Tidak mungkin!

1083 Words
Diandra duduk sopan di salah satu sofa. Sedangkan Adam duduk di kursi rodanya, di samping Diandra. Wanita paruh baya – si pemilik rumah memandangi Diandra dan Adam bergantian. Dari netra wanita tersebut seolah penuh tanya. “Maafkan kedatangan kami yang menganggu, Nyonya ...,” ujar Diandra lirih. “Ah tidak apa-apa ... Kalian tidak menganggu. Kebetulan memang saya sedang bersantai. Anak-anak saya sedang bersekolah dan suami saya sedang bekerja,” jawabnya sopan. “Kalian ke mari dengan mobil yang terparkir di depan pagar rumah itu?” lanjutnya sembari menggerakkan dagu ketika menunjuk ke arah depan. Diandra mengangguk kembali. “Betul, Nyonya ....” “Kenapa pohon mangga yang besar dan lebat di halaman depan rumah itu, ditebang?” tanya Adam menyela. “Dan semua penataan rumah ini diubah. Cat rumah, perabot ... dan juga foto-foto keluarga di dinding.” Wanita si pemilik rumah tidak langsung menjawab untuk mejelaskan kepada Adam. Lagi-lagi ia menatap nanar. “Nama Adam memang tidak asing di telingaku,” ucapnya lirih. Diandra menatap Adam. Ia merasa jika dahulu, Adam kerap berkunjung ke rumah Rena dan akrab dengan keluarganya. Sepertinya hubungan Adam dengan Rena sudah sangat dekat, dan serius. ‘Ini harus segera diakhiri!’ seru Diandra di dalam hati. Adam harus bertemu dengan Rena secepatnya. Rena akan menjelaskan jika hubungan mereka sudah berakhir dan semua ingatan di dalam benak Adam hanya masa lalu. “Maaf Nyonya ... Kedatangan kami ingin bertemu dengan Rena. Apa Renanya ada?” tanya Diandra sekali lagi. “Rena tidak ada di sini,” jawab wanita tersebut. “Perkenalkan, namaku Dahlia. Aku adalah bibinya Rena. Aku adik ibunya Rena.” “Jadi Rena sudah pindah dari rumah ini?” Adam terkesiap. “Kenapa dia tidak bilang padaku? Apa karena ponselku hilang ya ...,” tuturnya lirih. Dahlia menghela nafas panjang dan dalam. “Apa kalian ingin diantarkan ke rumah Rena yang baru?” tanyanya dengan tatapan menerawang. Diandra memandangi Adam untuk mendapatkan jawaban. Walau sebetulnya ia sudah sangat yakin apa jawaban yang akan diucapkan oleh suaminya itu. Adam menganggukkan kepalanya. “Ya, tentu aku ingin mengunjungi Rena di rumah barunya,” jawabnya penuh keyakinan. Dahlia beranjak berdiri. “Ayo, aku akan mengantarkan kalian ke rumah barunya. Rumah baru Rena tidak terlalu jauh dari rumah ini,” ujarnya. “Tinggal jalan kaki saja ke sebelah kiri.” “Diandra, dorong kursi rodaku!” Adam memerintahkan dengan nada ketus. Diandra tidak protes diperintah-perintah demikian. Ia memilih mengalah kepada orang sakit. Ia segera berdiri dan mendorong kursi roda Adam. Diandra mengekor di belakang Dahlia sambil mendorong kursi roda Adam, mengurusi jalan trotoar dan kemudian dalam hitungan sepuluh menit berjalan kaki mereka sudah sampai di sebuah pemakaman umum yang tidak terlalu besar. Adam terkesiap dirinya dibawa ke mari. Apa lagi ketika Dahlia yang berada di paling depan masuk ke dalam pintu gerbang pemakaman. Sama dengan Adam yang terkejut, Diandra pun demikian. Ia tidak menyangka jika Dahlia mengajak mereka ke sebuah pemakaman umum. “Kenapa bibinya Rena membawa kita ke mari?” tanya Diandra lirih. Dahi Adam berkerut. “Kenapa tidak kamu tanyakan saja? Cepat susul dia!” perintahnya. “Kenapa aku harus menyusulnya? Kita berdua saja langsung masuk ke sana.” Diandra menyela dengan suara tidak kalah tinggi. Ia mendorong kursi roda Adam dengan gerakan cepat karena kesal sejak tadi seenaknya dibentak-bentak oleh Adam. Diandra dan Adam sudah berdiri di ambang gerbang makam. Mereka segera masuk ke dalam. Memandang ke sekeliling mencari Dahlia. Akhirnya ketemu! Dahlia duduk bersimpuh di dekat sebuah pusara. Perasaan Adam sudah tidak nyaman. Lalu tiba-tiba sekelebat bayangan familiar tentang makam ini terbersit di kepalanya. Bayangan ingatan yang sama-samar dan tidak jelas. Jalan setapak makam dan suara orang-orang yang melantunkan tahlil kematian sambil memanggul sebuah keranda dengan tutup kerudung lebar berwarna hijau bertuliskan lafal arab. Kepala Adam mendadak sakit. Ia langsung menunduk dan memegangi kepalanya sambil mengaduh. Diandra spontan menghentikan kursi rodanya dan memandang Adam. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya memastikan keadaan. Adam tidak langsung menjawab. Ia berguman sembari menahan sakit. “Adam ... Kamu tidak apa-apa?” tanya Diandra sekali lagi. “Hm ... tidak apa-apa. Kepalaku sakit. Tadi mendadak seolah tempat ini familiar. Lalu suara orang-orang melantunkan tahlil menggema di telinga sangat nyaring.” Diandra langsung menyadari jika Adam sebetulnya sudah pernah ke mari. ‘Ah, bodohnya aku ... harusnya sebelum menuruti kemauan Adam untuk mengunjungi Rena, aku bertanya dahulu kepada Ardy. Pasti Ardy tahu solusinya. Apa aku harus ke mari atau tidak. Diandra memutar. Ia bersimpuh di depan kursi roda Adam. Mengandahkan muka menatap wajah Adam. “Benar kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Adam mengangguk. “Ya, aku tidak apa-apa,” jawabnya sembari mengerenyitkan alis. “Sungguh?” Diandra sangsi. “Sungguh. Ayo kita hampiri bibi Dahlia,” pintanya. Diandra kembali mendorong kursi roda dan menuju pusara yang dikunjungi Dahlia. Pusara yang sudah ditumbuhi rumput taman hijau nan rapi dan juga bersih. “Kenapa kamu bawa kita ke mari?” tanya Adam dengan jantung yang berdebar kencang. “Kita sudah sampai di rumah Rena,” jawab Dahlia sembari memandang batu nisan yang ada di depan mereka. Di batu Nisan tertulis tanggal lahir 31 Oktober 1997 dan tanggal kematian 15 Febuari 2017. Rena meninggal di usia yang belum menginjak dua puluh tahun. Adam seketika diam bagai tuna wicara. Ia menatap nanar dan berkaca-kaca batu nisan yang tak dapat bersuara. Mulut Diandra juga ternganga ketika mengetahui Rena sudah wafat. Ia hanya berharap Rena sudah menikah dan bahagia dengan pria lain. Mau menemani Adam mencari Rena karena keyakinan jika kisah mereka berdua hanya cerita kenangan di masa lalu. Tapi ia sama sekali tidak membayangkan sedikit pun sebelumnya bila Rena sudah meninggal. ‘Harusnya aku tanyakan dengan sejelas-jelasnya kepada Ardy tentang Rena,’ ujar Diandra di dalam hati. ‘Kemarin kami hanya bertemu sebentar. Lalu ditambah dengan masalah hilangnya cincin, membuat aku tidak fokus menanyakan tentang siapa dan di mana Rena kini.’ Adam menggelengkan kepalanya pelan. Seolah ia menyangkal fakta dan kenyataan. “Tidak mungkin Rena sudah meninggal ... Aku merasa baru bertemu dengannya. Suaranya saja masih jelas terngiang di telinga.” Dahlia memandang Adam. “Rena sudah meninggal. Dia bunuh diri. Melompat dari lantai lima gedung universitas,” jelasnya. “Istrimu mengatakan jika kamu mengalami kecelakaan dan amnesia sebagian, jadi aku maklum jika kamu lupa dengan kejadian nahas ini.” “Apa Rena meninggal bunuh diri?” pekik Diandra tidak percaya. “Kenapa bisa Rena bunuh diri? Rena sangat ceria. Dia juga baik,” ujar Adam. Dahlia memandang sinis Adam. “Harusnya kamu tahu kenapa Rena bunuh diri,” jawabnya dengan raut muka datar dan dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD