Berusaha lagi

1166 Words
Walau Adam tidak ingat kepadanya, juga sudah membuang cincin pernikahan mereka. Diandra tetap berusaha mendekati Adam lagi. Ia duduk di kursi samping ranjang yang ditiduri oleh Adam. Adam mengerjapkan sepasang matanya perlahan dari tidurnya. Setelah tadi ia minum obat, rasa kantuk langsung menerpa. Ia menghela nafas panjang dan menatap lurus langit-langit kamar. Lalu menoleh ke arah sisi. Jantung Adam nyaris copot ketika melihat Diandra duduk di kursi. “Sedang apa kamu di sana?” tanyanya sembari membulatkan mata. “Menunggumu,” jawab Diandra. “Sudah aku bilang, aku tidak ingat tentang kau! Tidak mungkin kamu adalah istriku,” tutur Adam dengan raut muka mengerenyit. “Lagi pula kamu ini bukan tipeku.” “Aku akan membuktikan jika aku memang istrimu dan juga tipemu,” ucap Diandra lirih. “Kamu malah memperlakukan suster Lina yang notabene orang asing dan menjauhiku. Harusnya kamu tidak begitu Adam.” Adam memicingkan matanya. “Loh ... kenapa kamu marah? Terserah aku dong,” jawabnya ketus. “Oh ya Ardy mana?” “Dia sudah pulang bersama Bunga. Ini sudah malam, pasti Halina membutuhkan mereka. Ardy dan Bunga tidak akan bisa berlama-lama di sini.” “Kapan Ardy menikah dengan Bunga?” tanya Adam dengan kening yang berkerut. “Sekitar dua setengah tahun yang lalu,” jawab Diandra sembari memberikan satu buah album foto besar kepada Adam. “Kita juga sudah menikah beberapa bulan lalu. Ini foto pernikahannya. Jika kamu ingin lihat ... dan bisa percaya kepada apa yang aku katakan.” Kedua alis Adam bertaut. Ia langsung menyambut album foto tersebut seolah ingin segera menyakinkan diri dengan apa yang dikatakan oleh Diandra. Adam mulai membuka cover album foto pernikahan. Keningnya semakin berkerut setelah melihat apa yang terlihat di matanya. Diandra menunggu bagaimana tanggapan komentar Adam. Adam masih diam. Netranya seolah mengamati dengan teliti setiap lembar foto. “Ini pasti hasil editan. Kamu pasti seorang photoshop.” “Jadi kamu masih tidak percaya denganku?” tutur Diandra dengan raut muka kesal. Adam menganggukkan kepalanya mantap. Bibirnya mencibir. “Ya, aku tidak percaya,” jawabnya tegas. “Karena hal begini bisa saja kan diedit.” “Astaga ...,” gerutu Diandra. “Aku tidak punya keahlian mengedit foto seapik ini.” Hening. “Kita memang sudah menikah. Mungkin saat ini kamu tidak ingat. Tapi aku yakin suatu saat kamu akan ingat kembali Adam ... Bahkan ketika kamu ingat kembali, kamu akan menyesal karena sudah melempar dan membuang cincin pernikahan kita. Cincin itu sungguh hilang ... Kamu tidak lagi menggunakan cincin pernikahan kita,” ujar Diandra sembari memandangi jari manis di tangan kiri Adam. “Jika kita memang sudah menikah. Kita pasti dijodohkan,” ujar Adam dengan mimik muka tidak peduli. “Kita tidak dijodohkan. Kita menikah berdasarkan cinta sama cinta. Justru Ardy dan Bunga lah yang menikah berdasarkan perjodohan Om Andri Subargja dan mendiang Mami Angelica.” Adam dan Diandra saling menatap satu sama lain. “Mendiang Mami Angelica?” tanya Adam lirih. “Memang Tante Angelica sudah meninggal?” Diandra mengangguk. “Ya ....” “Kapan?” “Sudah lama.” “Rupanya banyak yang aku lewatkan ....”Adam mengembalikan album foto tersebut setengah melemparkannya. “Tolong suruh Ardy besok ke mari,” tuturnya tanpa menatap muka Diandra. “Ardy tidak akan ke mari besok.” “Kenapa? Dia harus mengantarkan aku pulang. Kamu bilang Mamiku sedang berada di rumah sakit jiwa. Jadi jika bukan Ardy, lalu siapa? Aku hanya memiliki dua sahabat. Ardy dan Dendi. Tapi kata kalian Dendi berada di Itali, ya hanya Ardy yang bisa aku andalkan.” “Kamu bisa mengandalkan aku,” sahut Diandra cepat. “Kamu?” Adam tersenyum tipis, meremehkan. “Kenapa? Sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain.” Adam menatap Diandra lekat-lekat. “Hm ... Baiklah ... Jika kamu ingin aku mengandalkan kamu ... Maka bantu aku satu hal.” Kedua alis Diandra berkerut. Raut mukanya penuh tanya. “Apa?” “Aku ingin kamu mengantarkan aku ke rumah Rena.” Diandra diam. “Kenapa? Tidak menjawab? Kamu keberatan membantuku?” “Aku bukannya keberatan untuk membantumu,” Diandra menjawab. “Kamu minta diantarkan ke rumah Rena. Tapi memang kamu ingat di mana rumahnya?” “Aku masih ingat di mana rumahnya.” Diandra kecewa. Bagaimana bisa Adam masih mengingat tempat tinggal mantan kekasihnya setelah kecelakaan yang membuat sebagain ingatannya terhapus. “Kamu mau mengantarkan aku ke rumah Rena tidak?” tanya Adam sekali lagi untuk memastikan. Diandra mengangguk. “Ya, aku akan mengantarkanmu.” “Besok? Setelah pulang dari rumah sakit, kita akan ke rumah Rena kan?” Diandra mengangguk lagi. Walau sebetulnya ia terpaksa untuk mengantarkan Adam bertemu dengan mantan kekasihnya. ‘Semoga saja Rena sudah menikah dengan pria lain. Jadi Adam langsung sadar jika ia sudah salah mencari Rena lagi.” *** Esoknya, Adam memang sudah diizinkan dokter pulang dari rumah sakit. Ketika Adam pulang dari rumah sakit kebetulan suster Lina sedang tidak bertugas. Diandra lega karena hal itu. Karena sejak Adam terlihat lengket dengan suster Lina dan selalu salah menyebut namanya menjadi Rena. Diandra menjaga keadaan agar Adam tidak sering bertemu suster Lina. Adam masuk ke dalam mobil, dibantu oleh Rahmat – sopir pribadi keluarga. Diandra melipat kursi roda dan menaruhnya di kursi bagian belakang. “Kita berangkat, Nyonya ... Tuan?” tanya Rahmat sembari menoleh ke belakang, sebelum memijakkan pedal gas. “Iya, Pak. Ayo kita berangkat,” jawab Diandra. “Tunggu, tunggu!” seru Adam. Rahmat yang sudah siap untuk melajukan mobil kini menghentikan niatnya. Ia kembali menoleh ke belakang. Begitupun dengan Diandra. Ia menatap lekat Adam. “Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” “Tadi kita tidak melihat suster Lina. Kenapa kita tidak berpamitan dengannya?” Adam baru teringat. “Suster Lina pasti sedang tidak ada tugas di jam pagi. Mungkin dia masuk kerja di bagian siang ini atau malam.” Raut muka Adam sedikit berubah murung. “Kenapa?” tanya Diandra. “Aku belum berpamitan dengannya,” jawab Adam lesu. “Suster Lina sungguh sudah berbuat baik kepadaku.” Kedua alias Diandra bertaut. Seulas senyuman sinis terhias di wajahnya. “Ya ... Suster Lina memang baik. Karena pekerjaannya memang seorang suster yang merawat pasien. Kamu jangan terlalu diambil perasaan.” “Aku tidak terbawa perasaan. Suster Lina memang baik, karena itu aku simpati padanya. Dia sungguh berdedikasi dalam pekerjaannya.” “Kamu simpati dan terlihat menyukainya, karena suster Lina seorang perawat yang baik atau karena dia berwajah mirip dengan Rena?” tukas Diandra tanpa basa basi. “Kamu harus menghargai perasaanku, Adam. Aku ini adalah istrimu, dan aku yang akan merawat mu,” lanjutnya sambil memandangi kaki Adam. Adam yang kini belum pulih benar dalam berjalan merasa tersinggung dengan kata-kata Diandra. “Aku tidak butuh bantuan kamu,” sahutnya ketus. “Dan ... jangan lupakan bila aku sama sekali tidak menganggap jika kita berdua sudah menikah. Karena aku memang tidak ingat apa pun. Camkan itu ....” Diandra memicingkan matanya. Hatinya tersayat-sayat penuh luka. Namun ia harus lebih bersabar lagi. Bagaimana pun caranya, ia harus membuat Adam jatuh cinta lagi kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD