“Aku tidak butuh bantuan mu.”
Diandra hanya memandang Adam sesaat. Berusaha untuk tidak menganggap kilat mata yang seolah mengajaknya bertengkar.
“Kita langsung pulang, Nyonya?” tanya Pak Rahmat.
“Tidak. Kita ke rumah teman Adam, dulu Pak,” jawab Diandra dan kemudian memandang Adam. “Di mana rumah Rena? Kita langsung ke sana.”
“Perumahan Asri di Jalan Ahmad Yani. Nomer 32 blok C,” jawab Adam tanpa memandang wajah Diandra.
Diandra terkejut betapa Adam bisa sangat menghafal alamat tempat tinggal Rena. Jika sakit begini, Adam masih mempu mengingat dengan jelas dan benar alamat rumah Rena. Maka ketika sebelum kecelakaan itu terjadi, pasti Adam sangat jelas mengingat semua tentang kehidupan Rena, pikirnya.
Diandra menghela nafas panjang dan dalam. Ia harus mengantarkan Adam ke rumah Rena. Setidaknya agar Adam tidak terus menerus menanyakan tentang wanita itu.
“Setelah ke rumah Rena. Aku ingin bertemu dengan Mami,” kata Adam memberitahukan keinginannya.
Diandra mengangguk. “Ya, kita akan ke rumah sakit jiwa untuk bertemu dengan Mamimu.”
“Hm ... Memangnya mami dimasukan ke rumah sakit jiwa karena apa?” Adam ingin tahu. Ia sama sekali tidak mengingat apa penyebab Maminya dimasukan ke rumah sakit jiwa tersebut.
Diandra memandang Adam. Ia bingung untuk menjawab apa. Apakah Adam sudah siap mendengarkan semua fakta yang sebenarnya tentang Maminya itu?
“Kenapa Mami ada di rumah sakit jiwa? Apa yang terjadi?” desak Adam.
Diandra masih diam. ‘Adam benar-benar tidak ingat dengan apa yang terjadi kepada Maminya,” batinnya.
“Hei, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Adam sekali lagi.
Diandra mengatupkan bibirnya. Ia sungguh enggan menjawab. Karena takut Adam yang baru saja keluar dari rumah sakit akan kebingungan mencerna apa yang terjadi.
“Di ... Kenapa kamu diam? Sebetulnya apa yang terjadi pada Mami?”
“Aku akan memberitahukan kamu. Tapi tidak sekarang.”
Kening Adam berkerut. “Kenapa tidak sekarang?”
“Kita akan mengunjungi Mami. Ketika di rumah sakit jiwa itu, aku yakin pasti samar-samar kamu akan mengingatnya.”
Dahi Adam berkerut semakin dalam. Menatap Diandra lekat-lekat. Di dalam hati ia berpikir tentang maksud kalimat yang diucapkan oleh Diandra.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Rena. Diandra dan Adam hanya ditemani keheningan. Mereka tidak saling berbicara.
Diandra ingin membuka percakapan, tapi sepertinya Adam tidak ingin berbicara dengannya. Raut muka Adam tampak angkuh dan tak ingin diganggu.
Diandra lebih memilih untuk memandangi pemandangan jalan. Pepohonan yang ada di sisi jalan tampak rindang dan mengejar mobil mereka.
Ketika mobil hitam yang dikemudian Rahmat telah sampai di depan gerbang perumahan Asri, jantung Diandra seolah berhenti berdetak. Ia mulai gelisah dengan apa yang terjadi setelah ini.
Apa Adam akan langsung memeluk Rena setelah bertemu dengannya?
“Kita sudah sampai, Nyonya ... Tuan ...,” kata Rahmat memberitahu.
“Tolong, bantu Adam turun dari mobil Pak,” kata Diandra sambil membuka pintu.
Rahmat segera turun dan memutar. Lalu mengambil kursi roda yang ada di kursi bagian belakang. Ia menaruhnya di depan pintu mobil dan membukanya.
Diandra memegangi kursi roda ketika Rahmat membantu Adam turun.
“Terima kasih, Pak ...,” kata Diandra kepada Rahmat setelah Adam sudah rapi duduk di kursi rodanya.
Pak Rahmat mengangguk sambil tersenyum. Ia pun kembali menunggu di dalam mobil.
Adam dan Diandra berdiri di depan sebuah rumah bercat putih dunco. Rumah tersebut di kelilingi pekarangan dengan beberapa bunga dan tanaman hijau di pot-pot besar. Juga di batasi oleh pagar putih setinggi dagu orang dewasa.
“Ini kan rumahnya?” tanya Diandra memastikan.
Adam tidak langsung menjawab. Netranya lurus memandang ke arah depan. Memastikan jika rumah di depannya ini memang rumah Rena.
Adam melihat nomer blok rumah yang tergantung di dinding. No 32 Blok C. “Ya, benar ... Ini rumah Rena,” jawabnya. “Tapi aneh ....”
“Aneh kenapa?” tanya Diandra tidak mengerti.
“Kenapa rumah ini tampak berbeda. Aku merasa tidak lama ke mari. Cat rumah Rena berwarna ungu dan ada pohon mangga besar di halaman.”
“Aku dan dokter kan sudah bilang jika kamu mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Sebetulnya kamu ke mari sudah sangat lama.”
Kening Adam berkerut. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Diandra. Karena memang ia merasa baru seminggu yang lalu ke mari. Tapi di halaman rumah Rena sudah tidak ada pohon mangga. Dan bila memang pohon mangga itu baru saja ditebang, kenapa bekas pohon besar tersebut tidak terlihat?
Melihat Adam termenung seperti itu, membuat Diandra gemas dengan sikap suaminya yang keras kepala. Sudah beberapa kali dijelaskan jika dirinya telah mengalami amnesia sebagian. Tapi tetap saja Adam keras kepala dan bersikukuh jika sisa memori di kepalanya itu baru saja terjadi tidak begitu lama.
“Kita akan bertamu ke dalam, atau mau berdiri di sini aja?” tanya Diandra.
“Kita ke dalam lah ... Untuk apa berdiri di sini,” jawab Adam kesal.
“Baiklah ... Kita akan ke dalam,” kata Diandra sambil mendorong kursi roda Adam.
Kebetulan pagar rumah tersebut tidak dikunci. Membuat Diandra dan Adam leluasa masuk ke dalam halaman.
Sesampainya di teras depan. Diandra segera menekan bel.
Adam memandangi ke sekeliling. Ia merasa begitu banyak perubahan di rumah Rena ini.
Diandra juga memendarkan pandangan. Ia melihat langit-langit rumah yang bersih tanpa sedikitpun sarang laba-laba. Hal ini menunjukkan jika rumah Rena, terawat dengan baik.
Merasa tidak ada jawaban, Diandra menekan bel rumah untuk kedua kali.
“Sepertinya tidak ada orang.”
“Tunggu sebentar. Nanti pasti ada yang membukakan kita pintu. Jika berkunjung di rumah Rena, pasti lama sekali untuk menanti dibukakan pintu,” jelas Adam.
Kedua alias Diandra bergerak ke atas. Ia tidak menimpali. Tapi kedua kakinya tetap berdiri di tempat semula.
Satu menit kemudian terdengar suara dari dalam rumah, “Tunggu sebentar ...!”
Diandra menghela nafas panjang. Mempersiapkan diri jika benar Rena lah yang akan membukakan pintu untuk mereka.
“Kreeek ....” Pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya berusia sekitar empat puluh delapan tahun dengan tumbuh sedikit gempal berdiri di ambang pintu. “Ada perlu apa ya? Kalian siapa dan mencari siapa?” tegurnya ramah.
Adam memandangi wanita yang bertanya kepadanya. Ia merasa tidak mengenal wanita paruh baya ini. Apa dia adalah kerabat Rena yang sedang menginap? pikirnya.
“Saya Diandra, dan ini suami saya ... Adam,” jawab Diandra memperkenalkan diri. “Apa Renanya ada? Kami adalah kawan lamanya yang ingin bertemu,” lanjutnya dengan hati berdebar-debar.
Wanita paruh baya tersebut terlihat gelagapan dan bingung. “Re ... Rena? Kalian mencari Rena?” tanyanya memastikan.
Diandra mengangguk yakin. “Ya, kami mencari Rena.”
Adam memandangi bagian dalam rumah dari celah pintu yang terbuka. Perabotan yang ada di dalam rumah Rena pun telah berganti. Ia mengerutkan alis. ‘Apa aku salah rumah? Tapi rumah ini adalah rumah nomer 32 blok C,’ batinnya.
“Kalian teman Rena?” Wanita paruh baya tersebut masih bertanya.
“Rena adalah teman suamiku,” kata Diandra memberitahu. “Maaf, jika kedatangan kami menganggu,” sambungnya. “Suamiku mengalami hilang ingatan sebagian setelah kecelakaan. Dan ketika siuman, suamiku menanyakan tentang keberadaan teman lamanya, Rena. Makanya kami ke mari,” jelasnya jujur.
“Oh begitu ... Mari masuklah ....” Pintu rumah dibuka lebar-lebar. Diandra dan Adam dipersilahkan masuk ke dalam rumah. “Kita akan berbicara di dalam ...,” sambut si pemilik rumah ramah.