Sesampainya di rumah gue langsung beranjak ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah itu gue langsung ke kasur merebahkan diri untuk melepaskan penat. Mata gue terpejam sejenak merasakan pegal yang menjalar di tubuh gue.
Maunya malam ini gue ke rumah Bayu buat ngerjain soal matematika yang diberikan Pak Ryhun tadi. Tapi lagi-lagi mood gue hilang saat berhubungan dengan Pak Ryhun. Padahal gue suka banget sama pelajaran matematika, tapi akibat guru pengganti seperti Pak Ryhun membuat gue muak sama pelajarannya juga.
Disaat mata gue terpejam tiba-tiba sekelibat bayangan Vernon sedang selingkuh dengan Somin muncul di pikiran gue. Helaan nafas pelan sudah keluar dari mulut gue, rasanya sakit banget mengingat hal itu. Gue mulai memeluk guling dan mencari posisi nyaman untuk tidur. Biarlah tugas Pak Ryhun gak gue kerjain, toh besok gue bisa nyontek Jennie. Sekarang gue mau tidur karena rasa kantuk sudah menyerang gue.
---
Pagi hari di sekolah, begitu sampai di kelas gue langsung menelungkupkan wajah gue diatas meja. Entah mengapa pagi ini gue kesel banget, gara-gara tadi di rumah gue sempet cekcok sama Bang Taeroy. Alasannya sepele sih, karena Mama dan Papa tiba-tiba gaada dirumah dan kita jadi telat bangun. Gara-gara hal itu kita jadi saling perang mulut. Pokoknya gue kesel sama abang gue, bukannya kasih contoh yang baik buat adiknya eh dia malah nyolot ngejek gue cewek pemalas.
"Selamat pagi kesayangannya Bayu!" Semprot Bayu yang datang tiba-tiba disamping gue. Gue yang kaget reflek menyumpal mulut dia pake mistar.
"Sakit anjir lo masukin penggaris ke mulut gue" Bayu mengusap-usap mulutnya sambil meringis. Gue masih memasang wajah datar andalan gue membuat Bayu berhenti meringis.
"Jangan ditekuk mulu mukanya, entar makin keriput." Bayu melepaskan tas yang dia pake dan beralih menatap gue. Mendegar itu gue hanya mendengus kesal.
"Bodo amat gue lagi sebel."
"Gue tau penyebabnya nih, udah nanti gue bantuin lo ke Pak Ryhun." Bayu memahami rasa kekesalan gue. Dia sudah tau tentang Pak Ryhun yang memberi tugas aneh itu ke gue karena gue sudah menceritakan semuanya ke dia. Awalnya dia menghina dan gak ngasih saran ke gue, tapi setelah itu dia berusaha untuk menenangkan dan membantu gue.
"Males, gak gue ladenin guru kayak gitu, kalo mau ya lo aja sana." Ucap gue acuh dan kembali tidur dengan menenggelamkan wajah gue di tangan yang beralaskan meja. Baru aja mau terlelap, suara Jennie dan Blisa sudah memenuhi ruang kelas ini.
“Woi Sar lo dipanggil Pak Ryhun tuh.” kata Jennie saat sudah duduk di depan gue diiringi Blisa di sebelahnya. Perkataan Jennie barusan membuat kepala gue mendidih seketika. Pikiran tentang tugas aneh yang diberikan Pak Ryhun kepada gue terus menghantui pikiran gue.
“Tuh kan gue bilang juga apa, turutin aja kenapa sih daripada lo kena masalah lagi.” sahut Bayu diiringi anggukan Jennie dan Blisa. Dua sahabat perempuan gue ini juga tau tentang hal ini, gue cerita ke mereka waktu berangkat sekolah tadi lewat grup chat Line.
"Bay anterin gue ya."
"Tadi aja lo marah marah, sekarang lo-" perkataan Bayu terpotong karena gue sudah menatap dia tajam. Terus terang saja Bayu lemah kalau gue tatap seperti itu, katanya gue terlihat sexy jika mengeluarkan tatapan tajam. Padahal gue gak menemukan unsur sexy itu dimana. Memang otak Bayu perlu diragukan.
"Iy..iya Sar gue anterin deh." balas Bayu terbata-bata membuat gue tertawa dalam hati.
"Good boy." Gue menepuk kepala Bayu dan tersenyum penuh kemenangan. Sebelum keluar dari kelas gue menghampiri Jennie untuk menyalin tugas dari Pak Ryhun.
“Jen salin tugas matematika gue dong, entar gue traktir makan deh.” tak butuh waktu lama Jennie langsung menyetujuinya dan mengerjakan tugas gue. Memang hidup Jennie penuh dengan gratisan, mangkanya cepat.
Gue jalan beriringan dengan Bayu dengan langkah malas, sementara Bayu sudah bersiul pelan selama perjalanan. Hingga tak terasa gue sudah sampai di ruang guru dan mata gue dengan cepat tertuju ke arah lelaki yang sedang membaca buku di mejanya.
Sebelum gue menghampiri Pak Ryhun gue menghembuskan nafas gue pelan berusaha menetralkan emosi gue yang ingin meledak. Entah sejak kapan gue cepat emosi jika melihat guru itu.
“Permisi Pak.” ucap gue sopan dan tak lupa senyum tidak ikhlas gue keluarkan agar terlihat sopan di depan guru ini.
"Loh saya kan hanya memanggil kamu, kenapa kamu mengajak teman kamu." cerocos Pak Ryhun tiba-tiba membuat senyum di wajah gue luntur seletika. Pandangan bahwa kebaikan Pak Ryhun ke gue hancur seketika.
"Loh Bapak kan tidak memberi tahu jika saya harus sendirian, jadi saya berhak dong buat membawa teman." balas gue tidak terima membuat Bayu yang ada di sebelah gue langsung menolehkan kepalanya kearah gue. Tak hanya itu dia juga sudah menyubit lengan gue pelan.
"Apasih sakit bego." bisik gue ke Bayu.
"Sopan dikit Sar." balas Bayu pelan tapi masih bisa gue dengar dengan jelas.
"Bayu." Panggil Pak Ryhun tiba-tiba membuat gue melirik kearahnya.
"Iya Pak?"
"Kamu balik saja ke kelas, biar Sarah sendiri yang melakukan tugasnya." akibat ucapan Pak Ryhun barusan membuat Bayu mengangguk mantab dan berlari keluar ruang guru. Hal itu membuat gue makin geram dengan Bayu, kenapa dia gak bisa setia sampai akhir.
"Kamu!" sentak Pak Ryhun membuat gue mengusap d**a sejenak.
"Bawakan tas milik saya, sekarang ke kelas karena setelah ini Indonesia Raya dan doa segera dikumandangkan." Mendengar itu gue berusaha mati-mati an menahan emosi gue yang akan meledak, tapi gue gak mau ambil pusing dan segera menuruti permintaan gak wajarnya itu.
Gue langsung membawa tas milik Pak Ryhun sesekali mengumpat pelan di belakangnya. Gue juga merasa jika beberapa guru menatap kearah gue dengan pandangan bingung. Pak Moonif, guru agama yang dekat sama gue udah liatin gue dengan bertanya-tanya. Memang gue itu deketnya sama yang alim, bukan yang aneh kayak Pak Ryhun.
Untung koridor kelas sudah sepi karena muridnya sudah masuk ke kelas. Kalau sampai murid sekolah ini melihat gue jalan beriringan dengan Pak Ryhun apalagi murid cewek, bisa dilirik sinis gue. Secara guru baru ini sudah memiliki penggemar di sekolah ini, gue juga heran bisa-bisanya guru dedemit ini disukain cewek seantero sekolah.
Selama perjalanan gue cuman diam sedangkan Pak Ryhun sudah jauh di depan gue. Kenapa dia jalannya cepet banget, gatau apa disini gue bawa tasnya yang lumayan berat.
"Kamu pagi-pagi sudah lemas, kalau jalan yang cepat sudah mau bel masuk ini." perkataan Pak Ryhun membuat gue berjalan dengan langkah yang lebih cepat.
"Iya pak.” jawab gue malas. Tapi disaat gue sedang menahan kekesalan, disitulah keisengan gue muncul.
Tiba-tiba gue tersenyum licik saat tidak sengaja menemukan sebuah mainan permen kecoak yang gue simpan di saku seragam gue. Sepertinya gue harus melakukan hal terpuji dan menyenangkan agar pagi gue penuh dengan warna.
Gue langsung merogoh mainan permen kecoak gue dan setelah itu gue mengelusnya lembut. Memang diluar terlihat seperti permen tapi aslinya di dalam bungkus ini terdapat kecoak yang membuat Bapak ganteng itu menjerit. Membayangkannya saja gue sudah seneng sendiri.
"Buat Bapak ganteng itu menjerit ya sayang." kata gue bermonolog ria sembari tetap mengelusnya dengan kasih sayang.
Gue langsung menaruh mainan permen kecoak itu di tas milik Pak Ryhun. Lalu gue melangkah riang menyusul Pak Ryhun di depan sana. Ternyata bahagia sesederhana ini ya.
Ketika sudah sampai di kelas sudah dipastikan keadaannya bagaimana. Teriakan dari murid yang berdominan cewek membuat telinga gue sakit.
"Ugh Pak Ryhun!"
“Astaga parah banget kegantengannya.”
"Kenapa gue lihat masa depan disini sih."
Gue menggelengkan kepala heran saat teman cewek gue pada gila semua. Kenapa mereka menggoda orang aneh sih, dibilang ganteng lagi padahal gak!
Gue langsung meletakkan tas milik Pak Ryhun di meja guru, tak lupa sebelum pergi gue senyum kearah Pak Ryhun. Kan senyum itu ibadah, nanti juga dapat pahala.
Tapi Pak Ryhun melihat itu mengerutkan dahinya dan nahan tangan gue yang mau jalan ke bangku."Tugas kamu menenangkan mereka, saya kasih waktu 1 menit. Karena setelah ini Indonesia Raya dan berdoa."
Gue langsung ke tengah dan berdehem sebentar. "Woi yang masih rame kata Pak Ryhun nilainya bakal dikurangi!” teriak gue sembarangan yang membuat suasana kelas langsung sepi dan sunyi.
Gue langsung lari menuju bangku gue dan sampai disana gue liat ke arah Bayu dengan tatapan kesal seakan memberi tahu betapa marahnya gue ke dia. Tapi gue tidak sempat melampiaskan kekesalan gue ke Bayu karena lagu Indonesia Raya sudah terdengar di speaker. Setelah lagu Indonesia Raya selesai kita melanjutkan doa.
"Aamiin." ucap gue saat doa telah selesai. Senyum gue tertahan saat melihat Pak Ryhun mulai membuka tasnya. Di depan sana Pak Ryhun mulai kebingungan karena menemukan permen di tasnya, tapi walaupun bingung dia masih buka isinya. Gue cuman merutuki kebodohan Pak Ryhun.
Pak Ryhun pun mulai membuka perlahan-lahan permennya.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Anjir ini apa woi, arghh kecoak!" teriak Pak Ryhun menggelegar membuat seisi kelas langsung kaget sekaligus khawatir. Gue tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan gue dengan tertawa sekeras-kerasnya. Tak disangka u*****n Pak Ryhun keluar dari mulut laknatnya itu.
Dia langsung membuang kecoak itu dan berlari ke ujung kelas. Disana murid perempuan berhamburan untuk melihat keadaan Pak Ryhun, tentunya siswi yang bertahan pada posisi duduknya cuman gue, Blisa dan Jennie.
Yang gue lakuin saat ini cuman tertawa sembari memukul tangan Bayu. Sementara yang lain diam gue tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melampiaskan betapa bahagainya gue sekarang.
"Hahahaha lucu banget sumpah." Gue ketawa keras sampai gak merasa kalau ruangan ini penuh dengan suara ketawa gue.
"Sar pstt psst." bisik Blisa di depan gue membuat gue melirik dia sekilas lalu melanjutkan tertawa.
"Apaan sih itu lucu tau hahaha." balas gue sembari megangin perut gue yang sudah merasa keram.
"Sar jangan bilang lo yang nar-" perkataan Bayu terpotong karena...
"Sarah sekarang juga ikut saya ke ruang BK!" teriak Pak Ryhun membuat suara tawa gue merada dengan sendirinya. Tubuh gue menegang saat melihat Pak Ryhun marah di depan sana.