Pagi ini Yasmine tengah berkutat di dapur sendirian. Dia sedang membuatkan sarapan untuk Damar dan juga untuk dirinya sendiri. Pagi ini dia sudah akan mulai bekerja. Dia memang tidak mengatakan kepada atasannya tentang alasan cutinya dua hari kemarin.
Hanya Lila yang tahu tentang pernikahannya. Dia merasa semakin sedikit yang tahuu, justru akan semakin baik. Lagipula dia juga tidak tahu apakah pernikahannya ini akan berhasil atau tidak.
"Lain kali buatkan aku kopi, jangan teh lagi," ucap Damar tiba-tiba sambil meletakkan cangkir bekas teh hijaunya kemarin di samping Yasmine.
"Mas Damar udah bangun? Mau kubuatkan kopi sekarang?" tanya Yasmine dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Dia sangat senang karena akhirnya Damar mau meminum teh hijau yang ia buatkan semalam.
"Nanti aja, aku mau mandi dulu."
Setelah dilihatnya Damar mulai kembali ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya, Yasmine pun mulai fokus kembali ke masakannya sambil bersenandung riang. Usahanya semalam tidak sia-sia. Dan kini dia harus lebih berusaha lagi agar dapat meluluhkan hati suaminya itu.
Hari ini dia memasak nasi goreng rumahan dengan omelette sederhana di atasnya. Dia tidak tau sarapan apa yang biasa Damar makan setiap paginya, jadi dia mencoba membuat makanan sederhana ini. Yasmine berharap semoga kali ini Damar mau memakan masakannya.
Selain itu dia juga sudah membuatkan secangkir kopi untuk Damar dan segelas s**u―untuk dirinya sendiri. Bagi Yasmine, segelas s**u di pagi hari itu merupakan suatu keharusan.
“Mana kopiku?” tanya Damar yang kini telah duduk manis di kursi meja makan. Dengan segera Yasmine mengambilkan kopi yang diminta oleh suaminya itu dan meletakkannya tepat di hadapan Damar.
“Mas Damar nggak mau makan dulu?” tanya Yasmine yang dilihatnya Damar hendak mengambil cangkir kopi di depannya.
“Aku nggak pernah sarapan.”
“Tapi perut kamu kan masih kosong, Mas. Nggak baik kalau—”
“Aku nggak suka perempuan cerewet,” potong Damar sambil menatap tajam perempuan di depannya. Yasmine yang ditatap seperti itu kini hanya bisa menundukkan kepalanya dalam.
“Dan aku serius dengan ucapanku kemarin. Jangan pernah menganggap bahwa kita adalah pasangan yang sempurna, kita ini dipaksa pasangan yang dituntut oleh keadaan. Aku harap kamu ingat itu,” tekan Damar.
Yasmine pikir, dengan Damar yang sudah mau menerima teh pemberiannya semalam adalah tanda bahwa laki-laki itu sudah mulai luluh. Namun nyatanya tidak, Damar masih saja kekeh dengan pendiriannya.
“Terserah kalau Mas Damar nggak mau menganggap pernikahan ini, tapi aku akan terus berjuang untuk pernikahan ini,” kata Yasmine yang mengundang lirikan sinis Damar.
“Aku akan memperjuangkannya semampu yang aku bisa,” ucap Yasmine lagi.
Meski awalnya Yasmine dia tidak menginginkan pernikahan ini, namun bukan berarti dia ingin bermain-main dengan yang namanya pernikahan.
“Oke, semoga berhasil,” kata Damar terkesan tidak peduli.
Yasmine menatapnya dengan tatapan kecewa. Namun Damar memilih mengabaikannya dengan sibuk dengan kopi di depannya, dan begitu cairan pekat itu menyetuh lidahnya, keningnya pun berkerut samar.
“Ada yang salah?” tanya Yasmine khawatir. Pasalnya dilihat dari raut wajah Damar, sepertinya laki-laki itu tidak menyukai kopi buatannya.
“Kopi apa yang kamu pakai?” tanya Damar setelah berhasil menormalkan kembali raut wajahnya.
“A-aku pakai kopi yang ada di dapur kamu. Aku lihat tanggal expired-nya juga masih lama. Apa ada yang salah?” tanya Yasmine gugup.
Damar pun tidak menjawab pertanyaan Yasmine dan kembali meminum kopinya dengan santai. Dia sama sekali tidak memperdulikan wajah Yasmine yang kini terlihat begitu ketakutan.
***
Damar berangkat ke kantor cukup pagi hari ini. Jadwalnya sudah kembali normal, itu artinya hari ini dia akan sangat sibuk sekali. Dia hanya libur sehari tapi kenapa pekerjaannya bisa menumpuk sebanyak ini, dia tidak membayangkan bagaimana jadinya kalau dia benar-benar libur seminggu.
“Bim, buatin gue kopi kayak biasanya.”
“Belom ngopi lo? Emang bini lo nggak bikinin tadi pagi?” tanya Bimo heran.
“Gue butuh kopi lebih banyak,” ucap Damar yang masih terus fokus pada berkas-berkas di depannya.
“Oke.”
Hari ini kemungkinan dia akan lembur sampai malam. Terkadang Damar merasa lelah juga dengan pekerjaannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia anak tunggal―mau tidak mau dialah yang harus mengurus perusahaan milik keluarganya ini.
“Nih bos kopinya,” ucap Bimo sambil meletakkan secangkir kopi ke atas meja Damar.
Damar pun mulai meminum kopinya pelan. Dia butuh kopi agar bisa tetap terjaga seharian ini.
“Ini kopi biasanya?” tanya nya dengan kening yang berkerut.
“Iya, kenapa?”
“Kok rasanya beda?” tanya Damar sambil meletakkan kopinya kembali ke atas meja. Dia sudah tidak berselera dengan kopi di hadapannya.
“Masa sih? Kopi ini sama kayak yang ada di rumah lo kok, gue kan ngambilnya dari sana juga.”
Sebenarya tidak ada yang aneh dengan kopi itu. Rasanya masih sama seperti kopi buatan Bimo biasanya. Hanya saja rasanya sangat berbeda dengan buatan Yasmine tadi pagi. Kopinya tetap sama tapi bagaimana bisa rasanya begitu berbeda? Takaran apa yang digunakan oleh Yasmine, kenapa kopi buatannya bisa seenak itu?
***
Pagi ini Yasmine dibuat kecewa lagi. Damar tidak mau memakan masakannya pagi ini, padahal dia sudah terlanjur membuat dua porsi. Karena tidak mau membuang-buang makanan, maka dia pun membawa makanan itu untuk dia makan di kantor siang ini―lagipula di kantornya juga ada microwave, dia bisa memanaskan bekal makanannya nanti.
Karena ketika pindahan kemarin Yasmine tidak membawa mobil dari rumahnya, maka terpaksa hari ini dia menggunakan busway untuk pergi ke kantor. Sebenarnya tidak buruk juga, dia suka menggunakan angkutan umum. Apalagi apartemen Damar juga dekat dengan halte, sehingga sangat memudahkan Yasmine.
Sepertinya Yasmine akan terus menggunakan angkutan ini. Lebih menyenangkan menaiki busway daripada harus mengendarai mobil sendiri dan berkutat dengan macetnya jalanan ibukota.
“Wah, apa tuh?” tanya Lila ketika melihat Yasmine membawa kotak bekalnya.
“Omelette, mau?”
“Mau dong, gue belum sempet sarapan tadi pagi.” Dengan segera Lila mulai mengambil kotak tersebut dari Yasmine dan membawanya ke meja miliknya.
“Tapi itu kayaknya udah dingin, nggak mau dipanasin dulu?”
“Gini aja udah enak,” ujar Lila yang kini sudah memakan omelette-nya dengan begitu lahap. Yasmine senang setidaknya ada orang yang menyukai masakannya, mungkin kedepannya dia harus lebih sering membawa makanan untuk Lila? Melihat sahabatnya makan lahap seepeti ini membuatnya ikut senang.
“Yasmine, ikut saya rapat siang nanti.”
Mendengar suara dari atasannya, Lila pun dengan segera menyembunyikan omelette yang belum selesai ia makan di atas pangkuannya. Kenapa atasannya ini suka sekali muncul secara tiba-tiba?
“Baik Pak,” patuh Yasmine.
Jika Pak Theo sudah mengajaknya untuk ikut rapat seperti ini, biasanya akan ada pihak wedding organizer yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka atau bahkan ada klien mereka yang ingin menggunakan gaun rancangan Galencio Brands di hari pernikahan mereka nanti.
Setelah dilihatnya Pak Theo sudah berlalu meninggalkan mereka, Lila pun dengan segera kembali melahap makanannya, “Heran banget sama tuh orang, kerjaannya bikin kaget aja.”
***
“Mbak Tere nggak ikut Pak?” tanya Yasmine mencoba memecah keheningan.
“Tere lagi cuti hamil,” jawab Theo dengan tatapan yang masih fokus pada jalanan di depannya.
Sekarang ini Yasmine tengah berada di dalam mobil bersama dengan atasannya―Pak Theo. Jika biasanya mereka akan pergi bertiga yaitu bersama Mbak Tere yang merupakan sekretaris bosnya, maka kali ini mereka hanya pergi berdua saja. Hal ini membuat Yasmine menjadi agak canggung. Apalagi sekarang dia duduk tepat di sebelah bosnya, padahal biasanya dia hanya akan duduk di belakang.
Setelah perjalanan hampir satu jam, mereka akhirnya sampai juga di lokasi. Mereka sedang berada di Orin’s wedding organizer, Bandung. Yasmine sangat jengkel sekali dengan bosnya ini, kenapa tidak bilang kalau mereka akan ke Bandung? Tau begitu dia akan membawa charger-nya yang tadi sempat dipinjam Lila. Sekarang ponselnya mati, mau pinjam ke bosnya pun dia tidak enak.
“Nggak turun?”
“E-eh iya Pak,” jawab Yasmine kikuk.
Mereka pun akhirnya memasuki gedung besar bertuliskan Orin’s wedding organizer. Perusahaan ini memang cukup terkenal di Bandung, akan sangat menguntungkan jika Galencio Brands bisa bekerja sama dengan perusahaan ini.
“Hei, akhirnya kamu pulang juga,” sambut perempuan yang cukup familier di mata Yasmine.
Yasmine merasa seperti pernah melihat perempuan ini di suatu tempat, tapi dimana?
“Aku kesini mau bahas rencana rapat kita, bukan mau reunian sama kakak,” balas Theo jengah.
“Masih kaku aja kamu, eh ini siapa?” tanya perempuan itu sambil menatap Yasmine penasaran.
Dan begitu perempuan itu menghadap ke Yasmine sepenuhnya, Yasmine mulai ingat. Dia tahu siapa sosok perempuan di depannya ini!
***
Yasmine benar-benar tidak menyangka kalau Olivia Rininta pemilik Orin’s wedding organizer ternyata adalah kakak dari bosnya sendiri. Yasmine sendiri sangatlah mengagumi sosok Oliv. Dia membuka usahanya benar-benar dari nol dan akhirnya bisa menjadi sebesar sekarang, Yasmine benar-benar salut akan hal itu.
“Jadi kamu desainernya Theo?” tanya Oliv dengan senyum di wajahnya.
Ditanya seperti itu Yasmine jadi bingung sendiri, dia ini desainernya Galencio Brands bukan desainernya Theo.
“Ehm―maaf bu, saya ini desainernya Galencio Brands bukan desainernya Pak Theo.”
“Nanti juga kamu bakal jadi desainernya dia, karena nantinya Hansters Inc akan dia ambil alih.”
“Kak!” tegur Theo.
“Ma-maksudnya?” tanya Yasmine bingung.
“Hansters Inc itu perusahaan keluarga kami yang nantinya akan diwariskan ke Theo, jadi mending kamu baik-baikin Theo mulai dari sekarang.”
Yasmine tidak bisa berkata-kata. Apa itu tadi? Jadi Theo itu anak dari Hans William―pemilik perusahaan tempat dia bekerja?
“Kak, aku kesini bukan buat ngomongin itu,” ujar Theo jengah.
“Iya-iya oke. Kita mulai rapatnya sekarang.”
Selama rapat berlangsung, Yasmine sama sekali tidak bisa fokus. Dia masih memikirkan kebenaran tentang Theo yang merupakan adik dari Olivia Rininta serta Theo yang juga merupakan anak dari pemilik Hansters Inc.
***
Rapat berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan perjanjian kerja sama antara Galencio Brands dengan Orin’s wedding organizer. Jadi, hasil dari rapat kali ini yaitu perusahaan Oliv akan menggunakan gaun rancangan Galencio Brands untuk para kliennya nanti―hasil yang sesuai dengan harapan Theo dan juga Yasmine.
“Kamu keliatan nggak fokus selama rapat tadi.” Sekarang mereka tengah berada di perjalanan menuju ke Jakarta.
“Ma-maaf, Pak. Saya cuma masih nggak nyangka kalau ternyata Bapak itu anak dari pemilik Hansters Inc.”
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Theo yang sesekali melirik ke arah perempuan di sampingnya.
“Enggak Pak, nggak ada yang salah,” jawab Yasmine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
Theo yang melihat kelakuan Yasmine pun hanya bisa tersenyum geli, “Kita makan dulu ya, saya lapar.”
Sekarang mereka tengah berada di restoran sunda yang cukup terkenal di kota Bandung. Kata Theo ini adalah restoran favorit keluarganya. Makanan disini terkenal enak dan suasananya juga menenangkan.
“Kamu mau pesan apa?”
“Saya ngikut bapak aja.”
Theo pun kembali membolak-balik buku menu mencari makanan apa yang sekiranya cocok untuk mereka berdua.
“Saya pesan nasi liwet paket komplit untuk dua orang,” ucap Theo kepada pelayan di depannya.
“Untuk minumnya, Pak?”
“Kamu mau minum apa, Yas?” tanyanya pada Yasmine.
“Apa aja, Pak,” ucap Yasmine lagi-lagi.
“Es kelapanya dua.”
“Baik, ditunggu sebentar ya,” kata pelayan tersebut sembari mulai bergegas pergi.
Sekarang tinggal mereka berdua di sini. Semeja hanya berdua dengan atasannya membuat Yasmine menjadi agak canggung. Dia tidak tahu harus memulai obrolan yang seperti apa dengan bosnya ini.
“Saya ke toilet sebentar ya, Pak,” izin Yasmine.
“Ya, silakan.”
***
Sepertinya pergi ke toilet memanglah lebih baik daripada harus terjebak dalam situasi canggung dengan bosnya. Untunglah toilet cukup sepi sehingga Yasmine bisa sedikit berlama-lama disana.
Sekarang dia tengah berdiri di depan cermin wastafel, namun dia tidak sendiri―di sebelahnya ada sosok perempuan cantik yang dia tau namanya. Perempuan itu Karin―salah satu model ternama di ibukota. Namanya cukup terkenal di dunia fashion, wajar saja kalau Yasmine yang merupakan seorang desainer mengenal perempuan itu―walau hanya tau sebatas nama saja.
“Anda Yasmine Bintara?”
Yasmine yang tengah fokus membenarkan riasannya kini langsung menoleh ke wanita di sampingnya, “Mbak kenal saya?”
“Tentu, Anda desainer di Galencio Brands kan?”
“I-iya benar,” jawab Yasmine dengan gugup. Dia tidak menyangka orang se-terkenal Karin bisa mengenal dirinya.
“Saya Karin, senang bertemu dengan Anda,” ucap Karin sambil mengulurkan tangannya kearah Yasmine.
“E-eh saya yang harusnya bilang begitu. Suatu kehormatan bisa bertemu Mbak Karin di sini,” ucap Yasmine sambil membalas uluran tangan Karin.
“Kalau begitu saya permisi, manager saya sudah menunggu di depan,” pamit Karin.
“Iya mbak, silahkan.”
Yasmine menatap kepergian model ternama itu dengan takjub. Dia tidak menyangka model papan atas seperti Karin mengenalinya, dan bahkan mau repot-repot untuk menyapanya.
“Ternyata dia ramah juga,” gumam Yasmine dengan senyum kecil di wajahnya.
***
Hari ini Damar memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia membawa seluruh pekerjaannya ke rumah dan berencana untuk mengerjakannya disana. Bekerja tanpa kopi benar-benar seperti neraka baginya. Sialnya kini dia hanya menginginkan kopi buatan Yasmine, jadi mau tidak mau dia memilih pulang.
"Yasmine!" teriak Damar sambil berjalan menuju ke kamar wanita itu. Namun dilihatnya kamar itu masih kosong.
Sial, kemana wanita itu?
Damar pun mulai mencoba mencari kontak Yasmine dan mencoba untuk menghubunginya. Namun sayangnya hanya suara operator yang terdengar.
"Sialan, pergi kemana sih dia!"
Di tengah kekalutannya muncul notifikasi masuk di ponsel Damar, ternyata pesan dari Karin―entah kenapa Damar justru kecewa, mungkin karena dia memang mengharapkan pesan itu dari Yasmine?
From : Karin
(Karin send a pict)
Aku lihat istri kamu lagi di Bandung,
dia lagi makan sama laki-laki lain.
16.01
Damar melihat foto yang dikirimkan Karin dengan rahang yang sudah mengeras. Bahkan kini dia sudah meremas ponsel di tangannya dengan kuat―untungnya dia masih bisa menahan diri untuk tidak melempar ponselnya sekarang juga.
Yasmine benar-benar sedang menguji kesabarannya. Bagaimana mungkin perempuan itu berani bermain di belakangnya. Ternyata wajah lugunya itu hanyalah kedok saja. Damar sudah bodoh karena sempat tertipu dengan kepolosannya.
Tapi untuk apa juga dia marah. Bukankah memang ini yang diharapkan Damar sebelumnya? Dia ingin Yasmine dan dirinya menjalani kehidupan masing-masing. Terserah saja jika memang Yasmine sudah memiliki kekasih di luaran sana. Itu bukan urusan Damar. Ini bahkan jauh lebih baik. Yasmine bisa fokus dengan kekasihnya dan Damar bisa fokus kembali ke Karin.
Mengingat tentang Karin, dia jadi merasa bersalah dengan wanita itu. Sudah lama dia tidak menghubungi Karin―bahkan beberapa pesan dari Karin dia biarkan begitu saja. Damar mulai meraih ponselnya kembali dan membuka kontak Karin, kemudian menyentuh tanda dial.
"Udah inget aku lagi?" sapa Karin di seberang sana.
"Maaf karena baru bisa hubungin kamu sekarang," jawab Damar yang tidak terdengar begitu menyesal.
"Kamu terlalu fokus sama istri kamu, sampai lupa sama aku."
"Aku lagi nggak mau bahas itu," ucap Damar jengah.
"Kenapa? Sakit hati karena diselingkuhi istrimu?" sindir Karin.
"Aku tutup telfonnya."
"Tunggu―iya oke, aku nggak akan bahas itu lagi." Karin lupa kalau Damar memiliki tempramen yang cukup buruk, tidak seharusnya dia memancing kemarahan Damar seperti tadi.
"Dam, aku mau meluruskan sesuatu ke kamu."
"Apa?" tanya Damar seadanya.
Sejujurnya dia ingin segera memutus panggilan ini. Saat ini suasana hatinya sedang tidak stabil, dan jika Karin hanya ingin mengatakan hal-hal menjengkelkan, lebih ia akhiri saja panggilan ini.
"Kamu sekarang udah nikah sama perempuan itu ‘kan?"
"Maksud kamu Yasmine?" tanya Damar. Seingatnya dia sudah pernah memberitahu Karin nama calon yang akan dijodohkan orangtuanya kepadanya—dan Damar yakin, Karin masih mengingatnya.
"Ya."
"Bukannya aku udah pernah cerita tentang ini ke kamu?"
Jauh sebelum ia menikahi Yasmine, Damar sudah mengatakan segalanya kepada Karin—tentang siapa gadis yang dijodohkan dengannya, hingga rencana pernikahan yang sudah diatur oleh kedua orangtuanya.
"Memang. Tapi apa kamu inget kalau belum ada kata putus di antara kita?" ujar Karin membuat Damar terdiam.
Damar memang sudah mengatakan segalanya kepada Karin, tapi tidak ada kata putus di antara keduanya. Saat itu Karin memang sempat kesal dengan perjodohan ini, namun tidak lama karena setelahnya gadis itu mulai bersikap sewajarnya.
"So?"
"Aku masih pacar kamu sekarang," kata gadis itu membuat Damar menghela napasnya lelah.
"Aku tau.”
"Jadi hubungan kita masih terus berlanjut kan?" tanya Karin penuh harap.
"Tentu. Lagipula hubunganku dengan Yasmine hanya sekedar status," jawab Damar dengan entengnya.
Hening beberapa saat, Damar pikir Karin sudah memutus panggilan mereka akan semacamnya hingga didengarnya suara Karin lagi—yang kali ini terdengar lebih bersemangat dibanding sebelumnya.
"Oke, aku cuma mau memastikan. Makasih ya, Dam,” kata Karin membuat Damar mengernyitkan keningnya bingung.
“Makasih buat apa?”
“Makasih karena mau mempertahankan hubungan kita," ujar Karin yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Hmm. Aku tutup telfonnya, kerjaanku masih banyak," tutup Damar.
Damar tidak tau apakah keputusannya ini benar atau salah. Dia memang tidak menginginkan pernikahan ini. Dia menerima pernikahan ini hanya karena permintaan Mamanya saja. Semua orang tau betapa Damar menyayangi Mamanya, apapun akan Damar lakukan demi malaikatnya itu―termasuk pernikahan ini.
Awalnya Mamanya mendesak agar dia segera menikah. Damar pun membawa Karin―pacarnya saat itu ke rumah untuk dikenalkan ke Mamanya. Namun entah kenapa Mamanya justru tidak menyukai sosok Karin, dan berakhirlah Damar dalam perjodohan yang sudah direncanakan oleh kedua orangtuanya.
Sebenarnya dia bisa saja menolak, namun melihat binar harap di wajah Mamanya membuatnya mau tidak mau menerima perjodohan itu. Dia bisa melakukan apa saja demi kebahagiaan Mamanya―bahkan jika diminta untuk memberikan nyawanya sekalipun Damar sanggup.