
“Udah malem, ngapain kamu belum pulang jam segini?” tanya Theo dengan tangan yang masih mencoba membersihkan sisa-sisa coklat panas di celana bahannya.
“Saya lagi buat rancangan gaun.”
“Kenapa nggak dilanjut besok aja?” tanya Theo heran. Setaunya pegawai di kantornya memang jarang lembur karena pekerjaan seorang fashion designer memang cukup fleksibel. Biasanya mereka hanya lembur ketika sedang ada event besar saja.
“Ini untuk bahan presentasi saya ke klien besok.”
“Maksud kamu klien yang saya bicarakan tadi siang?” tanya Theo lagi.
“Iya pak.”
“Saya memang bilang kalau klien kali ini penting, tapi kamu nggak perlu berusaha sekeras ini. Cukup lakukan seperti yang biasa kamu lakukan,” ucap Theo mencoba memberi pengertian.
“Saya cuma nggak mau mengecewakan perusahaan.”
Ya, memang Theo akui kalau perempuan di depannya ini memanglah sosok yang sangat loyal pada pekerjaannya. “Pulang sekarang, biar sekalian saya antar.”
“Bapak duluan aja, saya masih harus lanjutin ini.”
“Pulang, Yasmine! Besok kamu harus menemui klien penting itu dan badan kamu harus fit.”
“Ta-tapi pak―”
“Dengan kamu begini, justru hanya akan membahayakan perusahaan. Mending sekarang kamu pulang, istirahat yang cukup.”
“Iya pak, saya pulang sekarang,” putus Yasmine pada akhirnya. Benar kata bosnya, dia harus menjaga tubuhnya agar besok bisa menemui klien dengan kondisi tubuh yang fit.
“Saya tunggu di depan lift,” ucap Theo yang sedari tadi masih saja memandangi Yasmine yang tengah membereskan barang-barangnya.
“Bapak kalau mau pulang, duluan aja. Nanti biar saya turun sendiri,” ucap Yasmine tidak enak.
“Saya kan bilang mau antar kamu,” ucap Theo sambil bersedekap d**a.
“Nggak perlu pak. Ini masih jam sembilan, saya bisa naik taksi.”
“Kamu perempuan, bahaya kalau naik taksi malam-malam begini.”
Yasmine tidak mungkin membiarkan Theo untuk mengantarnya pulang. Dia tidak ingin menimbulkan masalah dan membuat Damar menuduhnya macam-macam lagi seperti waktu itu. Sebenarnya dia tidak peduli Damar mau berpikir apa tentangnya―toh laki-laki itu juga berselingkuh di belakangnya. Tapi dia wanita yang memiliki harga diri. Seburuk apapun suaminya, dia tidak akan berselingkuh dengan pria manapun. Itu sudah menjadi prinsipnya sejak dulu sebagai seorang wanita.
“Saya baik-baik aja pak. Saya bisa jaga diri, bapak nggak perlu khawatir,” bujuk Yasmine.
Melihat Yasmine yang terus saja bersikeras menolak tawarannya, Theo pun pada akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah, “Kalau gitu saya antar sampai bawah, biar sekalian saya carikan taksi buat kamu.”
“Terima kasih pak,” ucap Yasmine lega.
***
Pada akhirnya Yasmine dapat pulang sendiri tanpa diantar oleh atasannya―Theo. Ya, walaupun tadi terjadi sedikit perdebatan tapi setidaknya dia berhasil meyakinkan Theo bahwa dia bisa pulang sendiri dengan aman.
Suasana apartemen kali ini terlihat begitu sunyi walaupun penerangan di setiap ruangan masih menyala, namun Yasmine tidak menemukan tanda-tanda Damar ada di rumah. Mungkin laki-laki itu sedang berada di ruang kerjanya seperti biasa atau bahkan memang belum pulang―entahlah, Yasmine sudah tidak terlalu peduli.
Dengan segera Yasmine memasuki kamarnya di lantai bawah―dia butuh mandi. Sebenarnya hari ini Yasmine berencana untuk berendam agar otot-otot di tubuhnya menjadi agak rileks. Hanya saja karena hari ini sudah terlalu malam, maka dia akan menunda keinginannya tersebut―dia hanya butuh tidur sesegera mungkin. Setelah selesai dengan acara mandi kilatnya, dia pun melakukan rutinitas malamnya yaitu mengenakan skincare malam. Setelah itu dia pergi menghampiri nakas dan memeriksa teko disana. Salah satu kebiasaan Yasmine setiap malam adalah mengisi air di tekonya. Dia selalu minum di tengah malam sehingga dia harus memastikan agar teko tersebut selalu terisi. Dengan langkah pelan ia mulai berjalan meuju dapur dengan membawa teko ditangannya.
“Baru pulang?” tanya seseorang yang sedang duduk di kursi pantry dengan kopi di hadapannya.
“Iya, aku lembur,” jawab Yasmine seadanya.
“Kenapa nggak ngabarin aku?”
“Aku lupa.” Dengan acuh Yasmine kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil air―dia lupa kalau niatnya ke dapur saat ini hanya untuk mengisi tekonya bukan untuk meladeni pertanyaan tidak penting dari Damar.
“Aku belum makan malam.”
“Aku nggak bisa masak hari ini―badanku lagi capek banget,” ucap Yasmine pelan. Sebenarnya dia agak merasa bersalah juga, mau bagaimanapun Damar masih tetap suaminya dan sudah menjadi kewajibannya untuk menyiapkan makanan untuk Damar. Tapi mau bagaimana lagi, badannya memang benar-benar lelah. Tubuhnya tidak akan sanggup jika dipaksakan untuk memasak.
“Gimana kalau delivery aja?” tawar Yasmine. Dilihat dari raut wajah laki-laki itu saat ini, Yasmine tau kalau Damar kecewa.
“Oke, kamu mau makan apa biar sekalian aku pesankan,” tanya Damar yang sudah siap dengan ponsel ditangannya.
“Nggak perlu Mas, aku udah makan malam di kantor tadi.” Lagi-lagi Yasmine bisa melihat raut kecewa di wajah laki-laki itu.
“Kalau begitu temani aku makan disini, aku nggak suka makan sendirian.”
“Aku baru tau kalau kamu nggak suka makan sendirian―jadi selama kamu nggak makan di rumah, kamu makan sama siapa?” sindir Yasmine. Pasalnya selama mereka menikah, Damar memang tidak pernah makan di rumah. Makanan yang selalu Yasmine buatkan untuknya selalu terbuang sia-sia. Mengingat hal itu, lagi-lagi membuat hati Yasmine terasa nyeri.
“Kamu masih marah karena kejadian di kantor waktu itu?”
“Kenapa aku harus marah?” balas Yasmine santai.
“Kalau begitu lupakan dan jangan pernah bahas masalah itu lagi.” Damar tau dia salah. Kalaupun Yasmine mau marah kepadanya dia akan terima itu, tapi dia paling tidak suka jika disindir-sindir seperti ini.
“Kamu pikir semudah itu?”
“Terus mau kamu apa?” tanya Damar dengan masih berusaha untuk menjaga nada suaranya.
“Ceraikan aku.”
“Aku udah pernah bilang ke kamu―nggak akan pernah ada perceraian di pernikahan kita.” Wanita di depannya ini benar-benar sedang menguji kesabarannya. Damar sudah mencoba untuk menahan amarahnya sedari tadi, namun jika terus dipancing seperti ini dia tidak tau akan menjadi seperti apa nantinya.
“Aku nggak minta kita cerai sekarang, ceraikan aku beberapa bulan lagi,” ucap Yasmine yang masih saja keras kepala.
“Kamu nggak dengar omonganku?!” bentak Damar. Ya, pada akhirnya dia gagal mempertahankan kesabarannya.
“Aku nggak bisa bertahan dalam pernikahan ini Mas…” ucap Yasmine dengan suara bergetar.
“Aku nggak bisa berbagi suamiku dengan wanita lain,” lanjutnya lagi sembari pergi meninggalkan dapur.
Disisi lain tinggalah Damar sendirian disana, dengan kesal dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi―wanita itu lagi-lagi meminta cerai darinya. Ponsel yang sedari tadi berada di genggamannya pun tak luput dari sasaran kemarahan. Dengan sekuat tenaga dia melempar ponsel itu ke dinding di depannya hingga hancur berkeping-keping. Damar memang memiliki tempramen yang cukup buruk, namun dia selalu berhasil mengendalikannya selama ini. Dan lihatlah sekarang? Dia bahkan tidak menyangka bahwa perempuan itu telah berhasil membuatnya lepas kendali hingga seperti ini.
***
Malam ini Yasmine kembali menangis seperti malam-malam sebelumnya. Dia kira dirinya sudah cukup kuat untuk menghadapi semua ini, nyatanya dia masih belum sanggup. Rasanya masih terlalu menyakitkan. Dia benci dirinya yang lemah seperti ini―dan dia juga benci dengan Damar yang membuatnya selemah sekarang.
Kenapa nasib baik tidak pernah berpihak kepadanya? Apa yang salah pada dirinya? Kenapa dia selalu berakhir dicampakkan?―Malam-malamnya selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dan tak terkecuali malam ini. Bahkan tak jarang Yasmine menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin memang dirinya tak selayak itu untuk bersanding dengan lelaki manapun. Atau mungkin memang dirinya kurang berusaha lebih keras dalam memantaskan diri. Prasangka-prasangka seperti itulah yang pada akhirnya mengikis habis rasa percaya diri dalam dirinya.
Semakin dipikir semakin hilang juga kepercayaan diri Yasmine. Ben pergi meninggalkannya dan memilih Diana―putri dari pengusaha ternama di Indonesia. Dan Damar yang meski telah sah menjadi suaminya, namun masih saja berhubungan dengan pacarnya―Karin, si model terkenal ibu kota. Dia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan wanita-wanita itu. Dia hanyalah seorang designer yang kini tengah berjuang merintis karirnya. Dia merasa begitu kecil jika dibandingkan dengan Diana maupun Karin.
***
Pagi ini lagi-lagi Yasmine bangun dengan mata bengkak. Dia sudah selesai mandi dan kini tengah bersiap untuk merias wajahnya di depan meja rias.
‘Ya Tuhan, wajahnya benar-benar mengerikan.’―batin Yasmine setelah melihat wajahnya di depan cermin. Dia pikir setelah selesai mandi wajahnya akan menjadi lebih segar, nyatanya tetap tidak ada perubahan yang berarti. Mau tidak mau dia harus menggunakan make up yang cukup tebal ‘lagi’ hari ini.
Sebenarnya Yasmine tidak pernah suka menggunakan make up yang berlebih, namun karena kondisi wajahnya hari ini memang cukup memprihatinkan maka dengan terpaksa Yasmine perlu menggunakan foundation yang cukup tebal. Selain itu Yasmine juga tidak lupa untuk menggunakan concealer di bawah matanya untuk menutupi bengkak serta lingkaran hitam disekitar matanya. Dan sepertinya dia juga perlu menggunakan perona pipi karena entah kenapa hari ini wajahnya terlihat begitu pucat―kulitnya memang sudah pucat dari dulu, hanya saja hari ini terlihat lebih pucat dari biasanya.
Selesai dengan acara merias diri, dia pun mulai berjalan menuju dapur untuk melakukan rutinitas paginya―yaitu memasak. Semalam dia sudah tidak membuatkan makan malam untuk Damar, jadi haruskah pagi ini dia memasakkan sesuatu untuk suaminya itu?
“Buatkan aku nasi goreng,” ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul.
“Mas Damar? Kamu nggak kerja?” tanya Yasmine yang heran dengan penampilan suaminya itu. Damar yang biasanya selalu berpenampilan rapi di depannya, kali ini terlihat cukup berbeda. Ini pertama kalinya Yasmine melihat Damar dengan pakaian tidurnya―kaos lengan pendek hitam yang dipadukan dengan celana training abu, dan jangan lupa dengan rambut acak-acakan milik Damar yang entah kenapa terlihat begitu menggemaskan di mata Yasmine.
“Kerja. Tapi aku butuh makan sekarang, semalam aku belum makan malam.”
Melihat kelakuan Damar saat ini semakin membuat Yasmine gemas. Nada bicara laki-laki itu terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak diberi makan oleh ibunya. “Bukannya kamu udah pesen makanan semalam?”
“Karena siapa semalam aku nggak jadi makan?” ujar laki-laki itu jengkel.
Jadi karena pertengkaran mereka semalam, Damar tidak jadi makan?―entah kenapa Yasmine jadi merasa begitu bersalah.
“Duduk dulu, biar aku buatkan sebentar.”
Dengan cekatan Yasmine membuatkan nasi goreng secepat yang ia bisa. Dia sudah tidak terlalu memikirkan rasanya, yang terpenting Damar bisa makan dengan segera.
Selesai dengan masakannya, Yasmine pun segera menyajikan piring berisi nasi goreng dan juga segelas s**u untuk Damar, “Ini, cepet dimakan.”
“Ini bukan gelas kopiku,” protes Damar.
“Memang bukan, pagi ini kamu minum s**u ini aja.”
“Ck, aku mau kopiku Yasmine!”
“Perut kamu kosong dari semalem Mas, minum susunya dulu.” Yasmine sudah menebak kalau Damar pasti akan memprotes tindakannya ini. Dia memang sengaja membuatkan s**u dan bukannya kopi untuk suaminya itu. Ini semua dia lakukan demi kesehatan Damar juga.
“Kamu bilang tadi lapar, cepet dimakan,” suruh Yasmine lagi.
Dengan kesal Damar pun mulai mengambil sendoknya dan memakan makanan di depannya. Sebenarnya dia bisa saja meminum s**u di hadapannya ini―setidaknya dia masih menyukai minuman itu dibandingkan teh, hanya saja dia tidak suka jika Yasmine menghilangkan jatah kopi paginya.
“Aku udah habiskan semua―termasuk s**u buatan kamu ini, sekarang buatkan aku kopi.”
“Bisa nggak, hari ini kamu nggak minum kopi dulu?” tanya Yasmine hati-hati. Dia ingin mencoba peruntungan, siapa tau Damar mau menuruti omongannya―toh ini semua juga demi kesehatannya.
“Ck, jangan bikin gara-gara kamu. Cepet buatin sekarang!” sentak Damar. Kemarahannya semalam masih belum hilang sepenuhnya dan sekarang Yasmine justru mencoba untuk memancingnya kembali.
“Iya, oke―aku buatkan sekarang. Kamu nggak perlu marah-marah kayak gitu,” ujar Yasmine tidak habis pikir.
‘Ini kan cuma kopi, kenapa sih harus semarah itu!’―batin Yasmine kesal.