Hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Yasmine tidak menyangka dia akan pulang se-terlambat ini. Kalau bukan karena macet di jalan tadi, mungkin Yasmine sudah sampai di rumah sedari jam lima sore.
“Yang ini kan?” tanya Theo sembari mulai memelankan laju mobilnya.
“Iya Pak, gedung yang ini.” Setelah mobil mulai berhenti tepat di depan gedung apartmennya, Yasmine pun bersiap untuk pamit dan turun dari mobil.
“Terima kasih, Pak. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf, karena saya bapak jadi repot-repot nganterin kayak gini.”
“Ini saya yang mau, lagian kamu pulang malam kan juga karena saya.”
“Kalau begitu saya turun dulu. Sekali lagi terima kasih ya, Pak.”
Yasmine pun dengan segera turun dari mobil dan langsung berderap menuju gedung apartemennya. Dia terlihat begitu terburu-buru. Sedangkan Theo masih tetap berada di posisinya, dia masih terus memperhatikan gedung apartemen di hadapannya dengan kening yang berkerut. Dia heran bagaimana mungkin Yasmine bisa tinggal di gedung semahal ini. Bahkan dia yang merupakan manager dari Galencio Brands saja masih akan berpikir dua kali jika ingin tinggal di kawasan elite ini. Jadi bagimana mungkin Yasmine yang merupakan bawahannya bisa tinggal di sini?
***
Yasmine berjalan dengan terburu-buru menuju unit apartemennya. Dia takut kalau suaminya sudah pulang lebih dulu. Dia bahkan belum sempat membuatkan makan malam apapun. Yasmine merasa kecewa pada dirinya sendiri, dia merasa gagal manjadi istri yang baik.
“Masih ingat pulang?” tanya Damar dengan sinis. Yasmine baru saja masuk dan langsung mendapat sapaan sinis dari Damar―yang kini tengah duduk santai di sofa ruang tamu dengan laptop di pangkuannya.
Dengan langkah takut-takut Yasmine mulai mendekati Damar, “Mas Damar udah pulang?”
“Menurut kamu?”
“Ehm―aku minta maaf karena pulang terlambat.”
“Kalau perlu besok nggak usah pulang sekalian.” Mendengar kalimat pedas dari Damar membuat Yasmine semakin merasa bersalah.
“Aku bener-bener minta maaf, tadi ada kerjaan di Bandung jadi aku terpaksa pulang terlambat.”
“Kamu ke Bandung?” tanya Damar sambil menatap Yasmine tajam.
“I-iya,” ucap Yasmine gugup.
“Dan nggak ngabarin aku?”
“Maaf Mas, baterai handphoneku habis jadi―”
“Sama siapa kamu kesana?” potong Damar.
Kenapa Yasmine merasa seperti sedang di-introgasi sekarang? Dia tau dia salah, tapi bukannya ini agak berlebihan?
“Dengan atasanku.”
“Laki-laki?”
“Kenapa Mas tanya begitu?” tanya Yasmine yang mulai merasa jengah.
“Kamu cuma perlu jawab pertanyaanku.”
“Iya, dia laki-laki.”
Tanpa sadar Damar mulai mengepalkan tangannya, ternyata foto yang dikirimkan Karin tadi memang benar―wanita di foto itu benar-benar Yasmine.
“Dia pacarmu?” tanya Damar to the point. Dia memang tipe orang yang tidak suka berbasa-basi, jika dia ingin mengetahui sesuatu maka dia akan langsung menanyakannya―seperti sekarang ini.
“Kamu ngomong apa sih, Mas?” ucap Yasmine tidak terima.
“Jawab pertanyaanku.” Tidak menutup kemungkinan kan kalau Yasmine memang menjalin hubungan dengan atasannya itu―mengingat foto yang tadi dikirimkan oleh Karin, memperlihatkan Yasmine yang tengah tertawa lepas dengan sesosok laki-laki yang dia akui sebagai atasannya.
“Aku nggak mungkin selingkuh, apalagi dengan bosku sendiri!”
“Oke, anggap aja aku percaya. Sekarang buatkan aku kopi seperti tadi pagi,” suruh Damar.
Yasmine benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya itu. Setelah menuduhnya berselingkuh, sekarang dengan seenaknya malah menyuruhnya membuat kopi. Damar bersikap seakan perkataannya tadi bukanlah apa-apa. Tidak sadarkah dia kalau ucapannya cukup melukai ego Yasmine?
***
Yasmine sadar bahwa kemarin dia memang salah. Wajar jika Damar marah kepadanya. Dia pergi ke Bandung tanpa seizin suaminya―meskipun itu hanyalah sebatas pekerjaan. Jadi hari ini dia harus meminta maaf kepada Damar dan menunjukkan rasa penyelasalannya.
“Mau kuambilkan sarapan?” tawar Yasmine ketika dilihatnya Damar yang sudah duduk manis di meja makan. Dia senang setidaknya Damar masih mau meluangkan waktu untuk sarapan pagi bersamanya.
“Nggak usah, aku cuma mau kopiku.”
Lagi-lagi Yasmine harus menelan kekecewaannya. Semenjak mereka menikah, Damar belum pernah sekalipun menyentuh masakannya. Dia selalu menolak sarapan buatan Yasmine dan mengabaikan makan malam―dengan alasan sudah makan di luar.
“Mas Damar yakin nggak mau sarapan dulu? Perut kamu bisa sakit kalau minum kopi dengan perut kosong,” ucap Yasmine sembari membawakan kopi buatannya untuk Damar.
“Aku nggak butuh ceramah kamu.”
Sepertinya Damar memang masih marah karena kejadian kemarin, “Mas, aku mau minta maaf untuk masalah kemarin.”
“Karena sudah selingkuh di belakangku?”
“Mas, aku nggak pernah selingkuh. Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu?” Belum hilang kekecewaannya dan Damar kembali membuat hatinya sakit. Apa Yasmine memang terlihat serendah itu di mata Damar?
“Udahlah aku nggak mau bahas itu lagi,” ucap Damar dengan wajah keruh. Sesekali dia menyeruput kopinya perlahan, dan kerut di dahinya juga perlahan-lahan ikut menghilang.
“Aku mau minta maaf karena pergi ke Bandung tanpa seizin kamu.”
“Terserah.”
Yasmine tidak tau harus bagaimana lagi agar Damar mau memaafkannya. Dia tau dia salah, tapi menurutnya kesalahannya tidaklah terlalu fatal. Jadi apa sebenarnya yang membuat Damar menjadi semarah ini?
“Buatkan aku kopi lagi, masukkan ke tumbler.”
“Kopi lagi?” tanya Yasmine heran.
“Aku mau bawa itu ke kantor,” ucap Damar sambil menatap Yasmine.
“Kamu udah terlalu banyak minum kopi, Mas.”
“Bukannya aku udah pernah bilang ke kamu, kalau aku nggak suka perempuan cerewet.”
Dengan sangat terpaksa Yasmine kembali membuatkan kopi untuk suaminya itu yang kemudian ia masukkan ke dalam tumbler aluminium tahan panas. Yasmine tidak habis pikir dengan Damar, berapa gelas kopi yang ia habiskan dalam sehari? Kenapa laki-laki itu tidak pernah peduli akan kesehatannya sendiri?
***
“Wah apa nih? Kayak anak TK aja bawa minuman segala,” ucap Bimo yang baru saja memasuki ruangan bosnya itu. Tidak biasanya Damar membawa tumbler ke kantor. Benar-benar bukan Damar sekali.
“Sialan lo!” maki Damar.
“Lagian ngapain sih pake bawa ginian, di pantry juga ada air kali bos.”
“Ini kopi!”
“Emang kopi buatan gue buruk banget ya sampe lo bela-belain bawa kopi dari rumah?” tanya Bimo heran. Padahal biasanya yang membuatkan kopi untuk Damar di kantor adalah dirinya. Damar memang tidak terlalu cocok dengan merk kopi di luaran sana. Dia membeli kopinya khusus dari Brazil. Dan kopi itu juga yang biasa Bimo buatkan untuk Damar.
“Kopi buatan Yasmine lebih enak daripada buatan lo,“ ucap Damar dengan entengnya.
“Sialan, mentang-mentang udah punya istri!”
“Tapi tunggu deh, berarti udah tumbuh benih-benih cinta nih ceritanya?” goda Bimo. Namun sialnya yang digoda malah biasa-biasa saja. Damar justru hanya melihat datar ke arah Bimo.
“Jawab dong bos! Bener lo udah suka sama istri lo ini?” pancing Bimo lagi.
“Gue suka sama kopi buatannya, bukan sama orangnya.”
“Nih ya bos gue kasih tau. Sekarang boleh aja lo bilang cuma suka sama kopinya, tapi besok siapa yang tau?” ucap Bimo sambil menepuk-nepuk pundak Damar.
“Nggak usah ngaco, balik kerja sana!” timpal Damar sembari menepis tangan Bimo di pundaknya.
Setelah Bimo keluar dari ruangannya, Damar pun langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kasar. Dia tidak mungkin menyukai Yasmine―baik untuk sekarang maupun nanti. Omongan Bimo tadi hanyalah omong kosong. Sudahlah dia harus kembali bekerja. Dengan malas Damar mulai meraih ponselnya guna mengecek jadwal yang sudah dikirimkan oleh Bimo, namun justru pesan dari Karin yang ia temukan.
***
Kenapa akhir-akhir ini Damar sering sekali melupakan Karin? Dengan malas dia pun mulai membuka pesan itu―entah kapan Karin mengirimkan pesan ini, Damar benar-benar lupa.
From : Karin
Kamu sibuk?
18.01
Aku kangen kamu, bisa kita ketemu sebentar?
18.12
Angkat telfonku, Damar.
20.34
Semalam Karin menelfonnya? Dengan segera dia mengecek log panggilan di ponselnya dan benar saja semalam Karin memang menghubunginya berkali-kali yang sama sekali tidak disadari oleh Damar. Mungkin saat itu dia terlalu fokus bekerja sehingga tidak terlalu menghiraukan ponselnya.
“Kemana aja kamu? Kenapa nggak angkat telfonku semalam?” ujar Karin yang baru saja memasuki ruangannya dengan Bimo yang masih mencoba untuk menghalanginya.
“Sorry bos, dia maksa masuk,” ucap Bimo tidak enak.
“It’s okay, lo bisa balik kerja.”
Setelah Bimo keluar dari ruangan, Karin mulai menatap Damar kembali dengan tatapan tajamnya, “Apa ini? Kamu nyuruh Bimo buat ngehalangin aku untuk ketemu kamu?”
“Enggak.”
“Terus kenapa dia bersikeras ngelarang aku untuk masuk?” ucap Karin tidak terima. Semua orang di kantor ini tau bahwa dia adalah kekasih Damar. Bahkan resepsionis disini pun dengan senang hati mempersilakan dia masuk. Namun ketika mulai memasuki ruangan Damar, tiba-tiba saja Bimo mencekalnya dan bersikeras melarangnya masuk.
“Mungkin karena dia tau aku pria yang sudah beristri.”
“Apa? Kamu bilang kamu akan merahasiakan status kamu!”
“Aku memang merahasiakan tentang pernikahanku ke semua orang―kecuali Bimo.”
“Tapi kenapa?”
“Karena dia sahabatku.” Karin bodoh, bagaimana mungkin dia bisa lupa kalau Bimo ini adalah sahabat baik Damar. Tidak mungkin Damar menyembunyikan sesuatu sepenting itu dari Bimo―sahabatnya.
“Kenapa kamu kesini?”
Pertanyaan Damar kembali menyadarkan Karin tentang niatnya datang hari ini, “Karena kamu nggak angkat telfonku semalam.”
“Come on Karin, ini bukan pertama kalinya aku nggak angkat telfon kamu. Kamu tau kan kalau aku memang bukan lelaki romantis yang bisa setiap saat nanggepin telfon atau pesan kamu.”
Ya, Karin tau. Semenjak mereka berpacaran, Karin memang sudah tau kalau Damar memang bukanlah lelaki yang romantis. Dia bukan tipe lelaki yang selalu bisa diajak untuk saling melepas rindu―baik untuk bertemu secara langsung maupun melalui telepon. Dia lelaki sibuk yang selalu mementingkan pekerjaan diatas segalanya.
“Iya, aku tau.”
“Terus kenapa kamu harus sampai kesini? Kamu tau kan, aku paling benci kalau pekerjaanku terganggu.”
Entahlah, Karin sendiri tidak tau. Biasanya dia akan bersikap biasa saja, karena memang itu sudah kebiasaan Damar. Tapi untuk sekarang, Karin menjadi lebih khawatir dan takut. Mungkinkah dia merasa terancam dengan keberadaan Yasmine disisi Damar?
***
Hati Yasmine menjadi tidak tenang seharian ini, itu sebabnya dia memutuskan untuk meminta cuti lagi―untungnya pekerjaan di kantor hari ini tidaklah terlalu hectic, sehingga Pak Theo mengizinkannya untuk mengambil cuti se-mendadak ini. Hari ini dia ingin meminta maaf kepada Damar. Dia berencana mengunjungi kantornya siang ini dan membawakan bekal makan siang sebagai bentuk permintaan maaf.
Dia bahkan sampai menelfon ibu mertuanya hanya untuk menanyakan apa makanan kesukaan Damar. Ibu mertuanya bilang Damar menyukai makanan western, itu sebabnya hari ini dia membuatkan barbeque roasts untuk Damar.
Sekarang dia sudah berada tepat di depan gedung perusahaan milik keluarga Damar―Bramantyo Group. Kini entah kenapa Yasmine merasa seperti bukan apa-apa. Ketika menikah dulu dia tidak tau kalau keluarga Damar adalah pemilik dari Bramantyo Group―perusahaan multinasional terbesar di Indonesia. Namun kini setelah mengetahui fakta itu bukannya merasa senang, Yasmine justru merasa terbebani. Dia takut tidak bisa menjadi menantu yang pantas untuk keluarga Bramantyo.
Tidak mau terus memikirkan sesuatu yang tidak penting Yasmine pun dengan segera memasuki gedung pencakar langit di depannya dan langsung menuju ke meja resepsionis.
“Permisi, saya mau bertemu dengan bapak Damar.”
“Sudah buat janji sebelumnya?” tanya resepsionis tersebut sambil memandang aneh ke arah Yasmine. Mungkin karena pakaian yang kini Yasmine gunakan memang bukanlah pakaian formal. Hari ini dia mengenakan dress polos selutut berwarna mint yang ia padukan dengan cardigan rajut putih. Namun menurutnya pakaian yang ia gunakan sudah cukup sopan.
“Ehm―belum.”
“Anda tidak bisa bertemu Pak Damar jika belum membuat janji terlebih dahulu,” ucap resepsionis tersebut dengan wajah sinisnya.
“Tapi saya kesini bukan untuk urusan pekerjaan, saya cuma mau mengantarkan bekal makan siang.”
“Maaf, Pak Damar tidak menerima sesuatu dari orang asing.”
“Tapi saya istrinya,” ucap Yasmine pelan. Tidak seharusnya Yasmine kecewa seperti ini. Hal ini wajar mengingat Yasmine memang belum pernah kesini, jadi tidak heran kalau memang tidak ada yang tau bahwa dia adalah istri Damar.
“Lebih baik Anda segera pergi dari sini, sebelum saya panggilkan security.”
“A-apa?”
“Semua orang tau kalau atasan kami belum menikah, jadi Anda jangan bicara omong kosong.”
Apa ini? Apa Damar tengah menyembunyikan pernikahan mereka? Tapi kenapa?
“Lagipula kami juga mengenal kekasih dari bos kami, dan yang pasti itu bukan Anda.” Yasmine yang mendengar hal tersebut kini menjadi kaku seketika. Kekasih? Tidak, mungkin yang dimaksud oleh resepsionis itu adalah mantan kekasih Damar. Ya, pasti begitu.