Kesal

939 Words
Sepulang sekolah gue beneran ke ruang guru buat nemuin Pak Ryhun, sebenernya tadi gue mau langsung pulang. Tapi gue langsung ditahan Bayu untuk nyelesein masalah gue sama Pak Ryhun dulu. Akhirnya gue nurut dan berakhir dihadapan Pak Ryhun, tatapan tajam dari Pak Ryhun membuat gue diam tak berkutik sama sekali. "Saya heran sama kamu, kamu itu pintar dan terbukti di nilai-nilai kamu sebelumnya. Dan kamu juga tidak termasuk daftar siswa nakal di catatan Pak Yatimoon sebelumnya." kata Pak Ryhun membuat gue ngedumel dalam hati. Lagi-lagi ini membuat gue berdosa karena sudah mengucapkan kata-kata mutiara dalam hati. "Tapi, kenapa kamu membolos di pelajaran pertama saya?” tanya Pak Ryhun tegas membuat gue menundukkan kepala. Sebenarnya gue ingin menjawab kalau hari ini mood gue lagi jelek. Bagaimana tidak, gue udah lihat pacar selingkuh lalu tubuh gue sakit gara-gara jatuh tadi. Ingin Blisan berkata demikian, namun bibir terkunci rapat. "Maaf pak." "Saya tidak terima permintaan maaf dari kamu, mulai sekarang kamu ada dibawah pengawasan saya. Kamu ini pintar dalam pelajaran matematika tidak seharusnya kamu bolos seperti tadi." ucap Pak Ryhun panjang lebar yang membuat gue malas untuk menatap wajahnya. Sebenarnya gue masih gak nyangka guru dingin ini bisa cerewet ke gue. Yang gue tahu guru ini cuek dan masa bodoh dengan murid-muridnya, buktinya di kelas tadi sikap dia sok cuek dengan siswi yang ssedang menggoda dia. "Iya pak" "Oh, apa kamu tidak suka jika guru pengganti matematika-nya seperti saya?" tanya Pak Ryhun yang membuat gue melihat kearahnya. "Iya Pak-eh gak kok Pak, saya terima dengan senang hati." Duh kenapa gue jadi keceplosan gini, mau mati apa gimana gue. "Wah, saya sudah menduga. Memang enakan guru sebelumnya kan seperti pak Yatimoon. Beliau bisa sabar menghadapi murid seperti kamu. Oh, apa jangan-jangan selama ini nilai kamu dimanipulasi kaerna kamu murid kesayangannya?" Enak aja nih guru kalau ngomong, gak di filter dulu apa mulutnya. Gue paling gak suka kalau ada yang bilang nilai gue gak sebanding sama tingkah nakal gue. Ya jangan nilai dari cover nya aja dong, motto gue kan; nakal boleh b**o jangan. Tapi gue paling gak suka kalau hasil kerja keras gue gak dihargain. "Pak saya tidak pernah memanipulasi nilai seperti itu. Saya memang pintar dari lahir Pak. Asal Bapak tau saya kemarin membuat sekolah bangga karena saya menang olimpiade matematika. Bapak itu guru baru jangan sok tau deh." "Kamu berani bicara seperti itu dengan saya. Mau nilai kamu saya kurangin?" kata Pak Ryhun membuat emosi gue tersulut. "Pak jangan bisanya cuman ngancam, sebenernya yang memanipulasi nilai itu Bapak atau siapa sih. Masa nilai saya yang awalnya bagus jadi jelek hanya karena saya ngomong tegas seperti ini dengan Bapak. Seharusnya Bapak bangga dong mempunyai siswi berani seperti saya." Balas gue makin nyolot. Makan tuh makan! Mau ngomong apalagi lo dedemit. "Wah sepertinya kamu memang tidak suka dengan saya. Jangan salahkan saya kalau saya harus lebih memperhatikan kamu karena kelakuan kamu seperti ini ya." Kata Pak Ryhun sambil menghela nafas. "Gak bisa gitu dong Pak, masa gara-gara saya seperti ini Bapak jadi memperhatikan saya. Awas Pak nanti suka loh sama saya, toh saya juga sekarang masih berbicara sopan kan sama Bapak." "Suka sama bocah kayak kamu? Mending saya nikah sama monyet" jawab Pak Ryhun sinis. Dalam hati gue sudah mendoakan perkataan Pak Ryhun barusan agar terkabul disuatu saat nanti, "Wah jangan gitu dong Pak, omongan adalah doa loh. Kalau Bapak beneran nikah sama monyet gimana? Nanti ada berita viral gini deh 'seorang guru telah menikah dengan monyet, tak disangka-sangka hanya karena dia tidak mengakui jika menyukai seorang siswi' wah kocak juga ya Pak." Berani juga gue melawan ketidakadilan guru ini. Gue harus berterima kasih sama Bang Taeroy karena dia gue jadi pinter adu mulut. Gimana enggak, selama di rumah gue selalu saja adu mulut sama Abang gue. Jadi gini deh hasilnya, mulut gue sama cabe beda tipis. "Ck ck berani ya sekarang kamu mempermainkan saya. Mulai sekarang setiap pelajaran saya, kamu harus kemari untuk memanggil saya. Dan kamu harus mengatur anak-anak agar tertib setiap pelajaran saya akan mulai. Tidak ada bantahan!" gertak Pak Ryhun dengan tegas. Demi apapun nih guru berhasil menghabiskan stok kesabaran gue. Padahal tadi masih ready banyak, sekarang udah mau sold aja. "Loh Pak gabisa gitu dong kan-" "Saya tidak menerima bantahan. Mulai besok kerjakan perintahnya atau saya akan mengurangi nilai kamu dan nilai sikap kamu bakal saya kasih C. Saya tidak main-main." Tegas Pak Ryhun. Oke, percuma gue ngomel terus daritadi. Sekali nya Pak Ryhun ngancem, pasti dia tetep keukeuh sama pendiriannya. Percuma gue ngelawan, mau gimana pun juga dia kan guru akhirnya dengan terpaksa dan setengah ikhlas gue terima sambil mendengus kesal. "Sekarang kamu boleh keluar dan silahkan pulang dengan selamat." Kata Pak Ryhun sambil melipat tangannya. Gue langsung bangkit dari kursi tanpa pamitan terlebih dahulu, lalu menendang mejanya dan pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan kesal. Gue doain lo pulang gak selamat dedemit. Gue berharap rem mobil lo rusak terus lo nabrak pohon, langsung end deh. Bayanginnya aja gue udah senyam-senyum sendiri. Gue denger Pak Ryhun teriak tepat gue udah sampe di pintu. "Astaga sabar saya ngadepin kamu!" Siapa suruh cari gara-gara. Lo udah masang bendera perang dedemit. Liat aja balasan gue nanti. Gue sampai di halaman sekolah dan lihat Bayu duduk di pos satpam, wajahnya badmood banget keliatan kalau dia udah capek nunggu. "Udah selesai? Kenapa muka lo kusut banget kayak belom disetrika. " Tanya Bayu. "Tau ah gue kesel sama si dedemit." "Abis diapain lo sama Pak Ryhun? Gak dibonyokin kan lo." Ucap Bayu asal membuat gue melotot kearahnya. "Bodo amat, jangan bahas dia. Yuk anterin gue pulang, capek jiwa raga gue hari ini." Bayu cuman senyum ke gue terus dia gandeng tangan gue ke parkiran. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD