Jangan hilang

1552 Words
“Argh ....” Diandra mengaduh sakit karena mengangkat tutup drainase dengan sangat kuat. Tapi percuma saja, kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan betapa beratnya besi penutup drainase. Diandra kesakitan karena berusaha menarik besi tersebut. Telapak tangannya tergores dan terasa perih. “Diandra, apa yang kamu lakukan?” Yogi langsung menghampiri. Bunga dan Ardy pun sama. Mereka segera mendekat. “Kamu tidak apa-apa?” Bunga langsung melihat telapak tangan saudari kembarnya yang terluka. Diandra tersenyum kecut. “Aku tidak apa-apa.” “Tidak apa-apa. Ini telapak tanganmu terluka,” ucap Bunga sambil memandangi telapak tangan Diandra yang sedikit mengeluarkan darah. “Ini tidak terasa perih dibandingkan dengan hatiku yang terluka,” jawab Diandra dengan raut muka datar. Bunga memandang sedih. Yogi mendekati tutup besi drainase. “Biar aku saja yang membukanya,” ucapnya sembari mengangkat tutup drainase yang bersekat-sekat. Diandra dan Bunga memandangi Yogi yang berusaha sekuat tenaga mengangkat tutup besi tersebut. “Bisa tidak?” tanya Ardy. “Berat,” guman Yogi merintih. Seorang perawat pria yang mengenakan seragam serba putih melintas. Ia menegur Yogi, Ardy, Diandra dan Bunga. “Kalian sedang apa di sana?” tanyanya sambil melihat ke arah tangan Yogi, mengangkat tutup drainase. “Cincin kawin temanku jatuh ke mari,” ujar Yogi memberitahu. “Kalian tidak bisa mengangkat tutup drainase itu dengan mudah. Tutupnya sudah dibaut,” kata perawat pria tersebut memberitahu. “Lagi pula cincinnya pasti sudah terbawa air. Ini kan selokan beraliran deras. Bukan selokan tanpa air yang mengalir,” sambungnya menjelaskan. Diandra dan yang lainnya saling menatap satu sama lain. Sepertinya memang mustahil mencari. “Apa tutup drainase ini tidak bisa dibuka?” tanya Yogi kepada perawat tersebut. “Sepertinya tidak Mas. Lebih baik anda dan teman-teman anda, keluar dari sana. Lagi pula rumput di taman tidak boleh dipijak.” “Di, lebih baik kita sudahi pencariannya. Sepertinya cincin itu sudah hilang,” kata Bunga sembari melingkarkan tangannya di lengan Diandra. Diandra menarik tangannya. “Tidak, aku ingin mencari cincin Adam sampai ketemu.” “Tapi sepertinya cincinmu itu sudah terbawa air.” “Yang dikatakan oleh Bunga benar, Di ... Cincin Adam sudah hilang.” Ardy menambahi. Diandra menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Cincin itu pasti ketemu lagi.” Perawat pria yang sejak tadi sudah menegur, kini bersuara lebih tegas. “Mas-mas dan mbak-mbaknya lebih baik keluar dari sana. Nanti jika ada satpam akan lebih rumit lagi.” “Diandra, ayo kita pergi dari sini,” ajak Yogi. Diandra menggelengkan kepalanya. “Tidak ah ... Aku masih mau mencari cincinku itu.” “Aku saja yang akan mencarinya,” ujar Yogi. Ia pun mengandahkan muka ke langit. Melihat ke langit yang gelap. “Sepertinya sebentar lagi akan hujan.” “Karena itu aku harus menemukannya Yogi! Cincin Adam pasti akan terbawa arus air yang lebih deras jika hujan turun.” Perawat pria itu memandangi Diandra. “Mbak, jika satpam ke mari, jangan salahkan saya ya. Saya sudah menegur mbak. Kalau mbak melanggar peraturan Rumah sakit dengan menginjak rumput, mbak dan teman-temannya bisa tidak diperbolehkan untuk berkunjung ke mari membesuk kerabatnya yang sakit.” Untuk peringatan yang ketiga kali ini, Diandra mulai takut. Bagaimana jika ia tidak diperbolehkan untuk berkunjung ke mari? Lalu siapa yang akan menunggui Adam? batinnya. “Di, lebih baik kita pergi dari sini ...,” ujar Yogi. Perawat pria yang tadi menegur itu pun sudah bosan dan lelah memperingati. Dia pun mulai tidak peduli dan kemudian meneruskan melangkahkan kaki. “Jika yang menegur Satpam Bram, maka mereka bisa diusir dari rumah sakit ini. Sudah tahu, ada tulisan papan peringatan, ‘Jangan injak rumput’. Tapi mereka tetap memijaknya,” gumannya sambil berjalan pergi. “Kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh perawat itu?” Ardy mengingatkan Diandra. “Ya, Diandra, kita bisa diusir dari sini. Lalu bagaimana dengan Adam? Kamu tidak bisa menungguinya,” kata Bunga menambahi. Diandra terlihat resah. Antara ingin pergi dari taman atau tetap mencari cincin Adam. Bagaimana pun caranya ia harus membuka tutup drainase. Pasti cincinnya berada di dalam selokan itu! Buliran air hujan mulai jatuh perlahan dari langit yang sudah mendung. “Aw, gerimis!” pekik Bunga. Diandra merasakan kepalanya basah. Ia mengandahkan muka. Langit sungguh gelap. Cambukan petir mulai meliuk memecah langit. “Ayo cepat kita keluar dari sini!” tukas Yogi sambil mendorong tubuh Diandra agar berjalan pergi. Ardy menggandeng tangan Bunga dan mereka berlari menuju koridor panjang yang sepi. “Cincin Adam pasti sudah hilang,” ucap Diandra setengah tidak rela meninggalkan taman. “Biar aku saja yang mencari. Jika memang masih jodoh dengan cincin itu, pasti ketemu. Sekarang hujan. Lebih baik kita pergi dari taman,” ujar Yogi. “Jika kamu sakit, siapa yang menjaga Adam. Dan jika Bunga dan Ardy juga ikut sakit karena membantumu mencari cincinnya Adam, bagaimana dengan Halina. Halina masih kecil dia masih sangat membutuhkan Asi Bunga.” Diandra mengigit bibir bawahnya. Yang dikatakan oleh Yogi memang ada benarnya. Ia tidak boleh egois dan menyebabkan Bunga dan Ardy sakit karena kehujanan membantunya. “Aku janji, akan membantumu mencari cincin itu.” Yogi tersenyum. “Sekarang kita kembali ke ruangan Adam.” Diandra tidak langsung menjawab. “Di, ayo kita kembali ke ruangannya Adam,” ucap Bunga. “Kira-kira Adam sedang apa ya?” “Mungkin dia sedang beristirahat,” jawab Diandra. Mereka berempat pun kini kembali ke ruang perawatan Adam yang merupakan pasien VIP. Jadi tidak ada batas jam besuk karena ruangan VIP memiliki jalur koridor sendiri yang langsung menembus ke taman halaman belakang dan juga parkiran belakang. Jadi tidak mengganggu pasien yang lain. Dipikir Diandra dan yang lainnya, Adam sedang beristirahat di dalam kamar rawatnya. Apa lagi kondisinya yang tidak bisa berjalan karena otot-otot kakinya masih lemas setelah terbangun dari koma. Namun pikiran Diandra itu salah besar. Pintu ruang perawatan VIP Adam tidak tertutup rapat. Diandra langsung saja masuk ke dalam. Ia yang berjalan lebih dari ketimbang Bunga, Ardy dan Yogi. Tangan kanan Diandra mendorong pintu ruang perawatan. Kini celah pintu melebar lebih banyak. Terdengar suara tawa Adam dan perawat Lina. Mereka kembali berbincang akrab. Membuat Diandra mau tidak mau merasakan kesal. Apa lagi dilihatnya, Lina sedang menyuapi Adam. Bunga, Ardy dan Yogi yang berada di belakang Diandra pun terkesiap dengan apa yang mereka lihat. “Suster Lina, apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Diandra dengan raut muka tak suka. Lina menoleh. Ekspresi wajahnya terpampang muka tanpa dosa. “Ya, Mbak Diandra ... Saya sedang merawat pasien,” jawabnya lantang. Kedua alis Diandra bertaut. Seraya tak suka dengan apa yang dilihatnya. “Merawat pasien sampai harus menyuapi dan terlihat mesra begitu?” Kini Lina pura-pura tidak nyaman. Ia langsung melangkah mundur dan menaruh menjauhkan garpu dari bibir Adam. “Maaf, mbak saya tidak bermaksud,” jawabnya sambil menunduk. “Banyak pasien lain yang membutuhkan perawatan kamu ketimbang hanya menyuapi begitu. Aku juga bisa,” ucap Diandra dengan nada ketus. “Maaf, mbak. Baik, saya permisi.” Adam memicingkan matanya. “Jika suster Lina pergi aku tidak mau makan buah apa lagi disuapi olehmu,” katanya ketus. Hening. Sunyi langsung merasuk. Diandra memandangi lekat Adam. Ia mulai tidak bisa menahan kekesalannya karena Adam telah membuang cincin pernikahan mereka. Kesabarannya telah mengikis. “Aku tidak peduli mau atau tidak aku rawat. Yang pasti faktanya aku adalah istrimu.” Adam menatap tajam Diandra. Lina memandangi Adam dan Diandra bergantian. Ia tak kunjung melangkahkan kakinya untuk pergi. “Ehem ....” Bunga sengaja berdeham untuk memecah keheningan dan menegur Lina. “Maaf Suster, sepertinya tadi anda mengatakan akan pamit,” ucapnya sembari tersenyum pahit. “Ah iya. Maaf,” sahut Lina dan kemudian bergegas pergi. *** Setelah pulang dari rumah sakit. Kepala Ardy mulai dipenuhi pertanyaan dan pernyataan. Ia duduk termangu di kursi kerja di ruangan pribadinya dalam rumah megah kediamannya. “Hei, melamun aja!” Suara teriakan dari belakang, membuat Ardy terkesiap dan nyaris melompat. Melihat suaminya terkaget-kaget, Bunga justru terbahak. “Astaga begitu saja kamu sampai mau jatuh ....” “Aku kaget tahu ...,” sungut Ardy. “Di mana Halina? Sudah tidur?” Bunga mengangguk. “Ya, dia sudah tidur, setelah nenen,” jawabnya. “Kenapa? Habis ini kamu yang mau nenen,” lanjutnya berkelakar. “Dasar kamu ...,” pekik Ardy lirih sambil menahan tawa. “Harusnya aku yang godain. Bukannya kamu ....” “Kamu tadi bengong, mikirin apa?” Bunga ingin tahu. Perlahan tapi pasti ia duduk di pangkuan dan melingkarkan tangannya di pangkal leher Ardy. Ardy pun menyambut. Ia melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang ramping Bunga. “Aku memikirkan tentang Lina.” “Kenapa?” tanya Bunga sambil mengerenyitkan alisnya. Ia menjadi sangat penasaran. “Kalau aku lihat-lihat Lina itu mirip dengan Rena. Wajahnya sangat mirip. Tadi tidak semirip kamu dan Diandra yang memang kembar. Lina hanya mirip dengan Rena. Pantas saja Adam seolah tertarik dengan Lina dan senang di dekatnya.” “Oh ya?” Bunga tidak menyangka. Ia memang tidak tahu bagaimana wajah Rena. Mengetahui Rena hanya dari sebuah ceritanya saja. Rena adalah mantan kekasih Adam yang meninggal. “Apakah ini suatu kebetulan semata?” tanya Bunga lirih. “Adam hilang ingatan sebagian. Tidak mengingat Diandra. Lalu ia mencari Rena, mantan kekasihnya yang sudah meninggal dan ternyata suster Lina yang merawatnya mirip dengan Rena ....” Ardy mengendikan bahunya. “Entahlah ... aku juga bingung. Tapi kasian Diandra. Ia pasti sangat tertekan, terpukul dan sedih dengan semua ini ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD