Tiba-tiba datang ke rumah

1068 Words
Adam dan juga Diandra terkejut mendengar kata-kata Dahlia. “Harusnya aku tahu tentang alasan Rena bunuh diri?” tukas Adam tidak percaya. Dahlia mengangguk tegas. “Ya ... kamu pasti tahu. Dan aku yakin hal itu,” tutur Dahlia memperjelas. Adam tidak menjawab karena dia benar-benar tidak tahu. Dahlia menatap tajam. “Aku dan semua keluarga Rena sangat yakin jika kamu mengetahui alasan Rena bunuh diri,” ucapnya tegas. Raut muka Adam mendadak berubah menjadi tegang. Diandra memegangi pundak Adam. Ia yang berdiri di belakang kursi roda, seraya memberikan gelagat tubuh jika ia akan melindungi suaminya itu. “Maaf Nyonya Dahlia ...,” ucapnya menyela. “Aku rasa Adam suamiku memang tidak ingat apa pun.” Dahlia langsung mengalihkan pandangan matanya dari memandang tajam kepada Adam kini menatap Diandra. “Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, Adam mengalami kecelakaan yang menyebabkannya mengidap amnesia sebagian. Sebagian memorinya hilang. Seolah kehidupannya terhenti ketika dia berusia dua puluh dua tahun. Ingatan lima tahun yang sudah terlewati setelah dua puluh dua tahun itu sama sekali tidak diingatnya. Makanya dari itu, Adam tidak ingat apa pun ...,” jelas Diandra. “Jangankan mengingat tentang alasan apa Rena bunuh diri, sebelum ke mari Adam saja tidak ingat jika Rena sudah meninggal,” sambungnya. Dahlia langsung mengatupkan bibirnya. Netranya masih lurus memandang tajam. Lalu ia memalingkan muka. “Sekarang kalian sudah tahu jika Rena telah meninggal kan? Aku akan kembali pulang. Jika kalian berdua masih ingin tetap di sini. Silahkan. Tetap saja di sini ...!” “Ya, aku ingin di sini,” jawab Adam. Dahlia menghela nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya kasar. Ia kembali memandang tajam Adam. “Aku berharap semoga kamu kembali ingat. Semoga amnesia kamu itu sembuh. Karena kamu harus mengingat semua tindakan kejimu kepada Rena.” Adam kembali diam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dahlia. Begitu pula dengan Diandra. Ia tidak faham setiap kata yang keluar dari wanita paruh baya berkulit bersih tersebut. “Maaf Nyonya ... Bisa anda perjelas maksud kata-kata anda ini?” “Rena meninggal memang terlihat seperti bunuh diri. Polisi pun mengatakan demikian. Tapi pihak keluarga ... termasuk aku. meragukan jika Rena memang bunuh diri. Rena adalah gadis ceria, cerdas dan alim. Dia tidak mungkin mengakhiri hidupnya sia-sia dengan melompat dari gedung universitas.” “Maksudnya?” Diandra kembali bertanya. Ia sungguh tidak mengerti. “Pasti ada alasan dibalik kematian Rena. Dan seluruh keluarga yakin jika Adam – suamimu ini mengetahui suatu hal ... Atau bahkan dia yang mendorong Rena dari gedung kampus. Mengingat betapa kayanya keluarga Adam, bukan hal sulit untuk menutupi kejahatan dan menyingkirkan fakta,” tandasnya lugas. "Kejahatan bisa ditutupi dengan mudah oleh kekuasaan dan juga 'amplop cokelat'." “Tidak mungkin suamiku pembunuh,” sahut Diandra. "Lagi pula Om Andri - ayahnya Adam juga orang baik. Dia tidak mungkin menutupi kejahatan Adam jika memang putranya bersalah terjerat kasus pembunuhan." “Aku tidak mungkin membunuh Rena. Aku mencintainya,” kata Adam menambahi. Dahlia tersenyum tipis. Ia mengendikkan bahunya. “Entahlah ... Hanya Tuhan, kamu dan keluargamu yang mengetahuinya.” “Di rumah ... apa orang tua Rena ada?” tanya Adam lirih. Ia merasa sama sekali tidak melihat orang tua Rena. Dahlia juga tidak menyinggung perihal orang tua Rena itu. Jika orang tua Rena ada di rumah, ia ingin meminta maaf. Orang tua Rena pasti mengingatnya. “Orang tua Rena sudah pindah ke luar kota. Semua itu untuk melupakan trauma kehilangan putri mereka yang meninggal secara tragis.” Diandra semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di pegangan kursi roda Adam. Ia tidak tahu harus berkomentar apa ... Karena memang ia tidak tahu apa-apa tentang Rena ini. ‘Aku akan membicarakan ini kepada Ardy. Aku yakin Ardy mengetahui semuanya. Ardy adalah saudara tiri Adam. Ia juga sahabat Adam. Aku yakin dia tahu ...,’ katanya di dalam hati. “Aku pergi dulu,” kata Dahlia. “Semoga dengan duduk lama di depan pusara Rena, kamu bisa mengingat kembali kepingan kenangan yang telah hilang,” lanjutnya sembari melangkah pergi dan menjauh. Diandra memandangi punggung Dahlia yang berlalu pergi dan berjalan menuju gerbang pemakaman. Sedangkan Adam tetap duduk terdiam dengan raut muka datar di atas kursi roda. *** Diandra menemani Adam duduk di pinggir pusara Rena kurang lebih setengah jam. Tidak lupa Diandra pun membaca dan mengirimkan doa untuk mendiang. Selama tiga puluh menit duduk di dekat batu nisan Rena. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir Adam. Hingga Diandra mengajak Adam pulang karena matahari mulai terik dan membuat kepala mereka terasa pusing. Kini mobil hitam yang dikemudikan Pak Rahmat telah kembali ke rumah besar dan megah. Berpagar tinggi dan kokoh dengan pilar-pilar bak rumah-rumah konglomerat pada umumnya. Sepanjang perjalanan Adam mendadak menjadi pendiam. Diandra membiarkan hal itu. Mungkin Adam membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan jika wanita yang dicarinya sudah meninggal. Adam pasti bersedih atas meninggalnya Rena. Maklum dia hilang ingatan. Dia pikir Rena masih hidup. Pasti Adam kembali berbelasungkawa dan sedih kembali, pikir Diandra. Sopir Rahmat memakirkan sementara mobil tepat di depan teras rumah agar kedua majikannya mudah masuk ke dalam rumah. Diandra menatap seorang perempuan yang duduk di kursi teras rumah. Lalu ia berdiri ketika melihat mobil hitam yang dikendarainya berhenti. “Kenapa suster Lina ada di sini?” tanyanya pada diri sendiri. Mendengar suara Diandra yang berbicara sendiri, Adam menoleh. Ia mengikuti netra Diandra memandang. Lina mengendarkan senyuman kepada Diandra dan Adam ketika pintu mobil terbuka. Ketika Lina tersenyum, jantung Adam langsung berdetak lebih kencang. Karena wajah Lina sepintas mirip dengan Rena. Apa lagi suara dan ketika tersenyum. Sangat mirip. Diandra menghampiri Lina. Lina pun demikian. Ia berjalan mendekati Diandra yang baru keluar mobil. Sedangkan Adam masih dibantu Rahmat menggunakan kursi roda. “Sedang apa kamu di sini, suster Lina?” tanya Diandra. “Apa ada barang-barang Adam yang tertinggal? Dan ... kamu tahu rumah kami?” Lina tersenyum ramah. “Selamat siang, mbak Diandra ... Aku menunggu lama di teras rumah ini. Asisten rumah tangga kamu tidak mengizinkan aku masuk. Padahal satpam di depan sudah mengizinkan aku masuk ke dalam rumah,” jelasnya. Diandra mengangguk-angguk mengerti. “Maafkan ART-ku ... Bibi Ijah memang sangat hati-hati dalam menerima tamu. Apa lagi tamu orang asing dan kami tidak ada di rumah,” jawabnya sambil tersenyum menanggapi keramahan Lina. Walau suara Diandra terdengar ramah, tapi sorot matanya tampak penasaran dengan maksud kehadiran Lina yang mendadak. “Kembali ke pertanyaan awal ku, kenapa kamu ke mari dan dari mana kamu tahu alamat rumah kami?” lanjutnya mendesak jawaban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD